Treat You Better

Treat You Better
Belum sadarkan diri.



 Setelah setengah jam mengemudi, akhirnya Adira dan Tristan sampai di rumah sakit.


Mereka segera turun dan bertanya kepada resepsionis dimana Elvan di rawat.


Setelah tau, mereka langsung menuju ruangan yang dimaksud. Yaitu ruang operasi. Ya, operasinya belum selesai saat Adira sampai.


Di ruang tunggu sudah ada Lidya, Kinara, dan Vian. Mereka sudah datang lebih dulu karena jarak rumah sakit dengan rumah ketiganya lumayan dekat.


“Gimana keadaanya?” tanya Adira pada ketiga temannya.


“Belum tau Ra. Papanya belum kesini. Terus kakaknya lagi di toilet”. Jawab Lidya yang sedang duduk di kursi tunggu depan ruangan operasi. Adira mengangguk tanda paham.


Adira dan Tristan pun duduk di kursi kosong. Ikut menunggu hasil dari dokter.


“Lo kesini juga?”. Tanya Vian kepada Tristan yang duduk agak jauh dari para ladies.


“Gue harus temenin Adira. Lo juga kesini kan..”. jawab Tristan sambil melirik malas ke arah Vian. Saat ini tidak ada waktu untuk membahas itu bukan? Mengapa Vian tidak mengerti suasana dan kondisi sama sekali. Heran.


“Iya si. Semoga operasinya berjalan lancar deh”. Ucap Vian lagi kemudian mendoakan.


Tristan mengaminkannya.


Tidak lama kemudian, kakak Elvan, Randi, sudah kembali dari toilet dan melihat Adira yang sudah duduk diam menunduk di depan ruang operasi. Dia langsung menghampiri. Dari semua teman Elvan yang datang, hanya Dira yang Randi kenal.


“Adira?”. Panggil Randi.


Adira langsung mendongak ke sumber suara dan mendapati kak Randi sudah berdiri di hadapannya.


“Hai kak”. Sapa Adira dengan senyum tipisnya.


“Kamu apa kabar?”. Tanya Randi dengan senyum tipisnya.


Tristan yang melihat itu hanya mengamati dari kejauhan.


“Aku baik. Elvan gimana keadaanya?”. Tanya Adira ingin membahas topik yang lebih penting ketimbang kabar dirinya.


“Ya gitu. Dia langsung tak sadar kan diri setelah kecelakaan. Dan setelah diperiksa, ada benturan keras di kepala. Makanya dokter suruh operasi sesegera mungkin”. Ucap Randi sambil menatap ke depan merasa prihatin dengan kondisi adiknya. Wajahnya murung.


Adira cukup mengenal Randi dari Elvan. Randi sangat menyayangi Elvan.


Adira kadang berpikir, apakah Elvan anak tiri papanya dan Randi adalah anak kandung papanya. Karena perlakuannya kepada Elvan dan Randi sangatlah berbeda.


 


Kakek dan nenek Elvan masih hidup. Tapi mereka berada di Bandung. Mereka adalah kakek nenek dari ibu. Sedangkan dari ayahnya, mereka sudah meninggalkan dunia untuk selamanya.


“Semoga Elvan cepet sadar ya kak”. Ucap Adira tulus. Randi hanya menanggapi dengan anggukan dan mengamini.


Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka menampilkan dokter yang telah mengoperasikan Elvan. Mereka langsung berhamburan untuk mengetahui lebih lanjut keadaan Elvan .


“keluarga pasien Elvan Aristidies?”. Ucap dokter tersebut.


“Saya kakaknya dok. Gimana keadaan adik saya?”. Tanya Randi sudah tak sabaran.


“Operasi berjalan lancar. Untungnya tidak ada luka serius di kepala. Hanya robekan cukup dalam. Setelah pasien sadar, akan kita observasi lanjut”. Ucap dokter menjelaskan.


Semua lantas mengucap syukur dan bisa bernafas lebih lega.


“Kira-kira berapa lama lagi dok, adik saya akan sadar?”. Tanya Randi lagi.


“Belum bisa dipastikan. Karena pasien kritis. Tapi itu tidak akan berlangsung lama. Paling hanya beberapa hari. Terus berdoa saja agar yang Maha Kuasa segera memberikan anugerahnya”. Jelas dokter lagi.


“Trima kasih dok”. Jawab Randi yang kembali murung karena adiknya belum juga melewati masa kritisnya.


“Apa pasien sudah boleh di jenguk dok?”. Tanya Adira.


“Untuk saat ini mohon maaf belum bisa. Karena harus di pindah ke ruang ICU dulu”. Ucap dokter itu lagi.


“Baik dok terima kasih”. Jawab Adira.


“sama-sama. Kalo begitu saya pamit dulu”. Ucap dokter laki-laki tersebut sambil berlalu meninggalkan ruangan.


“Kalian semua pulang dulu aja nggak papa. Belum bisa di besuk si Elvan soalnya. Kasian kalian”. Ucap Randi merasa tak enak.


“Kakak nggak papa sendiri jagain Elvan?”. Tanya Lidya mencari tau.


“Baik kalau gitu. Maaf ya kak. Kita tinggal dulu. Besok kita bakal kesini lagi”. Ucap Adira ikut menyahuti. Kinara menanggapi dengan anggukan.


Akhirnya semua berpamitan untuk pulang. Termasuk Adira dan Tristan.


“Eh Ra, besok jenguk bareng lagi aja ya...” pinta Lidya.


“Ya udah. Besok kita bareng. Besok gue juga harus ke kampus dulu buat ajuin kegiatan KKN gue. Lo juga kali...” ucap Adira menatap Lidya dan Kinara bergantian.


“iya besok habis dari kampus maksud gue”. Jawab Lidya menjelaskan.


“Oke deh. Bye Lid, kin, bye juga Vian. Eh... Lidya....” ucap Adira terhenti karena memanggil Lidya tiba-tiba.


Lidya langsung mengalihkan perhatian pada Adira seakan Adira akan membicarakan hal yang serius.


“Kenapa Ra?”. Tanya Lidya dengan alis bertaut.


“Hati-hati kalo Lo nebeng Kinara... Takut jadi nyamuk”. Ucap Adira sambil berbisik di telinga Lidya.


“Apaan sih Lo. Biarin aja gue jadi nyamuk. Biar mereka nggak bisa mesra-mesraan sembarangan di depan jomblo”. Jawab Lidya dengan suara yang sengaja dinyaringkan.


“Iya biarin aja Ra. Katanya kalau lagi berduaan sama pacar tuh yang ketiganya setan Ra”. Ucap Kinara tak kalah meledek.


“Kalian ya!!!. Benar-benar teman somplak dah!. Bubar! Bubar! Kita pulang woy!”. Pekik Lidya yang merasa sangat kesal.


Kinara sudah bersama Vian, Adira juga sudah bersama Tristan? Lalu dirinya? Dengan siapa?. Pikir Lidya.


“Azka Lid”. Ucap Tristan tiba-tiba seakan mengerti isi kepala Lidya. Lidya langsung membulatkan matanya tak percaya.


Adira, Kinara , dan Vian mengernyit bingung. Ada hubungan apa Lidya sama Azka?.


“Azka... Azka kenapa kak?”. Tanya Lidya berusaha setenang mungkin.


“Azka nitip salam buat Lo. Gue suruh sampein pas ketemu Lo. Karena Adira kan pacar gue, terus Lo temennya pacar gue. jadi dia nitip salam ke gue. karena Lo pasti selalu sama Adira pas gue jemput Adira di kampus”. Jelas Tristan panjang lebar.


Semua ber oh ria bersama menanggapinya. Sedangkan Lidya, dia merasa lega. Dia kira Tristan menyuruhnya hidup bersama azka. Lidya langsung mengusir pikiran tersebut.


“Cie... Yang udah salam-salaman. Bentar lagi nggak jomblo nih”. Goda Adira sambil tersenyum smirk.


Pipi Lidya langsung merona mengingat seseorang bernama Azka. Untuk menghindari kegaduhan yang diciptakan oleh teman-temannya, Lidya memilih masuk ke mobil.


“Udah ya... Gue ngantuk mau pulang bye semua...”. ucap Lidya lalu segera berlalu naik ke mobil Vian.


Semua terkekeh menanggapi sikap Lidya yang terlihat sekali sedang malu-malu.


.........


Sinar mentari begitu lancang masuk lewat celah-celah gorden di kamar Adira.


Menyadari hari sudah mulai pagi, Adira membuka matanya perlahan-lahan dan berusaha menyesuaikan dengan cahaya. Dia melongok ke jam dinding di kamarnya dengan mata memicing.


Pukul enam.


Setelah berhasil mengumpulkan nyawanya kembali, Adira bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Setengah jam kemudian Adira sudah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe dan handuk kecil di kepalanya.


Adira berjalan menuju lemari dimana bajunya tersimpan. Adira hari ini akan ke kampus sebentar lalu setelah itu baru ke rumah sakit untuk menjenguk Elvan.


Dia menggunakan celana jeans pendek warna coklat muda se pertengahan paha dan kemeja oversize berwarna putih. Rambutnya dia biarkan tergerai. Adira selalu tampil mempesona walau hanya memakai pakaian sederhana.


Setelah selesai dia bergegas untuk sarapan. Lalu setelah itu dia berangkat ke kampus nya.


 


 


Note: Adira Belvina siap berangkat ke kampus😘