Treat You Better

Treat You Better
86. Tumor otak.



Di perusahaan keluarga Wijaya.


 


Tristan sedang memandangi berkas perhitungan hasil keuntungan perusahaannya yang begitu menurun drastis.


Dia mengecek ulang ketidak-cocokan berkas keuangannya.


Dan benar saja, begitu banyak uang yang raib entah ke mana.


“Apa Papa sudah memerintahkan orang suruhan kita untuk mencari tahu, siapa dalang di balik semua ini?” tanya Tristan datar.


Wajahnya sudah terlihat serius jika menyangkut pekerjaan.


“Sudah. Mereka sedang mencari tahu. Dugaan Papa adalah salah satu orang yang bekerja di divisi keuangan. Dia yang bertugas di bagian akumulasi,” ucap pak Hendra memberitahukan dugaannya.


“Sementara kita mencari tersangka yang sesungguhnya, kita juga perlu menyelidiki dia, Pa,” ucap Tristan memberikan sarannya.


“Iya, kamu ada benarnya juga. Sekarang Papa akan suruh orang kepercayaan kita untuk menyelidiki karyawan itu,” putus pak Hendra mengakhiri pembicaraan mereka.


Setelah menunggu sekitar dua jam, penyelidikan akhirnya menemukan titik terang.


Dugaan papanya benar, orang yang berada di divisi keuangan pelakunya. Dan bertugas di bagian akumulasi.


Dengan amarah yang memuncak, Tristan menyuruh sekretarisnya untuk memanggil Wawan, orang yang bersangkutan melakukan tindak pidana korupsi.


Tristan dan pak Hendra ingin melakukan interogasi terlebih dahulu sebelum benar-benar memprosesnya ke jalur hukum.


“Tenang, Tris. Kita harus mendengarkan penjelasan dari pak Wawan terlebih dahulu. Karena setahu papa, dia adalah salah satu karyawan yang berprestasi,” ucap pak Hendra tenang.


Dia berhasil menguasai dirinya sendiri dari amarah.


Karena sesuatu yang di putuskan saat sedang marah, hasilnya tidak akan baik.


Untuk membuat dirinya lebih tenang, Tristan mengambil air dingin dan meminumnya.


Dia menarik dan menghembuskan nafasnya berulang-ulang untuk meredakan emosinya.


Perkataan papanya memang ada benarnya.


Barangkali, pak Wawan ada alasan darurat sehingga dia melakukan tindak pidana korupsi dengan jumlah uang ratusan juta.


Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara pintu di ketuk dari luar.


Tok tok tok.


“Masuk!” perintah pak Hendra dengan nada dinginnya.


Ceklek.


Setelah pintu terbuka, sosok pak Wawan terlihat di depan pintu dan berjalan menunduk ke arah atasannya itu.


“Silahkan duduk, Pak Wawan.” perintah pak Hendra lagi, mempersilahkan pak Wawan untuk duduk.


Pak Hendra dan Tristan duduk di sofa santai yang memang tersedia di dalam ruangannya.


Ada dua double sofa yang saling berhadapan.


Pak Wawan langsung mendudukkan dirinya di sofa yang masih kosong, yaitu di sofa yang berseberangan dengan yang di duduki atasannya.


Tristan dan pak Hendra sudah menatap tajam ke arahnya.


Pak Wawan semakin ketakutan merasakan aura mencekam di dalam ruangan itu.


“Sekarang kamu jawab dengan sejujur-jujurnya. Apa benar, kamu menggelapkan dana perusahaan?” tanya pak Hendra langsung ke intinya.


Tristan diam mengamati dan mendengarkan.


Punggungnya dia sandarkan di sandaran sofa, sedangkan kedua tangannya di lipat di depan dada.


“Iya, Pak.” jawab pak Wawan ketakutan.


Kepalanya enggan diangkat untuk menatap atasannya itu.


Dia sudah ketakutan.


“Apa alasannya? Bukankah kamu tahu, bahwa dana itu adalah keuntungan perusahaan?” tanya pak Hendra lagi.


Dia ingin menginterogasi lebih lanjut lagi agar mendapat jawaban yang memuaskan.


“Maafkan saya, Pak. Saya tahu saya salah, tapi saya punya alasan tersendiri,” ucap pak Wawan memohon.


Dia sudah berdiri dan bersimpuh di depan pak Hendra.


Pak Hendra merasa tidak enak hati jika harus di perlakukan seperti itu. Akhirnya, dia berkata lagi.


“Tolong duduk di tempatmu.” titah pak Hendra dengan suara dinginnya. Wajahnya juga terlihat begitu datar.


Pak Wawan menurut dan kembali duduk di sofanya lagi.


Dia terus menundukkan kepalanya karena merasa malu sekaligus takut.


“Saya tanya sekali lagi, alasan Bapak mengambil dana perusahaan untuk apa?” tanya Tristan yang sudah tidak tahan melihat drama di depannya.


“Sebenarnya, saya mengambil dana keuntungan perusahaan untuk keperluan berobat anak saya yang masih berusia tiga tahun,” ucap pak Wawan terus terang.


Kemudian, dia melanjutkan perkataannya lagi tentang alasannya menggelapkan dana.


Anaknya mengidap penyakit tumor otak ganas. Dan harus segera di lakukan operasi pengangkatan tumor tersebut.


Karena operasi membutuhkan uang yang tidak sedikit, dan dia tidak punya uang sebanyak itu, pak Wawan terpaksa memakai uang perusahaan.


Dia tidak ingin kehilangan anaknya karena lalai dalam mencarikannya uang. Pak Wawan lebih baik kehilangan pekerjaannya dan di penjara.


Yang terpenting, anaknya bisa kembali sehat.


Apa pun itu, pak Wawan ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya.


Setelah penjelasan dari pak Wawan selesai, pak Hendra dan Tristan sama-sama menghela nafasnya.


Mereka merasa iba dengan masalah hidup yang di alami pak Wawan.


Dia juga turut bersedih untuk penyakit yang menimpa anak pak Wawan.


“Baiklah kalau itu memang alasan kamu. Tapi kami tidak bisa langsung percaya begitu saja. Saya ingin mengunjungi anak kamu jika diizinkan,” ucap pak Hendra kemudian.


“Tentu, Pak. Dengan senang hati akan saya tunjukkan di mana anak saya berada. Pasti dia akan senang karena ada yang menjenguknya,” ucap pak Wawan terlihat berbinar.


Dia juga sudah berani menatap atasannya itu.


“Apa pun keputusan bapak nanti, saya akan menerimanya, Pak. Bahkan kalau sampai saya di penjara, itu tidak masalah. Yang terpenting, anak saya bisa segera sembuh,” ucap pak Wawan yang matanya mulai berkaca-kaca.


Namun, dia berusaha tersenyum untuk menghadapi cobaan hidupnya yang begitu berat.


Tristan dan pak Hendra hanya mengangguk-anggukan kepala.


Ekspresi keduanya sudah lebih santai sekarang ini.


...........


Tristan dan pak Hendra memasuki rumah dengan langkah beriringan.


Keduanya sampai rumah pukul delapan malam karena harus mengunjungi anak pak Wawan.


Dan benar saja, pak Wawan berkata jujur tanpa di rekayasa. Anaknya mengidap penyakit tumor otak yang sudah stadium tiga.


Ada rasa simpati di hati Tristan saat melihat anak yang masih sangat kecil sudah harus merasakan sakit yang luar biasa.


Dia sampai meneteskan air mata tak tega karena melihat anak kecil itu terbujur lemas di ranjang rumah sakit.


Di seluruh tubuhnya di pasang berbagai  macam alat medis.


Sehari setelah mengambil dana di perusahaan, anak pak Wawan langsung segera di tangani dan di operasi.


Memang begitulah sistem rumah sakit yang berada di negara ini.


Ada fulus, semua mulus.


Beruntung, operasi berjalan dengan lancar. Kondisi anak pak Wawan juga stabil.


Namun sampai saat ini, anak pak Wawan belum juga tersadar.


Menurut penuturan dokter, itu bisa terjadi karena obat bius atau juga karena operasinya berada di otak.


Yang pasti, cepat atau lambat, anak pak Wawan akan segera sadar.


Setelah sampai di ruang tengah, keduanya duduk termenung dengan pikirannya masing-masing.


Pak Hendra juga merasa iba melihat anak pak Wawan.


Dia tidak masalah jika keuntungan perusahaannya dia gunakan untuk membantu sesama.


 


Seandainya pak Wawan mengatakannya lebih awal, mungkin pak Hendra akan memberikan biaya operasi berapa pun itu.


Apalah artinya harta berlimpah dan menggunung, jika terhadap sesama saja masih enggan peduli dan membantu.


“Sepertinya, keputusan untuk memecat pak Wawan akan Papa batalkan. Papa memikirkan bagaimana nasib keluarganya nanti, jika sampai Papa pecat dia,” ucap pak Hendra sambil menatap langit-langit ruangan.


“Iya, Pa. Kita nggak boleh egois untuk hal seperti ini. Beruntung, berita tentang pak Wawan yang korupsi belum beredar di kantor. Kalau sudah, bisa jadi akan menimbulkan pro dan kontra nantinya,” jawab Tristan yang juga melakukan hal yang sama.


Menatap langit-langit ruangan.


Punggungnya dia sandarkan di sandaran sofa.


Pak Hendra mengangguk dan tersenyum.


Dia merasa lega uangnya di gunakan untuk hal yang bermanfaat.


Jika saja pak Hendra tidak mau mendengarkan penjelasan pak Wawan dulu, pak Hendra akan merasa menjadi orang yang paling bersalah dan berdosa.


Dia percaya, keputusannya kali ini sudah benar.