Treat You Better

Treat You Better
146. All you can eat



"Nggak lah, biasa aja. Lebih enak dan manis rasanya bibir kamu," ucap Tristan sambil menatap wajah cantik milik Adira.


Adira juga membalas tatapan itu dengan tersenyum malu-malu. Entah mengapa semakin bertambah tua, suaminya itu semakin menjadi-jadi. "Gombal terus ya, sekarang," ucap Adira salah tingkah dan menghindari kontak mata dengan suaminya itu.


"Enggak dong. Emang bener kan, bibir kamu lebih nikmat dan manis rasanya," Setelah mengucapkan itu, Tristan langsung mendapat pukulan dari Adira di lengannya. Tristan tergelak karena melihat pipi Adira sudah bersemu merah.


"Udah yuk! Kita belanja bulanan dulu. Kan habis ini mau jemput anak-anak. Jangan gombal mulu," ucap Adira yang memang ada benarnya. Setelah itu, Adira segera berjalan beriringan dengan suaminya menuju supermarket yang berada di mall yang mereka kunjungi.


Saat sudah berada di supermarket, Adira berjalan lebih dulu dengan diikuti oleh Tristan di belakangnya. Tristan berjalan mengikuti Adira sambil tangannya sibuk mendorong troli untuk wadah belanjaannya.


"Shampoo Mas kayaknya udah mau habis ya, Mas?" tanya Adira memastikan. Tristan mengiyakan ucapan Adira yang memang benar adanya.


Walau mandi di satu kamar mandi yang sama, Adira dan Tristan mempunyai peralatan mandinya sendiri-sendiri termasuk shampo. Mereka menggunakan merek shampo yang berbeda karena kecocokan rambut mereka juga berbeda.


Setelah mengambil beberapa botol shampo, Adira meletakkannya di troli yang suamianya bawa. Kemudian Adira berjalan menuju tempat pasta gigi dan sikat gigi, dia mengambil beberapa untuk persediaan satu bulan ke depan.


Begitu seterusnya hingga kegiatan memilih-milihnya selesai, Tristan terus membututi Adira. Setelah beres, Adira mengantri untuk membayar semua barang belanjaannya.


Sekitar lima belas menit berdiri dan mengantri, akhirnya giliran Adira tiba. Dia segera mengeluarkan barang-barangnya yang berada di troli untuk petugas kasir hitung jumlah belanjaannya.


Tristan yang tidak tega melihat istrinya, dia mendekat dan membantu istrinya itu. Akhirnya, barang yang Adira beli sudah selesai di hitung dan di masukkan ke dalam kantong kresek.


Setelah urusan berbelanja selesai, Adira dan Tristan kembali lagi ke mobil untuk menjemput anak-anaknya yang berada di sekolah. "Udah jam setengah satu, berarti satu jam lagi mereka pulang," ucap Adira sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


*


"Bunda sama Ayah habis ke mana? Kok kalian yang jemput kita?" tanya Echa saat sudah masuk ke mobil dan melihat Aarav sudah duduk di sebelahnya.


"Bunda habis belanja bulanan, Sayang," jawab Adira lembut dan menoleh sebentar untuk menatap wajah bahagia yang terpancar dari anaknya itu.


"Bunda beli Snack nggak, buat kita?" tanya Aarav yang perutnya sudah merasa lapar.


"Beli dong. Kamu udah lapar? Makanlah sedikit, karena kita mau pergi makan di luar," ucap Adira menginterupsi.


"Di mana snacknya, Bun?" tanya Echa yang perutnya juga merasakan lapar. Adira menoleh dan menjawabnya. "Ada di jok belakang. Kalian ambilah sendiri,"


Tristan sudah menjalankan mobilnya lagi menuju sebuah restoran all you can eat. Sudah lama rasanya Tristan tidak menghabiskan waktu untuk makan di restoran tersebut. Tristan jelas merasa rindu untuk memanggang daging sendiri dan memasak kuah sesuka hati di hotpan.


"Kita mau makan di Aduhachi, Yah?" tanya Aarav antusias. Pasalnya, Aarav juga rindu makanan yang ada di restoran tersebut.


Setelah itu, mereka berempat turun menuju ke dalam restoran. Setelah reservasi, ada waiters yang mengantarkan mereka ke meja yang sudah di siapkan.


Tidak berapa lama, ada waiters yang mendekat untuk menanyakan kuah apa yang akan mereka pesan. "Aku kuah Jepang aja, Bun," ucap Echa antusias dan matanya sudah jelalatan ke mana-mana karena melihat begitu banyak makanan.


Sedangkan Aarav, dia sudah berkelana mencari makanan dessert di pojokan sana. Adira sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anaknya yang selalu saja seperti itu jika makan di restoran all you can eat.


*


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Adira dan Tristan masih belum tidur karena sedang mengobrol bersama membahas tentang Aarav dan Echa.


Mereka membicarakan tentang sifat dan sikap keduanya. Adira dan Tristan juga membicarakan tentang kelucuan dua anaknya itu. "Echa sama Aarav tuh, benar-benar membuat hidup kita jadi lebih berwarna," ucap Adira merasa bersyukur dengan nikmat yang telah Tuhan berikan kepadanya.


"Iya, tanpa mereka, rumah ini akan sepi. Eh! Gimana? Udah ada tanda-tanda kamu hamil lagi belum sayang?" tanya Tristan lembut karena tidak mau sampai membuat hati istrinya terluka.


Adira yang sedang berada di pelukan Tristan dengan kepala berada di atas lengan suaminya pun menunduk. "Belum, Mas. Aku nggak tahu apa penyebabnya karena aku juga udah berusaha untuk hidup sehat," jawab Adira lengkap dengan wajah murungnya.


Tristan langsung memeluk Adira erat karena merasa bersalah dan telah membuat istrinya bersedih. "Maaf Sayang. Aku nggak bermaksud menyinggung, aku cuma nanya aja. Jadi kamu nggak perlu pikirin itu lagi. Mau kamu punya anak lagi atau enggak, itu nggak masalah buat aku. Karena ada Aarav dan Echa saja aku sudah bersyukur," ucap Tristan menyesal dan meminta maaf kepada istrinya.


Adira mendongak untuk menatap mata suaminya. Tidak ada pancaran keterpaksaan di sana. Tristan mengucapkannya dengan tulus. Adira tersenyum dan menangis di pelukan Tristan.


Tristan yang merasa ucapannya sudah salah, dia panik karena melihat air mata Adira mengalir. "Kok nangis sih? Aku nggak bermaksud apa-apa, Sayang. Aku cuma nanya aja, beneran deh," ucap Tristan lagi mencoba untuk meyakinkan istrinya itu.


Adira justru semakin terisak dalam tangisnya. Tristan semakin bingung di buatnya. "Aku nggak nangis karena ucapan, Mas, tapi aku terharu karena Mas mau mengerti aku dan nggak menuntut ini itu," ucap Adira tersenyum di sela isak tangannya.


Adira mendongak dan menatap suaminya dengan dalam. "Aku kayaknya nggak mau punya anak lagi deh, Mas. Anak-anak udah pada besar juga," ucap Adira sangat hati-hati takut Tristan tidak setuju.


Tristan menghembuskan nafasnya lega. Tristan mengira, Adira menangis karena pertanyaan darinya. "Jangan bilang begitu. Kan kamu yang bakal jalanin. Hamil, melahirkan dan menyusui, semua kamu yang akan menjalankan. Jadi, kalau kamu emang nggak hamil lagi juga nggak masalah buat aku. Semua keputusan terserah kamu, Sayang," ucap Tristan lembut sambil menyelipkan anak rambut Adira.


Pandangan keduanya beradu dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh rasa cinta yang begitu besar. Adira tersenyum menatap suaminya itu. Tristan juga balas tersenyum.


Cup.


Tristan mengecup bibir Adira dengan sangat lembut dan menekannya sebentar. Adira sampai memejamkan matanya merasakan sapuan lembut bibir Tristan menyapu bibirnya.


Setelah kecupan terlepas, Adira dan Tristan tersenyum penuh cinta menatap satu sama lain. Lalu keduanya langsung memperdalam ciumannya lagi dengan saling me lu mat satu sama lain.


Hanya ciuman lembut tanpa nafsu. Keduanya tersenyum di sela ciumannya karena merasakan begitu manis dan indahnya cinta mereka.