Treat You Better

Treat You Better
LDR hari ke. 1



“Nggak. Kamu harus berangkat. Supaya kamu bisa cepet lulus dan kita bisa cepet nikah” ucap Tristan sambil tersenyum. Berat sekali rasanya harus berjauhan dan menahan rindu selama satu bulan.


Akhirnya Adira berhambur memeluk Tristan dan membenamkan wajahnya di dada bidang Tristan.


Lidya yang melihat itu memutar bola matanya malas. Mengapa cinta bisa membuat orang berubah jadi manis gitu sih. Heran apa enaknya jatuh cinta. Batin Lidya mengumpati.


“Udah belum nih ajang salam perpisahannya?” tanya Lidya sedikit sinis.


“Lo ya.. belum tau rasanya LDR,an. Gue sumpahin Lo nggak ngalamin” jawab Adira ketus.


“Ya udah. Aku berangkat dulu ya kak. Jaga kesehatan, makan yang benar. Kita ketemu lagi nanti”


Cup.


Ucap Adira sambil mengecup bibir Tristan sekilas. Kemudian meringis ke arah Lidya yang sudah melototinya. Sedangkan Tristan tersenyum bodoh sambil memegangi bibirnya.


“untung Cuma gue yang liat. Yang lain udah di mobil.” Ucap Lidya sambil melirik Adira sinis.


“Hehehe. Bye kak. Aku pasti akan sangat merindukanmu” ucap Adira lagi dan berhasil duduk di jok belakang sopir bersama Lidya.


Tristan hanya tersenyum sendu. Seakan tidak rela berjauhan dari Adira.


Adira menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya kepada Tristan. Tristan membalas lambaian tangan Adira hingga mobil sudah tidak terlihat lagi.


Tubuh Tristan seakan tidak bertenaga. Padahal baru beberapa menit di tinggal Adira. Bagaimana satu bulan?. Tristan harus kuat. Demi Adira.


 


Sedangkan di dalam mobil, wajah Adira langsung murung. Dia juga merasakan rindu padahal baru beberapa menit.


Matanya berkaca-kaca menatap deretan gedung yang dilewati mobilnya.


“Ra.. Lo baik-baik aja kan?” tanya Lidya memastikan. Karena Adira berubah jadi pendiam sejak berada di mobil.


“Gue nggak papa lid”. Jawab Adira lemah.


Lidya hanya bisa menghela nafasnya.


Hening.


Keadaan yang menggambarkan kondisi mobil yang Adira tumpangi saat ini. Entah mengapa para teman-temannya juga seperti enggan membuka pembicaraan.


“Berarti kita nginep di rumah Pak kepala desa nih lid” tanya salah satu teman wanita yang bernama Bunga memecah keheningan.


“Iya bunga. Kita nginep disana. Tapi buat para cowok. Mereka menginap di salah satu rumah warga gitu”. Jawab Lidya menjelaskan.


“Jauh nggak kira-kira dari rumah pak kepala desa?” tanya temannya lagi yang seorang laki-laki bernama Zoni. Dia juga sebagai sopir dadakan disini dan akan bergantian dengan teman sebelahnya bernama Raka.


“Nggak kok. Deketan. Paling beberapa meter doang” jawab Lidya lagi.


Kemudian hening. Hingga para penumpang di jok belakang tertidur dengan nyaman.


Dibelakang jok Adira masih ada jok lagi yang ditempati oleh dua teman wanita dan satu laki-laki.


Adira duduk di tengah bersama Lidya. Sedangkan Zoni dan Raka berada di kursi kemudi.


Kurang lebih dua setengah jam, mereka akhirnya sampai di desa yang di maksud.


Saat pertama kali sampai, mata Adira langsung disuguhkan dengan pemandangan hamparan sawah hijau yang terlihat menguning akibat terkena pantulan cahaya sore hari. Sungguh pemandangan yang memanjakan mata.



Tidak sia-sia Adira memilih desa ini untuk KKN. Desa itu masih sangat asri. Jalanannya masih bebatuan. Walau ada juga yang beraspal. Tapi itu hanya jalan utama tempat lalu lalang kendaraan.


Sedangkan dalam pemukiman warga, jalanan masih menggunakan bahan bebatuan.


Adira melihat masih banyak rumah-rumah yang menggunakan bahan kayu dan anyaman bambu sebagai dinding.


Saat memasuki desa tersebut, masih banyak anak bermain mainan jadul. Tidak ada satu anak pun yang memegang gadget.




Semua asik dengan permainan jaman dahulu. Sungguh pemandangan yang sangat langka. Adira tambah jatuh cinta dengan desa ini.


Sedangkan para orangtua, mereka juga duduk-duduk di depan rumah sambil menikmati udara sore hari. Atau ada juga yang menunggui anaknya main.


Mobil akhirnya sampai di pelataran rumah Pak kepala desa. Beruntung rumah itu mempunyai halaman yang lumayan luas.


Mereka segera masuk dan menyapa si empunya rumah.


Ceklek.


Pintu terbuka menampilkan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik walau usianya tak lagi muda.


“Waaalaikum salam wr.wb. eh kalian teh anak yang dari Jakarta ya” tanya wanita itu dengan senyum mengembang.


“Iya Bu. Kami sudah datang”. Jawab Zoni yang diangguki oleh lainnya. Senyum juga mengembang di bibir mereka.


“Ayo masuk Heula” ucap ibu tersebut dan mempersilahkan semuanya masuk.


Saat pertama kali memasuki rumah, Adira langsung disuguhkan dengan pemandangan rumah berdinding kayu yang di ukir. Benar-benar rumah tempo Doeloe.


Lalu mereka semua dipersilahkan duduk di kursi kayu. Kemudian ibu tersebut masuk untuk memanggil pak suaminya.


“Serem nggak sih kalau rumah masih begini?” tanya Lidya pada semua.


“Nggak sih. Menurut gue ini unik banget” jawab Adira sambil menelisik tiap sudut rumah tersebut.


“Iya. Disaat sekarang banyak rumah bertumpuk dan bergedung tinggi, disini masih banyak rumah kayu dan bambu” komentar Raka .


“Tapi terlihat lebih asri.” Sahut bunga.


“Kayaknya rumah ini yang paling bagus deh ketimbang rumah warga lainnya.” Ucap lestari yang juga mengomentari.


“Nggak. Tadi nggak jauh dari sini juga ada yang kaya gini kok.” Timpal Adira.


“Iyaa. Mungkin nanti para cowok bakal tidur disitu kayanya deh” tebak Lidya.


Pembicaraan mereka terhenti setelah melihat seorang pria paruh baya memasuki ruang keluarga dengan senyum mengembang.


“Kalian sudah sampai. Senang sekali bisa bertemu dengan kalian” ucap pak kepala desa tersebut setelah berhasil mendudukkan dirinya di salah satu kursi.


“Iya pak. Kami juga senang bisa bertemu dengan bapak dan mau membantu kami menempati rumah bapak sebagai tempat menginap kami” ucap Zoni membalas perkataan pak kepala desa. Zoni adalah ketua dari tim Adira. Jadi wajar jika dia menjadi juru bicara.


“Tidak apa-apa. Kami senang bisa membantu kalian. Semoga kalian betah di desa ini” ucap pak kepala desa lagi.


“Pasti pak” jawab Zoni dengan senyumnya.


“Kalau begitu, kalian istirahat dan mandi dulu. Perjalanan dari Jakarta kesini kan lumayan jauh. Pasti kalian lelah” perintah pak kepala desa memahami.


“Iya pak.” Jawab Zoni dengan senyum tipisnya.


“Buk... Ini para wanita diantar ke kamarnya ya. Terus yang cowok biar bapak yang anterin ke rumah Pak Narso” ucap pak kepala desa memerintah istrinya.


Istrinya pun patuh dan menunjukkan dua kamar yang akan digunakan oleh keempat gadis tersebut.


Adira tidur dengan Lidya. Bunga tidur dengan lestari.


Setelah di kamar, Adira memilih merebahkan diri di kasur berbahan kapuk. Bukan busa empuk yang bisa Adira tiduri di rumahnya. Tapi itu tidak menjadi masalah buat Adira. Lidya juga melakukan hal sama.


Adira mengambil ponsel dari tasnya dan berniat untuk menghubungi keluarga dan juga Tristan.


Beruntung disini masih ada sinyal. Sekedar untuk membuka WhatsApp tentu saja bisa. Tapi untuk membuka Instagram dan Facebook butuh waktu lumayan lama.


Mungkin jika ingin video call juga tidak terhubung.


Adira menelpon orangtuanya terlebih dahulu. Setelah selesai dia menghubungi Tristan.


Tidak butuh waktu lama telepon tersambung.


“Kak. Aku udah sampai ni. Bagus banget disini pemandangannya” ucap Adira antusias.


“syukur kalau kamu udah sampai dengan selamat. Bagus gimana maksudnya?” jawab Tristan sambil bertanya


“Disini tuh masih banyak sawah. Kebanyakan malah orang-orang tuh kerjaannya sebagai petani” ucap Adira menjelaskan.


“Bagus tuh. Bisa sekalian refreshing kan.” Jawab Tristan diseberang sana.


“Iya bener banget. Eh kak, kayanya aku harus mandi dulu. Nanti aku telpon lagi ya” ucap Adira.


“Baiklah. Jaga diri baik-baik disana Ra” ucap Tristan mengakhiri sambungan telepon.


Adira segera pergi membersihkan diri.


Sedangkan di seberang sana, tristan menghela nafasnya lelah. Belum genap satu hari tapi rindu mulai menghantuinya.


maaf ya segitu dulu belum bisa up banyak. akunya lagi meriang. (merindukan kasih sayang) hahaha.


jangan lupa komen dan likenya. sama hadiahnya juga hehe. biar aku makin semangat nulisnya.