
**Hai sebelumnya aku mau kasih tau kalau kemarin aku up dobel karena kepencet.
Buat yang udah terlanjur baca, aku udah revisi dengan bab baru karena nggak bisa di hapus.
jadi kalau yang udah terlanjur baca, sebelum baca bab ini, baca dulu bab 128 ya.
makasih 😘🙏**
Seorang lelaki berjalan keluar dari bandara. Kacamata hitamnya masih setia bertengger di hidung karena cuaca yang sangat panas pada siang hari di ibu kota.
Setelah meninggalkan kota kelahirannya selama hampir dua tahun, tidak banyak yang berubah dari negara kelahirannya itu.
Lelaki tersebut menatap gedung-gedung pencakar langit yang masih terlihat sama seperti saat dirinya meninggalkan negaranya.
Dua tahun berada di negeri seberang, tidak membuat negeri sendiri terlupakan.
Banyak kenangan pahit maupun kenangan manis yang negeri sendiri tinggalkan.
Lelaki itu berjalan mencari seseorang yang telah menunggunya sejak tadi.
Tidak berapa lama, akhirnya seseorang yang lelaki itu cari berhasil dia temukan.
Seseorang tersebut sedang duduk di atas kap mobil dengan kamar hitam bertengger di hidungnya.
Celana jeans berwarna biru muda dan sobek-sobek di depannya, seakan kurang bahan saja. Dipadukan dengan kaos berwarna putih over size.
Sungguh pemandangan yang membuat mata lelaki itu terpana. Apalagi rambut panjangnya yang melambai-lambai mengganggu penglihatan, ingin sekali Elvan segera berlari dan menyibakkan rambut yang menghalangi pandangan perempuan yang sedang dia pandang.
“Elvan!” pekik perempuan tersebut berbinar dan tersenyum bahagia menatap Elvan.
Ya, seseorang tersebut adalah Elvan yang baru kembali menginjakkan kakinya di bumi Indonesia. Bumi yang selama dua tahun terakhir ini telah dirinya tinggalkan untuk mencari peruntungan di negeri orang.
Elvan tersenyum dan melambaikan tangan untuk menjawab sapaan perempuan itu.
Kemudian, Elvan berjalan mendekati perempuan yang selama hampir dua tahun terakhir ini telah mengisi hari-harinya dengan lebih berwarna.
Setelah sampai di depan perempuan tersebut, perempuan itu langsung memeluk tubuh Elvan dengan sangat erat seakan sudah lama tidak pernah bertemu.
Padahal baru dua minggu mereka tidak saling bertemu. Hanya lewat video call saja mereka melepaskan rindu masing-masing.
“Kamu sudah lama menunggu, Sayang?” tanya Elvan lembut dan perhatian.
“Mungkin hampir satu jam. Tapi itu tidak seberapa dengan aku yang menunggumu selama dua tahun terakhir ini,” jawab perempuan tersebut sambil tersenyum meledek.
“Maafkan aku. Tapi sekarang penantian kamu sudah berakhir dan berujung manis. Terima kasih ya,” sesal Elvan dan berterima kasih.
“Hati adek meleleh, Bang,” ucap perempuan itu melucu.
Elvan terkekeh dan mengajak gemas rambut perempuan yang sangat dia cintai itu. Perempuan yang sudah menemani dirinya di masa-masa patah hatinya.
Dulu, saat Elvan kembali di pertemukan dengan Adira dan Tristan, Elvan masih punya perasaan cinta untuk Adira.
Namun Elvan sadar bahwa, Adira sudah tidak mencintainya lagi. Elvan tidak akan memaksa seseorang untuk mencintai dirinya.
Elvan sudah merelakan Adira bahagia bersama Tristan, suaminya.
Merelakan bukan berarti Elvan sudah melupakan Adira dengan mudahnya. Banyak sekali hal-hal yang telah Elvan lewati bersama Adira dulu.
Pastilah Elvan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa bangkit dan kembali jatuh cinta.
Hingga perempuan bernama Imelda berhasil datang di hidup Elvan dan membuat Elvan kembali jatuh cinta.
Bukan tanpa perjuangan, Imelda telah berjuang sangat keras untuk bisa menyembuhkan patah hati yang Elvan rasakan.
Namun karena kasih sayang dan kegigihan yang Imelda tunjukkan, hal itu akhirnya bisa membuat Elvan merasakan jatuh cinta kepada Imelda, perempuan yang dalam waktu dua bulan lagi akan menjadi istrinya.
“Kita pulang sekarang. Kamu harus main dulu ke rumah, kak Randy katanya pengen ketemu adik ipar,” ucap Elvan tersenyum simpul menatap Imelda.
Imelda sampai terpana dengan senyum yang baru saja Elvan tunjukkan untuknya.
Klik.
Elvan mengeklik tangannya di depan wajah Imelda untuk menyadarkan Imelda dari rasa kagumnya.
“Aku sadar, aku memang tampan. Tapi lihatnya bisa nggak, biasa aja?” tanya Elvan percaya diri.
“Nggak bisa. Aku sudah terlalu cinta sama orang yang bernama Elvan,” jawab Imelda sambil menunjukkan cengiran kudanya.
Imelda tersenyum dan mengangguk. Kemudian Imelda turun dari kap mobil dan berjalan menuju kursi di sebelah kemudi.
Sedangkan Elvan, dia berjalan menuju kursi kemudi untuk menjadi nakhoda dalam perjalanan cintanya. Eh!
*
Setelah mematikan mesin mobilnya, Tristan segera keluar dari dalam mobil dan berjalan mendekati istrinya yang sedang menyirami bunga.
Udara sore hari yang terasa sejuk karena angin sepoi-sepoi menerpa wajah Adira, membuat rambut sebahu Adira melambai-lambai indah.
Apalagi rok selutut Adira yang bergerak ke sana dan kemari karena terkena embusan angin membuat tangan Adira sibuk memegangi roknya agar tidak tersibak.
Tristan langsung membantu memegangi rok Adira agar tidak menyibak ke mana-mana. Beruntung pak satpam yang sedang berjaga sedang izin pergi membeli sesuatu di luar.
“Biar aku yang pegang, Sayang. Kamu fokus menyiram bunga saja,” ucap Tristan yang menyadari raut tidak nyaman sari istrinya.
Istrinya itu sudah melotot sampai bola matanya seperti akan keluar.
Cup.
“I love you.” ucap Tristan lagi yang berhasil membuat wajah Adira bersemu merah.
“I love you too,” jawab Adira berbisik tepat di telinga Tristan, kepalanya Adira tolehkan ke belakang untuk menjangkau telinga suaminya itu.
Tristan tersenyum manis mendengar balasan ungkapan cinta dari Adira.
“Sini, aku bantu siram,” ucap Tristan dan segera mengambil alih alat untuk menyirami bunga itu.
Adira hanya menurut saja dan membiarkan Tristan membantunya menyirami bunga miliknya yang indah bermekaran di taman.
Setelah selesai, keduanya segera masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri.
Mereka mandi bersama, hanya mandi tidak melakukan hal yang lainnya.
Setelah selesai mandi dan memakai bajunya, mereka berdua segera turun untuk menemui anak-anak mereka yang tidak pernah merasa lelah untuk bermain.
“Aarav minum ASI dulu ya,” ucap Adira sambil membawa Aarav ke dalam pangkuannya.
“Kok aku nggak minum ASI?” tanya Echa tiba-tiba yang membuat Adira gelagapan harus menjawabnya dengan apa.
Adira tampak memandang ke arah Tristan untuk meminta bantuan.
“Kan Echa udah gede. Udah gede minumnya su–su sapi,” ucap Tristan lucu dengan menirukan suara anak-anak.
Echa dan Adira sampai tertawa mendengar jawaban yang Tristan berikan.
"Begitu ya, Yah?” tanya Echa dengan polosnya.
“Oh, ya iya dong. Tapi tetap sehat untuk Echa,” jawab Tristan beralasan.
Echa tampak mengangguk tanda mengerti dengan ucapan ayahnya.
Tok. Tok. Tok.
Terdengar suara ketukan pintu dari arah depan yang berhasil membuat semua yang berada di ruang bermain anak mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.
“Siapa ya, Mas? Sore banget bertamunya,” tanya Adira penasaran.
“Aku juga nggak tahu. Teh Ratih udah pulang ya?” tanya Tristan memastikan.
Tok. Tok. Tok.
“Udah dari tadi. Mas aja yang bukain pintu. Tuh, udah ketok pintu lagi,” jawab Adira sambil telunjuknya mengarah pada pintu.
“Aku buka dulu kalau begitu,”
Setelah mengucapkan itu, Tristan segera berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Ceklek.
“Apa kabar Tristan?” sapa seseorang tersebut dengan senyum ramahnya.