Treat You Better

Treat You Better
111. Talak



 


Setelah puas makan dan jalan-jalan sebentar, Tristan mengajak Adira ke hotel tempat dirinya menginap.


Adira sempat menolak, namun karena bujukan dari Tristan, akhirnya Adira setuju ikut ke hotel.


Sebenarnya, Adira juga ingin tahu hotel yang di tinggali suaminya itu seperti apa.


Setelah berada di lobi hotel, Tristan tidak langsung mengajak Adira ke kamar tempat Tristan menginap.


Tristan membawa Adira ke taman hotel yang terdapat kolam renangnya.


Banyak pengunjung yang memadati kolam renang untuk berenang.


Tristan dan Adira memilih duduk di salah satu gazebo yang dindingnya terbuat dari kayu.


Di sekitarnya banyak di tanami tumbuhan dan beragam bunga yang memperindah pemandangan taman.


“Mau makan sesuatu nggak, Sayang?” tanya Tristan lembut sambil menatap Adira.


“Aku mau di ajak jalan-jalan bukan berarti aku udah lupain semua kesalahan Kakak ya ... Ini semua karena anak kita yang pengen healing karena merasa stress sebab bapaknya malah memilih menemani wanita lain,” ucap Adira sambil mencebikkan bibirnya.


Tristan menatap Adira dengan tatapan lesu. Tristan mengira Adira sudah memaafkannya hingga bersedia di ajak jalan oleh dirinya.


“Asal kamu tahu, aku nggak pernah ada hubungan apapun selain ingin menolong Sindy,” jawab Tristan mencoba memberi pengertian.


Adira tertawa meremehkan mendengar perkataan Tristan. Kemudian Adira berkata.


“Emang keluarganya ke mana? Sampai Kakak yang harus urusin dia setiap harinya?” tanya Adira yang nada bicaranya sudah mulai ketus dan kesal.


“Nah justru itu, saat Sindy aku tanyai tentang itu, dia nggak mau jawab,” ucap Tristan mencoba mengakui kenyataan yang ada.


“Pasti dia punya niat lain makanya nggak kasih tahu. Apalagi kalau bukan karena ingin berduaan dengan suami orang,” ketus Adira lagi merasa kesal, emosinya selalu memuncak saat tentang Sindy di bahas.


Dia tidak bisa melupakan semua perbuatan yang telah suami dan Sindy lakukan padanya.


Adira juga tidak menyalahkan Sindy sepenuhnya atas kehancuran rumah tangganya. Tristan juga ikut andil di dalamnya.


Jika Tristan bisa bersikap sedikit lebih tegas, mungkin Sindy tidak akan melunjak.


Ibarat kata pepatah, Sindy itu seperti perumpamaan, di kasih hati, minta jantung.


Tristan diam tidak menanggapi karena ucapan Adira memang benar adanya.


Ada udang di balik rempeyek eh, batu.


Kemudian, Adira melanjutkan perkataannya lagi.


“Terus, yang membayar semua tagihan rumah sakit siapa? Kakak juga?” tanya Adira lagi yang tak mendapat jawaban dari Tristan juga.


Adira menganggap keterdiaman Tristan adalah suatu jawaban iya dari Tristan.


“Wah! (Tepuk tangan) aku emang bodoh ya, sampai nggak tahu semuanya. Atau memang kakak yang sudah menjadi pembohong ulung?” ucap Adira sambil tertawa penuh luka.


“Bukan begitu, Ra. Aku nggak ada ....” ucap Tristan terpotong karena Adira mengangkat telapak tangannya tanda dia tidak mau mendengar alasan apapun.


“Maafin aku, Ra. Aku yang salah atas semua terjadi. Bisakah kamu memberiku kesempatan satu kali lagi?” ucap Tristan memohon dengan sangat.


Adira tidak menjawab. Namun matanya menatap Tristan dengan tajam namun penuh luka.


Adira tidak menyangka, bahwa dari sekian banyak kebohongan yang Tristan lakukan, masih ada banyak kebohongan yang di sembunyikan.


“Berapa kebohongan lagi yang masih Kakak sembunyikan dari aku? Selama ini Kakak anggap aku apa? Pajangan?” tanya Adira dengan nada penuh keterlukaan.


Adira mulai terisak karena luka yang sempat tertutup kini harus terbuka lagi.


Bahkan, luka itu semakin lebar menganga di dalam lubuk hati Adira.


Tristan berusaha untuk menenangkan Adira agar tidak menangis.


“Aku nggak akan biarin kamu pulang dalam keadaan seperti ini,” ucap Tristan yang sudah mulai berkaca-kaca.


Setelah itu, Tristan menuntun Adira untuk berdiri. Dia akan mengajak Adira beristirahat terlebih dahulu di kamar hotel yang dia sewa.


Adira sempat menolak, namun karena sudah tidak punya tenaga lagi untuk memberontak, Adira akhirnya menurut.


Dia mengikuti Tristan yang dengan setia memeluk pinggangnya posesif.


Adira berdecih melihat Tristan yang bersikap seolah adalah suami yang sangat mencintai istrinya.


Tapi kenyataannya, Adira seperti tidak di anggap karena pendapatnya sudah tidak lagi di butuhkan.


Setelah sampai di depan pintu, Tristan segera menempelkan sebuah kartu dan pintu langsung terbuka.


Tristan segera menarik pinggang Adira agar ikut masuk.


Setelah menutup pintunya kembali, Tristan menuntun Adira untuk duduk di pinggiran ranjang.


Tristan sungguh menyesal bahwa perbuatannya akan membuat Adira terluka begitu banyak.


Setelah Adira duduk, Tristan bersimpuh di depan Adira sambil memegangi kedua telapak tangan Adira. Matanya fokus menatap wajah Adira.


“Aku tuh, memang bodoh pake banget ya? Bisa-bisanya aku mau di ajak ke sini ....” ucap Adira tersenyum miris untuk dirinya sendiri.


“Kamu tidak bodoh, tapi kamu masih mencintai aku,” ucap Tristan percaya diri.


Adira menatap mata Tristan dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Cukup lama Adira diam dengan tatapan seperti itu. Namun sedetik kemudian, ucapan Adira berhasil membuat seluruh persendian Tristan seakan tidak berfungsi. Kaki Tristan juga seperti melayang dan tidak menapak di  lantai.


Suara petir seperti menggelegar terdengar di seisi ruangan.


“Ceraikan aku!” ucap Adira datar dan sangat dingin.


Tristan langsung melepaskan tautan tangannya dengan tangan Adira. Tristan tidak menyangka bahwa Adira akan meminta suatu hal yang sangat Tristan hindari agar jangan sampai terjadi.


Tristan menggeleng dengan air mata yang mulai luruh.


“Talak aku sekarang juga!” ucap Adira lagi yang nada bicaranya mulai terdengar bergetar.


Tenggorokan Tristan seperti tercekat, lidahnya terasa kelu, Tristan seakan tidak bisa berkata-kata lagi mendengar permintaan Adira yang di luar ekspektasinya.


Apa harus seperti ini akhir dari kisah cintanya?


Apakah tidak bisa di perbaiki dahulu?


Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di kepala Tristan. Dia tidak menduga bahwa Adira akan meminta talak darinya.


Dengan langkah tergesa, Adira keluar dari kamar untuk pulang. Beruntung dirinya membawa dompet dan ponselnya. Sehingga Adira memesan taksi online agar bisa sampai ke rumahnya.


Setelah taksi yang di pesan sudah menunggunya di depan lobi, Adira segera masuk dan pergi meninggalkan Tristan yang masih menangis dan terduduk di lantai karena dirinya minta cerai.


Adira juga tidak tahu, mengapa saat mengucapkan kata cerai begitu menyakitkan. Harusnya Adira merasa lega karena sebentar lagi dia akan terbebas dari ikatan pernikahan dengan orang yang telah mengkhianatinya.


Setelah taksi yang di tumpangi Adira sampai di depan rumahnya, Adira segera membayar tagihan dan berjalan tergesa menuju kamarnya.


Bu Dewi dan pak Irawan yang sedang duduk di ruang tengah sampai terkejut dengan keadaan Adira yang sudah menangis sesenggukan.


Karena khawatir, Bu Dewi mengikuti langkah kaki Adira dari belakang. Bahkan bu Dewi sudah berulang kali memanggil nama Adira, namun Adira enggan menoleh dan memberi jawaban apa yang terjadi.


Setelah masuk ke dalam kamarnya, Adira meminta waktu kepada bu Dewi untuk di tinggalkan sendiri dahulu.


Dia ingin menenangkan pikiran dan hatinya. Adira tidak yakin bahwa keputusannya meminta talak adalah keputusan yang benar. Mungkin Adira akan memikirkannya lebih matang lagi.