Treat You Better

Treat You Better
I'm okay!.



Saat sudah sampai parkiran Tristan belum juga menjalankan mobilnya.


Nafasnya terlihat memburu pertanda Tristan sedang emosi.


Adira yang melihat itu mengulurkan tangannya dan mengusap lembut lengan Tristan yang memegang gagang setir.


Mendapat sentuhan dari Adira, Tristan pun menoleh dan melihat wajah Adira begitu teduh dan menenangkan.


Tidak ada raut marah disana. Padahal sindy baru saja mengatainya.


Tristan akhirnya mengambil alih tangan Adira yang mengusap lengannya.


Dia mengecup punggung tangan itu.


“Kamu nggak papa kan Ra?” tanya Tristan memastikan. Karena dari tadi Adira hanya diam.


“I’m okay. Nggak ada yang perlu di khawatirkan” ucap Adira tersenyum manis.


“Tapi sindy udah keterlaluan. Di kasih hati malah nggak tau diri” ucap Tristan kesal.


“Udaaah... Aku nggak papa. Justru aku malah seneng karena aku jadi tau seberapa besar cinta kakak ke aku hehe” ucap Adira tersenyum meledek.


Tristan tersenyum salah tingkah.


“Mau mampir kemana dulu nggak?” tanya Tristan mencoba mengalihkan pembicaraan.


Ck. Tuh kan menghindar.


“Aku mau ke yahutmart dong kak. Mau beli... Sesuatu” ucap Adira lirih.


“Mau beli apa emangnya?” tanya Tristan penasaran.


“a..ku.. mau beli.... Em itu... Pembalut hehe” ucap Adira terbata.


Tristan langsung mengalihkan perhatian kepada Adira sepenuhnya.


“Kamu lagi kedatangan tamu? Ya udah biar aku yang beliin ya. Sakit nggak? Karena Amanda kalo lagi datang bulan suka uring-uringan” tanya Tristan perhatian.


“Cuma kram sedikit kok” jawab Adira apa adanya.


“Ya udah kita mampir dulu”


Setelah mengucapkan itu, akhirnya Tristan melajukan mobilnya menuju yahutmart.


Beruntung, tidak jauh dari rumah sakit ada toko tersebut.


Akhirnya Tristan memarkirkan mobilnya di pelataran yahutmart dan segera turun.


Sebelum turun, Adira sudah mencegah dahulu.


“Aku aja kak yang turun. Kakak nggak malu emang beli pembalut?” ucap Adira merasa tidak enak.


“Enggak lah. Amanda juga suka minta tolong ke aku. “ ucap Tristan meyakinkan.


“Nggak usah beneran. Aku aja yang turun. Kakak mau beli sesuatu? Biar sekalian aku beliin.” Tanya adira sebelum benar-benar keluar dari mobil.


“Aku.. kopi dong satu. Yang dingin ya” ucap Tristan lalu dia mengeluarkan uang berwarna merah sejumlah tiga lembar dan menyodorkannya ke Adira.


“Nih pake ini aja Ra” ucap Tristan.


“Nggak usah kak. Aku bawa duit kok” tolak Adira halus.


“Terima atau aku aja yang turun?” ancam Tristan yang tentunya berhasil membuat Adira menurut.


Akhirnya Adira turun dengan membawa uang yang Tristan berikan.


Dia terpaksa menerimanya. Dia malu jika membeli pembalut saja harus Tristan yang turun.


Setelah masuk, Adira langsung mencari pembalut yang biasa dia pakai.


Setelah dapat, dia beralih ke deretan minuman dingin.


Dia mengambil salah satu minuman dingin rasa green tea.


Kemudian dia beralih ke deretan kopi botol yang berada di mesin pendingin.


Dia mengambil salah satu yang rasa mocca.


Setelah itu dia juga beralih membeli beberapa cemilan.


Setelah selesai, dia berjalan menuju kasir untuk membayar.


Setelah proses pembayaran selesai, Adira keluar dan segera masuk ke mobil Tristan.


“Nih kopinya. Aku pilihan yang rasa mocca. Kakak suka nggak?” tanya Adira sambil menyodorkan sebotol kopi.


“suka. Aku suka rasa mocca. Makasih” jawab Tristan menerima.


“Dan ini kembaliannya” ucap Adira lagi sambil menyodorkan uang kembalian.


“Kamu kantongin aja kembaliannya. Lumayan buat jajan cilok” ucap Tristan tersenyum.


Adira menghela nafas lalu menghembuskan nya


“oke. Nanti akan aku gunakan buat beli cilok. Nggak tau deh seberapa banyak entar haha” jawab Adira sambil terkekeh.


Dia pun menaruh uang kembalian ke dalam dompetnya.


Tristan belum menjalankan mobilnya. Dia masih menikmati kopi yang Adira berikan.


Begitu juga Adira. Dia menikmati minumannya.


“Mau langsung pulang atau kemana dulu Ra?” tanya Tristan lagi.


Sebenarnya dia ingin berada di dekat Adira lebih lama lagi. Tapi jika Adira menginginkan pulang, Tristan akan mengantarkannya.


“langsung pulang aja deh kak. Udah di wanti nggak boleh kesorean. Besok kan hari penting kita” ucap Adira panjang lebar.


Tristan tersenyum penuh arti.


Ya, memang besok hari penting untuknya dan juga Adira.


“Baiklah. Kita siapkan diri kita untuk acara besok. Kalau gitu kita langsung pulang aja” putus Tristan kemudian.


Lalu Tristan mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang sedikit lengang.


Setelah setengah jam, akhirnya mobil Tristan sampai di depan rumah Adira.


“Makasih ya Ra. Udah mau nemenin aku. Maaf juga atas kejadian tadi” ucap Tristan memohon.


“Ck... Kaya sama siapa aja. Kan bentar lagi aku istri kakak heheh” ucap Adira terkekeh geli.


Tristan mengusap kepala Adira lembut.


“Iya calon istri.... “ jawab Tristan sambil terkekeh.


“Ya udah aku turun dulu ya. Sampai jumpa besok” ucap Adira dan mendekat ke Tristan.


Cup.


Adira mengecup bibir Tristan sekilas dan segera berlari menuju rumahnya.


Walau sudah terbiasa dengan ciuman, tetap saja Adira selalu merona saat melakukannya.


Sedangkan Tristan, dia sudah mematung sambil memegangi bibirnya.


Dia tersenyum bodoh.


Adira selalu saja melakukan tindakan sepontan yang membuat jantungnya serasa mau copot.


Tapi Tristan menyukai hal itu.


“adira... Adira... Awas aja nanti kalo udah nikah. Aku nggak bakal lepasin kamu...” gumam Tristan sambil melihat pungggung Adira yang mulai menjauh.


Tristan akhirnya menjalankan mobilnya lagi menuju rumahnya.


Dia harus membantu ‘ibu Ratu’ mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk besok.


Tristan sudah tidak sabar lagi.


Karena setelah acara pertunangan nya, dua Minggu lagi dia akan menikahi Adira.


Sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh Tristan sejak dulu.


Tristan tersenyum sepanjang jalan.


Bahkan sampai di rumahnya pun dia masih saja tersenyum sambil berjalan.


“Kalo habis ketemu Adira, pasti mulai lagi stress nya” ucap suara yang tidak lain adalah milik Amanda.


“Iri.??? Bilang boss!! Pal pale pal pale pal pale pal pale pale” jawab Tristan malah menyanyi.


Amanda hanya membalas dengan geleng-geleng kepala.


Cinta benar-benar merubah Tristan begitu drastis.


Amanda jadi berpikir seandainya dia jatuh cinta, apakah dia juga kan seperti abangnya? atau mungkin lebih parah?


Apalagi jika Amanda melihat interaksi lidya dan Azka. mereka juga sama bucinnya.


lihat, Lidya yang terlihat garang pun bisa berubah manis karena cinta. ck.


sepertinya Amanda harus mencoba jatuh cinta. dia harus tau bagaimana rasanya.


tapi dengan siapa? Doni? huh apa yang Amanda pikirkan.


Amanda menggeleng dengan pikiran nya sendiri.


cinta akan datang dengan sendirinya. Amanda tidak perlu khawatir itu. huft..


.


.


.


.


.


jangan lupa like dan comment ya hehe.


hadiahnya juga. bunga juga nggak papa😁


bonus nih....


kalau yang nggak setuju sama visualnya, kalian bayangin sendiri aja yah hehe.