Treat You Better

Treat You Better
79. Kegatelan.



Setelah pertemuannya dengan Elvan tadi, Adira tidak langsung pulang ke rumah.


Dia memilih pergi ke klinik kecantikan langganannya untuk membeli krim siang malamnya yang sudah habis.


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk bisa sampai ke tempat tujuan.


Setelah mobil berhasil terparkir, Adira segera turun dari mobil dan ingin masuk ke dalam klinik.


Setelah sampai, dia langsung menuju meja resepsionis dan segera mengatakan apa yang dia butuhkan dan akan dia beli.


Setelah petugas itu mencatat, Dia menyuruh Adira untuk menunggu sebentar.


Adira menurut dan mencari tempat duduk untuk menunggu krim racikannya selesai dibuat.


Saat baru saja duduk, ada seseorang yang ikut duduk di sebelahnya.


Karena kebetulan, kursi di sebelah Adira memang kosong.


Adira tidak peduli itu dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi sang suami.


Namun, semua itu urung karena seseorang yang berada di sebelahnya itu membuka suara.


“Kamu bukannya istri Tristan ya?” tanya seseorang tersebut.


Adira langsung menoleh dan mendapati Sindy sudah duduk anteng di sebelahnya.


“Iya Mbak. Ada masalah apa emangnya, Mbak?” tanya Adira berusaha tersenyum seramah mungkin.


“Oh nggak. Cuma nanya aja, emang nggak boleh ya?” ucap Sindy angkuh.


“Nggak papa kok, Mbak.” jawab Adira singkat.


Dia sedang malas berdebat dan tidak ingin membuat keributan di tempat umum.


Adira merasa, Sindy ingin sekali membuat dirinya marah.


“Kenapa si dia? Dasar mantan kegatelan,” gumam Adira kesal dalam hati.


Mata Sindy terlihat menelisik penampilan Adira dari atas hingga bawah.


Kemudian, pandangan Sindy jatuh ke perut Adira yang masih rata.


Adira yang ditatap seperti itu merasa risih dan memilih bertanya.


“Kenapa Mbak?” tanya Adira yang nadanya mulai ketus.


Sindy tertawa meremehkan sambil menatap Adira.


Adira semakin merasa kesal dengan ulah Sindy. Tapi dia berusaha untuk menekan emosinya.


“Pernikahan kamu kan udah sekitar dua tahunan ya ... Kamu belum hamil juga sampai sekarang?” tanya Sindy sambil tersenyum meremehkan.


Adira semakin tidak tahan. Ingin rasanya dia menjambak rambut Sindy dan mencakar wajahnya yang sok cantik dan kegatelan.


Tapi pada kenyataannya, Adira hanya membalasnya dengan senyuman yang di paksakan.


Dia memilih untuk tidak menanggapi ucapan Sindy.


Sindy yang melihat Adira begitu tenang saat dia ejek pun merasa geram.


Lalu dia berucap lagi untuk memancing emosi Adira.


“Hati-hati lho kalau wanita hamilnya lama. Bisa-bisa suami punya simpanan di luar sana karena ingin segera mempunyai anak,” ucap Sindy berusaha memancing emosi Adira.


Hati Adira merasa tercubit. Lagi-lagi masalah anak di bahas lagi.


Dia takut bila ucapan Sindy benar terbukti.


Tapi Adira berusaha meyakinkan diri, agar tidak mudah terkena bujuk rayu Sindy.


Adira yang sudah berhasil menguasai diri untuk tidak terpancing emosi pun berkata.


“Kok Mbak tau sih? Padahal kan, Mbak nggak punya suami ya. Apa mbak termasuk simpanan suami orang?” ucap Adira pedas, sepedas seblak level hot jeletot.


Adira tidak perlu menunjukkan emosinya dengan menggebu-gebu. Jika dengan berkata pedas saja sudah bisa membuat Sindy diam, kenapa tidak?


Matanya menatap Sindy dengan senyum puas di bibirnya karena Sindy terdiam dan tak bisa menjawab.


Wajah Sindy terlihat memerah karena menahan amarah.


Nafasnya memburu seperti akan menelan Adira hidup-hidup.


Adira semakin di buat tersenyum dengan puas menatap Sindy yang ibarat kata, senjata makan tuan.


Dia yang ingin membuat Adira emosi, tapi sendirinya malah yang terbawa emosi.


“Kamu ....” ucap Sindy geram, telunjuknya menunjuk wajah Adira.


“Aku kenapa, Mbak?” tanya Adira santai kaya di pantai.


Tubuhnya dia sandarkan di sandaran kursi, dan kedua tangannya terlipat di depan dada, bersedekap.


Sindy tambah geram dibuatnya.


Karena malu menjadi pusat perhatian, Sindy akhirnya memilih pergi dari klinik dengan hati yang menahan amarah.


Tangannya sudah terkepal di sisi tubuhnya.


Adira hanya membalas dengan senyuman menyebalkan agar Sindy semakin kesal karena ulah dirinya.


Setelah Sindy keluar dari klinik, Adira menghela nafasnya kasar.


“Bisa-bisanya ada spesies wanita seperti itu,” monolog Adira sambil geleng-geleng kepala tak percaya.


Setelah itu, namanya dipanggil untuk mengambil krim pesanannya.


Adira segera berdiri dan mengambil krimnya.


Sebelum itu, dia sudah membayarnya dan langsung keluar menuju mobilnya untuk pulang.


“Kita pulang sekarang ya, Pak.” ucap Adira setelah berhasil duduk di jok penumpang.


Pak Yanto mengucapkan kata iya dan segera melajukan mobilnya menuju rumah majikannya berada.


Adira sampai rumah pukul tiga sore.


Itu berarti, dua jam lagi Tristan akan pulang.


Adira akan menyiapkan makan malam untuk dirinya dan suaminya.


Namun, dia juga meminta bantuan kepada teh Ratih untuk membantunya.


“Teh, tolong kupasin udang ya, Teh. Aku mau masak buat kak Tristan,” ucap Adira meminta tolong dengan ramah.


“Iya Neng. Berapa banyak, Neng? tanya teh Ratih.


“Setengah kilo aja. Sama beresin sayur juga ya, Teh. Brokoli ada kan?” tanya Adira lagi.


“Ada Neng.” jawab teh Ratih.


“Ya udah, itu aja kalau gitu, Teh. Aku mau mandi dulu. Aku aja entar yang masak. Teteh bantuin beresin aja,”


Setelah mengucapkan itu, Adira segera menaiki tangga menuju kamarnya berada.


Dia segera membersihkan diri dan berganti pakaian.


Setelah selesai, dia turun lagi ke dapur untuk memasak.


“Udah selesai belum, Teh?” tanya Adira setelah berada di dapur.


Dia melihat Teh Ratih sedang merapikan isi kulkas.


Dia juga sudah memakai apronnya.


“Udah Neng. Bawang juga udah saya kupasin sekalian,” jawab teh Ratih ramah, dia melongokkan kepalanya untuk melihat majikannya itu.


“Oh iya, sampai lupa aku, Teh. Makasih ya, Teh.” ucap Adira sambil tersenyum.


“Sama-sama, Neng.”


“Teteh kok belum balik? Kalau kerjaan udah beres, balik aja, Teh. Nggak papa kok,” suruh Adira ramah. Tangannya mulai meracik bumbu dengan lihai.


“Beneran nggak papa kalau saya tinggal pulang, si Eneng?” tanya teh Ratih memastikan.


Dia sudah selesai membenahi isi kulkasnya.


Adira terkekeh pelan dan berkata.


“Nggak papa, Teh. Tinggal masak doang. Ini kan udah sore, kasihan anak Teteh nunggunya lama,” ucap Adira masih sibuk dengan kegiatannya.


“Ya udah, berhubung kerjaan udah beres, saya pulang dulu ya, Neng,” jawab teh Ratih, dia berjalan ke wastafel untuk mencuci lap khusus untuk mengelap kulkas.


“Pulang lah, Teh. Bawa sekalian kue di meja yang aku taruh di paperbag,” ucap Adira menatap teh Ratih sebentar.


Teh Ratih mengangguk dan tersenyum penuh binar di matanya.


“Makasih banget sekali lagi ya, Neng.” jawab teh Ratih senang.


Adira memang suka membelikan kue untuk teh Ratih bawa pulang.


Teh Ratih pernah bercerita bahwa anaknya sangat menyukai kue bolu gulung.


Jadi, bila Adira keluar rumah, dia sering sekali membelikan kue untuk anak teh Ratih.


“Baik pisan Neng Adira. Semoga Allah segera memberikan momongan sama Neng Adira yang baik hati,” ucap teh Ratih dalam hati. Dia mendoakan dengan tulus majikannya itu.


Setelah itu, teh Ratih pamit untuk pulang.


Setelah teh Ratih pulang, Adira kembali fokus ke masakannya.


Dia akan memasak udang saus tiram dan oseng brokoli.


Tidak butuh waktu lama, makanan sudah berhasil terhidang di atas meja.


Dia menatap puas kepada hasil karyanya.


Setelah itu, Adira melepas apron dan duduk santai di depan televisi menunggu suaminya.