
Saat ini Adira sedang menemani Echa bermain. Tristan dan pak Hendra sudah kembali bekerja di kantornya.
Sudah banyak sekali pekerjaan yang membutuhkan perhatian keduanya.
Mau tidak mau, mereka harus segera kembali mengurusi berkas-berkas penting yang sudah terbengkalai.
Adira tidak tahu mengapa perutnya terasa mulas. Menurut informasi yang Adira baca di buku KIA untuk mengecek kandungannya, itu sebagai tanda bahwa ibu siap untuk melahirkan.
Namun, mulas di perut Adira datangnya belum sering. Mungkin bisa di hitung setiap sepuluh menit sekali.
Sudah dua jam Adira merasakan kontraksi pada perut bagian bawahnya.
Entah pada siapa Adira akan bertanya karena ibu mertuanya sedang keluar dengan sang asisten rumah tangga untuk berbelanja.
Echa yang menyadari Adira selalu meringis seperti menahan sakit, dia memilih bertanya.
Walau usianya terbilang masih belia, Echa begitu memahami situasi yang ada. Instingnya begitu peka.
“Onty napa? Atit?” tanya Echa perhatian. (Onty kenapa? Sakit?)
“Nggak papa. Echa main dulu sebentar ya sama Mbak. Onty mau ke kamar sebentar,” ucap Adira lembut kepada Echa.
Echa mengangguk mengerti.
Setelah menyuruh baby sister Echa menemani, Adira segera berjalan menuju kamarnya.
Adira berpikir, dia harus segera ke rumah sakit karena Adira yakin dirinya akan melahirkan.
Setelah sampai kamar, Adira segera mencari ponselnya untuk mengabari sang suami bahwa sepertinya anaknya akan segera lahir.
“Halo, Kak?” ucap Adira setelah telepon tersambung.
[Kenapa, Ra? Apa ada masalah?]
“Kakak bisa pulang sekarang nggak? Kayaknya aku mau melahirkan nih,” ucap Adira sambil meringis menahan mulas di perutnya.
[Apa! Kenapa baru telepon?! Aku pulang sekarang juga,]
Kemudian, telepon terputus. Adira sudah membaca buku panduan melahirkan.
Yang pertama kali harus Adira lakukan adalah bersikap tenang dan jangan panik.
Kemudian, Adira menarik dan menghembuskan nafasnya berulang-ulang saat rasa mulas itu muncul lagi.
Sudah dua setengah jam Adira merasakan kontraksi. Dan sekitar sembilan jam lagi bayinya akan keluar.
Perkiraan lahir ibu yang baru mengalami hamil pertama adalah sekitar dua belas jam.
Jadi Adira masih bisa bersikap tenang dan menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan nanti.
Setelah segala keperluan sudah siap, Adira duduk di sofa agar lebih tenang.
Menunggu suaminya sampai rumah berasa bertahun-tahun lamanya.
Akhirnya setelah beberapa menit kemudian, deru mobil yang di kendarai suaminya itu terdengar dari bawah.
Adira segera berdiri dan akan berjalan untuk mengambil tas yang berisi semua perlengkapan untuknya melahirkan.
Namun belum sempat Adira mengambilnya, pintu kamar telah dibuka dari luar dengan kasar.
Adira jelas tahu siapa pelakunya jika bukan suaminya siapa lagi?
“Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga. Sini, tasnya biar pak Yanto yang bawa,” ucap Tristan sambil dengan nafas terengah-engah.
“Tenang Kak. Masih lama proses persalinannya. Santai aja, rasa sakitnya belum terlalu sering kok,” ucap Adira dengan santainya.
Padahal, Tristan sudah sangat panik sejak keluar dari kantor tadi. Dia sudah menancapkan gas dengan kecepatan tinggi takut Adira kenapa-kenapa.
Namun sayang seribu sayang, yang di khawatirkan malah terlihat begitu santai.
“Kamu kok santai banget? Ayo buruan aku gendong menuju mobil,” ucap Tristan dan langsung membawa Adira ke dalam gendongannya.
Adira yang merasakan tubuhnya seakan melayang, dia langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Tristan agar tidak terjatuh.
“Pelan-pelan aja Mas Sayang ... Oh iya, kita harus pamit dulu sama Echa,” ucap Adira mengingatkan.
Setelah sampai di anak tangga, Adira meminta di turunkan dari gendongan. Namun Tristan tidak menggubris permintaan Adira itu.
“Apa susahnya, bicara sambil berada di gendongan. Echa ngerti dan seneng banget karena dia bakal punya adek,” ucap Tristan santai sambil tersenyum manis ke arah Adira.
“Hai Echa, Echa mau punya adek nggak?” tanya Tristan basa-basi.
Echa menatap Tristan dengan tatapan lucunya karena bingung dengan pertanyaan yang Tristan lontarkan.
Adira hanya bisa menggelengkan kepala merasa heran dengan pertanyaan suaminya itu.
“Turunin aku dulu. Biar aku yang ngomong. Kalau kak yang ngomong, keburu brojol di sini entar,” ucap Adira sambil mencebikkan bibirnya kesal.
Menurut.
Tristan menurunkan Adira dari gendongan. Tristan juga takut bila yang dikatakan Adira benar-benar terjadi.
“Echa, kayaknya adik yang ada di perut Onty mau keluar deh. Dia udah nggak sabar pengen ketemu sama Kak Echa. Sekarang, Onty mau ke rumah sakit dulu ya. Biar adiknya bisa diselamatkan sama dokter dan bisa segera ketemu kak Echa. Doakan adik sama Onty ya, semoga kita berdua sehat,” ucap Adira panjang lebar, mencoba memberi pengertian kepada Echa.
Echa mengangguk mantap tanda mengerti dengan maksud yang Adira ucapkan.
“Anak pintar. Sekarang Om sama Onty ke rumah sakit dulu ya. Echa jangan rewel sama Mbak di rumah,” ucap Adira lagi sebelum benar-benar pergi.
Adira kembali merasakan rasa mulas di perutnya. Hal itu membuat Adira kembali meringis menahan sakit.
“Mbak, titip Echa dulu ya. Entar kalau mama pulang, bilang aja saya ke rumah sakit untuk lahiran,” ucap Adira memberi pesan.
Baby sister yang menjaga Echa pun mengangguk mengiyakan.
Setelah itu, Adira dan Tristan segera menuju mobilnya dan melakukannya menuju rumah sakit untuk Adira melahirkan.
........
“Kok sepi sih, Mbak? Adira sama Echa tidur ya?” tanya bu Siska yang menyadari tidak hadirnya menantu dan cucunya.
“Oh iya, Echa lagi tidur, Bu. Sedangkan bu Adira, beliau pergi ke rumah sakit sama pak Tristan. Katanya sih mau melahirkan,” ucap baby sitter tersebut memberitahu.
“Apa! Kenapa dua anak itu nggak mengabari saya?” tanya bu Siska tak habis pikir dengan jalan pikiran anak dan menantunya itu.
“Urgent, Bu. Coba ibu cek ponsel, barangkali mereka sudah mengabari ibu lebih dulu,” ucap baby sitter yang berhasil menyadarkan bu Siska bahwa sejak tadi dirinya tidak memegang ponsel.
Dan benar saja, Tristan sudah menelepon dirinya berulang-ulang dan juga mengirimkan pesan.
From: Tristan.
*Adira akan melahirkan, Ma.
sebentar lagi aku bakal jadi ayah*.
Mama nggak usah ke rumah sakit nggak papa.
Temenin Echa aja di rumah. Kasihan kalau harus di tinggal sendirian.
Di sini udah ada mama Dewi dan papa Irawan.
Mama nggak usah khawatir.
Adira pasti baik-baik saja karena dia ibu yang kuat.
Tapi aku memohon doa untuk kelancaran dan keselamatan Adira dan anak kami ya, Ma.
Begitulah kira-kira isi pesan yang Tristan kirimkan.
Bu Siska sebenarnya ingin sekali datang ke rumah sakit untuk menemani Adira melahirkan.
Namun, ucapan Tristan ada benarnya juga. Jika semua berada di rumah sakit, siapa yang akan menjaga Echa? Sebenarnya, bu Siska bisa menitipkan Echa pada ART dan baby sitternya. Tapi kembali lagi, Echa pasti akan bertanya-tanya mengapa mereka semua pergi?
Lebih baik Bu Siska menemani Echa terlebih dahulu.
Bu Siska akan selalu mendoakan dari jauh untuk kelancaran dan keselamatan Adira dalam proses melahirkan.