
"Kalau kau masih memiliki alasan dalam mencintai seseorang, itu artinya hatimu belum sepenuhnya mencintai dia." KP
Happy reading!😊😘
*****
Franklyn minta undur diri dari tempat itu kepada Philip. Meskipun alasannya tidak jelas, tetapi dari tatapan manik biru safirnya yang memelas, Philip tahu ada sesuatu yang membuat Frank ingin pulang secepat itu karena biasanya ia akan menemani Philip sampai akhir.
"Pergilah. Kekasihmu sudah menunggu, aku yang akan mengantar Charlie." Ia tersenyum tipis menunggu reaksi Frank sambil menyesap winenya yang ia minta lagi pada Miguel, si bartender.
Tahu bahwa tebakan Philip tepat sasaran, Franklyn hanya mengusap tengkuknya dan tersenyum malu-malu. "Bagaimana kau tahu?"
Philip terkekeh kemudian ia menunjukkan layar ponselnya kepada Frank. "Aku memiliki mata dimana-mana."
"Ck, kau sudah seperti detektif saja."
"Aku mengawasi semua orang yang berkaitan denganku, termasuk gadis itu. Meskipun dia belum resmi menjadi kekasihmu, tetap saja dia berhubungan denganmu dan akan menjadi sasaran empuk bagi mereka yang memusuhiku karena kau dekat denganku."
"Ya, ya. Aku tahu kalau kau punya banyak musuh, tapi jangan mengusiknya." Ia berpura-pura mengancam Philip dan mengepalkan tangannya pertanda bahwa ia akan menghabisi Philip kalau berani melanggar.
"Ck, dia bukan seleraku, tenanglah."
"Sialan." Ia terkekeh kemudian berlalu dari tempat itu.
Hembusan napasnya pada tiap detik hanya menderu tak karuan, jantungnyapun tak kalah menggila. Ia takut semua yang ada dalam pikirannya ini hanyalah mimpi dan tidak akan menjadi kenyataan.
Mobilnya ia lajukan perlahan berharap waktu berhenti saja. Ia tidak ingin menerima kenyataan yang menyakitkan mengingat bagaimana ketidaksukaan Metti padanya. Awalnya ia ingin berhenti saja, namun mengingat bagaimana cara ia memulainya, ia tidak ingin menghabiskan tenaga dengan sia-sia. Apa yang sudah ia mulai, harus ia akhiri pula entah baik atau buruk hasilnya.
Tidak selang beberapa lama, mobilnya sudah memasuki pelataran bangunan itu. Ia memarkirkannya dengan terburu-buru sehingga penjaga parkiran kalang kabut untuk memindahkannya ke tempat yang semestinya.
Belum sempat ia masuk ke dalam toko roti itu, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Kau menepati janjimu, Frank." Orang itu tersenyum manis.
"Kau mengejutkanku, Metti." Ia membalikkan badannya dan membalas senyuman gadis itu dengan canggung. Ia merasa ada sesuatu yang sangat aneh malam ini. Gadis itu menunggunya.
"Hell, senyuman aneh itu muncul lagi."
Franklyn terdiam. Gadis ini seperti membaca gerak-geriknya yang sedikit canggung. Ia hanya menatap manik biru safir itu tanpa berkedip sedikitpun membuat semburat merah di wajah Metti muncul.
"Apa kau akan terus menatapku seperti itu dan tidak beranjak dari sini?" Metti memegang tangan kanannya.
Deg.
Jantung Frank seakan copot sekarang. Ia masih tidak percaya apa yang terjadi, Metti memegang tangannya duluan, bukan dia yang berinisiatif. Mulutnya bungkam hanya manik birunya saja yang berkedip menandakan bahwa ia masih bisa melihat kenyataan di hadapannya. Saat kesadarannya kembali, ia menarik tangan Metti ke parkiran.
"Maaf."
Ia membuka pintu mobil untuk gadis itu kemudian ia memutari mobil itu dan masuk ke belakang kemudi dan melajukannya.
Hanya keheningan yang menyelimuti untuk beberapa saat. Keduanya tidak ada yang membuka mulut. Franklyn sibuk dengan pikirannya sendiri. Keanehan gadis ini membuatnya bingung. Mungkinkah dia akan pergi jauh dari sini ataukah dia akan memberi kepastian padanya. Ia tidak berani sekadar berbasa-basi ataupun bertanya karena ia sangat takut pada kenyataan kalau pada akhirnya ia harus merelakan gadis ini pergi.
Tangannya masih setia memegang setir mobil ketika Metti bersuara.
"Tolong antarkan aku ke sana." Tangannya menunjuk lewat kaca jendela menuju ke sebuah pasar malam yang tidak jauh dari jalan itu.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Berbelanja. Perlengkapan di dapurku hampir habis karena pada waktu siang aku tidak memiliki banyak waktu."
"Oh, baiklah. Kenapa kau tidak membelinya di supermarket saja?"
"Ada yang tidak dijual di supermarket, tapi bisa kutemukan di sini. Temani aku agar hutangmu lunas."
Frank mengangguk paham kemudian menepikan mobilnya dan memarkirkannya di tempat yang disediakan untuk kendaraan beroda empat.
"Kemana saja kau selama ini? Tidak ada lagi tangkai bunga mawar yang dikirim kepadaku akhir-akhir ini," tanya Metti sambil terkekeh ketika keduanya turun dari mobil. Ia melingkari tangan kanannya di lengan kiri Frank sambil melangkah ke tempat yang dituju.
"Kau merindukanku?"
Metti terkekeh. "Ya, aku ingin bunga mawar lagi."
"Kau ingin aku atau ingin bunganya?" Ia sengaja bertanya sambil mengacak gemas rambut gadis itu.
Franklyn tersenyum tipis, tapi jantungnya berdegup sangat kencang ketika mendengar pengakuan itu. Ia menghentikan langkahnya yang membuat Metti harus menghentikan langkahnya juga.
"Ada apa?"
"Dengarlah ini." Ia menarik kepala gadis itu agar telinganya mendekat ke dadanya dan merasakan debaran jantungnya. "Dia selalu seperti ini saat bersamamu." Ia bisa merasakan badan Metti menegang ketika ia menarik tangannya mendekat, namun tak urung dia menurut juga.
Metti bersemu malu, untung saja di tempat itu sedikit gelap karena mereka belum memasuki area pasar sehingga Frank tidak melihat pipinya yang merona. Tangan kanan Frank mengelus kepalanya sedangkan tangan kirinya tetap memegang tangannya. Jujur saja, ia merasa nyaman ketika bersama pria ini. Yang membuatnya gusar ialah pria ini selalu menganggapnya mencintai temannya.
"Kau masih berpikir kalau aku menyukai Charles 'kan?" Ia memberanikan diri mengeluarkan kejengkelannya pada pria ini. Ia mengerucutkan bibirnya.
"Itu faktanya."
Metti memukul lengannya gemas. Ia tahu betapa bodohnya pria ini sekarang. "Kau cemburu?"
Franklyn terkekeh. "Anehnya, iya. Padahal aku bukan siapa-siapa."
Metti mendengus kesal. Dia benar-benar bodoh, pikirnya. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum manis. "Terima kasih."
"Hah?!"
"Terima kasih karena sudah mencintaiku."
Air muka Frank berubah detik itu juga. Di pikirannya saat ini kalimat itu adalah kalimat perpisahan seperti yang dipikirkannya tadi.
"Jangan pergi. Kau berterima kasih agar bisa menjauh dariku 'kan? Aku berjanji tidak akan mengusikmu lagi dan tetap mengirimkan bunga yang kau sukai setiap hari. Biarkan aku tetap melihatmu dari kejauhan meski itu sangat berat." Ia melingkari lengannya di pinggang gadis itu dan membenamkan kepalanya di ceruk lehernya. Ia merasakan gadis itu sedang tersenyum dalam pelukannya dan balas melingkari lengan kecilnya di perut ramping miliknya.
"Kau bodoh."
"Jangan pergi, kumohon. Biarkan ini menjadi pelukan terakhirku."
Metti mencubit perutnya keras membuatnya melonggarkan pelukannya. Hal itu membuat Metti memiliki kesempatan untuk menjahilinya.
"Aku akan pergi. Terima kasih, Frank."
Ia membalikkan badannya sambil tersenyum hendak pergi, namun tangan Franklyn menggenggam erat tangannya sehingga membuatnya menghentikan langkahnya.
"Berhenti!" Suara Franklyn yang tercekat membuatnya tertawa keras dan berbalik menghadapnya.
"Kau kenapa? Aku akan pergi ke sana." Ia menunjuk ke pasar yang sudah ramai oleh banyak pembeli sambil memegang perutnya yang keram akibat tertawa.
Frank tersipu, ia tertipu. "Aku akan bersamamu."
"Tentu saja."
Disaat Frank akan melangkah melewatinya, ia menghentikannya. "Kenapa kau mencintaiku?"
"Apakah aku harus butuh alasan untuk mencintaimu? Ketahuilah, cintaku tulus untukmu tanpa memiliki alasan." Ia mendengus kesal.
Seketika itu juga air mata Metti membanjiri pipinya yang mulus itu. Ia memeluk erat pinggang Frank dan membenamkan wajahnya di dada pria itu sambil mendengarkan suara jantungnya yang bertalu-talu.
"Terima kasih." Ia terisak tertahan. "Aku mencintaimu, bodoh. Aku jengkel ketika kau tidak pernah datang lagi di toko dan tidak memberiku bunga. Aku merasakan dadaku sesak saat kau mengira aku mencintai Charles. Kau benar-benar bodoh, padahal aku jelas-jelas mencintaimu. Ya, memang benar aku kagum pada Charles, tapi itu hanya sekadar kekaguman bukan rasa cinta. Aku membencimu karena itu sehingga aku berulang kali menolakmu. Tapi, melihatmu tidak pernah menyerah karena penolakanku aku bahagia karena aku merasa cintaku juga terbalas." Ia memukul dadanya yang terasa sesak karena telah mengeluarkan seluruh perasaannya yang terpendam selama ini.
"Aku hanya mencintaimu, Frank." Ia memukul dada pria itu keras.
Ketika ia merasa tidak ada sahutan dari pria itu, ia mendongak. Betapa terkejutnya ia melihat air mata yang meluncur dari manik biru milik Frank. Seketika, Frank menghapusnya kasar dan tersenyum menatapnya.
"Frank..." Ia mengusap air mata yang masih tersisa dengan lembut dan menatap manik biru itu.
"Yang kau katakan itu benar 'kan? Aku sangat bahagia." Frank tersenyum dan langsung memeluknya. Kini matanya berbinar karena kabahagiaan.
Metti mengangguk. "Aku serius." Ia mengecup bibir Frank singkat.
"Jangan menggodaku, sayang." Ia makin mengeratkan pelukannya dan mencium wangi rambut milik Metti. "Aku menyayangimu."
"Aku tahu itu. Kau mengatakannya setiap hari."
Franklyn terkekeh dan melepaskan pelukannya kemudian menarik tangan Metti ke area pasar itu.
*****
Ig @xie_lu13