
Di dalam kamarnya yang berukuran luas itu, Tristan menumpahkan segala keluh kesahnya kepada Sang Maha Kuasa.
Tangis mengiringi di setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.
“Ya Allah ... Maafkan semua kesalahan hamba. Di saat hamba sedang bahagia, hamba lupa akan kehadiranMu. Namun di saat hamba sedang berduka, justru hamba malah mengingatMu. Ampuni segala dosa-dosa hamba Ya Allah.” ucap Tristan berdoa seraya menengadahkan kedua telapak tangannya.
Setelah satu jam memohon ampunan dari Yang Maha Kuasa, Tristan mengakhiri sholatnya.
Dia bergegas mencuci wajahnya yang sembab karena terus menangis dalam doa panjangnya.
“Benar kata Amanda, hatiku menjadi lebih tenang setelah melakukan sholat,” ucap Tristan tersenyum lega.
Beban pikirannya seakan diringankan oleh Allah SWT.
Tidak ada yang perlu Tristan khawatirkan lagi, karena dia masih mempunyai Allah yang akan membantu di manapun Tristan berada.
Tristan percaya, usaha dan doa yang selalu dia panjatkan akan berbuah manis.
Setelah mengelap wajahnya dengan handuk, Tristan turun ke bawah untuk bergabung bersama keluarganya.
Tristan masih mengenakan baju koko dan sarung bermotif kotak-kotak menuju ruang keluarga.
Setelah berhasil menuruni anak tangga, semua terpana sampai tak berkedip melihat penampilan Tristan yang terlihat berbeda dari biasanya.
Tristan terlihat lebih segar dan tampan dengan rambutnya yang mulai panjang dia kucir ke belakang menjadi satu.
Jangan lupakan berewoknya yang sudah terlihat rapi seperti habis dicukur walaupun tipis.
Tristan seperti lahir kembali dalam keadaan yang lebih tampan dan menawan.
“Ini Tristan, anak Mama kan?” tanya bu Siska sambil meraba-raba wajah Tristan.
Tristan terkekeh pelan mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut mamanya.
“Bukan, saya anaknya bu RT,” jawab Tristan melucu.
Amanda dan Doni sudah memasang senyumnya dari tadi melihat penampilan Tristan yang lebih memukau.
“Naaah ... Kalau penampilan Abang udah ganteng begini, pasti Adira bakal langsung klepek-klepek waktu pertama kali ketemu,” ucap Amanda memuji.
“Nggak kaya tadi, lusuh dan berantakan,” sambung Amanda lagi dengan meledek.
“Emang aku baju, sampai lusuh segala.” jawab Tristan sambil mencebikkan bibirnya kesal.
Semua tergelak renyah bersamaan. Hal itu tidak luput dari pandangan pak Hendra.
Akhirnya, setelah sekian lama senyum dan tawa itu hilang, kini hal itu sudah kembali lagi menghiasi rumahnya.
Pak Hendra menatap Tristan dengan tatapan sendu.
“Tristan ....” panggil pak Hendra lembut.
“Semoga setelah ini, kamu bisa belajar dari kesalahan kamu yang sudah-sudah. Jangan pernah mengulanginya lagi,” ucap pak Hendra menasihati.
Tristan tersenyum simpul menatap papanya, kemudian dia langsung berhambur memeluk lelaki yang sudah menjadi inspirasinya itu.
“Iya Pa. Seandainya nanti Adira kembali lagi, dan mau memberiku satu kesempatan untuk memperbaiki diri, aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama dan membuat Adira kecewa. Sudah cukup rasanya aku menderita tanpa Adira,” jawab Tristan dengan posisi masih berpelukan.
Air mata penyesalan langsung jatuh dari kedua sudut mata Tristan.
Amanda, Doni dan bu Siska, mereka menatap sendu kepada keduanya.
Namun, suasana haru itu tidak berlangsung lama karena celotehan Echa yang cadel dan sangat lucu.
“Hahaha. O-om enis.” (om nangis) ucap Echa tertawa meledek sambil telunjuknya menunjuk ke arah Tristan.
Tawa renyah pun tidak bisa di hentikan lagi. Suasana rumah kediaman Wijaya sudah kembali hangat karena tawa yang dulu hilang kini sudah kembali lagi.
Bukankah kita harus menghadapi setiap masalah dengan senyuman?
Dengan senyuman, masalah akan terasa ringan walaupun itu merupakan masalah yang sangat berat.
............
Kota Solo, pukul 18.30 wib.
Saat ini, mereka sedang makan malam bersama di dalam rumah sederhana yang dulu menjadi saksi perjuangan papa dan mama Adira.
Semua ruangan dan barang-barang yang ada di dalamnya masih terawat dan bersih karena ada yang di tugaskan untuk membersihkannya setiap seminggu sekali.
“Kalau balik ke rumah ini tuh, Mama merasa lagi bernostalgia,” ucap bu Dewi sambil tersenyum bahagia.
“Papa juga gitu. Rumah ini menjadi saksi perjuangan kita dulu merintis bisnis hingga sampai se sukses sekarang,” imbuh pak Irawan sambil menatap sekeliling rumahnya.
“Di sini juga, Adira bisa ingat masa kecil Adira yang menyenangkan tinggal berdekatan dengan sawah,” imbuh Adira lagi. Tatapannya menerawang jauh ke masa lalunya.
“Besok pagi, kita keliling kalau begitu,” putus pak Irawan sambil tersenyum.
“Mau dong. Adira ikut ya, Pa,” sahut Adira berbinar.
“Pasti dong. Besok kita jalan bertiga,” sahut mama yang juga menyetujui ide suaminya.
Setelah itu, mereka kembali menghabiskan hidangan yang telah tersedia di meja makan.
Tentu saja bu Dewi dan Adira yang memasak semua hidangan yang tersedia di meja makan tersebut.
Beruntung, di dekat rumahnya tinggal, ada penjual sayur yang sudah menetap di teras rumahnya.
Jadi, tidak perlu mengandalkan tukang sayur gerobak yang datangnya hanya di pagi hari.
Setelah makan malam selesai, mereka pindah ke ruang tengah yang di sana terdapat TV namun sudah model lama, yaitu model tabung.
Tapi, TV itu masih normal dan bisa di hidupkan seperti biasa. Cuma, channel yang ada di dalamnya sudah tidak beragam seperti TV digital jaman sekarang.
Sejak kedatangan bu Dewi dan pak Irawan tadi sore, mereka sama sekali belum menyinggung soal masalah rumah tangga Adira.
Mereka lebih fokus membahas tentang hal apa saja yang telah mereka lalui selama tiga bulan itu.
“Ra ... Sebaiknya masalah rumah tangga kamu dengan Tristan segera di selesaikan,” ucap pak Irawan lembut karena tidak mau menyinggung perasaan anaknya.
Adira langsung mengfokuskan dirinya menatap papanya itu. Lalu dia berkata.
“Sebenarnya, Adira juga kangen sama kak Tristan. Tapi, aku juga ingin dicari dan di perhatikan setelah aku menghilang, Pa,” jawab Adira dengan bibir yang sudah maju lima senti.
“What?! Kamu rela kabur dari rumah hanya karena ingin dicari dan di perhatikan? Tolong deh, Ra ... Bercandanya kamu nggak lucu,” pekik bu Dewi kaget dengan alasan Adira kabur dari rumah.
Adira terkekeh menanggapi ucapan mamanya.
“Ya nggak gitu juga, Ma. Ada alasan lainnya juga makanya aku memilih pergi,” ucap Adira yang nada bicaranya mulai melirih dan terdengar sedih.
“Ssst ... Nggak papa. Mama sama Papa ngerti kok, pasti nggak mudah menjalani biduk rumah tangga, apalagi ada orang ketiga,” ucap bu Dewi lagi menenangkan.
Tangannya dia gunakan untuk mengelus pundak Adira lembut.
“Kehamilan kamu udah jalan sembilan bulan kan, Ya?” tanya bu Dewi bermaksud mengalihkan topik pembicaraan.
Dia tidak ingin melihat anak semata wayangnya itu bersedih.
Masalah rumah tangga Adira, mungkin besok Bu Dewi akan membahasnya lagi.
“Iya, Ma. Entar aku lahiran di sini aja kayaknya,” ucap Adira dengan wajah murungnya.
“Kenapa di sini? Besok kita pulang ya? Pulang ke rumah Mama aja,” ajak Bu Dewi berusaha membujuk Adira.
Adira menggeleng lemah.
Dia tidak akan pulang sebelum suaminya itu yang menjemputnya.
Adira ingin tahu seberapa besar usaha Tristan untuk menemukan dirinya.
Tapi ada hal yang Adira takuti saat memilih menetap di Solo menjelang hari perkiraan lahir bayinya.
Yaitu, takut Tristan tidak menemukan dirinya. Akhirnya, Adira akan melahirkan anaknya di kota Solo sendirian tanpa pendampingan dari suami.
Kan lucu kalau ada berita, seorang wanita melahirkan anaknya secara solo di kota Solo.
Adira tidak mau itu terjadi. Tapi, Adira juga masih enggan untuk memberi tahu keberadaan dirinya kepada Tristan.
Memang aneh Adira ini. Mungkin karena pengaruh hormon ibu hamilnya yang meningkat, membuat Adira menjadi semakin sensitif.