
Akhirnya setelah satu bulan tidak bisa bertemu dan hanya bisa menahan rindu, Adira selesai dengan masa KKN nya. Dalam satu bulan itu memang Tristan sedang sangat sibuk dan tidak bisa menemui Adira di tempat KKN.
Saat ini Adira tengah menata baju-bajunya untuk dibawa pulang. Lidya dan teman-temannya juga melakukan hal sama. Sepanjang membereskan barang-barangnya, Adira senantiasa bersenandung ria. Membuat Lidya memutar bola matanya jengah.
Lidya tentu tahu Adira sebahagia itu karena akan bertemu dengan pujaan hatinya.
Dan tunggulah..
Aku disana..
Memecahkan ..
Celengan rinduku..
Berboncengan denganmu.
Mengelilingi kota
Menikmati Surya perlahan menghilang.
Hingga ...
Kejamnya waktu
Menarik paksa..
Kau dari pelukku..
Lalu kita kembali
Menabung rasa rindu..
Saling mengirim doa
Sampai nanti sayangku..
Begitulah penggalan lagu celengan rindu by Fiersa Besari yang dinyanyikan oleh Adira sejak tadi.
Bahkan saking lamanya Adira bernyanyi, Lidya sampai hafal liriknya dan begitu terngiang-ngiang di otaknya.
“enak juga suara Lo Ra. Bikin terngiang-ngiang” ucap Lidya memuji Adira.
“Gimana le, kok kakak manis le. Bikin jatuh cinta terngiang-ngiange. Aku jadi gimana-gimana gitu kak. Lama tak bertemu tapi ku makin rindu. Asekk” jawab Adira dengan nyanyian tentunya. Bahkan Adira sambil menari-nari bahagia. Lidya meringis melihat tingkah Adira. Jatuh cinta memang bisa merubah seseorang begitu drastis.
“Udah buruan deh Ra. Nggak usah nyanyi terus. Nggak kelar-kelar tuh kerjaan entar” ketus Lidya sambil menunjukkan barang-barang Adira yang teronggok di lantai karena diabaikan pemiliknya yang sedang asik konser pribadi.
“Hehehe. Oke deh. Gue kan mau ketemu sama mas pacar. Jadi harus cepat kelarnya”. Ucap Adira sambil terkekeh. Dan dia langsung menyelesaikan pekerjaannya.
Lidya menggelengkan kepalanya tak percaya.
Mobil yang di tumpangi Adira melaju membelah jalanan di siang hari itu. Semua sudah nampak tertidur kecuali Zoni yang menyetir. Adira juga sepertinya enggan tertidur karena saking bahagianya.
Dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Tristan. Mereka sudah membuat janji untuk bertemu di taman sore hari.
Mobil tersebut sudah berada di kota Jakarta saat jam tiga sore. Itu tandanya, Tristan akan pulang bekerja dua jam lagi.
Tubuh Adira sebenarnya sangat lelah, tapi mengingat akan bertemu dengan Tristan, membuat rasa lelahnya menguap begitu saja.
Saat mobil berhenti karena lampu merah, mata Adira tidak sengaja menangkap sosok Tristan dan seorang anak kecil yang menggandeng tangannya.
Adira mengerutkan kening tanda bingung. Siapa anak kecil tersebut? Mengapa Adira tidak mengenali sama sekali?.
Namun selang beberapa saat, ada seorang wanita yang ikut berjalan bersama keduanya. Seperti keluarga bahagia. Mereka berjalan beriringan memasuki toko mainan.
Dada Adira seketika berdenyut nyeri. Apakah itu sindy mantan Tristan? Dan anak itu adalah anaknya sindy? Lalu apa yang mereka lakukan? Bukankah Tristan sudah berjanji tidak akan membuat kebohongan berlanjut lagi?.
Adira tidak ingin berpikiran negatif. Dia ingin mendengar penjelasan dari Tristan terlebih dahulu. Walau hatinya seakan menolak semua itu.
.........
“Daddy, Ken mau mainan Lego” ucap Ken saat sudah memasuki toko mainan.
“Mau yang mana Ken?” tanya Tristan sambil menunjuk beberapa macam Lego disana.
“aku mau yang pesawat” ucap Ken lagi dengan ucapan cadelnya.
“Oke kita beli ya” ucap Tristan sambil tersenyum.
Sindy tersenyum melihat Tristan yang rela mengajak ken ke toko mainan ini. Sebenarnya mereka tidak sengaja bertemu di sebuah restoran saat Tristan sedang meeting dengan klien. Kebetulan sindy dan Ken juga sedang makan di restoran tersebut. Saat meeting selesai, Ken melihat Tristan berjalan keluar restoran.
Tanpa di duga, Ken berlari mengejar Tristan dan memanggil-manggilnya.
Tristan pun berhenti melangkah dan berbalik. Dia langsung melihat Ken yang begitu senang dan antusias bertemu dengannya.
Tristan ingin menolak dan memilih pergi tanpa memperdulikan Ken. Namun melihat binar di mata Ken, Tristan tidak tega. Jadilah Tristan berada di toko mainan anak tersebut.
Dia sengaja mengajak ken ke tempat tersebut supaya dia bisa lebih mudah untuk mencari alasan menghindari Ken dan sindy. Kalau sudah diberi mainan, seorang anak pasti akan luluh. Begitulah pikir Tristan.
Setelah membeli mainan, Tristan pamit untuk kembali bekerja lagi.
“Aku harus kerja dulu ya Ken. Nanti ketemu lagi oke?” ucap Tristan sambil berjongkok mensejajarkan tingginya dengan tinggi Ken.
“Kenapa cepet banget si dad?” ucap Ken dengan wajah murungnya .
Bukannya dia ikut meyakinkan anaknya, malah dia diam saja. Sungguh itu membuat Tristan merasa kesal.
Pasalnya dia sudah mengatakan pada Adira tidak ingin terlibat dalam masalah rumit ini lagi. Tapi siapa sangka dia akan bertemu Ken di tempat yang tak terduga?.
Mengingat itu membuat kepala Tristan pusing. Dia segera melajukan mobilnya ke rumah. Dia sudah tidak ingin ke kantor lagi.
Mungkin bersiap untuk bertemu dengan Adira akan lebih menyenangkan.
Tepat pukul lima sore, Tristan sudah berada di taman tempat janjiannya dengan Adira. Tapi dia belum melihat tanda-tanda Adira datang. Biasanya dia akan paling antusias jika akan bertemu.
Apalagi mereka sudah tidak bertemu selama satu bulan. Mungkin Adira sedikit terlambat. Pikir Tristan.
Sebenarnya Adira sengaja tidak datang ke taman dan memilih rebahan di kasur. Pikirannya saat ini sangat kusut.
Pikirannya mengatakan untuk mendengar penjelasan dari Tristan, tapi hatinya berkata lain. Dia harus bertemu Tristan.
“aaaaarggh” Adira mengacak rambutnya frustasi. Kejadian tadi siang benar-benar merusak pikiran Adira.
Dia tidak boleh seperti itu. Jika dia terus bersikap seperti itu, yang ada masalah tidak akan selesai dan malah akan semakin rumit.
Akhirnya dengan tubuh malas-malasan Adira turun dari ranjang dan segera merapikan bajunya. Dia akan datang ke taman. Walau dia sudah terlambat dua puluh menit. Jika Tristan masih disana Adira akan bersyukur dan bertanya soal Tristan dan mantannya.
Namun jika tidak, ya sudahlah. Adira pasrah saja.
Adira berjalan kaki menuju taman. Saat sampai disana dia mencari sosok Tristan. Dan dia masih duduk setia menunggunya.
Jangan lupakan tubuh kekarnya yang hanya terbalut kaos singlet. Entahlah mengapa Tristan berpakaian seperti itu. Memang cuaca sore hari ini masih sangat panas di ibu kota. Mungkin saja dia gerah. Tiba-tiba senyum tersungging di bibir Adira.
“Kak. Maaf telat” sapa Adira dan langsung duduk di kursi kosong di sebelah Adira.
“Kok bisa telat kenapa?” tanya Tristan yang sudah merasa kegerahan sejak tadi sampai melepas kemejanya.
“Perang dulu” celetuk Adira begitu saja.
“Perang? Perang apaan emangnya?” Tanya Tristan heran. Apakah perang dunia ke tiga? Atau perang saudara? Entahlah.
“perang batin”. Jawab Adira singkat tanpa mau menatap Tristan.
Tristan tambah bingung dibuatnya. Apa yang membuat batin Adira berperang?.
“apa yang membuat batin kamu berperang emangnya?” tanya Tristan yang memang tidak tahu menahu.
Adira melirik Tristan sinis dan mencebikkan bibirnya. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke depan lagi.
‘salah apa aku? Seperti ada aura tidak bersahabat disini.’ Ucap Tristan dalam hati. Pasalnya dia tidak membuat kesalahan.
“Kamu kenapa begitu. Udah lama nggak ketemu bukannya kangen-kangenan malah begini” ucap Tristan mencoba bertanya.
“Kakak pikir aja sendiri” jawab Adira ketus.
“Aku nggak bisa tau kalau kamu nggak kasih tau.” Ucap Tristan sambil meraih tangan Adira dan menggenggam nya.
“Aku nggak punya mata batin berlebih. Yang aku punya Cuma cinta berlebih buat kamu” ucap Tristan lagi mencoba mengalihkan perhatian Adira.
Bibir Adira berkedut menahan senyum. Tristan dan segala gombalannya memang tidak bisa dipisahkan.
“Bohong. La tadi siang Kakak kemana aja sama siapa juga?” berondong Adira sambil menatap kesal Tristan.
“Oooooh. Kamu liat aku tadi siang? Sama anak kecil?” tanya Tristan memastikan dan sudah mengerti kemana arah pembicaraan Adira.
“Bukan hanya dengan anak kecil ya. Sama perempuan juga. Kalian tuh udah kaya keluarga bahagia deh pokoknya” ucap Adira lagi dengan nada yang masih kesal.
Tristan terkekeh melihat ekspresi Adira yang begitu menggemaskan.
“Aku bisa jelasin. Jangan berasumsi sendiri Ra” ucap Tristan lembut.
“ya udah jelasin sekarang” ketus Adira lagi.
Tristan terkekeh lagi. Dia tidak tahan untuk tidak mencium bibir menggerucut itu. Namun dia tahan karena saat ini dia berada di tempat umum dan banyak anak-anak.
Tristan pun menjelaskan kronologi pertemuannya dengan sindy dan Ken. Hingga dia menjelaskan alasannya mengajak ken ke toko mainan semata-mata untuk bisa segera pergi setelah memberikan sogokan. Setelah itu Tristan benar-benar pamit pergi dan mengatakan tanpa menunggu jawaban Ken.
Tristan sebenarnya tidak tega. Namun dia tidak mau terjebak dalam masalah yang tidak dia perbuat.
note:
beginilah kira kira kalo bang Tristan cuma pake singlet.