
Happy reading!😊
.
Tidak ada yang bisa menghentikan bunga yang sedang mekar ketika alam berkehendak.
Begitulah yang dirasakan oleh Charles sekarang ini.
Ia tak bisa pungkiri, kecantikan gadis yang di sampingnya ini membuat jantungnya meronta ingin keluar. Gadis yang memaksanya untuk ikut apapun perintah yang diucapkannya tadi.
Senyum di bibir keduanya secerah mentari. Bibir penuh senyum tapi tak ada yang tahu isi hati keduanya, kecuali mereka sendiri dan Tuhan.
Di sinilah mereka berada sekarang.
Sebuah restoran minimalis di tepi pantai menjadi tempat pelaksanaan pesta ulang tahun Casey.
Restoran itu telah disulam menjadi istana yang sangat indah. Balon berwarna keemasan menjadi pilar di bagian kiri dan kanan pintu masuk.
Saat keduanya memasuki tempat itu, pandangan mata tertuju pada mereka.
Charles tampak sangat tampan dengan kemeja abu-abu dibalut jas berwarna navy dan celana berwarna senada. Ia tak lagi tampak seperti kutu buku dan pria kampungan seperti yang ditampilkannya selama ini.
Rambutnya ditata rapi tanpa belahan dan dicat dengan warna pirang kecokelatan. Hasil salon yang dipilih Abbie memang memuaskan.
Abbie-pun tak kalah menawan. Balutan dress biru muda nampak menempel ketat dengan kulitnya. Dihiasi manik-manik berkilauan menjadikan dress berbelah punggung itu sangat luar biasa.
Charles sedikit canggung. Ia tak lagi memakai kacamatanya yang menutupi mata indahnya yang bersinar.
"Jangan gugup! Itu membuatmu terlihat bodoh," bisikan gadis itu di telinganya terdengar.
Semua mata yang mengenal Charles kemudian berbisik-bisik. Hingga datanglah seorang pemuda seumuran mereka atau mungkin sedikit lebih muda daripada mereka, berambut putih dan bermanik hijau sambil bertepuk tangan dan tersenyum mengejek. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada
"Kau tampak bahagia sekali. Apa kau sudah merasa bangga bisa datang bersama Abbie-ku di sini?" Suaranya terdengar seperti seorang pria yang cemburu karena mendapati kekasihnya selingkuh dengan orang yang sama sekali tidak selevel dengannya.
Charles terkejut namun ia menutupinya dengan tersenyum. Dimanapun, semua orang memandangnya seperti itu. Perlakuan mereka sama saja.
Ia hendak melangkah dan tak menghiraukan pemuda itu. Namun, kaki kanannya dipalang hingga ia terhuyung. Sebuah pukulan mendarat di pelipisnya. Tak terlalu keras. Mungkin ia hanya main-main saja, pikir Charles.
Abbie yang melihat itu segera melepaskan tangannya yang melingkar di lengan Charles. Ia berdiri menghadang pria itu dengan wajah merah padam. Kilatan amarah terpancar dari bola matanya.
"Hentikan!" hardiknya ketika ia melihat kerah jas Charles ditarik pemilik manik biru itu. Ia mengepalkan tangannya hendak menyerang pria di hadapannya itu, tapi langsung ditepis perlahan oleh Charles.
"Jangan permalukan dirimu lagi, Nona D'alejjandra." Ia menggeleng dengan nada memohon.
Gadis itu menghembuskan napas kasar. Secepat kilat ia menghadiahi pemilik rambut putih itu pukulan keras di wajahnya.
Charles menutup mulutnya. Ia terkejut. Baru kali ini ia melihat Abbie memukuli orang dengan amarah menggebu di ubun-ubunnya.
Sekalipun ia pernah ditendang dan dipukul keras oleh gadis itu, semua hanyalah sebagai pelampiasan kekesalannya.
"Kau memukulku, sayang?"
Senyuman menyebalkan itu masih ada di bibir pria itu. Ia terkekeh.
"Dia pasti orang berharga untukmu," ujarnya dengan nada tajam yang mencekam.
"Kau mudah mengerti rupanya, Tuan Mendes." Senyuman maut terlukis di bibirnya yang merah maroon itu.
"Dia kekasihku," sahutnya lagi sambil tersenyum manis ke arah Charles.
"Kau harus memperlakukannya dengan baik. Tidak boleh ada yang menyentuhnya bahkan seujung kukupun."
Gadis itu mempertegas kalimat terakhirnya.
Semua orang yang hadir di sana sangat terkejut. Apalagi temannya, Izzy. Ia terbelalak dengan pernyataan Abbie.
Apa dia sudah gila? Dia mengaku-aku sebagai kekasihku?
Ia tak menyangkal keinginan hatinya. Ia memang mencintai gadis itu sejak awal ia masuk ke sekolah itu. Ia menunggu waktu yang tepat saja untuk bisa mendekati seorang Abigail. Dan waktu yang ia tunggu datang begitu cepat saat ia masih belum bisa menormalkan degup jantungnya.
Dia menciumku?
Charles diam membeku. Ia tak menyangka dicium oleh gadis itu.
Namun, secepatnya ia sadar. Ia mulai bisa melakoni perannya sebagai kekasih pura-pura Abbie di depan pria itu. Ia melingkarkan lengannya di pinggang ramping milik gadis itu sambil tersenyum manis.
Meski ia tak tahu hubungan seperti apa yang ada di antara Abbie dan pria di hadapannya itu di masa lalu, ia berusaha tenang.
"Ayo, sayang."
Ia menarik pinggang Abbi mendekat ke arahnya.
*****
Aku pasti sudah gila.
Sudah beberapa teguk minuman beralkohol yang masuk ke dalam perutnya. Gadis itu nampak belum puas juga. Ia meminta tambah lagi pada bartender.
Bagaimana bisa aku memberikan ciuman pertamaku dengan mudah padanya?
Ia akui, pesona Charles malam ini mengalihkan dunianya. Pria yang sering dibully dengan kata-kata tak pantas. Pria yang ia katai kampungan dan cupu.
Dan yang lebih membingungkan, kenapa ia memaksa Charles ikut dengannya. Kenapa ia mengikuti ide gila temannya.
"Hentikan. Kau bisa mabuk, D'alejjandra!"
Tangannya yang hampir kembali meneguk minuman beralkohol itu dihentikan pria berjas navy itu.
Setelah terjadinya kejadian singkat itu, keduanya langsung meninggalkan tempat itu tanpa menikmati pestanya.
Abbie yang mengendarai mobilnya memutar setir ke arah sebuah bar terdekat. Pria itu tetap mengikutinya tanpa berniat meninggalkannya. Ia lihat betapa marahnya Abbie tadi, dan menerka-nerka apa yang akan dilakukan gadis itu.
Dan benar saja, ia terlihat gelisah dengan pandangan kosong. Gelas minuman terus berdatangan ke arahnya tanpa henti.
"Apa pedulimu, huh? Kau lihat, pria itu pasti akan menghabisimu, Charles."
Dia baru saja menyebut namaku 'kan? Bukan panggilan cupu atau kampungan. Bukan hei...hei...seperti yang biasa ia lakukan.
Ia peduli.
Pikirannya tak karuan. Ia baru sadar sekarang. Ia telah melibatkan Charles sejauh ini. Waktu kejadian itu berlangsung, akal sehatnya seperti tidak berfungsi sehingga ia mengatakan hal yang sekarang ia sesali.
Tidak. Ia tidak menyesal telah mengatakan bahwa pria itu harus memperlakukan Charles dengan baik. Jujur saja, setiap kali ia mendengar apapun yang dikeluarkan oleh mulut-mulut kotor siswa di sekolah, ingin sekali ia merobek mulut-mulut itu.
Tapi sekarang, apa yang harus ia lakukan bila pria yang ia pukul tadi membalas dendam pada Charles? Apa pria kampungan itu akan diam saja seperti saat-saat ia dibully? Bagaimana kalau ia babak belur dan sakit sehingga ia tidak bisa mengikuti olimpiade yang akan berlangsung beberapa hari lagi?
Dari sekian banyak hal yang mengganggu pikirannya, hanya satu yang menurutnya aneh. Ada sesuatu yang salah. Jika hari-hari kemarin ia mengajak pria sebagai pasangannya ke pesta, sedang di tengah perjalanan ia sudah mendapat telepon ancaman dari ayahnya.
Tapi, malam hari ini? Tidak ada tanda-tanda dari ayahnya bahwa ia diancam. Tidak mungkin ayahnya tidak tahu ia pergi ke mana dan bersama siapa. Hingga sebuah pesan masuk membuyarkan pikirannya.
💌Papa:
Pulanglah, sayang. Kau sudah mabuk😊.
Aneh. Benar-benar ada sesuatu.
.
Follow my ig @xie_lu13