Treat You Better

Treat You Better
64. Quality time.



Tristan terbangun dan meraba-raba sisi ranjangnya.


Kosong.


Kemana perginya Adira?


Kemudian Tristan mendengar suara shower dari dalam kamar mandi.


Mungkin Adira sedang mandi. Pikir Tristan.


Tristan pun membuka matanya lebar-lebar dan melihat jam di layar ponselnya.


Pukul tujuh pagi.


Tristan meraup wajahnya agar nyawanya kembali terkumpul setelah melayang ke alam mimpi.


Dia tersenyum mengingat percintaan panasnya tadi malam.


Ya, mereka melakukannya lagi.


Ceklek.


Lamunan Tristan buyar saat pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Adira yang mengenakan bathrobe nya.


“Selamat pagi, Suamiku Sayang ....” sapa Adira saat pertama kali melihat Tristan duduk di atas ranjang dengan wajah bantalnya.


“Selamat pagi ....” jawab Tristan tersenyum manis.


“Mandi gih ... aku laper nih.” ucap Adira sambil mengusap-usap rambut basahnya dengan handuk.


“Kasih aku morning kiss dulu, baru aku mau mandi.” jawab Tristan sambil mengerling nakal.


Adira langsung memelototi Tristan.


Dia tidak perduli akan permintaan Tristan dan memilih mencari baju yang cocok untuk dia kenakan.


“Kita nanti mau kemana Kak?” tanya Adira setelah menemukan baju yang cocok.


“Kasih aku morning kiss dulu, baru aku kasih tau.” Jawaban yang sama seperti tadi.


Adira memutar bola matanya malas.


Sampai nanti pun, bila keinginannya belum dituruti, Tristan akan selalu menagihnya.


Karena sudah sangat lapar, Adira memilih menurut.


Dia berjalan menuju ranjang dan duduk di hadapan Tristan.


“Mau morning kiss?” tanya Adira dengan nada menggoda.


Tristan mengangguk polos layaknya anak kecil.


Cup.


Adira mengecup bibir Tristan sekilas. Saat Adira hendak menjauhkan wajahnya, secepat kilat Tristan menarik tengkuk Adira untuk memperdalam ciumannya.


Adira hanya menurut. Dia juga menikmati ciuman pagi hari itu.


“Udah, Kak. Mandi dulu dong ....” ucap Adira sesaat setelah ciuman mereka terlepas.


“Satu kali lagi ya. Aku pengen makan kamu dulu sebelum mandi.” ucap Tristan sambil menatap Adira sayu.


Adira mengangguk ragu-ragu.


Sebenarnya, dia juga menginginkan lebih setelah morning kiss mereka terjadi.


Pergulatan itupun tidak bisa terelakan lagi.


Mereka melakukannya lagi dan lagi tanpa ada kata bosan.


.......


Ting. Tong.


Bel berbunyi dari luar kamar hotel.


Adira segera membukanya dan disana sudah berdiri petugas hotel yang membawakan sarapan.


Bukan sarapan sih ...


Karena sudah jam sebelas. Itu lebih pantas disebut makan siang.


Karena ulah Tristan yang katanya ‘ingin lagi’ membuat Adira harus menahan rasa laparnya.


Satu kali yang dibilang Tristan tidaklah benar.


Karena mereka melakukannya lagi selama tiga kali.


“Permisi ... Mau mengantar makanan.” ucap petugas hotel ramah.


Kemudian Adira mempersilahkannya masuk untuk menaruh makanan.


Setelah petugas hotel keluar, Adira langsung menyantap sarapannya.


Perut dan lidahnya sudah tidak tahan melihat dan mencium lezatnya nasi goreng yang di sajikan.


Tidak butuh waktu lama, nasi goreng tandas. Kemudian Adira meneguk segelas susu yang juga dibawakan oleh petugas hotel tadi.


“Akhirnya ... Cacing di perutku udah nggak meronta.” Ucap Adira sambil menepuk lembut perutnya sendiri.


Ceklek.


Adira telah menyiapkan baju untuk Tristan kenakan.


Tristan pun memakai baju yang Adira pilihkan.


“Kamu udah makan?” tanya Tristan saat melihat piring Adira sudah kosong.


“Udah ... Aku laper banget. Tenaga aku juga habis gara-gara, Kakak.” jawab Adira dengan nada kesal.


Tristan terkekeh dan segera menikmati sarapannya.


Dia duduk di sofa bed yang tersedia.


Adira pun memilih duduk di samping Tristan dan melihat suaminya itu sarapan.


“Mau?” tanya Tristan karena Adira sejak tadi memperhatikannya.


“Aku udah kenyang. Habis ini kita mau kemana?” tanya Adira antusias.


“Kalau aku maunya di hotel aja gimana?” jawab Tristan dengan pertanyaan.


Dia juga memasang senyum smirknya.


“Apa! Buat apa kita ke jauh-jauh ke Surabaya kalau cuma mau di kamar aja. Buang-buang duit tau ....” jawab Adira merasa kesal.


“Ya nggak papa kan. Kamu juga menikmatinya.” jawab Tristan tersenyum licik.


“Ya ... Mau gimana lagi. Kalau aku nolak, yang ada aku malah dosa lagi.”


Sebenarnya, Adira juga menikmati permainan panas mereka. Tapi Adira malu untuk mengakuinya.


Tristan terkekeh dan mengacak gemas rambut Adira.


“Hari ini kita main di hotel dulu. Besok baru kita jalan-jalan, Oke?” jawab Tristan meminta persetujuan.


“Tapi aku nggak mau di kamar terus kak. Kita keluar ya ... Main di taman hotel.” Pintar Adira memohon.


“Kan di kamar juga bagus tuh view-nya. Aku sengaja milih yang view gunung buat kamu.”


Ya, mereka menginap di hotel yang tentunya mempunyai pemandangan indah yang bisa dilihat dari balkon kamar.


“Emang iya? Kok aku nggak tau?”


Tanpa menunggu jawaban dari Tristan, Adira segera menyibak tirai yang menutupi pintu menuju balkon.


Benar saja, dari balik pintu kaca Adira bisa melihat pemandangan gunung yang begitu indah dan menyejukkan.



Adira berjingkrak girang layaknya anak kecil.


Kemudian dia keluar menuju balkon untuk melihat pemandangan yang tersaji begitu apik itu.


Adira merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara segar di siang hari itu.


Mungkin karena banyaknya pepohonan yang tumbuh dan agak jauh dari jalan raya, membuat udara di sekitar hotel tersebut tidak terlalu terpengaruh polusi.


Walaupun jauh dari jalan raya, tapi akses menuju hotel tersebut sangat mudah karena kualitas jalan yang bagus.


Harusnya Adira melakukan hal itu saat pagi hari. Karena di pagi hari, udara masih dingin dan segar.


Dan Adira sangat menyukai suasana pagi hari yang seperti itu.


Dia merasa damai saat berada di suasana seperti itu.


Tidak ada hal yang paling Adira sukai kecuali saat matahari terbit dan saat matahari tenggelam.


Setelah makanan habis, Tristan menyusul Adira yang berada di balkon.


Tristan langsung memeluk Adira dari belakang dan menghirup wangi tubuh Adira.


Dia mengendus-endus leher Adira dan membuat Adira tertawa kegelian.


Saat pelukan Tristan di pinggangnya semakin erat, Adira meletakkan tangannya di atas punggung tangan Tristan yang melingkar sempurna di perutnya.


Dia mengelus lembut punggung tangan suaminya itu.


Kepalanya dia sandarkan di dada bidang suaminya.


“Kamu suka kan, Sayang?” tanya Tristan selembut kapas.


“Suka banget. Apalagi pas Kakak manggil aku sayang.” Jawab Adira tersenyum penuh arti.


“Ya udah ... Mulai sekarang aku akan selalu panggil kamu sayang. Entar kalau udah punya anak, baru aku panggil Bunda tapi tetep ada sayangnya.” ucap Tristan manis.


Pipi Adira merona kala Tristan menyebutnya dengan kata ‘Bunda’.


Adira bahagia bisa menikah dengan Tristan.


Seseorang yang membuat Adira jatuh cinta dan tak bisa berpaling lagi.


Dulu, saat Adira jatuh cinta pada Elvan, rasanya tidak seperti sekarang.


Tristan memang berbeda.


Keduanya pun memejamkan mata menikmati indahnya pemandangan dan cinta mereka.