Treat You Better

Treat You Better
Terbiasa



Happy reading!😊


.


*****


"Apa dia kekasihmu?"


Mereka kini sudah di dalam mobil pulang dari toko roti. Abbie yang diliputi kegelisahan dan rasa penasaran akhirnya memberanikan diri bertanya. Namun, baru saja kalimat itu keluar dari mulutnya, ia langsung terkejut oleh pertanyaannya sendiri.


Aku pasti benar-benar gila sekarang. Bagaimana mungkin pertanyaan itu mengalun indah dari mulutku?


"Siapa yang kau maksud?" tanya Charles yang belum mengerti arah pembicaraan Abbie ke mana. Ia juga sedikit bingung. Bagaimana mungkin Abbie melontarkan pertanyaan seperti itu padanya.


"Yang menyebut nama kecilmu itu."


Ia sengaja tak menyebut nama kecil Charles. Ia takut bertambah gugup.


Di mana keberanianku yang dulu memaki-makinya?


"Maksudmu, Metti?"


"Aku tidak tahu namanya, dan aku tidak ingin tahu."


Charles terkekeh.


"Dia kekasih temanku. Mereka baru saja pergi sebelum kau turun tadi," jelas Charles.


Ahh...Baguslah. Aku masih bisa berharap.


Abbie hanya ber-oh ria menanggapinya.


"Apa kau sudah punya kekasih?"


Apa? Dia benar-benar menanyakannya? Charles.


Aku ingin menghilang dari muka bumi ini sekarang juga. Aku sangat malu. Mulutku sangat tidak bisa bersahabat. Sialan. Abbie.


"Menurutmu, bagaimana?" Charles sengaja bertanya balik.


"Hei...bodoh. Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Kalau kau tidak ingin menjawab, cukup diam saja."


Ia merasa sangat kesal sekarang. Apalagi ia tidak mendapat jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan.


"Kau sensitif sekali. Siapa yang akan menyukai pria sepertiku? Dengan penampilanku yang seperti ini, menurutmu siapa yang akan tertarik? Hanya gadis bodoh yang akan berani melirikku." Ia merendah sekarang.


Kalimat terakhir Charles membuatnya menelan ludah kasar. Ia tak menyangka akan mendapat sindiran seperti itu, meskipun maksud dari perkataan pria itu tidaklah demikian.


Cihh...Akulah gadis bodoh itu. Aku menyukaimu, sialan.


Abbie mendengus kesal.


"Kau bilang bodoh? Apa menyukai seseorang itu adalah hal yang bodoh?" tanyanya.


Charles mengangkat bahunya.


"Dari sudut pandang orang yang sepertiku memang seperti itu. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh orang lain."


Ia menerawang. Membayangkan bagaimana jijiknya gadis itu kalau seandainya ia mengatakan kalau ia sudah jatuh pada pesona gadis itu.


"Kau sangat pesimis. Apa kau berpikir seseorang jatuh cinta hanya karena penampilan dan materi?" Gadis itu mencebikkan bibirnya.


"Aku berpikir demikian."


"Huh...Apa kau punya seseorang yang kau suka?"


Oh Yesus. Aku sudah seperti reporter saja, menanyakan banyak hal pribadi tentang dia.


"Sepertinya ada. Hanya saja....." Ia menggantung kalimatnya yang membuat gadis itu sangat penasaran. "Aku tidak sepercaya diri itu mengatakan padanya."


"Kenapa?"


Entah sejak kapan, keduanya sedikit membicarakan tentang perasaan-perasaan yang timbul di hati mereka.


"Entahlah. Dia terlalu jauh untuk ku gapai."


Abbie terkekeh.


Itu membuat dada Charles menghangat di dinginnya udara malam itu. Bagaimana tawa kecil Abbie ia dengar tanpa paksaan. Tulus. Ia memegang dada kirinya.


"Bagaikan pugguk menginginkan bulan. Seperti itu?"


Charles tersenyum manis.


"Begitulah. Bagaimana denganmu?" tanya pria itu.


"Kau pasti akan menertawakanku kalau aku menceritakannya." Ia masih terkekeh.


"Cihh...Kau pelit. Bagaimana mungkin kau tahu aku akan tertawa kalau aku saja belum mendengarnya?"


"Aku menyukainya akhir-akhir ini." Ia mulai bercerita. "Awalnya aku menganggapnya seperti lebah yang membutuhkan nektar bunga, kelihatan buruk kalau dipandang oleh orang lain. Tapi, sekarang aku menganggapnya lebih indah dari kupu-kupu."


Charles tertawa.


"Perumpamaanmu payah sekali, Nona D'alejjandra."


"Maaf, aku tidak sengaja. Ilustrasimu sedikit lucu," ujarnya. "Pria itu sangat beruntung. Aku iri," ujarnya sambil terkekeh.


"Jangan menjadi orang iri kalau kau saja tidak percaya diri."


"Hahahaha...Kau sedang menasihatiku ya?" celetuk Charles.


*****


Satu Minggu Kemudian...


Kedekatan Charles dan Abbie menuai banyak kritikan dari berbagai pihak. Mereka sering bersama dimanapun mereka berada. Layaknya pasangan kekasih, tiap hari mereka pulang sekolah bersama. Abbie pun tak segan-segan memanggil nama kecil Charles, begitupun sebaliknya.


Tentang bagaimana perlakuan siswa di sekolah itu terhadap Charles, sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja masih ada yang tidak suka melihatnya bersama dengan Abbie.


Mereka sudah bisa berbicara dengannya layaknya sesama manusia. Tak jarang, ia juga mendapat perhatian dari beberapa gadis yang menyukai penampilannya yang sekarang tanpa kacamata sehingga membuat Abbie jengah.


"Charlie, ayo kita ke festival kembang api sebentar sore."


"Aku akan menjemputmu!"


Begitula mereka. Ada banyak hal yang mereka lakukan bersama hingga keberadaan Izzy di sampingnya seolah tak terasa.


"Apa aku tidak diajak?" Izzy memberenggut kesal dengan kelakuan temannya.


"Huh? Kau mau juga?" Ia kaget.


"Aku ingin menyaksikan bagaimana caranya si cupu itu bisa menaklukan Queen of Beauty ini," bisiknya pelan takut didengar oleh yang dibicarakan.


Abbie dengan sigap memukul bahunya.


"Dia punya nama, Tyson!" serunya pada Izzy.


"Ya, ya, ya. Kau selalu begitu kalau aku menyebutnya cupu, tapi dulu kau bahkan menjulukinya lebih dari itu." Izzy mencibir.


Otak Abbie refleks memutar memori-memori lamanya, bagaimana ia menjuluki Charles.


Hei Cupu!


Bodoh!


Kampungan!


Ia mengingat lagi bagaimana senyuman pria itu ketika ia menjulukinya seperti itu.


"Berhenti mengatakan itu, Izabel. Kita sudah pernah membahasnya."


"Bukankah kau harus berkencan dengan pacarmu?" ujar Abbie ketika mengingat lagi cerita temannya pagi tadi.


"Aku hanya menggodamu saja, D'alejjandra!" sahut Izzy sambil menyengir. "Apa kau sudah jatuh cinta padanya?" bisiknya lagi.


Mendengar kata jatuh cinta membuat dada Abbie bergemuruh. Ada rasa takut dalam dirinya untuk menjalin kasih dengan pria.


Ia khawatir bagaimana nasib pria yang akan menjadi kekasihnya nanti. Apalagi sekarang Philip sudah berada dekat dengannya. Ia tidak mau kejadian dua tahun lalu terulang lagi. Meskipun sekarang ia belum ada tanda-tanda ingin menyakiti Charles, tapi bukan berarti ia harus kecolongan 'kan? Lagipula, pencuri tidak mungkin mengetuk pintu sebelum mencuri.


Membayangkan wajah penuh senyuman Charles dengan bersimbah darah, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia tak sanggup.


Aku akan membunuh siapapun pria yang dekat denganmu.


Ancaman penuh amarah Philip masih tercetak jelas di dalam ingatannya. Ia takut Charles mengalami hal serupa.


Namun, hati dan pikirannya berkata lain. Ia dilema.


"Hei..." bisikkan pelan dari sampingnya membuat Abbie terkesiap. Ia menoleh.


"Pipimu gampang memerah sekarang, Abigail. Apa yang kau pikirkan? Pria itu?" Izzy tersenyum. "Aku akui sekarang, dia sudah sangat tampan tanpa kacamata tebalnya itu. Aku hampir saja ingin mengkhianati kekasihku."


Abbie kembali memukul bahu temannya itu.


"Jangan jadi pengkhianat, Tyson!"


*****


Seperti yang dijanjikannya pada gadis itu, Charles menjemputnya. Saat tiba di mansion keluarga D'alejjandra mata Charles langsung dimanjakan oleh pemandangan indah di halaman luas bangunan itu.


Taman bunga berjejer rapi dengan rumput hijau yang dipotong rapi menambah kesan asri. Warna-warni kembang tulip dan berbagai macam tanaman berbunga lainnya menjadikan halaman itu bak taman besar di pusat kota.


"Apa kau tidak berniat mengantarku ke sana?"


Sesosok tubuh langsing bergaya feminim langsung menghampiri Charles. Senyuman di bibirnya tidak luntur membuat jantung Charles tidak bisa dikendalikan. Namun, ia berusaha tenang.


"Ayo!"


.


*****


.


Love,


Xie Lu♡