Treat You Better

Treat You Better
Cuci mata.



Cuci mata.


 


Tristan memutuskan datang ke rumah Adira bersama Amanda.


Dia mengendarai motornya karena jarak rumah tidak terlalu jauh.


Setelah motor sampai di depan rumah Adira, Tristan melihat begitu ramai di dalam dan banyak orang berlalu lalang.


Tristan jelas tau penyebabnya. Dia tersenyum melihat itu.


Setelah motor terparkir sempurna di halaman rumah Adira, Tristan dan Amanda segera turun dan bergegas masuk.


Saat baru memasuki rumah, ada suara seorang wanita yang bisa Tristan duga itu Oma Adira.


“Eeh.. kamu Tristan kan?” ucap wanita tersebut tersenyum senang.


“Iya.. saya Tristan” ucap Tristan tersenyum dan menyalami Oma Santi.


Ya, wanita tersebut adalah Oma Santi. Walau umur sudah kepala enam, namun wajah ayunya masih tampak terpancar.


“panggil aja Oma. Ini adik kamu?” tanya Oma Santi lagi.


Amanda langsung menyalami tangan Oma Santi dan mencium punggung tangannya.


“Iya Oma. Kita mau ketemu Adira hehe” ucap Amanda tersenyum canggung.


“Eeh Tristan.. Amanda... Ayo masuk.” Ucap Bu Dewi tiba-tiba yang datang dari arah dapur.


“Iya Tante. Kita mau menemui Adira” ucap Amanda menjelaskan maksud kedatangannya.


“Iya Tante tau. Naik aja langsung ke atas. Udah ditunggu tuh sama sepupu-sepupunya” ucap Bu Dewi terkekeh geli.


Bu Dewi sudah tau jika Tristan akan kesini untuk bisa lebih akrab lagi dengan keluarga Adira.


Adira telah memberitahu nya.


“Kita ke atas nggak papa Tante?” tanya Tristan memastikan.


Dia takut akan kena omel oleh Omanya Adira. Biasalah.. orangtua pasti akan mendebat dengan pikiran kolotnya.


“iya naik aja nggak papa” ucap Oma Santi yang berhasil membuat Tristan tersenyum lega.


Pikirannya ternyata salah. Oma Santi walau sudah berumur namun sepertinya pikirannya terbuka. Tidak seperti orangtua kebanyakan.


Akhirnya Amanda dan Tristan mengangguk berpamitan dan segera menaiki tangga menuju kamar Adira.


Tok. Tok. Tok.


Amanda yang mengetuk pintu. Tristan hanya bersedekap menunggu pintu terbuka.


Ceklek.


Pintu terbuka menampilkan Adira yang hanya memakai tanktop dan celana pendek.


“aaarg. .” teriak Adira saat menyadari bahwa yang datang adalah Tristan dan Amanda.


Dia tidak masalah Amanda melihatnya. Yang menjadi masalah adalah Tristan.


Dia merasa malu karena berpakaian begitu terbuka.


Akhirnya Adira menutup pintunya lagi cepat.


Amanda sudah tertawa terbahak-bahak melihat wajah terkejut Adira.


“Malu tuh dia. Kalau Abang sih aku yakin udah nelen ludah” ucap Amanda tertawa meledek.


Benar. Tristan memang menelan salivanya susah melihat penampilan Adira yang begitu seksi di matanya.


Paha mulusnya terekspos jelas. Apalagi Adira hanya menggunakan tanktop.


‘bisa-bisanya dia pakai baju begituan. Sengaja banget pengen liatin tubuhnya sama pekerja di depan kayaknya’ ucap Tristan menggerutu dalam hati.


Selang beberapa menit pintu terbuka kembali menampilkan Vanessa dan syaqila dengan senyum manisnya.


“Eh Hay kak. Pantes aja kak Adira lari. Ada kak Tristan rupanya haha” ucap Vanessa tersenyum meledek.


“Ayo masuk kak” ucap syaqila dan membuka pintu lebar-lebar.


Adira masih berada di kamar mandi untuk berganti pakaian yang lebih tertutup.


“Kakak namanya siapa? Kakak pasti adeknya kak Tristan ya?” berondong Vanessa penasaran.


Amanda tersenyum menanggapi.


“iya. Aku adek bang Tristan juga teman Adira” ucap Amanda tersenyum manis.


“WOW... Jadi Kakak juga temenan sama kak Adira!!” pekik syaqila kaget.


“iya. Kita kan satu kampus. Kita juga wisuda bareng hehe” ucap Amanda lagi mulai mengobrol akrab.


Mereka duduk bersila di atas karpet berbulu yang berada di kamar Adira


Karena jika mereka duduk di sofa tidak akan muat untuk berlima. Jadi mereka memilih duduk lesehan.


Ceklek.


“sorry ya hehe.” Ucap Adira cekikikan merasa malu.


“Nggak papa kali Ra. Bang Tristan sekalian cuci mata” ucap Amanda tersenyum menggoda.


Adira melotot. Amanda tidak tau kondisi sama sekali. Disini ada syaqila yang masih kecil.


“Kakak matanya kenapa? Sampe harus cuci mata. Kaka kelilipan?” tanya syaqila polos.


Tuh kan. Syaqila pasti akan bertanya secara runtun.


“Iya. Tadi habis naik motor dan kena debu” ucap Tristan asal.


“Oooh.. ya udah kakak cuci mata aja nggak papa” ucap syaqila lagi dengan polosnya.


Huft...


Adira bisa bernafas lega. Bisa juga Tristan mengarang cerita.


“eh kak Tristan...” pekik Vanessa histeris.


Sedangkan syaqila sudah asyik lagi memainkan ponselnya.


“kenapa Vanessa?” tanya Tristan yang tentu sudah tau nama dari kedua sepupu Adira.


“Kakak kenal kak Adira dimana? Kak Adira tuh dari dulu nggak pernah pacaran. Sekalinya pacaran.. eeh langsung nikah” ucap Vanessa panjang lebar.


Tristan tersenyum merasa beruntung. Berarti Tristan merupakan pacar pertama dan akan menjadi pacar yang terakhir untuk Adira.


“oh ya? Berarti Kak Adira nggak pernah ngajak temen cowok kerumah gitu?” tanya Tristan yang sebenarnya ingin mengorek informasi.


Adira dan Amanda hanya mendengarkan.


“dulu ada. Namanya kak Elvan. Tapi dia Cuma temen katanya. Tapi aku tau kak Adira suka kayanya” ucap Vanessa jujur.


“Iiish.. kamu tuh ya. Masih kecil nggak usah bilang suka-sukaan deh. Sekolah dulu yang bener” kesal Adira.


“Mulai deh sewot. Sama syaqila aja lemah lembut” ucap Vanessa cemberut.


“Vanessa kelas berapa sekarang?” itu tanya Amanda yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


Melihat muka masam abangnya, Amanda jadi tak tega. Mungkin abangnya masih cemburu jika nama Elvan disebut.


“Aku kelas enam. Bentar lagi kelas satu SMP. Aku udah gede kan kak?” tanya vanessa yang masih tidak terima dikatai anak kecil.


“Hahahaha” semua tergelak.


“eh nama Kaka siapa? Aku belum tau” tanya Vanessa lagi.


“Aku Amanda. Panggil aja Amanda” jawab Amanda memperkenalkan diri.


“Iya kamu udah gede. Dah sana main HP lagi. Aku mau kangen-kangenan sama mas pacar dan calon adik ipar” ucap Adira mengusir.


“Iiiih... Sombong amat!!” ucap Vanessa merasa kesal.


Tapi dia segera beranjak dan beralih ke ranjang mengikuti syaqila yang sudah asik sendiri.


“nggak usah di dengerin kak. Vanessa suka gitu anaknya” ucap Adira mencoba menenangkan.


Dia sudah melihat wajah Tristan yang tidak bersahabat saat nama Elvan disebutkan.


“Eh.. kalian belum ketemu Oma opa aku dari keluarga papa ya? Yuk aku ajak ketemu” ucap Adira.


“Oh iya. Gue disini aja deh mau ngobrol sama vanessa. Kalian keluar aja berdua” jawab Amanda.


Akhirnya Tristan dan Adira keluar dari kamar tanpa Amanda dan mencari keberadaan Oma opa Adira.


Ternyata mereka masih duduk di teras belakang rumah bersama papa Adira.


“oma, opa.. ada Tristan nih calon suami Adira” ucap Adira memperkenalkan.


“oooh.. ini calon suami cucu ku? Sini duduk. Aku mau tau sejauh mana kamu serius sama Adira” ucap opa Abi tegas dan mengintimidasi.


Tristan langsung menelan ludahnya susah payah. Apa opa Abi tidak akan merestuinya? Namun tak urung Tristan tetap menurut dan diikuti Adira duduk disebelahnya.


Sebenarnya, opa Abi hanya ingin mengetes. Dia tidak ingin cucunya tersakiti. Dia harus memastikan Adira memilih pasangan yang tepat.


“Opaaa!!!” rengek Adira tidak terima.


“Sudah.. kamu menurut saja. Ini demi kebaikan kamu” ucap Oma menyahuti.


Sedangkan pak Irawan, dia sudah mengulum senyum dari tadi.


Ini pasti akan terjadi seperti istrinya dulu.


Namun Bu Dewi begitu pandai menjawab pertanyaan yang sang papa lontarkan.


“Kamu tenang aja Tris. Kamu hanya perlu menjawab dengan cerdas setiap pertanyaan dari papa” ucap pak Irawan menenangkan.


Tristan pasti bisa. Dia meyakinkan dirinya sendiri.