Treat You Better

Treat You Better
112. Aku mau kita putus



 


Amanda dan Doni saat ini sedang berada di kediaman keluarga Wijaya.


Dia ingin menitipkan anaknya itu kepada mamanya. Mereka akan pergi menghadiri kondangan teman bisnisnya yang berada di Bandung.


Karena Echa masih terlalu kecil, Amanda ragu bila harus mengajak Echa juga. Akhirnya, Amanda dan Doni memilih untuk menitipkan Echa kepada bu Siska selama dua hari ini.


Bu Siska tentu sangat bahagia karena akan mempunyai waktu lebih banyak lagi untuk bersama cucunya itu.


“Mama nggak papa kan, kalau aku titip Echa sama Mama?” tanya Amanda memastikan sekali lagi.


“Nggak papa, Amanda. Justru Mama malah seneng bakal main sama Echa dua hari penuh,” jawab bu Siska meyakinkan.


“Terima kasih ya, Ma. Kalau nggak ada, Mama, aku nggak tahu lagi bakal nitipin Echa sama siapa. Mama tau sendirilah keadaan kita bagaimana,” ucap Doni sangat berterima kasih dengan mama kedua bagi dirinya itu.


Memang benar, setelah mama dan papanya tiada, Amanda dan Doni menjadi lebih mandiri dengan mengurus semua pekerjaan rumah ataupun pekerjaan kantor berdua.


Dan kabar baiknya, mereka bisa melewati semuanya termasuk sambil mengasuh Echa.


Oh iya, di kediaman keluarga Wijaya itu, Echa juga di temani oleh baby sitternya. Amanda tidak setega itu meninggalkan Echa bersama Mamanya begitu saja.


Amanda dan Doni takut Bu Siska kelelahan karena Echa sekarang sudah lebih aktif dari biasanya.


Banyak hal yang sudah bisa Echa lakukan seiring bertambahnya bulan semenjak kelahirannya.


Echa sudah menginjak usia yang kedua tahun.


Setelah waktu mulai beranjak siang, Amanda dan Doni berpamitan kepada bu Siska dan juga Echa.


“Echa jadi anak yang pinter dan nurut sama Oma ya? Nggak boleh nakal dan inget, setiap kali habis main, Echa harus beresin ya, biar nggak berantakan,” ucap Amanda memberi pesan kepada anaknya yang sebenarnya masih kurang paham akan maksud ibunya.


Namun, Echa menanggapinya dengan mengangkat jari jempolnya ‘OK’ begitulah kira-kira maksud dari gestur yang Echa tunjukkan.


Walau kosa kata yang berhasil Echa kuasai sudah banyak, namun adakalanya juga, Echa tidak mau membuka suara dan hanya berbicara lewat bahasa tubuh.


Amanda lalu menciumi pipi kanan dan kiri Echa. Begitupun dengan Doni, dia juga melakukan hal yang sama seperti yang Amanda lakukan.


“Jangan Oma ataupun Opa kecapean ya? Papa percaya kamu anak yang pintar,” ucap Doni yang juga memberi pesan kepada anaknya itu.


“Iya Yayah, Nda cayan.” Jawab Echa dengan nada kesal namun terdengar sangat lucu di telinga orang dewasa.


Semua terkekeh mendengar jawaban yang Echa berikan.


Setelah berpamitan dengan Echa selesai, kini giliran Amanda dan Doni berpamitan dengan bu Siska.


“Titip Echa ya, Ma. Kalau Echa nakal, jewer aja telinganya,” ucap Amanda berpesan kepada mamanya.


“jangan dong. Echa kan cucu kesayangan, Oma. Kalau nakal, yang tinggal tegur dengan cara baik-baik,” jawab Bu Siska bijak.


Semua terkekeh dan takjub akan sikap yang Bu Siska tunjukkan.


Setelah sesi berpamitan selesai, Doni dan Amanda segera melajukan mobilnya menuju Bandung. Doni mengendarai mobilnya sendiri tanpa menggunakan pak Yanto, sebagai sopir.


Amanda dan Doni juga menutup salam untuk pak Hendra karena sudah berangkat ke kantor tadi pagi.


..........


Setelah kemarin Adira meminta talak darinya, kerjaan Tristan hanya bermalas-malasan di dalam kamar hotel.


Tubuhnya sudah tidak bertenaga untuk melakukan banyak aktifitas. Semua seakan sudah terkuras hanya dengan ucapan Adira yang memintanya untuk menceraikannya.


Namun untuk sholatnya, Tristan tidak lupa untuk melaksanakannya. Sesudah selesai sholat, Tristan kembali lagi merebahkan dirinya di atas ranjang.


Patah hatinya kali ini lebih berlipat-lipat sakitnya. Tristan tidak akan pernah mengucapkan kata talak yang Adira minta.


 


Di sisi lain, Adira juga merasa dirinya sudah keterlaluan karena meminta cerai dari Tristan.


Sejak kemarin, Adira hanya melamun dan tidak berselera makan. Mungkin, jika Bu Dewi tidak mengingatkan Adira bahwa di perutnya ada nyawa yang juga butuh nutrisi, Adira pasti akan kekeh untuk tidak makan.


Bu Dewi dan pak Irawan tidak menanyai apapun kepada Adira. Mereka ingin memberikan ruang dan privasi untuk hubungan Adira dan suaminya.


Tidak melulu, semua permasalahan rumah tangga anaknya, mereka harus ikut campur. Kecuali, Bu Dewi dan pak Irawan dimintai untuk memberi saran, baru mereka akan berbicara.


Walau tidak berselera makan, Adira tetap menghabiskan makanannya. Dia tidak boleh egois karena tidak memikirkan anak yang sedang di kandungnya.


Setelah makannya selesai, Adira kembali lagi ke kamarnya untuk merenungkan diri.


Adira kembali menangis. Dia yang mengucapkan kata cerai, namun hatinya juga yang merasa terluka.


Harusnya, Adira merasa lega dan bisa terbebas dari rasa sakit hati yang berkepanjangan. Namun anehnya, Adira malah semakin tersakiti dengan ucapannya sendiri.


“Apa ini yang di namakan kekuatan cinta? Kenapa aku malah yang sakit hati karena meminta cerai? Apalagi melihat wajah pasrah dari kak Tristan, aku semakin bertambah sakit hati,” monolog Adira kepada dirinya sendiri.


..........


Kinara dan Vian saat ini sedang berkunjung ke rumah Lidya dan Azka untuk melepas kangen dengan Zain, anak Lidya dan Azka.


Kinara sangat gemas dengan wajah lucu anak Lidya dan Azka itu. Keinginan untuk segera memilik anak semakin besar memenuhi isi kepala Kinara.


Vian setuju-setuju saja jika Kinara menginginkan kehadiran anak di pernikahan mereka sesegera mungkin.


Setelah usia pernikahannya menginjak umur satu bulan, Kinara dan Vian akhirnya memilih melakukan program hamil dengan konsultasi ke dokter kandungan.


Dan setelah satu bulan menjalani program, akhirnya di rahim Kinara terdapat cikal bakal anaknya yang sudah berusia tiga mingguan.


Kinara dan Vian jelas sangat bahagia mendengar kabar baik yang ada. Mereka juga akan memberitahukan kabar bahagia ini kepada Lidya dan Azka.


“Lo udah dengar kabar tentang Adira belum, Lid? Gue kangen banget sama bocah satu itu ....” ucap Kinara mengenang tentang kebersamaannya dengan Adira.


Lidya menggeleng lemah. Lalu dia berkata.


“Tapi, Doni katanya udah menyelidiki keberadaan Adira dan berhasil menemukannya. Tristan sedang ke sana untuk menjemput Adira,” ungkap Lidya memberitahu.


Kinara masih serius mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Lidya. Kemudian Lidya melanjutkan perkataannya lagi.


“Tante Dewi dan om Irawan juga ada di sana. Mereka kayaknya udah di kasih tahu sama Adira soal keberadaanya. Tapi mungkin saja Adira ingin merahasiakannya dari Tristan. Gue sih, maklum aja kalau Adira nggak mau ketemu dulu sama Tristan,” ucap Lidya lagi yang mencoba memahami perasaan sahabatnya itu.


Istri mana yang rela suaminya mengurusi wanita lain yang notabene adalah mantan kekasihnya.


“Iya juga sih, Adira pasti sakit hati banget,” ucap Kinara menimpali.


Setelah itu, keduanya diam dengan pikirannya masing-masing.


Mereka tidak bisa membayangkan akan seperti apa perasaan Adira yang sekarang.


Sebagai sesama wanita, pasti akan sangat menyakitkan sekali, dibohongi oleh suaminya sendiri dengan waktu yang cukup lama.


Apalagi, semua biaya rumah sakit Tristan yang membayar tanpa sepengetahuan Adira.


Semua dilakukan Tristan dengan diam-diam tanpa sepengetahuan Adira. Dan pada saat semuanya terbongkar, itu seakan bagaikan ledakan bom yang sangat dahsyat.