
Di perusahaan Wijaya Investama.
Tristan sedang memeriksa berkas-berkas penting di kantornya.
Sebelum menandatanganinya, Tristan selalu memeriksanya terlebih dahulu.
Namun, kegiatannya terhenti karena denting ponselnya berbunyi menandakan ada pesan yang masuk.
Tristan segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja untuk mengecek siapa yang mengiriminya pesan. Siapa tahu itu pesan penting.
Maka dari itu, Tristan buru-buru mengeceknya.
Dia menggulir layar kunci yang ada di ponselnya dan segera membaca pesannya.
Pesan tersebut dari nomor tidak dikenal.
Saat dia membuka pesan tersebut, mata Tristan menajam menatap foto yang dikirimkan oleh nomor tidak dikenal tersebut.
Ada tiga foto yang dikirimkan.
Dan itu adalah foto kebersamaan Adira dengan Elvan.
Hanya foto biasa karena Adira terlihat tersenyum ke arah Elvan, begitu juga sebaliknya.
Tristan merasa marah karena Adira tidak mengatakan padanya, jika dia akan bertemu Elvan.
Setidaknya Adira mengiriminya pesan. Begitulah kira-kira harapan Tristan.
Tubuh Tristan merosot di kursi kerjanya.
Hatinya merasakan nyeri melihat Adira dan Elvan terlihat bahagia di dalam foto tersebut.
Seakan, mereka sedang melepas rindu karena lama tidak bertemu.
Tristan termenung, pikirannya melalang buana memikirkan apa saja yang telah Adira lakukan di belakangnya.
Seketika, pikiran-pikiran buruk menghantuinya.
Pertanyaan demi pertanyaan seakan muncul begitu saja di benak Tristan.
“Apa Adira sering bertemu Elvan tanpa sepengetahuan ku?”
“Apa Adira belum benar-benar selesai dengan masa lalunya?”
“Apa penyebab Adira tak kunjung hamil karena ingin menunda dan ingin kembali lagi bersama Elvan?”
Tristan mengusap wajahnya kasar untuk menghilangkan pikiran buruknya.
Tristan ingin marah, tapi rasa cinta pada Adira begitu besar mengalahkan rasa marah itu.
Tristan sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, tapi Tristan masih enggan untuk bangkit dari kursi kebangsaannya.
Seharusnya dia sudah pulang satu jam yang lalu.
Adira pasti sedang cemas menunggunya, karena sejak tadi Tristan juga belum mengabari apa pun kepada Adira.
Namun, membayangkan Adira akan pergi meninggalkannya dan kembali kepada Elvan, mendadak membuat Tristan sakit kepala.
Akhirnya, dengan mental kuat, dia berjalan keluar dari kantornya.
Hari ini, dia tidak ingin pulang ke rumah. Mungkin pulang ke rumah orang tuanya bisa menjadi solusi.
Akhirnya, mobil yang di kendarai Tristan sampai di kediaman keluarga Wijaya tepat pukul tujuh malam.
Bu Siska yang mendengar deru mobil dari depan, dia langsung berjalan menuju pintu masuk untuk melihat siapa yang datang.
Saat sudah mencapai pintu, bu Siska terdiam melihat Tristan berjalan ke arahnya dengan keadaan wajah kusut dan berantakan.
“Sepertinya telah terjadi sesuatu,” gumam bu Siska dalam hati.
“Adira mana, Tris? Nggak ikut?” tanya bu Siska mulai bertanya.
Tristan menggeleng dan menyalami tangan kanan ibunya itu.
“Apa ada masalah?” tanya bu Siska berusaha menyelidiki.
Tristan terdiam menatap orang yang telah melahirkannya itu.
Sepandai-pandainya Tristan menyembunyikan masalah, ibunya pasti tetap akan tahu juga.
Karena insting seorang ibu memanglah kuat.
Tristan menghela nafasnya kasar, wajahnya dia tengadahkan ke atas guna mencari ketenangan.
Bu Siska yang melihat gurat lelah di wajah anaknya, langsung mengajaknya masuk terlebih dahulu.
Mungkin nanti, setelah Tristan tenang, bu Siska akan menanyai lebih lanjut.
Tristan segera duduk di sofa ruang keluarga, sedangkan bu Siska membuatkan teh hangat untuk Tristan.
“Ini ... Minum dulu biar tenang,” ucap bu Siska sambil menyodorkan secangkir teh hangat untuk anaknya itu.
Setelah Tristan terlihat lebih tenang, bu Siska mulai menanyainya lagi.
“Ada masalah apa sampai kamu datang ke Mama? Bukan maksud Mama nggak bolehin kamu ke sini. Tapi kalau keadaannya lagi begini, harusnya kamu selesain dulu di rumah,” ucap bu Siska panjang lebar dan mulai mengeluarkan nasihatnya.
Tristan menghela nafas lagi.
Dan itu sudah kedua kalinya bu Siska melihat Tristan hanya menghela nafas saat dia bertanya.
“Cerita sama Mama, siapa tahu Mama bisa bantu,” ucap bu Siska lagi dengan kesabaran seluas samudera.
Lagi-lagi Tristan menghela nafasnya lagi. Bu Siska memutar bola matanya malas karena dari tadi tidak mendapat jawaban.
“Jawab dong, Tris ... Jangan cuma menghela nafas terus,” ucap bu Siska yang mulai lelah.
“Oke ... Tristan kasih tahu permasalahannya,” jawab Tristan akhirnya.
“Masalah apa? Kenapa kamu kesini nggak sama Adira? Ada masalah?” ucap pak Hendra yang menginterupsi pembicaraan keduanya.
Setelah mendengar pertanyaan istrinya di dalam kamar, karena memang pintu kamarnya tidak ditutup, pak Hendra langsung menuju ruang keluarga.
Tujuannya adalah, untuk mengetahui lebih lanjut apa yang sedang terjadi dengan anak dan ibu itu.
“Ini Tristan lagi mau cerita. Ayo, Papa duduk cepetan. Biar masalah cepat selesai,” suruh bu Siska tak sabaran.
Dia sedikit kesal karena sedikit lagi akan mendapat jawaban, tapi langsung terpotong karena ucapan suaminya.
Pak Hendra menurut dan segera duduk di sebelah istrinya.
Sedangkan Tristan, dia duduk berseberangan dengan kedua orang tuanya.
Akhirnya, Tristan memulai ceritanya dari Tristan mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengirimkan foto kebersamaan Elvan dan Adira di sebuah kafe.
Hingga semua pikiran-pikiran buruknya, Tristan ceritakan kepada kedua orang tuanya.
Dan berakhirlah Tristan di rumah kedua orang tuanya untuk menenangkan diri.
“Mana coba, Mama liat fotonya,” ucap mama setelah mendengarkan semua permasalahan yang Tristan alami.
Tristan menurut dan menyodorkan ponselnya pada bu Siska.
Bu Siska langsung bisa melihat dengan jelas seperti apa foto yang dikirimkan oleh pengirim pesan misterius itu.
Pak Hendra juga ikut melihat apa yang istrinya lihat.
Kemudian, pak Hendra bertanya kepada Tristan.
“Kamu udah tanya sama Adira? Alasannya apa ketemu sama Elvan?” tanya pak Hendra menginterogasi.
Tristan menggeleng dengan tampang bodohnya.
Bu Siska yang merasa geram, dia menjitak kepala anaknya agar otaknya segera encer dari kebekuan.
“Bodoh banget kamu, Tris ... Jangan mengambil kesimpulan sendiri. Kamu tanya dulu sama Adira, alasannya apa ketemu Elvan. Kamu udah tua, cuma masalah begituan, masa nggak bisa menyelesaikannya sendiri dan malah pulang ke sini? Astaga Tristan,” omel bu Siska panjang lebar.
Dia merasa geram dengan anak laki-lakinya itu.
Pak Hendra hanya bisa tepuk jidat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tristan terdiam dan berusaha mencerna ucapan mamanya.
(Bayangin, ada suara jarum jam bunyi tik tok tik tok tik tokJ)
Mata Tristan juga kedip-kedip lucu menatap kedua orang tuanya yang perkataannya memang ada benarnya.
“Iya juga ya, Ma.” ucap Tristan sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
“Astaga Tristan!!” pekik bu Dewi karena merasa gemas ingin menggigit anaknya itu.
Tristan dan pak Hendra sampai menutup telinga karena merasakan dengungan di telinganya.
Nguuuuuung...
“Sekarang juga, kamu harus pulang. Adira pasti sudah nungguin kamu dari tadi,” ucap pak Hendra memberikan sarannya.
“Iya, Pa. Papa ada benarnya juga. Kalau begitu, Tristan pulang dulu. Terima kasih saran dan teriakannya ya, Ma,” ucap Tristan sambil berlari keluar rumah menuju mobilnya terparkir.
“Dasar anak tidak tahu diri,” gerutu bu Siska yang tentunya masih bisa di dengar oleh Tristan.
Dia tidak mau sampai mendengar pekikan mamanya lagi. Itu akan berakibat pada gendang telinganya yang pecah.
Tristan segera mengendarai mobilnya dengan tergesa menuju rumahnya.
Dia sudah tersenyum mengingat Adira pasti sudah tertidur saat menungguinya.
Tristan akan menanyai Adira terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Pantes aja mama ngomel gitu. Aku, kalau udah cemburu nggak bisa berpikir jernih,” monolog Tristan pada dirinya sendiri.
Dia juga tersenyum bodoh dan menertawakan dirinya sendiri.