Treat You Better

Treat You Better
Kunjungan Mendadak



Jangan lupa tinggalkan jejak ya!😘


.


.


.


.


.


.


Di perjalanan sepulang sekolah, Abbie masih senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana kesalnya Charles di perpustakaan itu.


Ternyata dia manusia juga.


Karena selama ini, dia hanya melihat sebuah senyuman yang ada di wajah cowok itu. Tidak ada yang lain. Mungkin besok-besok ia harus membuatnya kesal lagi. Sungguh, Abbie sangat menikmati wajah kesal cowok berkacamata itu.


Dia imut. Bagaimana mungkin ia menutupi mata indahnya itu dengan kacamata jelek itu? Aku penasaran bagaimana penampilannya seandainya ia melepaskan kacamata bodoh itu dan memperbaiki gaya rambutnya yang ketinggalan zaman itu.


Hingga tak terasa, ia sudah sampai di pintu gerbang mansion besar milik Benjamin D'alejjandra. Pintu itu terbuka otomatis ketika mengenali mobil pemilik mansion tersebut.


Di tempat lain, seorang cowok berseragam khas Ezmeralda High School sedang duduk di sebuah halte tempat kendaraan umum. Seperti biasa, sambil menunggu bus ia mengecek handphone miliknya memeriksa beberapa e-mail yang masuk dari Head of Manager di perusahaan kecilnya.


Yah, meskipun ia masih berstatus sebagai siswa sekolah menengah, Charles sudah membantu manager kepercayaan ayahnya itu untuk mengembangkan bisnis kecilnya. Selaku pewaris berikutnya, Charles sudah harus mengemban tugas itu sejak kepergian ayahnya. Tak ingin mengecewakan ibunya, ia belajar dengan giat demi mendapat beasiswa masuk ke Ezmeralda High School.


Karena sesuai fakta, siswa-siswi lulusan sekolah itu tidak sulit memilih universitas favorit mereka nanti ketika melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang lebih tinggi. Ia ingin lulus dari sebuah universitas ternama di negara itu dengan menyandang gelar ternama dalam dunia bisnis. Seperti sebuah istilah terkenal itu, usaha Charles tidak mengkhianati hasilnya. Ia berhasil masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa. Ia pun pindah dari daerah pedesaan tempatnya tinggal menuju pusat kota meninggalkan ibunya sendirian di sana. Dan di sinilah dia sekarang, di sebuah apartemen kecil. Uang sewa apartemen itu tidaklah besar. Hasil kerja paruh waktunya setiap hari bisa membayar sewa apartemen itu selama dua bulan.


Di dalam bus umum itu, Charles harus berdesak-desakkan dengan banyak orang. Ada orang yang pulang kantor, ada yang berangkat dan pulang kuliah, adapula siswa sepertinya yang akan pulang.


Setelah membayar biaya bus itu, Charles segera berlari kecil ke arah sebuah toko roti tempatnya bekerja.


"Charles, kau sedikit terlambat," ujar salah satu pekerja di sana saat Charles masuk.


Ia tersenyum.


"Maafkan aku, Metti."


"Sudahlah. Layani dulu pelanggan kita yang ada di sana sebelum kau makan siang." perintah Metti halus sambil menunjuk seorang pelanggan yang sedang duduk memainkan handphone dan memasang earphone di telinganya.


"Baiklah." Charles menanggapi. Ia berlalu untuk menggantikan seragam sekolahnya dan mengenakan apron serta seragam khusus khas pekerja di sana.


Metti, dengan nama lengkap Mathilda Madison adalah seorang Mahasiswi di sebuah universitas negeri di sana. Ia bekerja sebagai kasir di toko roti tersebut sejak masih seusia Charles. Sudah sejak lama ia menyukai Charles. Penampilan luar Charles tidak menjadi masalah besar baginya. Apa saja yang ada dalam diri cowok itu membuatnya jatuh hati. Tidak heran jika Metti menyukainya, Charles bukanlah tipe lelaki yang suka menggoda dan punya banyak gadis.


Setelah cowok itu mengantarkan pesanan pelanggan tersebut, ia segera menuju dapur dan bergabung dengan pekerja-pekerja lainnya.


Seorang cowok tinggi jangkung bermanik biru dengan rambut pirang kecokelatan menghampiri Metti.


"Apa kau tidak lelah menyukainya? Lihatlah, dia tidak menghiraukanmu," ujar cowok bernama Franklyn itu.


"Apa maksudmu, Frank?" tanya Metti berpura-pura tidak tahu.


"Kau tahu maksudku, Metti!"


"Aku membencimu, Frank!"


"Aku juga mencintaimu, Metti!" sela cowok bermanik biru itu sambil berlari menjauh takut dilempari sendok oleh cewek yang digodanya itu.


"Sialaaannnn."


*****


Pada saat waktu menunjukkan pukul 6 sore waktu setempat, Charles segera menghentikan aktivitasnya di toko roti tersebut. Ia membuka apron yang melekat sempurna di tubuh kekarnya itu.


"Cepatlah!" seru Franklyn dari dalam mobilnya.


"Tunggu sebentar saja. Kau terburu-buru, ya?"


"Aku ada janji kencan dengan seorang gadis."


"Apa yang perlu ku takutkan? Wajah tampanku ini akan membuat para gadis rela menjadi kekasihku. Aku tidak mencintai mereka. So, untuk apa takut terluka?" dengan gaya sok coolnya ia menarik kerah jaket yang membungkus tubuhnya yang kurus itu.


Temperatur udara di kota itu berubah drastis ketika hampir malam. Siang hari panas terik, tetapi kalau waktunya senja berubah menjadi dingin yang menusuk kulit.


"Kita lihat saja nanti" kata Charles sambil menutup pintu mobil dan memasang seat beltnya.


"Kau meragukanku rupanya!" serunya sambil menancap gas mobil membelah senja di pusat kota.


*****


"Bagaimama caranya aku menghubungi si kampungan itu? Nomor handphonenya tidak ada seorangpun yang tahu. Membuatku pusing saja" gerutu Abbie karena tidak tahu cara menghubungi Charles. Ia ingin menanyakan perihal belajar bersama yang dimaksudnya tadi pagi.


"Apa aku harus menghubungi bagian Administrasi sekolah ya?" gumamnya lagi.


Setelah sekian lama bergumul dengan pikirannya, ia mengambil keputusan dan menghubungi seseorang.


Lama mereka berbincang. Sejurus kemudian, secepat kilat Abbie mengambil jaket tebalnya tak lupa ia menarik buku yang tadi dipinjamkan Charles padanya, hingga beberapa buku yang ada di rak tersebut jatuh mengenai telapak kakinya.


"Shit," umpatnya.


Dengan cekatan ia memungut buku-buku itu dan merapikannya. Sesudah itu, ia mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja belajarnya dan turun ke garasi. Ia mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Bersenandung ria sambil mengendarai mobil mewahnya itu di bawah langit senja berwarna jingga.


Perjalanan singkat yang ditempuh oleh mobil abu-abu milik Franklyn mengantarkan Charles ke apartemen kecilnya.


"Apa kau tidak masuk dulu?" tanya Charles saat ia melihat teman bermanik birunya itu buru-buru memutar kemudi.


"Tidak." Sahutnya singkat.


"Baiklah. Hati-hati!" ujar Charles dan mengangkat tangannya dan disambut baik oleh Franklyn. Mereka pun melakukan hi-five dengan gaya khas mereka.


Sesampainya di lantai atas tempat apartemennya, ia melepaskan kacamata yang bertengger sejak pagi tadi dan berjalan gontai ke dalam apartemen itu.


Selepas ia mengganti pakaiannya, ia masuk ke kamar mandi dan merendam tubuhnya di dalam bathup mini di sana. Aroma bunga lavender langsung menyeruak ke dalam hidung waktu ia menetesi beberapa tetes cairan sabun tersebut. Merasa bahwa anggota tubuhnya merasa rileks, ia segera menyiram tubuhnya di bawah shower dan menyudahi ritual mandinya.


Bersamaan dengan itu, terdengar bunyi bel apartemen membuatnya buru-buru berpakaian.


"Siap...pa?" ucapannya terhenti ketika ia melihat seseorang yang berdiri di depannya.


"Ayo belajar."


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca!😘


.


.


.


.


.


.


Love,


Xie Lu♡