Treat You Better

Treat You Better
Persiapan.



Adira dan Tristan benar-benar merealisasikan keinginannya untuk cepat menikah.


Keputusannya sudah final. Dalam waktu satu bulan mereka akan melaksanakan acara pertunangan dan juga pesta pernikahan.


Kedua orangtua mereka sudah memusyawarahkan semuanya.


Tentu saja ada perbedaan pendapat. Namun itu bisa di atasi oleh mereka.


Acara pertunangan akan dilaksanakan di rumah Adira. Sedangkan untuk pesta pernikahan tentunya mereka akan mengadakannya di gedung.


Saat ini rumah Adira tampak ramai dari biasanya. Karena memang keluarga besar Adira sedang berkumpul untuk acara pertunangan Adira.


Juga ada beberapa orang berlalu lalang memasang dekorasi dan tenda untuk acara pertunangan Adira lusa.


Adik dari papanya yang dipanggil Om oleh Adira tentu saja datang bersama anak dan istrinya. Papanya hanya memiliki satu saudara yaitu adiknya. Papanya adalah anak pertama.


Opa dan Oma dari papanya juga datang dan akan tinggal di rumah Adira sampai Adira menikah.


Sedangkan dari keluarga ibu, hanya tinggal Oma,nya saja. Opanya sudah meninggal dunia.


Mamanya juga sama dengan papanya, hanya dua bersaudara.


Mama Adira memiliki kakak laki-laki yang tentunya mewarisi perusahaan milik orangtuanya.


Namun dari keluarga mamanya, mereka tinggal di luar negeri. Tepatnya di Singapura dan mengurus bisnis disana.


Sedangkan dari keluarga papanya, mereka tinggal di luar pulau Jawa, tepatnya di Sumatera. Mereka juga menjalankan bisnis keluarganya disana.


“Adira... Oma nggak nyangka kalo kamu udah dewasa dan bentar lagi bakalan nikah” ucap Oma Santi berkaca-kaca. Oma Santi merupakan ibu dari mama Adira.


Oma Santi sudah datang beberapa menit yang lalu. Sedangkan om dan tantenya masih berada di Singapura.


Mereka tidak bisa hadir di acara pertunangan Adira. Tapi mereka sudah berjanji datang untuk acara pernikahan Adira.


Karena banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Mengingat om dari ibunya itu merupakan direktur utama di perusahaan milik oma dan opanya.


“Oma jangan nangis. Adira jadi sedih. Apa Adira nggak usah nikah aja” ucap Adira yang juga ikut meneteskan air mata.


“Hussh... Nggak boleh ngomong begitu. Kamu harus menikah. Oma nangis karena merasa bahagia” ucap Oma Santi sambil menyeka air matanya.


“Ya Oma jangan nangis. Walau udah nikah kan kita masih bisa ketemu hehe” ucap Adira sambil berhambur ke pelukan Omanya.


Bu Dewi yang berada satu ruangan  itu juga tidak bisa menahan air matanya.


Dia juga terharu dan bahagia, anak gadisnya sebentar lagi akan menikah dan menjadi orangtua.


“sekarang mama juga nangis..” ucap Adira seperti memarahi.


Akhirnya mereka bertiga berpelukan.


Setelah tangis mereka reda, mereka melepas pelukan tersebut.


“Kak Adis beneran nggak datang ma?” tanya Bu Dewi kepada mamanya.


“Adis harus mengurus pekerjaannya dulu. Tapi dia berjanji akan datang dihari pernikahan Adira. Dia sengaja tidak datang hanya untuk bisa datang di nikahnya kamu Ra” ucap Oma Santi menjelaskan.


“Nggak papa Oma. Adira ngerti kok. Yang penting nanti pas nikahan om Dateng sama Tante” ucap Adira memaklumi.


“Tapi si Agra sama Zara datang kan ma?” tanya Bu Dewi lagi.


Mereka adalah anak dari Om Adis dan Tante Zahra.


“Mereka besok kayaknya baru nyampe sini” jawab Oma Santi lagi.


“Awas aja kalo mereka nggak datang. Nanti aku balas tuh kak Agra ” ucap Adira mengancam.


“Hahahah. Kalian tuh kalau bareng aja berantem terus. Tapi kalau nggak keliatan aja ditanyain” ucap Oma Santi tertawa.


“Ya namanya saudara Oma. Tapi Adira seneng punya saudara kaya kak Agra sama Zara. Secara.. Adira kan anak tunggal hehe” ucap Adira sambil terkekeh.


“Udah ... Mama temuin papa sama Mama dulu yuk. Mereka ada di belakang “ ucap Bu Dewi. Yang dimaksud papa dan mama adalah kedua mertuanya.


Akhirnya Oma Santi menyuruh Bi Yati meletakkan kopernya di kamar tamu dan berjalan bersama bu Dewi menuju teras belakang.


........


“Kak Adira.. syaqila nakal nih!!” teriak Vanessa mengadu.


Adira sedang berada di kamar bersama kedua sepupunya.


“Kamu aja yang nggak mau ngalah. Kamu kan bentar lagi masuk SMP, harusnya kamu ngalah sama adek kamu yang masih kelas satu” jawab Adira bukannya membela.


“iiih.. kak Adira mah gitu. Aku kan lagi main HP aku sendiri. Masak syaqila main rebut aja” rengek Vanessa lagi.


“Udaah deh jangan berantem terus. Syaqila sini deh sama kakak. Pinjam HP Kakak aja sini” ucap Adira sambil menepuk tempat kosong si atas ranjang.


Syaqila yang sedang duduk di sofa bersama Vanessa akhirnya menurut dan rebahan di kasur bersama Adira.


“kak Vanessa mah galak. Nggak kaya kak Adira” ucap syaqila membela diri.


“Diam deh kamu. Kamu yang mulai duluan!” ucap Vanessa kesal dan andanya sedikit meninggi.


“Vanessa... Kamu nggak boleh gitu sama adek kamu. Kalau kamu nggak suka cara syaqila ngambil hp kamu, kamu kan bisa ngomongnya baik-baik” jelas Adira masih dengan nada lembutnya. Dia sedang memberi pengertian.


“Kamu juga syaqila. Emang HP kamu dimana? Bukannya om sama Tante juga udah kasih kamu HP?” ucap Adira lagi.


“Hehehe, Lagi di charge kak” jawab syaqila sambil meringis.


Adira menggelengkan kepalanya melihat tingkah syaqila.


“Eh kak Adira. Calon suami Kakak kaya gimana sih? Ganteng nggak? Terus tingginya berapa? Masih gantengan mana sama Jungkook?” tanya vanessa antusias.


Adira mulai tertarik dengan pertanyaan Vanessa. Dia berpindah duduk di sofa bersebelahan dengan Vanessa. Dia membiarkan syaqila asyik bermain dengan HPnya.


“Kamu nanyanya kaya kereta aja. Tapi aku suka” ucap Adira sambil tersenyum manis.


“iihh.. jawab dong kak” rengek Vanessa


“Gitu dong nanya. Jangan Cuma main HP terus. Emang kamu nggak kangen sama aku” ucap Adira yang tak kunjung memberi jawaban.


“iya.. iya.. sekarang Jawab dong” pinta Vanessa lagi.


“jelas ganteng dong. Lebih ganteng dari Jungkook hahaha” jawab Adira bangga


“Kakak punya fotonya nggak?” tanya vanessa penasaran.


“Halo.. ini pacarnya kak Adira ya? Ganteng banget!! Kak vanes!!! Liat deh!” pekik syaqila tiba-tiba dan memotong pembicaraan adira.


Vanessa jelas langsung berlari ke arah syaqila.


“Wow!! Pantes kak Adira bilang lebih ganteng dari Jungkook!!! Ganteng banget” pekik Vanessa ikut histeris.


Adira mengernyit bingung. Mengapa mereka bisa tau? Tunggu sebentar? Tapi Adira seperti mendengar suara diseberang sana menjawab pertanyaan syaqila.


Berarti ....


Adira langsung berlari dan merebut ponselnya.


Adira menghembuskan nafas lega.


“Hai kak. Kenapa telpon?” Tanya Adira tersenyum manis.


Wajah tampan Tristan juga sudah terlihat di dalam ponsel Adira.


“Kangen aja. Itu siapa tadi?” tanya Tristan balas tersenyum


“itu sepupu aku. Emang suka heboh mereka mah” ucap Adira yang tentunya masih di dengar oleh kedua sepupunya.


“Kak Adira ngatain kita!! Sini dong kak aku mau ngomong sama calon suami kakak” ucap Vanessa tak sabaran.


Adira pun menurut. Mereka duduk bersebalah bertiga dengan Adira berada di tengah.


“Kak kenalin, aku Vanessa sepupunya Kak Adira” ucap Vanessa antusias.


“Aku syaqila kak. Aku juga sepupunya kak Adira” sahut syaqila tak kalah antusias.


“Hay Vanessa dan syaqila. Salam kenal ya. Aku Tristan “ jawab Tristan di seberang sana.


“Main kesini aja deh kak. Deketan ini. Ngapain malah video call?” ucap Adira memberi saran.


Jarak rumah mereka dekat, dan jika berjalan tidak memakan waktu lama. Tapi mengapa Tristan malah meneleponnya? Kan bisa langsung datang ke rumah aja.


“hehehe. Ya udah aku kesitu deh. Sekalian ketemu sama calon sepupu” ucap Tristan terkekeh.


“Ajak Amanda juga ya kak” imbuh Adira lagi.


Setelah Tristan menjawab telepon terputus.


“Yes!! Kak Tristan mau kesini. Aku bisa ngobrol banyak nanti” pekik Vanessa girang. Syaqila juga mengiyakan ucapan kakaknya.


Adira hanya memutar bola matanya malas.


Vanessa jika sudah bertemu dengan manusia berpredikat tampan memang jadi se bar-bar itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


**maaf ya nggak bisa terus balas komen kalian. tapi aku suka kalian ninggalin jejak komen dan like:)


salam dari author amatiran😊**