Treat You Better

Treat You Better
62. Malam pertama.



Melihat wajah tegang Adira, Tristan jadi ingin tertawa. Akhirnya, dia melepaskan adira dan duduk di ranjang.


"Kamu tegang banget Ra." ucap Tristan berkelakar.


"Habisnya Kakak bikin tegang. Ini kan pertama buat aku." Jawab Adira lirih.


"Ini juga pertama buat aku. Ya udah aku mandi dulu kalau gitu. Jangan harap habis ini kamu bisa lepas dari aku haha." kelakar Tristan sambil berlalu pergi meninggalkan Adira menuju kamar mandi.


Huuuuft...


Adira bernafas lega setelah Tristan berhasil masuk ke kamar mandi. Dia segera mencari bajunya yang berada di dalam koper.


Saat membuka kopernya, Adira terkejut karena baju yang biasa dia pakai tidak ada di dalamnya. Melainkan sudah berganti dengan pakaian kurang bahan.


Ya, itu adalah lingerie.


Adira mengusap wajahnya frustasi.


"Ini pasti kerjaan Lidya sama Kinara..." gumam Adira lirih.


Dia memejamkan matanya untuk menghilangan amarah yang sudah merambat sampai ke ubun-ubun.


"Awas aja besok kalau ketemu." ancam Adira pada kedua temannya itu.


Adira tetap tak ingin memakai pakaian yang tidak pantas disebut baju itu.


Dia tidak terbiasa menggunakan pakaian terlalu terbuka.


Dia memutar otak untuk mencari ide.


Ting.


Kepala Adira serasa ada lampu menyala saat Adira menemukan ide cemerlang.


Dia berjalan menuju koper Tristan berada dan mulai mencari apa yang dia inginkan.


Ketemu.


Adira mendapatkan apa yang dia inginkan.


Yaitu sebuah kaos berwarna abu-abu dan celana boxer milik Tristan.


"Ini nggak terlalu buruk sih... lumayan lah." ucap Adira sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.


Dia terpaksa meminjam baju milik suaminya.


Setelah memakai cream malam, Adira segera naik ke ranjang dan menyelimuti tubuhnya dan memejamkan matanya.


Ceklek.


Tristan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya.


Adira sontak membuka mata dan menatap Tristan yang berjalan untuk mengambil bajunya.


Rambutnya yang basah menetes ke mana-mana. Apalagi perut six pack nya yang terekspos jelas.


Adira memalingkan wajahnya dan memilih memejamkan mata lagi.


Dia tidak mau pikiran sucinya ternodai karena melihat roti sobek milik Tristan.


Tristan mengernyit saat melihat Adira telah memejamkan matanya.


"Secepat itukah Adira tertidur?" gumam Tristan dalam hati.


Tristan pun memilih untuk memakai bajunya dulu.


Dia memakai kaos berwarna putih dan celana boxer saja.


Setelah selesai, dia bergegas naik ke ranjang untuk memastikan Adira benar-benar tidur atau tidak.


Kalau Adira tertidur, malam pertamanya akan terancam gagal.


Dia tidak mungkin membangunkan Adira. Dia tidak tega karena Adira pasti lelah.


Tristan merebahkan dirinya menghadap Adira.


mengamati wajah cantiknya. Tristan langsung mendekap Adira dalam pelukan. Seolah-olah Adira adalah guling.


Adira memekik kaget karena gerakan Tristan begitu cepat.


"Aw!" pekik Adira kaget.


Tristan mengulum senyumnya. Benar dugaannya, Adira hanya pura-pura tidur.


"Aku tau kamu belum tidur. Jadi buka mata kamu." ucap Tristan sedikit memaksa.


Karena merasa percuma saja, akhirnya Adira membuka matanya.


"Ketahuan deh hehe." ucap Adira cengengesan.


Tristan tersenyum manis menanggapi.


Tentu saja Tristan tidak semudah itu bisa di bohongi.


"Kamu nggak mau layanin aku malam ini? nggak papa kok. Berarti kamu mau jadi istri durhaka sama suami." ucap Tristan berusaha santai.


"Nggak gitu .... aku ... aku ...." jawab Adira terbata.


"Aku apa ... hmm?" tanya Tristan dengan suara seraknya.


Dia juga mengambil dagu Adira dengan tangannya.


Dia menyentuh dagu Adira lalu menaikkannya untuk menghadapnya. Tatapan Tristan begitu sayu dan mendamba.


Glek.


Glek.


Glek.


"A~aku cum~ mmph."


Belum selesai Adira berucap, Tristan sudah membekap mulut Adira dengan ciuman. Adira jelas terkejut.


Jantung Adira berdetak tak normal.


padahal ini bukan ciuman pertamanya dengan Tristan. Mereka sudah sering melakukannya.


Tapi kali ini rasanya berbeda. Lebih nikmat dan menyenangkan.


Mungkin benar yang dikatakan ibu Mertuanya. Akan lebih nikmat jika kita melakukannya saat sudah halal.


Adira akhirnya membalas ciuman Tristan yang menuntut.


Malam pertama yang di gadang-gadang oleh pengantin baru pun tidak bisa terelakkan.


...........


Saat ini, Lidya dan Kinara berada di dalam salah satu kamar hotel yang Adira inapi juga.


mereka menginap di hotel karena sayang bila kamar sudah di booking namun tidak digunakan.


"Hahaha ..." kelakar lidya dan Kinara menggema di kamar hotel itu.


Mereka sedang menertawakan kejahilan mereka sendiri.


Apalagi jika bukan karena berhasil mengerjai Adira.


Mereka berhasil mengganti semua baju Adira dengan lingerie.


"Gue bisa bayangin wajah Adira pasti di tekuk mulu." ucap Kinara yang masih tertawa terbahak-bahak.


"Pasti lucu banget. Tapi kita mesti siapin mental buat besok." ucap Lidya mengingatkan.


"Gue udah siap seratus persen!" seru Kinara yakin.


"Gue juga ... palingan kita di omelin kaya kereta api. panjaaaaaaang ... banget." jawab Lidya.


Lalu, keduanya tertawa lagi merasa lucu dan senang berhasil mengerjai Adira.


.........


Di sisi lain, tepatnya di balik jeruji besi, Elvan merasa ada yang sakit di hatinya saat Randy mengabarkan bahwa Adira telah menikah.


Tapi Elvan akan berusaha untuk tidak egois dan memaksakan kehendak lagi.


Jika Adira bahagia dengan pilihannya, Elvan juga akan merasa bahagia. Walau sumber bahagia Adira bukan karena dirinya.


Selama menjalani kurungan, Randy meminta salah satu psikiater kenalannya untuk membantu menyembuhkan Elvan.


Bagaimanapun juga, Elvan harus disembuhkan dari luka batinnya.


Ini bertujuan agar luka di batin Elvan perlahan sembuh dan tidak memengaruhi psikis nya.


Karena ketekunan dan keuletannya, Randy berhasil membawa Elvan kembali menjadi dirinya sendiri.


Hal itu di dukung dengan papanya yang juga mulai memberikan perhatian kepada Elvan.


Kondisi Elvan sudah lebih baik sekarang.


Pernah, papa Elvan ingin menebusnya dengan uang jaminan agar terbebas lebih cepat dari waktu yang di tentukan.


Namun, Elvan menolak halus semuanya.


Dia berkata. "Biarlah aku menjalani hukumanku Pa. Agar aku tau bahwa berbuat kriminal itu ada balasannya."


Begitulah kalimat yang pernah Elvan lontarkan saat itu.


Papa Elvan dan Randy menghargai itu.


Justru mereka sangat bangga jika Elvan bersungguh-sungguh mau bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Kamu beneran nggak mau segera dibebasin, Van?" tanya Randy untuk kesekian kali saat mengunjungi Elvan di penjara.


Elvan menggeleng dan tersenyum.


"Biarin aku menjalani hukuman ku disini kak. setelah keluar nanti, aku bakal berusaha meminta maaf sama Tristan dan Adira." ucap Elvan yang tak pernah melupakan nama Adira dan Tristan.


Sampai sekarang, baik Adira maupun Tristan belum ada yang mengunjungi Elvan.


Elvan pun sadar akan kesalahannya yang terbilang fatal.


Tapi, bukankah setiap orang berhak berubah?


Bukankah setiap orang juga berhak mempunyai kesempatan kedua?


Elvan akan berusaha meminta maaf dari Adira dan Tristan apapun caranya.


Dia tidak mau hidup dalam rasa bersalah yang terus menerus menghantuinya.


Itulah sebabnya Elvan enggan untuk dibebaskan bersyarat.


Itu untuk berjaga-jaga seandainya baik Adira maupun Tristan masih belum bisa memaafkannya.


Setidaknya dia sudah menerima ganjaran dengan mendekam di penjara tanpa bisa menghirup udara bebas.


Itu bisa mengurangi rasa bersalah yang Elvan rasakan.