
Setelah mendengar ucapan istrinya kemarin, pikiran Tristan langsung terbuka untuk menerima. Anak gadisnya bukanlah anak kecil lagi yang selalu harus dirinya atur sedemikian rupa.
Tristan percaya, Echa bisa menjaga dirinya dengan baik dan menjaga batasannnya sebagai gadis yang baik.
"Adira ...." panggil Tristan saat istrinya sudah selesai menghabiskan makanan di atas piringnya. Adira mengangkat kepala untuk bisa melihat wajah suaminya. "Kenapa?" tanya Adira lewat bahasa isyarat.
"Soal yang semalam kita omongin itu, ucapan kamu memang benar, anak gadis kita sudah dewasa," ucap Tristan sambil menerawang menatap pintu kamar Echa yang sudah tertutup kembali.
Adira mengangguk dan mengiyakan ucapan suaminya. "Iya, anak kita sudah dewasa dan sedang merasakan apa yang namanya suka saling suka terhadap lawan jenis," ucap Adira sambil mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.
"Assalamualaikum." ucap seseorang dari arah pintu. Tristan dan Adira menoleh bersamaan. Aarav berjalan ke arah mereka dengan baju Jersey yang sudah basah karena keringat. Adira menoleh pada seseorang di samping Aarav, ada Ananta.
Adira mengira Aarav masih berada di kamarnya. Namun dugaan Adira salah, anak bujangnya sudah bangun dan habis lari pagi.
Adira mengulum senyumnya mengingat anaknya menyukai Ananta. Dan Adira juga tahu dari tatapan mata Ananta, dia juga menyukai Echa. "Selamat pagi, Tante." sapa Anan saat menyalami tangan Adira. Kemudian Anan beralih untuk menyalami tangan Tristan. "Selamat pagi, Om."
"Selamat pagi." jawab Tristan dan Adira bersamaan, keduanya juga mengukir senyum manis untuk Ananta. Adira menunjuk Anan seakan ingin bertanya mengapa keduanya bisa lari pagi bebarengan. Namun, Aarav sudah lebih dulu memberikan alasan. "Kak Anan tadi jogging juga. Karena udah deket, aku suruh kak Anan mampir dulu," ucap Aarav.
"Oooooh." Adira dan Tristan mengucap kata oh bersamaan. Tristan dan Adira saling pandang. Sedetik kemudian, keduanya tertawa terbahak-bahak karena selalu menjawab dengan kalimat yang sama.
Aarav tersenyum dan geleng-geleng kepala. Kemudian dia berucap pada Anan. "Jangan kaget atau heran ya, Kak. Bunda sam ayah emang begitu orangnya," ucap Aarav menjelaskan takut Anan merasa ilfeel berasa di dekat keluarganya.
"Nggak papa kok, Rav. Aku seneng malahan ... Keluarga kalian harmonis banget," jawab Ananta berkata yang sebenarnya. Dia sama sekali tidak keberatan. Justru dia merasa terhibur bila berada di dekat keluarga Echa.
Membicarakan soal Echa, Anan jadi teringat dengan dia. Namun sejak tadi, Anan sama sekali belum melihat batang hidung gadis pujaan hatinya.
"Bun, Yah, Aarav sama kak Anan mandi dulu ya," ucap Aarav berpamitan. Suara Aarav berhasil membuyarkan lamunan Anan tentang Echa.
Setelah Adira dan Tristan mempersilakan, Aarav dan Anan segera pergi menuju kamar Aarav berada.
*
"Echa, pakai baju sama celana kamu yang benar. Baju setengah jadi begitu, kamu pake aja," omel Tristan saat melihat Echa yang sudah terlihat bugar dan sedang makan di meja makan. Dirinya tidak sengaja melihat Echa yang memakai pakaian terbuka dan duduk dengan mengangkat satu kakinya di atas kursi.
Dia ingin kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya tapi urung saat melihat Echa seperti itu.
Tristan geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya yang tidak ada manis-manisnya sebagai seorang perempuan.
Echa menghentikan kegiatan mengunyahnya dan menatap ayahnya yang sudah berdiri dengan berkacak pinggang. "Biasanya juga ayah nggak masalah," sangkal Echa mencari alasan.
Setelah mengucapkan itu, suara Aarav dan suara seseorang yang sangat Echa kenal masuk menerobos indera pendengarannya. Echa menoleh dan mendapati Aarav sedang menuruni anak tangga bersama Ananta.
"Kak Echa mau ke mana?"
Echa langsung menepuk jidatnya. *Mampus! Mana gue pake baju terbuka begini,* umpat Echa dalam hati.
Tristan yang masih berada berdiri di dekat Echa, dia tersenyum puas sebab Echa sudah mendapatkan balasan karena tidak mendengarkan dirinya. "Kan ayah sudah bilang ...." Belum sempat Tristan meneruskan kalimatnya, Echa sudah lari terbirit-birit ke belakang.
Anan yang melihat Echa berlari sekencang itu hanya bisa mengernyit bingung. Namun dia berusaha bersikap biasa saja. Mungkin nanti dia akan bicara dengan Echa berdua saja.
Tanpa memedulikan Echa lagi, Aarav dan Anan akhirnya sarapan dahulu untuk mengisi perut mereka yang sudah dangdutan sejak tadi. "Makan aja, Kak. Nggak usah sungkan di sini mah," ucap Aarav yang memahami kecanggungan Ananta.
Ananta mengangguk dan tersenyum canggung. Setelah itu, Anan mengisi piringnya dengan nasi dan lauk. Tristan sudah meninggalkan ruang makan sejak tadi saat Echa juga meninggalkan ruang makan.
Setelah selesai makan, Aarav mengajak Ananta untuk duduk di teras depan menemani sang Bunda. "Hai Tante, boleh gabung nggak?" tanya Ananta meminta izin dahulu. Aarav terkekeh sekaligus takjub karena Ananta mempunyai sopan santun yang tinggi terhadap yang lebih tua.
Adira menoleh, dia mendapati Ananta yang berdiri di dekatnya. Sedangkan Aarav, dia sudah duduk di sebelahnya. "Boleh dong. Ayo sini duduk, Nan," ajak Adira mempersilakan Ananta duduk.
Ananta duduk di kursi yang berseberangan dengan Adira dan Aarav. Tidak berapa lama, Echa muncul dari pintu dan berjalan mendekati mereka semua.
Setelah sampai di antara mereka, Adira melirik sekilas ke arah Ananta yang sedang sibuk dengan ponselnya. Begitu juga dengan Aarav dan bundanya, mereka sibuk memainkan ponsel masing-masing.
"Pada asik banget sih, main ponselnya," ucap Adira menyindir. Semua langsung mengalihkan tatapannya pada Echa yang sudah berdiri di dekat mereka.
"Eh, Echa! Sini sayang, gabung kita," ajak Adira dan mempersilahkan Echa duduk di kursi kosong yang terletak di sebelah Ananta. Echa mengumpat dalam hati karena bundanya seakan tengah mendekatkan dirinya dengan Ananta.
Namun tak urung, Echa duduk di sebelah Ananta. "Eh, bunda mau nyusul ayah sebentar ya. Aarav, katanya kamu mau ngomong penting sama bunda," ucap Adira bermaksud memberikan waktu Ananta dan Echa untuk berbicara empat mata.
Aarav yang tidak paham akan situasi malah bertanya balik. "Kapan Aarav bilang begitu, Bun? Perasaan nggak deh," ucap Aarav sambil mengernyit kebingungan.
Adira memejamkan matanya karena Aarav tidak bisa di ajak bekerja sama. "Ya pokoknya kamu ngikut bunda dulu deh. Ada yang mau bunda kasih tau,"
Setelah Adira mengucaokan itu, Aarav pasrah dan mengikuti bundanya masuk ke dalam rumah. Tinggallah Aarav dan Echa yang berada di tempat tersebut.
Keduanya masih saling diam tanpa ada yang ingin membuka pembicaraan. Keadaan menjadi hening. Echa merasa tidak bisa dalam situasi seperti ini terus menerus.
Echa seperti mendengar suara jangkrik mengisi kesunyian di antara keduanya.
Kriiik. Kriiik. Kriiik.