Treat You Better

Treat You Better
72. Horror movie



Sudah tiga bulan usia pernikahan Adira dan Tristan. Dan selama itu juga pernikahan mereka masih berjalan dengan lancar dan harmonis.


Adira yang menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang istri, begitu juga Tristan. Dia menjalankan perannya sebagai seorang suami dengan sangat baik.


Setiap hari Minggu, Tristan libur ke kantor dan memilih menghabiskan waktunya bersama Adira.


Entah itu jalan-jalan, makan, atau hanya dirumah.


Seperti saat ini, Adira dan Tristan menghabiskan hari Minggu mereka dengan pergi menonton bioskop.


Tristan hanya menuruti semua keinginan Adira. Apapun yang Adira suka, Tristan juga akan menyukainya.


“Mau nonton film apa, Sayang?” tanya Tristan lembut.


Tangannya masih setia melingkar di pinggang Adira dengan posesif.


Bahkan, keduanya menjadi pusat perhatian para pengunjung lainnya. Adira sampai malu, tapi Tristan tidak memperdulikan orang lain yang sudah membicarakannya di belakang.


Karena merasa percuma mendebat, Adira akhirnya memilih menurut saja.


“Horor aja deh. Aku pengen banget terapi kejut.” ucap Adira yang berhasil membuat Tristan terkekeh.


“Haha. Kamu ada-ada aja. Ya udah, kita pesen tiket dulu ya.” ucap Tristan terkekeh.


Dia langsung menggiring Adira untuk duduk di salah satu sofa yang tersedia.


“Kamu duduk aja ya. Aku yang antri beli tiket biar kamu nggak kecapean.”


Adira langsung memajukan bibirnya lima senti.


Tanpa menunggu jawaban Adira, Tristan langsung berlalu pergi dan ikut mengantri di loket pembelian tiket.


Dia ikut mengantri seperti yang lainnya.


Para pengunjung wanita yang juga akan menonton pun berbisik-bisik tentang ketampanan yang dimiliki Tristan.


Mereka kagum akan sikap Tristan yang begitu manis dan romantis kepada pasangannya.


“Cowok idaman banget itu,”


“Aku nggak papa kalau dijadiin istri kedua. Aku rela,”


“Nggak nahan. Ganteng banget.”


Begitulah beberapa bisik-bisik tetangga yang mulai terdengar selalu di telinga.


Adira yang mendengarnya pun semakin dibuat kesal.


Itulah sebabnya dia tidak mau Tristan memesan tiket sendirian.


Tristan yang dibicarakan di belakangnya seakan tidak perduli.


Dia sama sekali tidak menghiraukan bisik-bisik itu.


Tiba giliran Tristan yang berada di antrian paling depan.


Tristan segera menyebutkan film yang akan dia tonton setelah petugas SPG menyapa dan bertanya dengan ramah.


“KKN desa penari untuk dua orang, Mbak.” ucap Tristan datar.


“Baik, tunggu sebentar ya, Mas.” ucap SPG dengan senyum ramahnya.


Setelah tiket keluar, tidak lupa Tristan membeli beberapa camilan untuk menemani mereka menonton.


Dia memesan pop corn, kentang goreng, dan dua cup minuman.


Setelah itu dia segera berjalan menuju ke tempat Adira duduk.


Adira yang melihat Tristan seperti kesusahan membawa camilan dan minuman bersamaan, di segera berdiri dan membantu membawakan.


“Sini, minumannya biar aku yang bawa.”


Adira langsung mengambil alih kedua minuman itu dari tangan Tristan.


Bibirnya masih setia cemberut karena bisik-bisik cewek genit tadi.


Tristan yang melihat perubahan mimik wajah Adira langsung bertanya.


“Kamu kenapa cemberut gitu, Sayang?” tanya Tristan sambil berjalan menuju depan ruang yang akan menayangkan film yang mereka tonton.


“Nggak papa.” jawab adira singkat dan terdengar ketus.


Tristan menautkan kedua alisnya tanda bingung.


Mereka duduk bersila di lantai untuk menunggu ruang dibuka.


Adira memalingkan wajahnya dan masih dalam mode merajuk.


Tristan menghela nafasnya lelah.


Wanita memang seperti itu. Susah dimengerti.


Bukankah laki-laki juga manusia biasa?


Mereka tidak bisa membaca pikiran para wanita bukan?


Tristan jelas tahu bahwa Adira sedang dalam mode merajuk.


Sudah terlihat jelas sekali jika marah, wanita akan irit bicara.


Seperti, nggak papa, iya, hem, terserah dan lainnya.


Jika wanita tidak berbicara, mana bisa para lelaki mengerti apa yang wanita inginkan?


“Kamu kenapa sih? Aku nggak bakal tau kalau kamu nggak ngomong, Sayang.” Tristan berkata lembut sambil menyerongkan tubuhnya.


Itu bertujuan agar Adira menjadi perhatian penuhnya.


Tangannya dia gerakkan untuk menggapai tangan Adira.


Dia menggenggamnya lembut.


Tristan masih setia mengeluarkan bujuk rayunya.


“Aku kan udah bilang, aku mau ikut ngantri tadi.” ketus Adira cemberut.


“Kan aku nggak mau kaki kamu capek ....” ucap Tristan frustasi namun dia berusaha bersikap lembut.


“Aku nggak suka Kak Tristan jadi bahan bisikan para cewek ganjen.” ucap Adira yang mulai melembut nada bicaranya.


“Maksudnya gimana?” tanya Tristan lembut.


“Masa ya, tadi ada yang bilang kalau dia bersedia jadi istri kedua Kakak.  Kesel lah aku.” jawab adira dengan nada menggebu.


Tristan terkekeh menanggapi.


“Kamu cemburu? Tapi kamu tenang aja. Kamu tetap akan menjadi istri pertama dan terakhir ku. Nggak bakal ada yang lain, selain kamu.”


Setelah itu, Tristan memeluk bahu Adira dan mengusap-usapnya lembut.


Dia juga mengecup pelipis Adira berulang-ulang.


Adira langsung meleleh dibuatnya.


Dia langsung tersenyum kembali karena mendapat perlakuan manis dari Tristan.


“Kak Tristan memang tiada tandingan. Jadi makin cinta deh.” gumam Adira dalam hati.


“Naaah ... gitu dong. Kan lebih jadi cantik kalau senyum.” goda Tristan pada Adira.


“Apaan sih.”


Adira langsung menyembunyikan wajahnya di bahu Tristan.


Wajahnya sudah merah merona.


Pemberitahuan ganda film akan dimulai pun berbunyi.


Adira dan Tristan berdiri dan bergegas masuk ke dalam ruangan tempat pemutaran film diadakan.


Tristan memilih kursi di paling belakang.


Setelah semua penonton mulai penuh dan jam penayangan tiba, layar lebar itu menayangkan iklan.


Setelah beberapa menit baru film dimulai.


Adira mulai fokus melihat layar lebar di depannya.


Sedangkan Tristan sama sekali tidak fokus dengan film yang sedang di putar.


Dia sibuk memainkan rambut Adira yang digerai cantik.


Dia mengambil beberapa helai rambut dan dia mainkan di telinga Adira.


Adira jelas merasa geli dan fokusnya mulai terbagi.


“Geli ... Kak.” bisik Adira lirih karena tak mau menganggu penonton lainnya.


Tristan tak menghiraukan ucapan Adira.


Dia malah semakin menjadi dengan memainkan tangannya di leher Adira.


“Bisa diem nggak? Aku nggak bisa fokus.” ucap Adira merasa kesal.


Saat adegan sedang tegang-tegangnya, Tristan malah menganggu nya.


Jadi buyar sudah keseruan Adira menonton film.


“Ya udah deh, aku diam.” ucap Tristan lalu ikut fokus menonton film layar lebar di depannya.


Lalu, keduanya fokus menonton dan Tristan mulai tertarik dengan film yang sedang di putar itu.


Mereka menonton film sampai selesai dengan hati yang puas karena suka akan film tersebut.


Setelah keluar ruangan, Adira tiada henti membahas film horror tadi.


Dia begitu terkesan dan merasa puas dengan film horror produksi Indonesia itu.


Setelah dua jam berada di ruangan tertutup itu, keduanya berjalan-jalan mencari tempat makan yang cocok.


“Kamu mau makan apa, Sayang?” tanya Tristan lembut sambil menggandeng tangan Adira.


“Nasi goreng enak kayaknya.” jawab Adira sambil jelalatan mencari tempat makan yang sesuai.


“Eh ... Kita makan di Rembulan aja gimana, Kak?” tanya Adira antusias.


“Ayo!” ucap Tristan menyetujui.


.


.


.


.


.


.


.


**jangan lupa dukungannya untuk karya aku ya😊


caranya, like, komen, vote dan kasih hadiah semampu kalian.


dukungan kalian sangat berarti untuk keberlangsungan karya aku.


terima kasih untuk para readers yang masih setia baca karya aku😘**