
Ananta merasa canggung dengan kondisi yang sekarang. Sejak kejadian semalam, Ananta merasa Echa seakan menjauhi dirinya. Mungkin karena semalam ayahnya memberikan tatapan tajamnya. Tapi Ananta tidak merasa keberatan jika Om Tristan tidak langsung merestui hubungannya.
*Kok hubungan sih? Jadian aja belum. Eh, boro-boro jadian, gue ngejar-ngejar Echa aja udah lama banget dan entah apa Echa juga mempunyai perasaan yang sama,* Ananta bergumam dalam hatinya.
"Echa ...." panggil Ananta mulai membuka pembicaraan. Echa mendongak untuk menatap Ananta yang berada di sampingnya. "Iya?" jawab Echa apa adanya.
Ananta juga menatap manik dalam milik Echa. "Maafin aku buat yang semalam ya ...." ucap Ananta tulus. Echa terkesiap. Mengapa Ananta harus meminta maaf? Dia tidak punya salah apapun bukan? "Eh! Ngapain minta maaf sih. Kan nggak salah apa-apa," jawab Echa sambil menunjukkan senyum manisnya.
Ananta balas tersenyum lebar karena mendapat respon yang baik dari Echa. "Jadi gimana? Udah mulai suka belum sama aku?" tanya Ananta sambil berbisik di telinga Echa.
Echa menunduk dan wajahnya sudah merah merona karena Ananta berbicara tepat di telinganya. "Apaan sih," kilah Echa berusaha menghindari pembicaraan. Tangannya memukul lengan Ananta cukup kencang hingga Ananta terjungkal dan tubuhnya jatuh ke lantai.
"AW!" Pekik Ananta kesakitan. Echa langsung panik dan segera menolong Ananta. "Aduh maaf banget ... Maaf banget ... Tenaga aku kegedean kayaknya, makanya kamu sampai jatuh begini," ucap Echa panik sambil membantu Anan duduk kembali di kursinya.
Ananta mengulum senyum melihat perhatian yang Echa berikan. Apakah ini tanda-tanda jika Echa mulai menyukai dirinya? Smeoga saja. "Jadi gimana? Udah suka belum? Aku serius loh ... Aku kalau udah suka sama seseorang, akan aku perjuangkan sampai titik darah penghabisan," ucap Ananta jujur. "Issh, gombal deh!" kilah Echa lalu memalingkan muka.
"Aku bersungguh-sungguh, Anastasya Wijaya. Apa selama ini perjuanganku masih kurang? Biar bisa dapetin hati kamu?" tanya Ananta meminta kejelasan.
Sejak pertama kali bertemu dan mengenal Echa di acara kumpul keluarga, Ananta langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada Echa. Namun tidak semudah itu menaklukkan seorang Anastasya Wijaya. Sudah hampir satu tahun Ananta jungkir balik mengejar cinta Echa. Namun Echa sama sekali belum memberikan kejelasan atas perasaannya sendiri.
"Kalau aku bilang belum, apa kamu bakal terima?"tanya Echa mengetes. Ananta menatap serius ke mata Echa. "Aku nggak tahu. Tapi, setiap manusia pasti punya rasa lelah," jawab Ananta sambil matanya menatap lurus ke depan.
Echa terdiam sejenak. Dia berpikir, apa dirinya sudah sangat keterlaluan? Hanya untuk mengetes ketulusan cinta Ananta, Echa sampai rela menunda berbulan-bulan untuk menjawab suka pada Ananta.
Seketika Echa merasa takut akan kehilangan Ananta. *Ini tidak bisa di bairkan begitu saja,* gumam Echa dalam hatinya.
Namun sedetik kemudian, Ananta berdiri dari duduknya. Dia berkata. "Aku pamit dulu. Salam buat om dan Tante juga Aarav di dalam," ucap Ananta berpamitan. Echa juga ikut berdiri dan tidak mau Ananta pergi begitu saja meninggakan dirinya.
Echa langsung mencekal lengan Ananta agar tidak pergi meninggalkan rumahnya dahulu karena keduanya belum selesai bicara. "Jangan main pergi dulu dong. Aku kan belum jawab," rengek Echa meminta Ananta untuk duduk kembali dan menyelesaikan pembicaraan.
"Semuanya udah jelas, Cha. Hati kamu nggak pernah buat aku," ucap Ananta lirih, dadanya terasa berdenyut nyeri saat mengucapkan kata tersebut. Karena tidak mau sakit hati terlalu dalam, Anan memilih tetap berdiri dan memunggungi Echa.
"Kata siapa? Kan aku belum jawab. Jangan menyimpulkannya sendiri," ucap Echa merasa frustasi. Ananta berbalik menghadap Echa.
Tatapan keduanya beradu pandang. Echa bisa melihat tatapan Ananta begitu penuh luka menatap dirinya. Sepertinya, Echa sudah keterlaluan memperlakukan Ananta. Kemudian, Echa mengambil tangan Ananta untuk dia pegang. "Aku ... Udah sayang dan cinta sama kamu," ucap Echa sambil menatap mata Ananta dalam.
Ananta terdiam sejenak untuk mencerna ucapan Echa. "Kamu nggak bohong kan?" tanya Anan memastikan. Echa menggeleng dan tersenyum manis. "Aku bersungguh-sungguh mencintai seseorang bernama Ananta Rahardja,"
Hati Ananta seakan langsung di tumbuhi bunga-bunga yang bermekaran dan berwarna-warni. Harumnya seakan mewangi mengisi relung hati Ananta yang paling dalam. Dia merasa sangat bahagia karena cintanya terbalaskan. Tanpa menunggu lama, Ananta langsung membawa tubuh Echa ke dalam pelukannya.
Echa awalnya terkejut dengan perlakuan Anan yang tiba-tiba, namun Echa membalas pelukan itu dengan lebih erat. Hatinya merasa lega karena perasaannya sudah di ungkapkan pada orang yang tepat.
"Cie .. cie ... Jadian nih." ledek suara yang berasal dari arah pintu. Echa bisa menebak jika itu merupakan suara Aarav. Echa dan Ananta melepas pelukannya dan menatap ke arah Aarav yang sudah berdiri di samping bundanya.
"Jadi ... Kalian masuk ke dalam tuh cuma alasan aja ya?" tanya Echa penuh selidik. Adira dan Aarav tersenyum sambil bersedekap memandang dua sejoli yang sejak di mabuk asmara.
"Kalau bunda sama Aarav nggak aksih waktu kalian buat bicara, mana bisa kalian jadian. Ya nggak, Rav?" tanya Adira sambil meminta persetujuan dari Aarav. "Iya dong, Bun. Kakak Echa udah nggak jomblo lagi! Hore!" Pekik Aarav girang seakan dirinyalah yang baru saja jadian.
Echa dan Ananta menelan salivanya susah payah. Echa lupa bahwa di rumah ini ada orang bernama ayah yang harus di beri pengertian. Semua terdiam dan suasana berubah menjadi sangat menegangkan.
"Hahahaha"
Tristan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi semua yang ada di sana berubah tegang. Dia hanya ingin bercanda untuk mengerjai sepasang kekasih yang baru saja meresmikan hubungan keduanya.
Semua bingung dan menggercapkan matanya tanda bingung dengan situasi yang sedang mereka alami. "Wajah kalain lucu banget kalau lagi tegang," ucap Tristan lalu tertawa lagi. Semua masih saja belum berkutik dan menatap Tristan dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Kalian tegang banget sih, aku cuma bercanda." ucap Tristan kesal karena semua masih saja menatap dirinya dengan tatapan bingungnya. "Kalian nggak asik!" ketus Tristan merasa kesal karena tak kunjung mendapat jawaban.
"Hahahaha."
Echa, Ananta, Adira dan juga Aarav akhirnya tertawa terbahak-bahak melihat wajah Tristan begitu kesal dan frustasi. Niat hati ingin mengerjai, malah dirinya sendiri yang di kerjai. Bisa diibaratkan dengan, senjata makan tuan.
"Telat banget ketawanya," gerutu Tristan lagi dan masih dalam mode merajuk. "Ya Udin sih, makanya jangan bikin anak orang tegang deh," ucap Adira memilih mengalah.
Tristan sadar bahwa dirinya telah membuat anak orang dalam mode takut. Dia pun meminta maaf atas kesalahannya. "Maafkan Om ya Anan, om cuma bercanda doang kok." Ucap Tristan dan berjalan mendekati dua sejoli itu.
"Ayah merestui kalian dengan syarat, kalian harus menjaga batasan kalian karen masih sekolah dan belum menikah," ucap Tristan menasihati. Dengan sigap, Ananta dan Echa langsung hormat kepada Sang Baginda raja.
"Siap komandan!"
Perjalanan cinta Adira dan Tristan belum berakhir sampai disitu. Masih banyak sekali perjalanan yang harus mereka lalui bersama selama raga masih bernafas dan bernyawa.
Masih ada anak dan cucu yang harus mereka ajari tentang kebaikan dan tata Krama kehidupan.
Adira dan Tristan tersenyum bahagia karena kehidupan rumah tangganya penuh kehangatan dan keharmonisan.
End.
.
.
.
.
.
.
**Terima kasih karena sudah menemani perjalanan cinta Adira dan Tristan..
sampai jumpa di novel aku selanjutnya ya😍💝**