Treat You Better

Treat You Better
Hadiah.



Sore hari di taman kompleks.


 


Adira tampak duduk di kursi dekat kolam yang berada di taman tersebut.


Dia sedang menunggu seseorang, siapa lagi jika bukan Tristan.


Tristan sengaja mengajak Adira bertemu di taman untuk memberikan sesuatu. Begitu katanya.


Kenapa harus di taman? Kenapa bukan dirumahnya saja? Bukankah Tristan bebas keluar masuk rumah Adira? Entahlah, Adira bingung.


Angin sore yang menerpa wajah Adira sungguh sangat segar dan menenangkan.


Apalagi di tambah sang Surya yang sudah tampak kuning keperakan dan akan segera pulang ke peraduan.


Adira menyukai suasana sore hari yang seperti ini. Adira selalu menemukan ketenangan jika bisa menikmati sunset.


Adira duduk menyender di kursi, wajahnya menengadah ke atas menikmati sejuknya terpaan angin di sore hari.


Bibirnya mengulas senyum tipis.


Beberapa menit betah dengan posisinya, Adira lalu berdiri menatap kolam ikan yang terkena pantulan matahari sore.


Sangat indah dan mendamaikan.


Adira merentangkan tangannya merasakan lagi hembusan angin yang menerpa wajahnya lembut. Matanya juga terpejam.


Adira sudah tidak perduli dengan tatapan para pengunjung lainnya. Dia merasa, sayang sekali suasana seperti ini di sia-siakan.


Saat masih tenggelam dalam rasa damai dan nyamannya, ada tangan kokoh yang memeluknya dari belakang.


Adira berjenggit kaget. Namun saat menyadari wangi parfum yang tercium, Adira paham siapa dia.


Siapa lagi jika bukan Tristan. Dia datang dan langsung memeluk Adira.


Adira tentu tidak tahu bahwa Tristan sudah datang dari tadi. Dia ingin langsung mendekat, namun melihat Adira begitu bahagia menikmati udara sore, membuat Tristan mengurungkan niatnya.


“Udah dari tadi apa baru aja datang?” tanya Adira tanpa merubah posisi.


Tristan tidak langsung menjawab. Dia malah menopangkan dagunya di bahu Adira dan memejamkan mata.


Pantas saja Adira begitu betah disini. Ternyata memang udara sore hari di taman sangat mengesankan.


“Udah dari tadi. Aku liatin kamu dulu” ucap Tristan masih dengan posisi memeluk Adira dari belakang.


Adira tidak menjawab dan memilih memejamkan matanya menikmati sapuan angin sore hari lagi.


Apalagi pelukan tristan sekarang menambah rasa nyaman di hati Adira.


Keduanya saling diam dengan masih berpelukan.


Hingga beberapa menit kemudian, Adira membuka matanya dan melirik ke samping kiri dimana wajah Tristan begitu dekat dengan wajahnya.


Walau dalam keadaan terpejam, Tristan sadar jika Adira sedang meliriknya.


Tanpa ba bi Bu, Tristan langsung mengecup pipi Adira sekilas. Dan itu berhasil membuat perut Tristan mendapatkan cubitan dari Adira.


“Ini tempat umum kak. Bisa nggak jangan main nyosor aja” ucap Adira sambil bersungut.


“Cuma sebentar. Kalau lama aku nggak minta ketemu disini tapi ke hotel” ucap Tristan sambil melepas pelukannya. Dia membalikkan tubuh Adira untuk bisa menghadapnya.


“Mulai deh mesumnya” ucap Adira kesal. Wajahnya mendongak ke atas menatap mata bening Tristan.


“Tapi kamu suka kan?” Tanya Tristan menunduk dan balas menatap mata indah milik Adira.


Mereka saling bertatapan dan menyelami perasaan masing-masing.


Tangan Tristan terangkat mengelus pipi Adira lembut.


Usapan itu berakhir di bibir Adira. Tristan mengusap dengan ibu jarinya.


Adira terpejam merasakan sentuhan lembut yang Tristan berikan.


Mulut mereka diam, namun degupan jantung dan mata seolah mewakili bicara.


Melihat mata Adira yang terpejam, tristan akhirnya mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Adira.


Cup.


Tristan mengecup kening Adira cukup lama. Dia berusaha menyalurkan rasa sayang dan cintanya.


Setelah lepas, dia juga mengecup pinggiran bibir Adira.


Cup.


Cukup lama Tristan dalam posisi seperti itu.


Adira juga seakan menikmati tiap sentuhan yang Tristan berikan. Dia tidak menolak sama sekali.


Karena merasa mendapat lampu hijau dari Adira, Tristan mulai ******* bibir Adira lembut.


Adira juga dengan nalurinya membalas ciuman Tristan.


Beruntung, pengunjung di taman sudah mulai berkurang. Tinggal beberapa orang saja yang masih singgah.


Memang karena waktu sudah menjelang malam dan langit mulai berubah gelap.


Namun kegiatan mereka seakan tidak terganggu sama sekali dengan suasana.


Benar kata orang, dunia seakan milik berdua jika sudah jatuh cinta.


Mereka masih saling menyesap dan memagut satu sama lain di bawah matahari tenggelam.


Mereka seakan ikut tenggelam bersama tenggelamnya matahari sore hari itu.


 


“Aku ada sesuatu buat kamu. Anggap aja ini hadiah buat kamu” ucap Tristan sambil mengeluarkan kotak beludru berwarna merah.


“Apa ini?” tanya Adira sambil menerima kotak tersebut.


Mereka akhirnya menyudahi kegiatan berciuman mereka.


Mereka memilih duduk bersebelahan di kursi dekat kolam. Beruntung pencahayaan taman di malam hari memadai.


Banyak lampu yang terpasang sehingga keadaan taman menjadi terang.


Hal itu juga di dukung oleh keadaan langit yang mulai bertabur bintang dan rembulan yang menampakkan wajahnya penuh.


Suasana yang romantis bukan?


“Buka dong biar tau apa isinya” jawab Tristan tersenyum.


“Kalung? Cantik banget....” ucap Adira dengan mata berbinar.


“Sini aku pakein Ra” ucap Tristan dan mengambil alih kotak itu.


Adira menurut dan berbalik badan membelakangi Tristan.


Tristan mulai memasangkan kalung ke leher Adira.


“Udah Ra” ucap Tristan setelah kalung terpasang.


“Makasih ya kak. Cantik banget ini. Tapi kenapa pake inisial T? Bukan A?” tanya Adira sambil memegang bandul huruf T.


“T adalah inisial nama aku. Kalau kamu pakai kalung itu, kamu bakal inget aku terus. Biar kamu nggak ada waktu buat mikiran cowok lain” ucap Tristan sambil menatap Adira lekat.


Adira terkekeh. Nggak pake kalung inisial T aja dia selalu kepikiran Tristan.


“Nggak ada yang lain di hati dan pikiran aku. Yang ada hanya nama kak Tristan” ucap Adira jujur dengan perasaanya.


“Anak pinter... Hanya aku, nggak boleh ada yang lain” ucap Tristan lalu mendekap tubuh Adira ke dalam pelukannya lagi.


“Kamu suka kan sama kalungnya?” tanya Tristan memastikan.


“Emang kalau nggak suka boleh dilepas?” tanya Adira menggoda.


“Nggak. Kamu harus pake. Kamu milik aku.” Ucap Tristan lagi .


“Mulai deh posesifnya “ ucap Adira lalu membalas pelukan hangat yang Tristan berikan.


“Jadi... Kamu udah siap nikah belum. Kan udah wisuda?” tanya Tristan lembut agar tidak menyinggung perasaan Adira


Adira melepaskan pelukan Tristan dan menatap serius ke manik Tristan.


“kakak pengen banget cepet nikah ya?” tanya Adira mencari tahu.


“Iya lah. Biar kamu jadi milik aku sepenuhnya. Dan biar kita juga bisa terhindar dari dosa yang berlarut. Aku nggak mau sampe khilaf lagi kaya waktu itu” ucap Tristan terkekeh namun dia bersungguh -sungguh dengan ucapannya.


Adira diam sejenak. Memang benar yang dikatakan Tristan. Kenapa Adira harus takut?


“Oke kalau begitu, nanti kakak bilang sama om sama Tante buat kerumah.” Jawab adira mantap.


“buat apa emangnya?” tanya Tristan dengan bodohnya.


Pletak.


Jitakan berhasil mengenai kening Tristan.


“buat bahas pernikahan lah. Kita juga baru lamaran belum tunangan. Kita harus ngadain acara tunangan dulu baru nikah kali” ucap Adira kesal namun tetap menjelaskan.


“Ooooh... Iya. Besok malam aku bakal bawa papa sama Mama ke rumah kamu lagi” ucap Tristan sumringah.


“harus besok malam banget nih?” tanya Adira yang merasa terlalu cepat.


“Lebih cepat lebih baik Ra. Aku mau setiap kali aku bangun tidur tuh pertama kali yang aku liat wajah cantik kamu” ucap Tristan lalu memeluk Adira lagi.


“Ih gombal lagi. Tapi suka hehe” jawab Adira membalas pelukan Tristan.


Mereka sedang sangat bahagia hari ini. Setelah masalah yang bertubi datang menghampiri, dan mereka berhasil melewati, itu justru membuat hubungan mereka semakin erat.


note: neng Adira lagi di taman.