
Satu mingguan ini Tristan dan Adira akan menghabiskan waktunya di Surabaya.
Sudah lima hari ini mereka ada di kota Surabaya.
Hari ini, mereka akan pergi ke pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Surabaya.
Sengaja mereka membelinya di hari ke lima.
Karena Tristan meminta dua hari yang tersisa, Adira habiskan untuk dirinya.
Apalagi jika bukan menghabiskan waktu di dalam hotel.
“Sebagai gantinya, dua hari ke depan kamu harus melayani suami kamu ini di hotel, penuh.”
Begitulah kira-kira ucapan Tristan.
Adira tidak mempermasalahkan itu. Dia juga menikmati setiap sentuhan yang Tristan berikan.
Jadi, dia senang-senang saja bila Tristan meminta jatahnya.
“Mau beli apa buat semua yang ada di Jakarta, Sayang?” tanya Tristan yang masih setia merengkuh pinggang Adira posesif.
Adira sampai merasa malu dilihat banyak orang karena Tristan tidak mau melepasnya barang sedikitpun.
“Kak ... Bisa lepasin dulu nggak? Gimana aku mau milihnya kalau di peluk terus?” rengek Adira.
Bibirnya sudah cemberut dari tadi.
Tristan terkekeh dan melepaskan pinggang Adira setelah berhasil masuk ke salah satu toko.
“Oke ... Sekarang kamu mau milih apa?” tanya Tristan lagi.
Dia sudah berjalan dibelakang Adira, mengikuti kemanapun Adira melangkah.
Adira melangkah menuju baju batik khas Jawa timur.
“Kak, bagi tugas, ya. Aku pilihin buat para ibu-ibu dan ladies, Kakak pilih buat para bapak-bapak dan juga para cowok, ya ....”
Adira melakukan itu agar kegiatan belanjanya cepat selesai.
Karena begitu banyaknya barang yang akan mereka beli, Adira sampai pusing bila harus menghandle semuanya.
Adira membeli dress dan celana batik model kekinian untuk para wanita.
Setelah berhasil memilih, Adira melangkah mendekati Tristan.
“Gimana? Udah dapat belum?” tanya Adira setelah sampai di dekat Tristan.
“Tinggal beberapa lagi nih ... Pilihin dong ....” ucap Tristan melirik sekilas lalu kembali fokus memilih baju.
“Ya udah ... Aku pilihan juga deh ....” putus Adira kemudian.
Setelah dua jam berada di toko tersebut, akhirnya Adira selesai memilih baju dan pergi ke meja kasir untuk membayarnya. Tristan mengikuti dari belakang.
“Semua, totalnya jadi lima juta dua ratus ya, Mbak ....” ucap kasir tersebut.
Saat Adira ingin mengeluarkan ATM,nya, Tristan sudah lebih dulu menyodorkan Black Card kepada kasir.
“Pakai ini aja, Mbak.” ucap Tristan kemudian.
Adira hanya tersenyum dan merasa sangat diratukan oleh Tristan.
Setelah pembayaran selesai, Tristan membawa semua paperbag berisi barang belanjaan di tangan kirinya.
Sedangkan tangan kanannya, dia gunakan untuk menggandeng tangan Adira.
Setelah sampai di mobil, dua manusia itu masuk. Tristan meletakkan barang belanjaan di jok belakang.
“Aku tadi bisa bayar sendiri lho, Kak. Gini-gini juga aku punya tabungan.” ucap Adira jumawa.
“Nggak papa. Kamu kan sekarang istri aku. Jadi, sekarang kamu adalah tanggung jawabku. Termasuk tanggung jawab materi juga.” ucap Tristan lembut lalu membungkuk untuk memasangkan seatbelt pada Adira.
Lagi ....
Adira merasa sangat beruntung. Dari hal-hal kecil saja Tristan sangat mengutamakan dirinya.
Saat pipi Tristan tepat berada di depan wajahnya, dia mengecupnya sekilas sebagai tanda terima kasih.
Cup.
“Itu hadiah buat Kakak.” ucap Adira saat Tristan menoleh dengan alis bertaut.
Tristan tersenyum miring.
“Cuma disini? (Menunjuk pipinya). Yang disini nggak?” ucap Tristan sambil menunjuk bibirnya.
Cup.
Adira mengecup bibir Tristan dan menekannya cukup lama.
Tristan sampai memejamkan mata merasakan sapuan lembut bibir Adira di bibirnya.
Adira melepaskan ciumannya dan berkata.
“Mampir makan ya, Kak ... Aku laper banget nih ....” ucap Adira sambil memegangi perutnya.
Menghabiskan tenaga untuk berbelanja membuat perut Adira dangdutan sejak tadi.
“Kamu mau makan apa, Sayang?” tanya Tristan lembut sambil kembali fokus ke kursi kemudi.
“Bakso dong, Kak. Aku pengen makan bakso granat.” ucap Adira sambil menelan ludahnya.
“Haha ... Oke. Kita cari bakso deket sini.” ucap Tristan lalu menjalankan mobilnya.
Adira memang melihat di sekitar jalan yang dia lewati ada penjual bakso granat.
Setelah menemukan tempat penjual bakso, Tristan segera memarkirkan mobilnya.
Keduanya lalu turun ke mobil dan memesan dua porsi bakso dengan dua es teh manis.
Adira begitu menikmati bakso pedas tersebut.
Tristan juga sama. Dia memesan bakso yang levelnya rendah karena tidak terlalu suka makanan pedas.
Adira segera merebahkan dirinya di atas ranjang dan memejamkan matanya.
Aktifitas hari ini cukup melelahkan.
Tristan hanya geleng-geleng melihat tingkah Adira.
Dia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
........
Doni merasa suntuk sekali seharian ini hanya dia habiskan di dalam apartemennya.
Dia tidak pergi ke restoran hari ini.
Tubuhnya terasa sangat lelah dan malas sekali gerak.
Akhirnya, dia memilih keluar untuk mencari udara segar.
Setelah kejadian lempar bunga di pernikahan Adira dan Tristan itu, Doni tiba-tiba berubah menjadi cowok kalem.
Tidak seperti biasanya yang suka ngebanyol.
Entah apa yang bisa merubah sikap Doni dalam sekejab itu.
Yang pasti, itu semua tidak lepas dari pengaruh Amanda.
Doni tiba di sebuah cafe yang lumayan ramai pengunjungnya.
Setelah berhasil memarkirkan mobil, dia segera masuk dan memesan minuman.
Segelas kopi hitam tanpa gula tidak lah buruk.
Dia duduk di pinggiran kaca yang menampakkan pemandangan jalan raya sore hari itu.
Pikirannya menerawang jauh ketempat dimana Amanda menolaknya terang-terangan.
Doni tidak pernah main-main dengan perasaannya kepada Amanda.
Dia tulus mencintainya.
Tapi, setelah mendengar kalimat penolakan dari bibir Amanda, membuat Doni merasa rendah diri.
“Apa aku seburuk itu dimata kamu, Man.” gumam Doni pada dirinya sendiri.
Kemudian dia menyesap kopi yang telah terhidang di mejanya.
Masih jelas terngiang kata-kata Amanda yang sungguh menyakiti hatinya.
Flashback on.
Beberapa hari setelah Adira dan Tristan menikah, Doni bertemu lagi dengan Amanda.
Mereka tidak sengaja bertemu di jalan saat ban mobil Amanda kempes.
Dia sedang berjalan menuju restorannya dan melihat Amanda sedang sibuk mengganti bannya.
dia tidak tega dan berniat turun untuk membantu.
“Man ... mobil kamu kenapa?” tanya Doni perhatian.
Amanda melirik sekilas lalu berusaha melepas ban nya lagi untuk si ganti.
“Kempes.” jawab Amanda singkat.
“Sini ... Biar aku yang ganti,” ucap Doni lalu mengambil alih peralatan yang ada ditangan Amanda.
Amanda hanya pasrah karena dia juga tidak bisa mengganti ban mobilnya.
Doni mulai sibuk dengan kegiatannya.
“Kak Doni. Soal waktu itu ... Jangan salah paham dulu. Itu hanya kepepet,” ucap Amanda menjeda kalimatnya.
Doni belum bereaksi.
“Jangan harap Gue mau sama Kakak. Kakak tuh bukan level Gue.” ucap Amanda menohok.
Seketika Doni menghentikan gerakan tangannya.
Dia terdiam dan tersenyum getir mendengar ucapan Amanda.
Kemudian Amanda melanjutkan ucapannya lagi.
“Gue nggak mau punya pacar atau suami kayak Kakak yang suka lebay kalau ngomong.” Imbuh Amanda lagi.
Doni memejamkan matanya karena merasakan sakit dan sesak di dadanya.
Dia menarik nafas dan menghembuskannya kasar.
Setelah itu dia menyelesaikan kegiatan mengganti bannya.
Selesai.
“Udah selesai. Hati-hati di jalan.” ucap Doni lalu pergi berlalu begitu saja tanpa menjawab perkataan Amanda.
Amanda menatap kepergian Doni dengan rasa bersalah di hatinya.
Dia sadar, dia sudah keterlaluan dalam berucap.
Amanda juga tidak tahu mengapa mulutnya tidak bisa di rem sama sekali.
Flashback off.
“Kalah sebelum berperang.” Gumam Doni pada diri sendiri.
Dia juga tersenyum getir lalu menyesap kopinya lagi.