Treat You Better

Treat You Better
116. Pergi untuk selamanya.



 


Sudah dua hari ini, kondisi Amanda dan Doni belum juga ada perkembangan. Keduanya masih dalam keadaan koma.


Mereka di rawat di dalam satu ruangan yang sama. Pihak keluarga yang memintanya agar lebih mudah mengatasi keduanya.


Semua keluarga dan kerabat berusaha saling mendoakan agar ada keajaiban yang terjadi kepada sepasang suami istri itu.


Bu Siska dan pak Irawan begitu terpukul dengan kondisi anak dan menantunya sekarang ini.


Bu Siska merasa tidak tega melihat banyak sekali alat medis yang terpasang di tubuh Doni dan Amanda sebagai penunjang hidup mereka.


Jika boleh, Bu Siska ingin bertukar posisi saja menggantikan rasa sakit yang Amanda rasakan saat ini.


Air mata terus berderai saat melihat anak dan menantunya tak kunjung sadar. Setidaknya, Amanda dan Doni berhasil melewati masa komanya, itu sudah membuat bu Siska bisa bernafas dengan lega.


Namun, hal itu belum terjadi sampai sekarang. semua masih setia menunggu untuk kesembuhan Doni dan Amanda.


Sudah sejak kemarin juga belum ada makanan yang masuk ke dalam perut Bu Siska maupun pak Hendra.


Mereka masih larut dalam kesedihan yang menimpa anaknya.


Azka dan Vian pun mencoba memahami kedua orang dewasa tersebut. Seandainya mereka ada di posisi pak Hendra ataupun bu Siska, mungkin Azka dan Vian juga akan melakukan hal yang sama. Yaitu mogok makan.


Karena tidak mungkin membiarkan orangtua sahabatnya itu sakit, Azka akhirnya berinisiatif untuk memaksa pak Hendra dan bu Siska untuk makan dahulu.


Dengan bujuk rayu dan segala macamnya, akhirnya mereka menurut dan memakan makanan yang Azka belikan.


Walaupun makan hanya sedikit, setidaknya itu bisa menjadi tenaga tambahan untuk keduanya. Pikir Vian.


Azka dan Vian hanya menunggu di luar ruangan karena tidak di perbolehkan masuk lebih dari dua orang.


Jadi, yang berada di dalam ruangan hanya ada bu Siska dan pak Hendra.


Bu Siska masih setia menunggu Amanda bangun. Dia tidak pernah beranjak dari tempat di sisi brankar yang Amanda tiduri.


Sampai bu Siska tertidur kelelahan karena tidak tidur selama dua hari ini.


Namun tiba-tiba bu Siska terbangun lagi karena di kejutkan dengan suara mesin ECG yang berbunyi nyaring.


Bu Siska langsung menjerit histeris saat melihat layar monitor yang menunjukkan garis lurus dan bukan garis bergelombang.


Ini pertanda buruk.


Pak Hendra yang masih bisa mengendalikan diri langsung memanggil-manggil dokter dan memencet tombol darurat.


“Dokter! Tolong! Dokter!” pekik pak Hendra histeris.


Sedangkan bu Siska, dia sudah menangis histeris di dalam pelukan suaminya.


Tidak berselang lama, dokter datang bersama suster untuk memeriksa keadaan Doni yang mesin ECG,nya sudah berbunyi nyaring.


Bu Siska dan pak Hendra di persilahkan untuk keluar ruangan dahulu agar dokter bisa memeriksa keadaan pasien.


“Selamatkan anak saya, Dok. Tolong selamatkan!” ucap bu Siska dengan berderai air mata.


Pak Hendra berusaha menenangkan bu Siska dengan memeluk erat istrinya.


“Akan saya usahakan. Silahkan kalian keluar dahulu agar kami bisa memeriksanya,” ucap dokter dengan wajah serius.


Kemudian setelah pak Hendra dan bu Siska keluar ruangan, pintu ditutup kembali dari dalam.


Vian dan Azka yang menunggu di luar juga sama paniknya. Mereka menunggu kabar baik akan dibawakan oleh dokter setelah keluar nanti.


Mereka berempat menunggu dengan gelisah di luar ruangan. Suasana seakan menjadi mencekam di lorong rumah sakit itu.


“Papa, bagaimana keadaan Doni sekarang? Kenapa dokternya lama sekali sih,” gerutu bu Siska di sela tangisnya yang masih berderai.


“kita berdoa saja semoga Doni baik-baik saja, Ma,” jawab pak Hendra menenangkan.


Azka dan Vian yang mendengar perkataan pak Hendra, mereka juga mengaminkannya dan berharap ada keajaiban yang akan datang.


Tidak berselang lama, dokter keluar dengan wajah murung dan menyerahnya.


“Bagaimana keadaan menantu saya, Dok?” tanya pak Hendra yang mewakili pertanyaan di benak semua.


Semua menunggu pernyataan dokter dengan was-was.


“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kembali lagi kepada Sang Pemberi nyawa. Pak Doni tidak bisa kami selamatkan dan sudah dinyatakan meninggal dunia sepuluh menit yang lalu,” ungkap dokter yang mampu membuat dunia Azka, Vian, pak Hendra, Bu Siska seakan telah runtuh.


Azka dan Vian tidak percaya bahwa sahabatnya itu telah berpulang kepada Tuhannya.


Doni telah menutup matanya untuk selamanya.


Doni, sahabatnya telah meninggalkan dunia untuk selamanya.


“Kenapa Lo pergi secepat ini sih, Don.” Ucap Azka disela tangisnya.


Dia masih tidak percaya dan tidak menduga bahwa Doni telah tiada.


Vian sudah tidak mampu mengucapkan satu katapun untuk menggambarkan isi hatinya yang sangat merasa kehilangan sahabat dekatnya.


Ingatannya kembali berputar saat pertama kali dirinya mengenal Doni. Doni adalah orang yang begitu baik dan humoris.


Jika tidak ada Doni di dalam pertemanan mereka, mungkin akan terasa hambar dan kurang hidup.


Vian semakin tidak percaya bahwa Doni sudah tiada dan meninggalkan dunia untuk selamanya.


Sedangkan bu Siska, dia langsung tidak sadarkan diri setelah mendengar pernyataan dari dokter.


Sama halnya dengan Vian dan Azka, pak Hendra juga sama terpukulnya.


Namun sebagai seorang ayah dan suami, dia berusaha kuat agar bisa menguatkan istrinya juga.


Bu Siska langsung di tolong oleh tenaga medis untuk di periksa keadaannya.


Untuk jenazah Doni, Vian dan Azka yang akan mengurusinya. Mereka juga akan memberitahukan keluarga dan kerabat yang berada di Jakarta tentang meninggalnya Doni.


Semua pasti akan merasa sedih dan kehilangan, namun mereka harus memberitahukannya dengan segera.


“Halo.” Azka menyapa terlebih dahulu seseorang  di seberang sana.


“Gimana keadaan adek Gue, Ka?” tanya Tristan tidak sabaran.


Azka menghela nafasnya dengan kasar sebelum menjawab pertanyaan Tristan.


“Amanda masih koma. Kalau Doni ....” ucap Azka terpotong dengan isak tangis pilu.


“Doni kenapa, Ka?! Jangan bikin Gue penasaran!” tanya Tristan yang nada bicaranya terdengar ketakutan.


“Doni udah nggak ada dan meninggalkan kita semua,” ungkap Azka dengan hati yang terluka.


“Lo bercanda kan, Ka? Bercanda Lo nggak lucu tau.” jawab Tristan di seberang sana yang sudah terdengar isakannya.


“Sekarang juga, jenazah Doni akan dibawa pulang ke Jakarta,” ucap Azka lagi yang seakan tidak mempedulikan pertanyaan Tristan.


Kemudian, Azka segera menutup teleponnya. Dia masih tidak sanggup jika harus mengingat Doni telah tiada dan meninggalkan semuanya.


Air matanya kembali mengalir dari kedua sudut matanya. Dia segera menyeka air matanya dan kembali menelepon istrinya untuk memberitahukan kabar meninggalnya Doni.


Setelah selesai mengabari semua yang ada di Jakarta, Vian memberitahukan agar dirinya segera mengurusi administrasi bersama Vian.


Azka mengangguk dan berjalan bersama Vian menuju meja resepsionis untuk mengurusi administrasi Doni.


Keadaan tidak memungkinkan pak Hendra yang mengurusi semuanya. Apalagi, bu Siska sampai sekarang belum juga sadarkan diri.


“Gue masih nggak percaya, Doni bakal pergi secepat ini,” ucap Vian yang masih shock dengan meninggalnya Doni.


Azka tampak melamun dan tidak mendengarkan ucapan Vian. Kemudian Azka berdiri dari duduknya dan berjalan tergesa menuju suatu ruangan.


Vian yang melihat Azka berjalan tergesa pun segera menyusul langkah Azka.


“Lo mau ke mana, Ka. Tenang dong,” ucap Vian panik, takut Azka akan melakukan hal yang tidak-tidak.