
Kota Solo, pukul 09.00 wib.
Adira dan bu Dewi sedang menata makanan yang baru saja mereka masak ke atas meja. Mereka akan sarapan bersama setelah lelah jalan pagi.
Sambil jalan pagi, bu Dewi dan Adira juga membeli beberapa bahan makanan. Di warung sayuran itulah Adira bertemu dengan teman masa kecilnya yang wajahnya sudah Adira lupa, namun nama temannya masih teringat jelas di ingatan Adira.
Karena, penampilan temannya itu sudah jauh berbeda dengan penampilan masa kecilnya.
Jika di gambarkan dengan angka, mungkin perubahannya sekitar seratus delapan puluh derajat.
Yoga, begitulah panggilannya.
Karena ada kedua orangtuanya, Adira berani menyuruh Yoga untuk mampir ke rumahnya. Karena jika tidak ada kedua orangtuanya, Adira tidak akan berani memasukkan pria lain ke rumah tanpa ada orang lain selain dirinya di dalamnya.
Adira takut akan menimbulkan fitnah yang akan membuat namanya menjadi buruk.
Yoga yang kebetulan juga sedang lari pagi, dia memutuskan untuk mampir ke rumah temannya itu untuk melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu.
“Sarapannya sudah siap, Pa. Suruh Yoga ikut sarapan juga.” ucap bu Dewi memanggil suaminya.
“Iya, Ma.” jawab pak Irawan yang sedang mengobrol di ruang tamu dengan Yoga.
Pak Irawan juga mengajak Yoga untuk sarapan bersama.
Saat semua sudah berada di meja makan, mereka mulai mengisi piring mereka dengan nasi dan lauknya.
“Makan yang banyak, Ga. Jangan sungkan,” ucap Adira sambil tersenyum manis.
Yoga sampai tidak berkedip melihat senyuman yang terukir indah di bibir Adira. Dia masih menatap Adira dengan penuh puja.
“Pakai ayam apa ikan, Ga?” tanya Adira lagi sambil menatap Yoga dengan wajah imutnya.
Yoga masih terbengong menatap Adira.
“Yoga!” panggil Adira lagi.
Yoga langsung tersentak dan segera sadar dari kekagumannya.
“A–aku am–ambil sendiri aja, Ra.” jawab Yoga tergagap.
Adira menganggukan kepala tanda setuju dan fokus lagi menghabiskan sarapannya.
Yoga sudah mengumpati dirinya sendiri karena berani-beraninya terpesona dengan wanita yang sudah bersuami.
Dia juga jadi salah tingkah dibuatnya.
“Nambah nasinya, Ga.” ucap bu Dewi yang melihat nasi yang berada di piring Yoga tinggal sedikit.
“Iya, Tan.” jawab yoga ramah.
“Enggak usah malu. Kalau mau nambah, nambah aja nggak papa,” sahut pak Irawan sambil tersenyum.
“Iya, Om. Kalau belum kenyang, aku mungkin bakalan nambah karena masakannya enak banget,” jawab Yoga memuji makanan yang ada di depannya.
Adira dan bu Dewi hanya tersenyum senang mendengar pujian keluar dari mulut Yoga.
“Iya, Adira sama mamanya kalau udah kolaborasi di dapur, ya begitu hasilnya. Nendang banget di lidah,” ucap pak Irawan yang juga memuji masakan istri dan anaknya.
“Papa bisa aja mujinya.” ucap bu Dewi sambil tersenyum malu-malu.
Semua yang berada di ruangan, terkekeh dibuatnya.
Setelah sarapan selesai, Yoga meminta izin kepada pak Irawan dan bu Dewi untuk mengobrol sebentar dengan Adira.
Setelah mendapatkan izin, Adira mengajak Yoga untuk duduk di ruang tamu saja. Yoga menurut dan mengikuti Adira.
“Suami kamu lagi kerja ya? Kok dari tadi, aku belum lihat suami kamu?” ucap Yoga membuka pembahasan.
Yoga yang menyadari perubahan mimik di wajah Adira langsung berkata.
“Eh maaf, Ra. Buka bermaksud apa-apa, tapi aku cuma basa-basi aja,” ucap Yoga sambil terkekeh untuk memecahkan rasa canggung di antara keduanya.
“Nggak papa kok, Ga. Wajar kalau kamu nanya gitu karena aku lagi hamil dan nggak ada suami yang nemenin,” jawab Adira berusaha untuk tersenyum, Kepalanya menunduk lesu.
Entah mengapa jika masalah suami yang di singgung, Adira selalu sensitif dan menjadi tambah rindu dengan suaminya yang nakal itu.
“Kamu sekarang kerja di mana? Kok nggak berangkat kerja?” tanya Adira yang sudah berhasil menguasai diri.
“Aku punya usaha toko roti di sini dan sedang aku kembangkan lagi,” jawab Yoga tersenyum bahagia.
“Waaaah ... Aku suka banget sama makanan jenis roti. Nanti aku mampir deh ke toko kamu,” ucap Adira antusias.
“kamu benar-benar mewujudkan mimpi kamu ya? Nggak nyangka kalau bakal jadi kenyataan. Selamat ya, semoga sukses selalu,” ucap Adira memuji dan mendoakan dengan tulus.
“Kamu masih ingat, kalau aku pengen buka bakery?” tanya Yoga terkejut namun terselip rasa bahagia karena curahan hati masa kecilnya masih di ingat Adira.
“Iya aku ingat,” jawab Adira sambil tersenyum.
Setelah itu, obrolan keduanya mengalir begitu saja. Mereka mengobrol dengan akrab seperti dulu lagi. Rasa canggung yang semula ada, kini telah menguar entah ke mana.
Tanpa terasa, waktu semakin siang dan yoga berpamitan untuk pulang karena harus mengurus pekerjaannya.
Setelah berpamitan dengan kedua orangtua Adira, Yoga segera melajukan motornya menuju toko roti miliknya.
Adira kembali masuk ke dalam rumah untuk bergabung dengan kedua orangtuanya.
Dia langsung mengambil duduk di sebelah mamanya dan menyandarkan kepalanya di bahu milik mamanya.
“Dia, Yoga yang dulu gendut, hitam, sama ompong itu kan, Ra?” tanya mama tanpa berfilter.
Adira menegakkan tubuhnya dan berdecak sebal mendengar ucapan mamanya yang sudah masuk body shaming itu.
“Ck. Nggak boleh ngomong gitu lah, Ma.” jawab Adira sambil mencebikkan bibirnya.
Bu Dewi terkekeh dan mengucapkan kata maaf karena ucapannya jelas akan menyakiti hati orang yang sedang dibicarakannya.
“Maaf, maksud Mama, kok dia sekarang berubah drastis banget ya? Udah ganteng banget sekarang,” ucap bu Dewi memuji penampilan Yoga yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
“Aku aja sampai pangling, Ma,” jawab Adira santai.
“Udah tinggi, putih, badannya tegap. Beda banget sama waktu kecil,” ucap bu Dewi lagi yang masih terkejut terheran-heran.
“Gantengan juga kak Tristan,” ucap Adira tanpa sadar.
Bu Dewi langsung mengalihkan perhatian kepada Adira sepenuhnya setelah mendengar ucapan Adira.
“Iya ganteng, tapi suka nyakitin, ya percuma,” jawab bu Dewi yang langsung membuat mata Adira berkaca-kaca.
Bu Dewi yang merasa bersalah langsung meminta maaf atas kelancangannya berbicara.
Pasalnya, dia masih merasa kesal dan kecewa dengan menantunya itu.
Bu Dewi merasa tidak rela Adira di sia-siakan begitu saja. Karena, dia yang sudah mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkan Adira hingga menjadi gadis yang cantik dan tangguh.
Tapi dengan mudahnya, Tristan menyakiti dan mengkhianati cinta suci Adira.
Bu Dewi masih tidak terima atas perlakuan Tristan yang sudah keterlaluan.
Tidak akan bu Dewi biarkan Tristan menyakiti Adira lagi.
Jika boleh memberi saran, bu Dewi ingin Adira berpisah saja dengan Tristan. Dia tidak peduli suaminya akan marah karena keegoisannya.
Namun, semua keputusan berada di tangan Adira. Bu Dewi hanya memberikan sarannya saja.
Ya, walaupun saran yang dia berikan adalah saran yang kurang baik. Tapi, bu Dewi sudah memikirkannya matang-matang bahwa itu semua demi kebaikan Adira.