
Setelah di pindahkan ke rumah VVIP, Lidya akhirnya sudah bisa di jenguk.
Saat ini, Adira dan Tristan sedang berada di ruangan tempat Lidya di rawat.
Bersyukur, Lidya bisa melakukan persalinan dengan normal.
“Selamat ya, Lid. Akhirnya bayi Lo udah launching,” ucap Adira memberikan selamat.
Dia berdiri di samping ranjang bayi yang sudah Azka persiapkan untuk anaknya tidur.
“Terima kasih, Ra. Lo sabar ya, karena anak Lo masih coming soon,” jawab Lidya sambil terkekeh di akhir kalimat.
Adira juga ikut terkekeh menanggapi.
Tristan dan Azka hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucap para istrinya.
“Gue belum sempat nanya tadi, anak Lo cewek apa cowok?” tanya Adira sambil membelai pelan pipi sang bayi yang masih sangat lembut itu.
“Cowok. Ganteng kaya papinya kan?” tanya Lidya sambil menarik turunkan alisnya.
“Hahaa. Iya, tapi lebih gantengan suami Gue,” jawab Adira mengunggulkan suaminya.
Lidya dan Azka memutar bola matanya malas mendengar pengakuan Adira yang kelewat percaya diri.
Lidya diam tidak menanggapi. Setelah itu, Adira duduk di sebelah suaminya yang sedang duduk di sofa panjang yang berada di ruangan tersebut.
Sebagai pengusaha sukses, bukan suatu masalah bagi Azka untuk menyewa kamar rumah sakit yang seharinya bisa menghabiskan berjuta-juta rupiah.
Bahkan, seisi rumah sakit pun bisa Azka beli dengan uangnya.
Ruang VVIP yang di sewa Azka memang terbilang luas.
Ada juga sofa yang tersedia di sana yang digunakan apabila ada tamu yang berkunjung.
Di dalam ruangan tersebut juga terdapat lemari pendingin, dispenser, kompor listrik dan peralatan dapur lainnya.
Sudah seperti rumah pokoknya.
Bayangan akan terasa membosankan bila terlalu lama di rumah sakit tidaklah benar, bila kamar yang di sewa saja sudah seperti hotel bintang lima.
Tapi itu untuk pasien bersalin, sedangkan untuk orang sakit, semewah apapun ruang rawat inapnya, tidak akan pernah berarti bila tubuh mereka saja terbaring lemah di ranjang.
Oleh karena itu, kita harus bersyukur karena nikmat sehat yang sudah Allah berikan kepada kita semua.
Tidak terbayangkan akan bagaimana kita bila nikmat sehat itu, Allah cabut dari tubuh kita.
Tidak berapa lama kemudian, Amanda dan Doni masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
Adira sudah memberitahukan Amanda di mana Lidya di rawat inap.
Adira juga sudah menelepon kedua orangtua Lidya.
Mereka mengatakan akan segera menuju rumah sakit. Begitu juga dengan kedua orangtua Azka.
“Hai Lidya, bagaimana? Sehat kan semuanya?” tanya Amanda untuk pertama kali.
“Alhamdulillah sehat semua, Man,” jawab Lidya dengan tersenyum bahagia.
“Selamat ya, Bro. Lo udah resmi jadi bapak-bapak sekarang,” ucap Doni berpelukan dengan Azka ala-ala cowok pada umumnya.
“Terima kasih banget karena udah mau nyempetin datang ke sini,” jawab Azka tersenyum bahagia.
“Kaya sama siapa aja,” balas Doni sambil terkekeh.
“Echa sama siapa, Man?” tanya Adira yang menyadari ketidak hadiran keponakannya itu.
“Sama mama di rumah. Kasihan kalau harus ikut ke sini,” jawab Amanda sambil berjalan mendekat menuju ranjang bayi.
Amanda bisa melihat, anak Lidya tertidur dengan pulas.
“Anak Lo cowok kan ya, Lid? Ngomong-ngomong mau di kasih nama siapa?” tanya Amanda sambil menatap Lidya.
Lidya dan Azka saling berpandangan dan tersenyum.
“Zain Adyatma Bagaskara.” ucap Lidya dan Azka bersamaan.
“Woah! Nama yang tampan.” Ucap Adira berkomentar sambil bertepuk tangan heboh.
“Husssst ....” ucap Tristan menyuruh Adira agar tidak terlalu keras bersuara.
Adira mengeluarkan cengiran kudanya.
Dia refleks bertepuk tangan karena merasa terpesona dengan nama yang diberikan oleh Lidya dan Azka untuk anaknya.
.........
Setelah puas menemani Lidya dan Azka di rumah sakit, Adira dan Tristan akhirnya memilih pulang.
Amanda dan Doni sudah pulang lebih dulu karena takut Echa akan rewel tiba-tiba bila di tinggal terlalu lama.
Saat ini, Adira dan Tristan sedang berjalan menuju parkiran tempat mobilnya terparkir.
Belum sampai keduanya di parkiran, ponsel Tristan berdering menandakan ada telepon masuk.
Tristan merogoh saku celananya dan mengambil benda persegi panjang serba guna itu.
Setelah melihat mama yang tertera, Tristan melirik Adira sekilas yang sedang menatapnya.
“Daei kantor,” ucap Tristan tak berani menatap mata Adira.
“Ya udah, angkat aja,” suruh Adira.
Tristan tampak ragu untuk mengangkatnya. Akhirnya dering berhenti menandakan telepon tidak terjawab.
“Nggak terlalu penting juga. Biarin aja,” jawab Tristan, lalu menuntun Adira untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
Belum sempat Adira masuk, ponsel Tristan berdering lagi.
Tristan menoleh lagi menatap Adira yang sedang menatapnya juga.
“Aku angkat ya. Siapa tahu penting.” ucap Tristan meminta izin.
Adira mengangguk dan memilih duduk di dalam mobil menunggu Tristan selesai bertelepon.
Adira tidak bisa mendengar jelas apa yang di bicarakan suaminya itu. Namun, melihat raut tegang yang terpancar di wajahnya, Adira menduga bahwa ada masalah di kantor.
Adira tidak tahu saja, siapa sebenarnya yang menelepon Tristan.
Setelah Tristan kembali, Adira melihat raut wajah suaminya itu tidak bisa di artikan.
“Kenapa?” tanya Adira penasaran.
“Apa ada masalah?” tanya Adira lagi.
Tristan mengangguk dengan ragu-ragu. Kemudian dia berkata.
“Kamu pulang naik taksi aja gimana? Aku ada urusan mendadak nih, Ra,” ucap Tristan yang malah bertanya dan tidak menjawab pertanyaan Adira.
“Urusan apa memangnya?” tanya Adira yang sudah sedikit kesal karena Tristan tak kunjung memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi.
Tristan seakan menghindari pertanyaan yang Adira lontarkan.
“Ini sangat penting. Ada masalah besar di kantor,” jawab Tristan yang masih enggan menatap mata Adira.
Adira mengangguk dan mencoba percaya dengan ucapan suaminya.
Walau sebenarnya, Adira merasa ragu dan merasa ada yang sedang Tristan tutup-tutupi darinya.
“Aku akan pulang naik taksi,” putus Adira kemudian.
Dia keluar dari mobil dan segera berjalan ke pinggir jalan untuk memberhentikan taksi yang lewat.
“Maafin aku ya, Ra. Kalau nggak mendesak, aku antar dulu,” ucap Tristan merasa bersalah.
Adira yang sudah merasa kesal, dia hanya diam dan tidak menanggapi apapun.
Bahkan, sampai taksi yang membawanya pulang sudah tidak terlihat, Adira sama sekali tidak menengok ke belakang untuk melihat suaminya itu.
Beberapa hari ini, Adira merasa tingkah Tristan sedikit aneh tidak seperti biasanya.
Di pagi hari saat sarapan, Tristan selalu terburu-buru untuk pergi. Dan di malah harinya, dia selalu pulang hingga malam.
Padahal, kantor akan tutup pukul lima sore.
Bukan Adira tidak tahu, tapi Adira mencoba untuk percaya kepada suaminya itu.
Mungkin, Tristan benar-benar sibuk dan Adira mencoba mengerti itu.
Sesampainya di rumah, Adira langsung menuju kamarnya.
Dia merebahkan dirinya di atas kasur dengan posisi meringkuk.
Air matanya menetes begitu saja. Perasaan hatinya mendadak tidak karuan mengingat Tristan yang menyuruhnya pulang menggunakan taksi tanpa mau mengantarnya pulang lebih dulu.
Apakah pekerjaan lebih penting dari istrinya sendiri?
Seketika, Adira merasa perutnya bergejolak lagi.
Dia segera berjalan sedikit berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
“Uek ... Uek ....”
Setelah semua isi perutnya keluar, tubuh Adira merasa lemas.
Dia berjalan sambil berpegangan pada dinding menuju ranjangnya lagi. Seluruh badannya seakan sakit semua.
Entah apa yang sedang Adira rasakan ini. Tidak biasanya Adira muntah sampai sebegitunya.
Setelah membaringkan tubuhnya kembali, Adira kembali menangis.
Di saat seperti ini, Tristan malah tidak berada di sampingnya. Adira merasa sedih sekali.
Perasaan hatinya mendadak tidak enak memikirkan apa yang sedang suaminya lakukan sekarang.
Dia kembali menangis terisak.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Adira pada dirinya sendiri disela tangisnya.
Adira berpikir, mungkin karena hormon kehamilannya yang menyebabkan perasaanya tidak tenang.
Adira berharap, suaminya sedang baik-baik saja sekarang ini.