
Happy reading!😊😘
.
*****
"Kau yang menyetir."
Abbie menyodorkan kunci Bugatti Chironnya ke arah Charles. "Bisa 'kan?" Ia mengedipkan matanya nakal.
Charles tersenyum penuh ironi. Kemudian ia menunjuk bagian pipinya membuat Abbie merona karena mengerti maksud pria itu.
"Apa?" Ia sengaja bertanya dan mengangkat dagunya seolah menantang Charles.
"Kenapa? Tidak mau?" Charles tidak merespon uluran tangannya dan sengaja memalingkan wajah.
"Payah."
Secepat kilat Abbie menyambar bagian yang tidak ditunjuk dan membuat pria itu terbelalak tidak percaya.
Abbie mencium bibirnya singkat.
Karena tidak bisa menahan malu, Abbie segera menutup wajahnya dengan telapak tangan dan berlari masuk ke dalam mobil dan menutup pintu setelah melemparkan kuncinya.
Charles terkekeh dan ikut masuk ke dalam mobil. Ia duduk di belakang kemudi dan menggelitik Abbie yang menundukkan kepalanya di dashboard.
"Malu?" Ia tersenyum.
Abbie mendongak dan langsung dihadiahi kecupan hangat di pipinya. Ia menatap dalam ke dalam manik cokelat gelap itu.
"Aku mencintaimu, Abigail."
"Aku tahu." Ia menunduk malu dan tersenyum tipis.
"Bagaimana denganmu?"
Ia berharap gadis ini bisa mengatakan apa yang dirasakannya menggunakan kata-kata meskipun ia tak pernah lagi mendapat pukulan keras atau perkataan pedas seperti dulu olehnya.
"Kau tahu jawabannya, Charlie."
"Apa jawabannya?"
"Kau bodoh."
"Huh?!"
"Apa kau tidak menyadarinya?"
"Menyadari? Menyadari apa?"
Abbie kesal sendiri. Apa Charles pura-pura tidal tahu atau memang tidak tahu apa yang dirasakannya selama ia bersamanya.
"Aku juga mencintaimu."
Hell, akhirnya aku mengeluarkan apa yang ada di dalam dadaku selama ini tanpa ragu lagi. Aku mencintaimu, Charles.
Senyuman manis penuh binar kebahagiaan terpancar dari wajah pemilik kacamata hitam itu. Ia bersyukur di dalam hatinya bahwa gadis yang di hadapannya ini mencintainya juga. Perlahan, senyuman itu memudar karena ia merasa kurang yakin dengan apa yang di dengarnya.
"Benarkah?"
"Apa kau tuli? Aku tidak suka mengulang perkataanku." Kesal lagi.
"Aku merasa ini seperti mimpi. Baru beberapa hari yang lalu aku memandang dan mengagumimu dari kejauhan, tapi sekarang aku mendengar dengan telingaku sendiri bahwa kau juga mencintaiku. Ini bukan mimpi 'kan?"
Ahhh...sungguh menggemaskan. Bagaimana kau bersikap seperti itu? Aku ingin sekali menciummu. Abbie.
"Sadarlah, ini mimpi." Ia menggoda Charles dan menepuk pipinya pelan.
Charles merasakan hangatnya telapak tangan gadis ini. Ia menggenggamnya dan meletakkannya di dadanya agar gadis itu merasakan degupan jantungnya yang kembali menggila.
"Will you be my girlfriend?"
Tidak ada sahutan dari Abbie membuat Charles diliputi rasa kurang percaya diri. Ia berpikir bahwa dirinya kurang pantas menjadi kekasih Abbie. Ini yang kedua kalinya ia menanyakan pertanyaan yang sama yang hanya dibalas kebungkaman oleh gadis ini. Ia harusnya tidak berharap lebih, dicintai oleh Abbie sudah menjadi nilai plus untuknya di samping penampilannya yang seperti ini.
Sebuah kecupan mendarat di bibirnya. Ini sedikit lama, bukan hanya sekilas seperti tadi. Kali ini ia tidak terkejut. Ia merasa bahwa gadis ini menjawab pertanyaannya dengan cara seperti ini. Ia menahan tengkuk Abbie agar kecupan itu memiliki durasi yang panjang. Lama bibir keduanya menempel, tidak ada pergerakan lain. Ini hanyalah sekadar kecupan dan sesaat kemudian Abbie melepaskannya.
Pipi gadis itu merona lagi membuat Charles gemas dan menghadiahi sebuah cubitan di sana.
"Apakah ini jawabannya?" Ia menangkup pipi Abbie agar mata mereka saling menatap.
Abbie mengangguk.
Secepat kilat, Charles membawa tubuhnya mendekap gadis itu dengan sangat erat sehingga membuat Abbie hampir kehilangan napas.
"Maafkan aku, sayang. Aku hanya mengekspresikan terima kasihku padamu melalui pelukan itu. Sorry!" Ia mengecup kening kekasihnya.
"Cih, keterlaluan. Bilang saja kalau kau ingin membunuhku."
Charles terkekeh. "Hei, ayolah. Bagaimana mungkin aku melakukannya kalau untuk sampai pada titik aku harus ekstra sabar menghadapimu."
Abbie berdecak sebal. "Kau yang terlalu menyebalkan."
"Menyebalkan?"
"Ya, banyak gadis mendekatimu karena kau mengubah penampilanmu."
"Tidak."
"Kau memang cemburu."
"Tid--mmphh."
Mulutnya kembali dibungkam oleh Charles sebelum menyelesaikan ucapannya.
"Aku tahu kau merasakannya."
"Cih."
"Sejak kapan?"
"Apa?"
"Sejak kapan kau mulai menyukaiku?"
"Aku tidak tahu kapan tepatnya, tapi aku rasa aku mulai menyukaimu waktu aku pertama kali melihatmu tanpa kacamata bodoh ini." Ia melepaskan kacamata yang masih bertengger di hidung mancung kekasihnya.
Charles terkekeh. "Benarkah? Aku pikir kau benar-benar akan pingsan waktu itu." Ia menerawang tentang awal mulanya ia didapati Abbie tanpa kacamata.
Abbie tertawa keras. "Ya, aku terlalu takut jatuh cinta sehingga aku melampiaskan kekesalanku padamu dan mengataimu bodoh dan kampungan."
Charles terdiam. Benar juga, gadis yang kini resmi menjadi kekasihnya ini adalah gadis yang sering mengatainya kampungan, membentak dan bahkan menendangnya kalau ia tidak memenuhi keinginannya.
"Maafkan aku."
"Tidak."
"Huh?!"
"Tidak akan kumaafkan kalau..." Charles menunjuk bibirnya kali ini.
"Dasar maniak ciuman."
Bukan di bibir, tapi Abbie menciumnya di pipi dan kening yang membuatnya nyaman.
"Aku mencintaimu." Abbie mengatakannya dan mengecup lagi bibir tipis milik prianya.
Sebuah ketukan di kaca mobil membuat Abbie terkejut. Ketika ia melihat bahwa orang yang mengetuknya adalah pria berambut putih, ia membuka pintunya kuat sehinga orang itu terhuyung.
"Apa saja yang kalian lakukan di dalam sana, huh? Ini parkiran, bodoh. Lihat, banyak mobil yang hendak keluar tetapi ditahan oleh mobil yang di dalamnya ada manusia kasmaran."
Philip kesal karena sedari tadi mobil yang ada di depannya ini tidak bergerak padahal sudah ada manusia di dalamnya sehingga ia nekad mengganggu mereka karena ia tahu tidak akan ada yang berani mengganggu Bugatti Chiron ini.
Muka Abbie memerah dan kembali menutup pintu mobilnya dengan keras.
"Kau penyebabnya." Ia menuding Charles.
Charles terkekeh lalu melajukan mobil sport itu keluar dari area parkiran. Ia terus menggenggam tangan kekasihnya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lainnya memegang kemudi.
"Ada tempat yang ingin kau tuju?"
"Berkencan?"
Charles tersenyum kemudian mengangguk.
"Pantai?"
*****
Pasangan remaja yang sedang dimabuk cinta itu tertawa lepas seakan ini adalah dunia milik mereka sendiri. Mereka tidak menghiraukan apapun yang ada di sekitarnya, yang mereka ingin hanyalah bersama-sama sampai maut memisahkan padahal kisahnya baru saja dimulai.
Mulai dari berlarian dan berkejaran di gulungan ombak, bermain rumah-rumahan di pasir, dan saling mendorong ke dalam air semuanya mereka lakukan. Seakan tidak ada hari esok dan seolah semuanya akan baik-baik saja.
Kebahagiaan ini, aku ingin selamanya seperti ini. Aku tidak ingin menghancurkannya sekalipun ada Philip-Philip lainnya yang membencinya. Aku akan membunuh mereka kalau mereka berani menyentuh Charlie-ku.
Kekasihku, ya kau sekarang adalah kekasihku. Aku mencintaimu, sangat. Melebihi apapun. Ini adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupku. Dicintai olehmu membuat duniaku terasa utuh kembali. Tak ada lagi rasa minder yang menghantuiku untuk bisa mencintaimu. Kau membuat rasa percaya diriku bangkit dan bergelora.
"Yo te amo." Keduanya mengucapkannya bersamaan diketeduhan angin sore yang mulai berhembus pelan.
*****
"Apa ini, Abigail? Kau berkencan dengan pria cupu?"
Suara Elliza menggema di dalam kamarnya ketika ia baru saja membersihkan tubuhnya yang lengket akibat cipratan air laut.
Melihat raut ketidaksukaan Ibunya, Abbie menelan ludahnya kasar. Ia pikir, ibunya akan membiarkannya memiliki kekasih seperti waktu pertama kali ia berpacaran dengan Levin.
"Mama tidak menyukai pria cupu ini. Apa yang kau lihat dari penampilannya, huh? Tampan tidak, style kuno, tidak ada apapun yang menarik kecuali tinggi badannya yang di atas rata-rata ini." Ia menunjuk pada beberapa lembar foto yang menampilkan gambar keduanya yang di pantai tadi.
"Siapa dia?"
"Hanya teman, mama."
"Teman? Kalian seperti pasangan kekasih. Berhenti menjumpainya, ah...tidak, jangan berteman dengannya lagi. Kau tidak boleh jatuh cinta padanya apalagi berpacaran dengannya."
.
*****
ig @xie_lu13