
Jenazah Doni dan Amanda sudah sampai di Jakarta dan telah di makamkan di pemakaman elite yang sudah disiapkan Doni dan Amanda sejak dulu.
Adira merasa takjub karena Doni dan Amanda sudah menyiapkan liang lahad yang berjejer untuk keduanya.
Adira percaya bahwa keduanya adalah cinta sejati dan tidak akan terpisahkan walau maut sekalipun yang ingin memisahkan.
Mereka hidup di dunia bersama-sama, mati juga mereka bersama-sama.
Hanya beda tiga puluh menit saja.
Sejak pulang dari makam, Tristan selalu terlihat melamun. Adira paham bahwa suaminya itu merasa sangat kehilangan.
Begitu juga dirinya, Adira merasa sangat kehilangan. Namun Adira selalu berusaha tegar agar bisa mengurusi Echa.
Bagaimanapun, Echa belum tahu apa-apa dan belum mengerti jika kedua orang tuanya telah tiada dan pergi untuk selamanya.
Adira sudah berjanji dalam hatinya bahwa dia ingin menjadikan Echa sebagai anak pertamanya.
Adira siap menjadi ibu kedua untuk Echa nantinya. Adira tidak ingin Echa merasa kekurangan kasih sayang dari ayah dan ibunya.
Nanti setelah masa berkabung selesai, Adira akan membicarakannya dengan keluarga dan suaminya.
Jika bisa, Adira ingin mengurung dirinya di kamar selama berhari-hari. Namun itu tidak dapat Adira lakukan. Semua keluarga sedang berduka dan tidak ada yang mengurusi Echa.
Adira harus turun tangan sendiri. Adira tidak mau Echa sampai merasa sendiri karena Bu Siska juga sejak pulang dari makam, dia selalu mengurung dirinya di dalam kamar.
“Karena sekarang udah malem, Echa bobok dulu ya. Mainnya kita lanjut lagi nanti,” ucap Adira memberi pengertian.
Echa mengangguk dengan lucu. Setelah gosok gigi, mencuci tangan dan kaki, Echa segera berbaring di ranjang yang dulu menjadi ranjang tempat ibunya tidur.
Setelah beberapa menit, akhirnya terdengar dengkuran halus dari Echa. Adira menghembuskan nafasnya lelah sekaligus lega.
Setelah Echa tertidur, dia akan mengurusi suaminya itu yang masih betah berada di kamarnya.
Setelah memastikan Echa benar-benar tertidur, Adira meminta baby sister Echa untuk menemani Echa tidur.
Kemudian Adira segera berjalan menuju ke kamar yang dulu menjadi kamar Tristan.
Ceklek.
Adira membuka pintu tanpa harus mengetuknya. Ini juga kamarnya, jadi untuk apa Adira mengetuk pintu kamarnya sendiri?
Namun untuk masuk ke dalam kamar lain, Adira akan mengetuk pintu dulu, apalagi itu kamar kedua mertuanya.
Setelah pintu tertutup kembali, Adira bisa melihat Tristan yang masih merenung duduk di pinggiran ranjang.
Di tangannya memegang sebuah pigura dan Tristan sedang mengelusnya.
Setelah dekat, Adira segera mendudukkan dirinya di sebelah Tristan tanpa suara. Adira hanya ingin duduk dan tidak ingin bermaksud mengganggu suaminya.
Adira ingin memberi waktu kepada suaminya untuk merasa berduka dan kehilangan. Memang sudah sewajarnya hal seperti itu terjadi.
Tristan yang merasakan ranjangnya bergetar, lamunannya segera tersadar.
Dia menoleh dan mendapati istrinya sedang menatap ke arah depan dan entah apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu.
“Echa udah tidur?” tanya Tristan membuka pembicaraan.
Adira menoleh dan tersenyum mendapati suaminya sudah mau membuka bicara.
“Udah, baru aja tidur. Are you okey?” tanya Adira memastikan keadaan suaminya.
Tristan menjawabnya dengan menggelengkan kepala.
Kemudian Adira melanjutkan ucapannya lagi.
“Tidak ada yang baik-baik saja ditinggal seseorang yang berarti dalam hidup kita. Tapi percayalah, semua harus kembali membaik karena masih ada Echa yang harus kita rawat dan kita jaga,” ucap Adira lembut, bermaksud memberi pengertian kepada suaminya itu bahwa tidak baik bila berlarut-larut dalam kesedihan.
Hidup akan terus berjalan dan jangan sampai kita melupakan kewajiban kita sebagai manusia yang menjalani hidup di dunia.
“Kamu benar, Ra. Amanda sama Doni sudah tenang di sana. Mereka juga tidak akan senang bila kita menangisinya terus-menerus. Dan kamu juga benar, Echa yang belum tahu apa-apa harus kita jaga dan rawat dia,” ucap Tristan akhirnya yang seakan telah mendapat pencerahan.
“Nggak papa. Kita memang butuh waktu merenung untuk setiap kehilangan yang menimpa kita. Tapi yang perlu diingat, kita harus bangkit kembali dan menjalani hidup yang lebih baik lagi,” ucap Adira sambil tersenyum hangat menatap Tristan.
Tristan mengangguk mengiyakan ucapan Adira. Kemudian Tristan membawa Adira ke dalam pelukannya.
Tristan merasa beruntung memiliki istri seperti Adira yang sudi memaafkannya berkali-kali.
Adira bahkan selalu ada untuk dirinya setiap saat. Entah dalam keadaan suka maupun duka, Adira selalu setia menemani.
Setelah cukup lama berpelukan, Tristan melonggarkan pelukan dan menatap Adira dengan tatapan hangatnya.
Adira tersenyum bahagia sambil menatap suaminya itu yang sedang menatap dirinya.
Tristan langsung mendaratkan kecupan di dahi Adira cukup lama.
Adira terpejam merasakan sentuhan lembut dari bibir Tristan yang menempel di dahinya.
Setelah ciuman terlepas, Tristan berkata.
“Kita rawat Echa sama-sama. Aku siap bila harus menjadi ayah kedua untuk Echa. Kamu nggak masalah kan?” tanya Tristan memastikan.
Adira tersenyum dan menggeleng, sama sekali tidak masalah bagi Adira bila Echa akan di angkat menjadi anak mereka.
Adira juga senang bahwa Tristan memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya.
“Nggak masalah. Justru aku senang dan akan menjadikan Echa, anak pertama kita,” jawab Adira mantap tanpa keraguan sama sekali.
“Terima kasih ya, Ra. Kamu memang terbaik di antara yang terbaik. Boleh aku cium kamu?” ucap Tristan bermaksud meminta izin.
Adira mengernyit bingung dengan pertanyaan yang Tristan lontarkan.
Bukankah biasanya juga Tristan tidak pernah meminta izin terlebih dahulu saat ingin mencium dirinya.
Hingga julukan ‘tukang nyosor’ telah tersemat di diri Tristan.
“Tumben minta izin. Biasanya juga langsung main cium aja,” ucap Adira sambil menipiskan bibirnya.
“Kalau begitu, kamu yang cium aku duluan,” ucap Tristan dengan nada santai bagai di pantai.
Adira tersenyum malu-malu hingga rona merah di pipinya tampak.
Tristan terkekeh melihat Adira yang sudah salah tingkah karena dirinya minta dicium.
“Ayo dong. Aku pengen dicium dan mau minta jatah aku sebagai suami. Karena sebentar lagi, aku bakal puasa lama,” ucap Tristan sambil merengek seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.
Adira tergelak melihat tingkah Tristan yang ke kanak-kanak.
Namun tak urung, Adira segera mengambil posisi bersiap untuk mencium suaminya itu.
Dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Tristan. Perlahan tapi pasti, hidung Adira dengan hidung Tristan susah saling menempel.
Tristan sampai menutup matanya menunggu Adira untuk menciumnya.
Namun untuk beberapa detik, Adira tak kunjung menciumnya. Padahal wajah mereka sudah sangat dekat.
Akhirnya Tristan memilih membuka matanya sedikit dan mendapati Adira sedang tersenyum meledek ke arah dirinya.
Karena menyadari suaminya itu mengintip, Adira semakin tergelak dibuatnya.
Tristan segera menjauhkan wajahnya dan bersungut kesal karena Adira telah mengerjainya.
Adira semakin tergelak renyah karena berhasil membuat bibir suaminya itu mengerucut lucu.
Setelah tawanya terhenti, Adira segera menyambar bibir suaminya itu dengan cepat.
Cup.
Cup.
Cup.
Adira mengecup bibir cemberut itu berkali-kali agar tidak lagi maju lima senti.
Tristan akhirnya bisa tersenyum dan tanpa menunggu lama, dia segera mencium bibir Adira kembali.
Ciuman keduanya sudah saling bertaut dan saling bertukar saliva.
Lidah keduanya sudah saling membelit satu sama lain.
Dan entah sejak kapan, keduanya sudah berbaring tanpa sehelai benang yang melekat pada tubuh keduanya.
Ciuman keduanya semakin panas dan bergairah.
Merasa tidak tahan menahan gejolak dan panas pada tubuhnya, Tristan segera melakukan penyatuan.
Setelah itu, hanya suara percintaan yang terdengar di seisi ruangan.
“Boleh lagi nggak? Kan bentar lagi bakal libur,” tanya Tristan setelah melakukan selama empat sesi.