
Tristan sampai di depan rumah mertuanya.
Namun sayang, pintu gerbang sudah tertutup dan terkunci.
Dia memencet bel berulang-ulang agar cepat di bukakan pintu.
Tristan selamat dan tidak jadi kecelakaan karena kelihaiannya dalam menyetir.
Tapi, di keningnya ada sedikit luka memar karena menghantam gagang setir.
Belum ada tanda-tanda seseorang dari dalam untuk membukakan pintu.
Tristan mencoba menengok ke dalam apakah ada satpam yang berjaga atau tidak.
Dan rupanya memang ada. namun, sepertinya pak satpam sudah tertidur.
“Pak!” panggil Tristan berteriak.
Pak satpam masih belum terbangun.
“Pak Satpam! SPADA!” pekik Tristan lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.
Sang satpam langsung terbangun dengan tampang kagetnya.
“Ada apa, Mas?” jawab satpam sambil mengucek matanya.
“Adira tadi ke sini nggak, Pak?” tanya Tristan to the point.
Setelah kesadaran pak satpam kembali, dia menatap seseorang di depannya. Saat menyadari seseorang tersebut adalah suami dari majikannya, sang satpam menjawab lagi.
“Iya Mas Tristan, Ayo masuk!” ucap pak Satpam sambil membukakan pintu gerbang.
Akhirnya Tristan bisa bernafas lega karena telah menemukan Adira, istrinya.
Setelah Tristan memarkirkan mobilnya di carport, Tristan segera masuk ke dalam rumah.
Beruntung, pintu belum terkunci, sehingga Tristan bisa melenggang masuk ke dalam rumah.
Tristan melihat bik Yati yang sedang mencuci tangan di wastafel.
Tristan segera menghampiri bik Yati dan bertanya di mana Adira sekarang.
“Bik Yati?” sapa Tristan saat sudah dekat.
“Kodok! Eh kodok!” pekik bik Yati latah.
Tristan terkekeh pelan menanggapi dan segera bertanya lagi.
“Adira di sini kan, Bik? Sekarang dia di mana ya, kalau aku boleh tahu?” tanya Tristan ramah.
“Mas Tristan ngagetin aja. Iya, non Adira ada di sini. Kayaknya udah tidur deh, Mas. Langsung samperin aja ke kamarnya,” jawab bik Yati memberitahu.
Tristan menggumamkan terima kasih, dan tanpa menunggu lama, dia segera berjalan menuju kamar Adira yang sebelumnya Adira tempati.
Tristan tidak langsung masuk. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok. Tok. Tok
“Sebentar, Bik.” ucap Adira berteriak dari dalam.
Dia mengira bahwa yang datang adalah bik Yati.
Ceklek.
Adira terkejut saat mengetahui yang berada di depan kamarnya adalah suaminya sendiri.
Dia ingin menutup pintunya kembali, namun urung karena gerakan Tristan yang mencegahnya.
Tristan langsung mendorong pintu dan saat pintu terbuka, Tristan segera masuk dan menutupnya kembali.
Tidak lupa, Tristan juga mengunci pintu tersebut.
Adira melotot tak terima menatap tingkah Tristan yang seenaknya sendiri.
Bibir Adira sudah cemberut kesal dan enggan menatap Tristan lagi.
Adira berjalan ke ranjang dan duduk di sana.
“Kenapa lagi?” tanya Adira dingin dan datar.
“Adira ... Maafin aku. Aku menyesal telah mengatakan hal yang menyakiti kamu,” ucap Tristan sambil berjalan mendekati Adira.
Dia ikut duduk di sisi ranjang yang bersebelahan dengan Adira.
Dia mencoba untuk menangkup tangan Adira, namun Adira segera menepisnya.
“Kakak tuh, udah keterlaluan banget. Aku nggak bisa langsung maafin gitu aja,” ucap Adira terluka.
Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
“Tolong maafin aku, Ra. Aku terlalu cemburu jika sudah membahas soal Elvan,” jawab Tristan lembut.
Adira menghela nafasnya lelah. Dia juga tidak bisa hidup tanpa suaminya, namun Adira ingin memberikan sedikit pelajaran agar Tristan tidak berkata-kata yang menyakiti hati lagi.
Adira diam tidak menanggapi apa pun. Matanya masih menatap ke sembarang arah yang terpenting bukan menatap Tristan.
Tristan akhirnya memeluk Adira erat karena Adira tidak menjawabnya.
“Maafin aku, Ra. Aku menyesal,” ucap Tristan.
Air matanya sudah mengalir dari kedua sudut matanya.
Adira pun ikut menangis. Dia mencoba memberontak dan melepaskan diri dari pelukan suaminya.
Namun, tenaga masih kalah jauh. Karena merasa kelelahan, Adira akhirnya diam namun tak kunjung membalas pelukan itu.
“Kakak jahat banget tahu nggak? Sakit banget rasanya, Kak,” ucap Adira di sela tangisnya.
Tangis yang sudah menjadi-jadi karena sejak tadi Adira selalu menahan untuk tidak menangis.
Kini, tangisnya benar-benar meledak.
“Maaf .. maaf ....” gumam Tristan yang juga ikut masih menangis.
Namun, Adira masih enggan untuk menatapnya.
Rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya.
Tristan meneteskan air matanya lagi saat melihat mata sembab Adira yang sepertinya sangat terluka dengan ucapannya.
“Tolong lihat aku, Ra.” ucap Tristan memohon.
Kemudian, Tristan menangkup kedua pipi Adira agar bisa menghadap ke arahnya.
Adira masih saja melengos dan enggan menatapnya.
“Sepertinya, aku telah membuat kamu sangat terluka hingga kamu nggak mau melihat ku lagi,” ucap Tristan dengan nada terluka.
Adira masih bergeming.
Tanpa menunggu lama, Tristan langsung mengecup dan menyesap bibir Adira dengan lembut.
Adira terus berusaha memberontak dengan mendorong kasar dada Tristan.
Namun lagi-lagi, semua seakan percuma. Tenaganya selalu kalah dengan tenaga Tristan.
Karena merasa lelah memberontak, Adira akhirnya terdiam dan memejamkan mata menikmati sentuhan lembut dari bibir Tristan.
Perlahan, Adira mulai membalas ciuman itu tak kalah lembutnya.
Mereka menangis di sela ciuman mereka.
Tidak ada ciuman penuh nafsu di sana.
Beberapa menit kemudian, ciuman akhirnya terlepas.
Mata mereka saling beradu dengan jarak yang hanya lima senti.
Hidung keduanya bahkan sampai menempel satu sama lain.
Keadaan Adira sudah lebih tenang dari sebelumnya.
“Tolong maafin aku ya, Ra. Aku menyesal, aku salah karena telah berucap sesuatu yang menyakiti kamu,” ucap Tristan lembut.
Keningnya dia tempelkan di kening Adira.
Adira terpejam merasakan keningnya beradu dengan kening Tristan.
Dengan keadaan mata yang masih terpejam, Adira lalu berkata.
“Aku maafin, tapi ....” ucap Adira menggantung.
“Tapi apa, Ra?” tanya Tristan penasaran.
“Aku belum mau pulang. Aku masih ingin tinggal di sini dulu untuk menenangkan diri,” ucap Adira mencoba menatap mata Tristan.
Tristan langsung menjauhkan wajahnya dan menatap tak terima dengan pernyataan Adira.
“Kan kita punya rumah, Ra. Apa kamu belum sepenuhnya maafin aku?” tanya Tristan frustasi.
Dia mengacak rambutnya kasar.
“Aku udah maafin Kakak, tapi ucapan Kakak tidak bisa langsung aku lupakan begitu saja,” jawab Adira sambil berjalan dan berdiri di depan jendela.
Tristan menghela nafasnya lelah.
Dia sadar, perkataannya sudah keterlaluan sampai Adira sulit sekali melupakan.
Adira berbalik menatap Tristan. Dia teringat dahi Tristan terluka dan belum bertanya lebih lanjut apa yang menyebabkan dahinya terluka.
“Dahi Kakak kenapa? Sini, aku obatin dulu,” perintah Adira.
Dia sudah sibuk mencari kotak P3K yang berada di dalam laci.
Setelah dapat, dia menyeret Tristan untuk duduk di sofa yang berada di kamarnya.
Tristan hanya menurut.
Adira mulai mengobati luka yang berada di dahi Tristan dengan serius.
Tristan menatap wajah Adira yang terlihat serius itu.
“Mungkin, membiarkan Adira tinggal di sini untuk sementara tidak masalah. Aku masih bisa mengunjungi bahkan menginap di sini nanti,” gumam Tristan dalam hati sambil matanya fokus menatap Adira.
“Kamu boleh tinggal di sini dulu untuk nenangin diri, Ra. Aku hargai keputusan kamu,” ucap Tristan pada akhirnya.
Walau bibirnya mengatakan boleh, namun hatinya mengatakan sebaliknya.
Dia tidak rela bila Adira jauh darinya.
“Iya.” jawab Adira singkat.
“Udah selesai. Aku cuci tangan dulu,” ucap Adira dan berlalu pergi masuk ke kamar mandi.
Saat Adira keluar dari kamar mandi, Adira sudah melihat Tristan berbaring di atas ranjangnya.
“Kakak nggak pulang?” tanya Adira sambil berjalan mendekat.
“Kamu ngusir aku?” tanya Tristan tak terima.
Adira menghela nafasnya lagi.
“Aku cuma nanya,” jawab Adira sambil bibirnya mencebik kesal.
“Aku mau nginep di sini aja,” jawab Tristan santai dan langsung memejamkan matanya.
Dia tidur dengan posisi telentang menghadap langit-langit kamar.
Adira pasrah. Dia juga ikut berbaring di sebelah Tristan untuk tidur.
Beberapa menit kemudian, keduanya sudah terlelap menemui alam mimpi.