Treat You Better

Treat You Better
Berdamai dengan keadaan.



Papa Elvan menghembuskan nafasnya lelah. Dia juga memejamkan matanya untuk mencari ketenangan disana.


Ini bukan salah Elvan. Elvan tidak tahu menahu soal asal-usul dirinya.


Harusnya papa Elvan harus bersikap dengan baik dengan Elvan.


“Maafin papa Van. Mungkin karena papa juga kamu jadi begini” ucap papa Elvan penuh penyesalan.


Dia menyadari kesalahannya. Elvan tidak salah apa-apa.


Elvan mendongak menatap tak percaya kepada seorang yang dipanggil papa itu. Papanya meminta maaf kepadanya? Dan dia juga mengakui bahwa dia salah? Elvan tidak percaya ini.


Tapi dia bahagia sekali papanya menyadari kesalahannya. Senyum menghias di bibirnya.


“Papa nggak salah. Elvan aja yang nggak bisa bikin bangga papa. Elvan yang minta maaf. Selama ini Elvan selalu buat papa kesal dan merepotkan sekali” ucap Elvan dengan mata berkaca-kaca.


Entah mengapa mendengar papanya minta maaf membuat sudut di hati Elvan yang telah lama kosong kini menghangat.


Elvan langsung berhambur memeluk papanya. Dia tidak bisa untuk menyembunyikan rasa harunya. Dia menangis bahagia.


Papa Elvan yang mendapat perlakuan secara tiba-tiba jelas terkejut. Namun itu tidak berlangsung lama. Karena papa Elvan segera membalas pelukan anaknya.


Anak yang sudah beberapa tahun ini ia telantarkan lantaran merasa benci karena wajahnya mirip sekali dengan mendiang istrinya.


Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kasih sayang yang dulu pernah ada tidak pernah hilang untuk Elvan.


Mungkin papa Elvan hanya sekedar menepi sebentar dari rasa sayang menjadi benci.


Tapi melihat wajah Elvan juga membuat dia sulit sekali melupakan mendiang istrinya itu. Istri yang sangat dia cintai bertahun-tahun.


Dan selama bertahun-tahun itulah dia merasa dibohongi karena perselingkuhan istrinya yang tidak diketahuinya sama sekali.


Itulah sebabnya, papa Elvan melampiaskan semua kebencian dan kekesalannya kepada Elvan yang notabene bukan anak kandungnya.


Tapi papa Elvan sadar, dia telah salah sasaran. Tidak seharusnya Elvan dibenci olehnya. Dia tidak tau apa-apa.


.........


Saat ini Adira and the Genk sedang berada di kafe Specta tempat nongkrong biasa.


Mereka datang kesana untuk ngopi cantik setelah penat dengan tugas kuliahnya.


“Gue nggak nyangka Elvan bisa senekat itu Ra” ucap Amanda yang merasa tak tega melihat kakaknya babak belur.


“Dia itu...” ucap Adira tidak jadi.


“Kenapa dia Ra?” tanya Lidya penasaran.


“Dia tuh mungkin mau cari perhatian. Karena selama ini dia kurang perhatian. Apalagi dari bokapnya. Semenjak mamanya meninggal, dia tuh kaya diabaikan gitu sama bokapnya. Cuma kakaknya yang perduli” ucap Adira matanya menengadah menatap langit. Pikirannya menerawang ke masa lalu.


“kok bisa sih? Emang bokapnya punya masalah apa?” tanya Kinara yang juga penasaran.


“Gue juga nggak tau dan nggak mau tau. Karena itu bukan ranah gue.” Ucap Adira mengendikkan bahu.


“Iya sih. Nggak perlu ikut campur terlalu dalam. Nggak baik juga buat diri sendiri” ucap Lidya membenarkan.


“Eh gimana nih sama kak Azka?” tanya Adira pada Lidya sambil menaik turunkan alisnya.


dia sengaja mengalihkan topik pembicaraan tentang Elvan.


Lidya tersenyum malu-malu.


“Ya ... Gitu lah.” Jawab Lidya tersipu.


“gitu lah gimana maksudnya. Yang jelas dong” cecar Kinara.


“ya kaya orang pacaran pada umumnya lah” ucap Lidya apa adanya.


“Astaga dragon!!!. Berarti pacaran Lo sama dong kaya Kinara sama Adira!!!” pekik Amanda dengan mata membulat sempurna.


tentu teriakan Amanda mengundang perhatian para pengunjung lainnya.


"husshh... bisa nggak kecilin dikit suaranya. heboh banget" ucap Adira pada Amanda.


“Ya emang kenapa kalau sama kaya kita?” tanya Adira heran.


“Laah .. emang kenapa? Lo kalau mau juga bisa. Tapi pacaran dulu hahaha” jawab Lidya meledek.


Adira dan Kinara terkekeh menanggapi.


“Iya yang udah punya pacar. Sekarang udah berani sombong ya.” Ucap amanda kesal. Bibirnya sudah maju lima centi.


makanya cari pacar dong. biar nggak jomblo terus" ucap Kinara meledek.


"Nggak papa. jomblo itu free" ucap Amanda menyombongkan diri.


"Free hatin maksudnya?" kekeh Adira menanggapi.


mereka semua tergelak. kecuali Amanda. dia jelas sudah sangat kesal menjadi bahan ledekan para temannya.


Obrolan mereka berlanjut hingga hampir sore. Mereka sengaja kumpul bareng mumpung belum disibukkan dengan bimbingan skripsi. Begitu katanya.


Jika sudah bimbingan skripsi, mereka akan sibuk dengan urusan masing-masing dan akan jarang bertemu juga.


Ya, sebentar lagi mereka akan melaksanakan bimbingan skripsi. Dan tidak lama lagi mereka akan wisuda. Itu berarti hari pernikahan Adira sudah mulai dekat.


 


 


Sudah hampir tiga bulan Elvan berada di balik jeruji besi. Dan sudah selama itu juga hubungannya dengan sang papa membaik.


Bahkan dulu papanya bilang tidak akan memberikan uang tebusan nyatanya hanya ucapan belaka.


Papanya memberi uang tebusan untuk meringankan masa kurungan Elvan.


Elvan sudah berusaha menolak. Dia memang pantas mendapatkan balasannya. Tapi papanya tetep kekeh akan membayarnya.


Jadilah masa tahanan Elvan hanya berlangsung selama satu tahun. Yang sebelumnya adalah dua tahun delapan bulan. Juga karena kelakuan Elvan berpredikat baik.


Proses hukum Elvan sudah menurut undang-undang yang berlaku atas pasal penganiayaan ringan.


Selama itu juga Elvan belum bisa bertemu dengan Adira dan Tristan.


Dia berniat untuk meminta maaf atas kelakuannya yang merugikan.


dia sudah meminta kuasa hukumnya untuk bisa bertemu dengan Adira dan Tristan.


namun sampai saat ini, Adira dan Tristan belum juga menemuinya.


Elvan tahu, mungkin dia akan sulit di maafkan. tapi Elvan akan berusaha untuk selalu meminta maaf. dia tidak ingin hidup dalam rasa bersalah seumur hidupnya.


Jika dalam penjara Elvan tidak bisa meminta maaf kepada Tristan dan Adira, dia berjanji pada diri sendiri untuk meminta maaf nanti setelah keluar dari penjara.


Dia juga berjanji, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dia akan membiarkan Adira bahagia dengan pilihannya.


Sudah menjadi konsekuensinya jika Adira tidak lagi mencintainya. Kelakuannya saja sudah seperti penjahat.


Memang Elvan merasa dia tidak pantas dicintai gadis sebaik Adira.


Adira berhak mendapatkan yang lebih baik dari dirinya.


Dia sudah berdamai dengan keadaan. Keadaan psikisnya juga mulai membaik. dia juga mulai berpikir, bahwa


level tertinggi dari mencintai adalah, mengikhlaskan orang yang kita cintai


dan bahagia bersama pilihannya.


Mungkin karena dulu kurang perhatian. Tapi sekarang perhatian itu sudah Elvan dapatkan lagi. Dan itu bisa sepenuhnya menyembuhkan luka hati Elvan.


Aku mau ngucapin banyak terima kasih bagi yang sudah setia membaca cerita amatiran ku. hehe


mohon dukungannya dengan like dan komen ya. jangan lupa juga vote nya.


like dan komen kalian moodbooster banget buat aku.


aku jadi semangat nulisnya.


apalah daya aku tanpa kalian para reader 😊