
Tidak terasa, sudah dua minggu ini Adira dan Tristan berada di pulau Nusa Tenggara Timur. Kini saatnya keduanya pulang ke Jakarta untuk kembali menunaikan kewajiban. Kewajiban sebagai seorang ayah dan ibu untuk anak-anaknya.
Mereka sudah berada di bandara dan sebentar lagi, pesawat yang akan mereka tumpangi akan berangkat. Adira dan Tristan segera masuk ke dalam badan pesawat saat mereka mendengar pengumuman dari pengeras suara bahwa, pesawat yang mereka tumpangi akan segera berangkat.
Setelah semua penumpang lengkap, pesawat segera berangkat dari Kupang menuju bandara internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.
Butuh waktu tiga jam tiga menit untuk sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta. Setelah berada di luar bandara, sudah ada duo mama dan duo papa yang menjemput keduanya.
"Sehat kan, Ma?" tanya Adira pada mama Siska dan berhambur memeluk mamanya itu. Dia juga sudah melakukan sesi berpelukan dengan kedua anaknya, Aarav dan Echa.
"Gimana? Udah goal belum?" tanya Bu Dewi saat gilirannya memeluk Adira. Adira langsung menatap mamanya itu dengan tatapan kesal. Baru saja bertemu setelah dua minggu berpisah, bukannya kabar yang ditanyakan terlebih dahulu, malah menanyakan tentang permainan bola yang Adira dan Tristan lakukan.
"Ada anak-anak, Ma. Jaga sikap deh," jawab Adira merasa kesal. Bibirnya sudah cemberut karena mamanya sembarangan berbicara di depan anak-anaknya. Adira tidak ingin otak anak-anaknya tercemar.
"Udah ... Jangan berdebat. Kita pulang dulu ya," ucap pak Irawan mencoba menengahi anak dan ibu tersebut. Tristan juga mengiyakan apa yang di ucapkan oleh pak Irawan.
Bu Dewi dan Bu Siska membawa mobil masing-masing bersama suaminya. Sedangkan untuk Tristan dan Adira, mereka sudah menyuruh pak Yanto untuk ikut dan membawa pulang Adira dan Tristan.
Ngomong-ngomong soal pak Yanto, dia bekerja kembali bersama Tristan dan Adira. Karena mereka tidak mau pak Yanto kehilangan pekerjaan, Tristan dan Adira sudah menjadikan pak Yanto sebagai sopir pribadinya kembali.
Apalagi saat ini Aarav dan Echa sudah sekolah dan butuh sopir pribadi yang sudah terpercaya. Walau Echa dan Aarav di antar sekolah tidak hanya bersama sopir, tapi Adira dan Tristan tidak mau terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan menimpa anak-anak mereka.
"Bunda bawa oleh-oleh apa buat aku sama Aarav?" tanya Echa saat mobil sudah berjalan menuju rumah Adira dan Tristan.
Adira tersenyum manis menatap kedua anaknya yang berada di jok paling belakang. Kemudian Adira berkata. "Rahasia dong. Entar kalian bukanya di rumah aja," jawab Adira.
Tristan juga menoleh ke belakang untuk bisa melihat wajah kedua anaknya yang sudah sangat Tristan rindukan. "Kalau kasih tau di sini, namanya bukan surprise lagi dong," ucap Tristan mengimbuhi ucapan Adira.
Aarav dan Echa menghembuskan nafasnya dengan kasar karena merasa sedikit kecewa tidak mendapatkan bocoran atas oleh-oleh yang ayah dan bundanya bawakan. "Ya udah deh, Echa bakal sabar nunggu sampai rumah," putus Echa akhirnya hanya bisa pasrah.
"Aarav juga bakalan sabar deh. Kan, kalau orang sabar di sayang Allah," ucap Aarav religius.
Setelah itu, tidak ada suara dari Aarav dan Echa lagi. Hanya terdengar suara musik dari radio yang berada di mobil yang Tristan dan Adira kendarai. Mobil tersebut merupakan mobil milik keduanya.
Setelah beberapa menit tak kunjung mendengar suara anaknya yang berada di jok belakang, Adira memilih untuk menoleh dan sudah mendapati kedua anaknya tertidur dengan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
Tristan juga ikut menoleh dan langsung tersenyum. "Tanpa mereka, rumah kita bakalan sepi, Sayang," jawab Tristan dan segera merengkuh pinggang Adira agar lebih merapatkan tubuhnya pada tubuh Tristan.
Adira tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu milik suaminya. Bahu yang menjadi tempat ternyaman saat Adira merasa lelah dengan dunia. Bahu yang selalu ada saat suka maupun duka.
Tanpa terasa, karena saking asiknya melamun, mereka sudah sampai di pelataran rumah dan langsung di sambut oleh pak satpam yang berjaga di rumah Tristan dan Adira.
Adira menoleh ke belakang dan masih mendapati anaknya itu tertidur. "Aarav ... Echa ... Bangun! Udah sampai nih," ucap Adira lembut. Tidak berapa lama, Echa dan Aarav terlihat menggeliat dan memicingkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya.
"Udah sampai ya, Bun?" tanya Aarav saat menyadari sudah berada di depan rumahnya. Adira mengangguk dan kembali menyuruh Aarav dan Echa untuk turun.
"Udah, ayo cepetan turun. Katanya mau liat oleh-olehnya," ucapan Adira itu berhasil membuat kedua anaknya langsung membuka matanya dengan lebar. Nyawanya seperti langsung terisi begitu saja. Rasa kantuk yang mendera seakan sudah menguar entah ke mana.
*
Keesokan harinya, Adira kembali terbangun dengan tubuh yang sudah sangat bugar. Adira melihat jam yang bertengger di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat lewat setengah jam.
Adira menguap dan merenggangkan otot-otot nya terlebih dahulu sebelum benar-benar beranjak dari ranjang. Setelah nyawanya terkumpul sempurna, Adira tidak langsung beranjak namun memilih untuk melihat wajah sang suami yang masih tertidur pulas.
Adira merasa tidak tega untuk membangunkannya. Tapi, mengingat waktu semakin sedikit untuk melaksanakan salat subuh, tega tidak tega, Adira harus membangunkan suaminya. "Mas, bangun! Udah subuh nih," ucap Adira lembut sambil menepuk-nepuk pipi Tristan pelan.
Tristan menggeliat dan matanya masih saja terpejam. "Tiket masuk surga tuh, emang nggak mudah ya, dapetinnya," dalih Tristan yang segera duduk dan mengumpulkan nyawanya kembali.
Adira terkekeh pelan menanggapi. Memang benar, tidak ada yang mudah untuk bisa mati enak. Manusia jaman sekarang suka memikirkan bagaimana caranya untuk hidup enak. Sampai mereka juga lupa memikirkan bagaimana caranya mati enak.
"Demi bisa bertemu di surga nanti, kita harus siapkan dari sekarang, Mas sayang," jawab Adira lembut.
Tristan mengangguk mengiyakan. "Kamu mandi dulu kalau gitu. Aku mau kumpulin nyawa dulu," perintah Tristan sambil tersenyum lebar. Adira tergelak. Dia memahami bahwa suaminya itu pasti sangat lelah karena baru saja tidur sekitar tiga jam yang lalu.
Setelah pulang dari Labuan Bajo siang tadi, sorenya Tristan harus membantu pak Hendra untuk mengurusi pekerjaan di kantor. Walau tubuhnya lelah, karena ini merupakan masalah penting, Tristan harus turun tangan sendiri menangani permasalahan yang terjadi. Hingga pukul satu malam, dia baru selesai mengerjakan pekerjaannya.
"Mandi dulu, Mas. Aku udah beres nih. Biar nggak ngantuk terus," Adira sudah muncul dari pintu kamar mandi dengan memakai bathrobenya. Di kepalanya juga sudah ada handuk yang melilit rambut basahnya.
"Adira ... Sepertinya kamu bakal lebih cantik lagi kalau mau menutup aurat dan memakai jilbab,"