
Happy reading!😊😘
.
*****
Baru saja keluar dari ruangan, Abbie langsung dihadang oleh seorang pria bertubuh tinggi. Manik hitamnya memandang tubuh gadis itu intens. Disadarinya pandangan mata pria itu tertuju padanya, sontak Abbie menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Apa kau seorang pedofil?"
Pria itu terkekeh. "Kau bukan anak kecil di bawah umur."
"Kenapa kau memperhatikanku seperti itu? Siapa namamu?"
Pria itu hanya menyeringai. "Kau gadis pembuat onar yang tadi 'kan? Nona Abigail D'alejjandra?" Tatapan mata hitamnya tajam.
Menyadari kesalahan yang sengaja dibuatnya di dalam ruangan sebelum pelaksanaan olimpiade tadi, Abbie tersenyum miris.
"Oh...kau rupanya." Ia melipat tangannya di dada dan mendekat ke pria itu. "Br*ngs*k!"
Ia menendang di bagian ******** milik pria itu. "Mati kau maniak kurang ajar."
Pemilik manik hitam itu memegang bagian tubuhnya yang sakit itu dan mengumpat. "B****."
Tak menghiraukan umpatan-umpatan yang dilontarkan pemilik manik hitam itu, Abbie segera berlalu dari sana dan berkumpul bersama Charles dan Philip.
"Kenapa kau menendangnya, D'alejjandra?"
Philip menunjuk pada pria di kejauhan sana yang sedang memegang organ luarnya. Abbie hanya mengangkat bahu acuh. "Dia seorang pedofil."
"Apa yang terjadi?"
"Jangan mencampuri urusanku, s**lan." Ia memandang dengan tatapan tajam ke arah Philip.
"Astaga, kau kenapa, sayang?" Charles berusaha mencairkan suasana ketika ia melihat kilatan amarah di mata cokelat madu itu. Apa yang membuat gadis itu marah?
"Sayang?" Ia berdecak miring. "Kau bahkan tidak mengabariku kalau kau akan datang ke sini bersama pria iblis ini. Juga, kau tidak menelponku ketika kau terbangun dari tidurmu."
Oh, Charles ingat. Ia memang tidak menelpon dan memberi gadis itu kabar bahwa ia sudah siuman. Bukannya tidak berniat, tapi Lidya membatasi semua pergerakannya semalam ketika ia sadar. Ia tidak diperbolehkan menatap layar ponsel di atas meja sekalipun apalagi memegangnya. Mustahil.
Sebenarnya, bukan Lidya yang overprotektif tapi karena permohonannya untuk tetap ikut olimpiade makanya ibunya mengawasinya agar ia tidak demam. Karena itulah, ia tidak memiliki waktu untuk mengabari gadis itu. Ini salahnya.
"Maafkan aku."
"Tidak semudah itu."
"Huh?!"
Abbie menendang kakinya. "Kenapa kau harus datang bersama orang yang mencelakaimu?"
Ia memberi tatapan membunuh pada pemilik rambut putih itu.
Charles meringis memegang tulang keringnya yang sakit kemudian ia menoleh pada Philip. Sebuah gelengan kecil dari Philip membuat Charles merasa bersalah.
"Kami datang terpisah."
Ia tak berani menatap manik cokelat itu. Ia berharap Abbie mempercayainya dan tak menderanya dengan banyak pertanyaan-peryanyaan yang mengiterogasi.
Abbie mendengus kesal. Ia seakan tak percaya. Bagaimana kalau Philip mencelakainya lagi? Meskipun tadi ada perawat yang bersama mereka, Philip itu pria yang pandai dan bisa saja ia menghabisi lebih dulu perawat-perawat wanita yang lemah sebelum mencelakai Charles. Membayangkannya saja membuat Abbie bergidik ngeri. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Charles menghembuskan napas lega ketika menyadari tidak ada bantahan dari pemilik surai hitam itu. Berarti, dia benar-benar tidak melihat mereka.
*****
Beberapa hari ini dia dan Philip sudah semakin dekat sehingga membuat Abbie curiga dengan kedekatan mereka namun mereka berhasil menutupi semuanya tanpa celah. Abbie masih saja memusuhi Philip meski hanya dibalas cengiran oleh pria bermanik emerald itu.
"Kau harus pulang bersamaku hari ini."
Abbie menarik tangan Charles agar menjauh dari rangkulan Philip. Sungguh pertemanan yang mencurigakan. Pada pertemuan pertama, mereka saling menatap dengan tatapan membunuh. Tapi, lihatlah sekarang. Mereka saling merangkul. Sungguh pemandangan yang menjijikkan bagi Abbie.
Charles terhuyung oleh tarikan kuat di tangan kirinya sehingga rangkulan di lehernya terlepas. Ia tersenyum penuh kemenangan ketika melihat sorot ketidaksukaan dari manik cokelat di depannya.
"Kau cemburu?" Ia sengaja menggoda gadis itu.
"Apa?" Abbie terkejut. Ia melepaskan cekalannya yang mencekal tangan Charles. Pertanyaan macam apa itu? Cemburu? Hell, masa ia harus cemburu pada pria yang merangkul Charles meskipun ia kesal juga melihat mereka sangat dekat. Atau jangan-jangan...
"Kalian gay?"
Pertanyaan spontan Abbie membuat keduanya tersedak ludah sendiri. Philip sampai terbatuk-batuk. "Apa yang kau katakan? Gay?"
Abbie mengangguk polos. Tidak sadar bahwa pertanyaannya membuat Philip gemas sendiri. Karena tidak bisa menahan, akhirnya Philip tertawa lepas yang membuat Abbie mengernyitkan dahinya bingung.
"Bagaimana mungkin aku menyukai pria yang sudah pernah mencium seorang gadis di bawah lautan kembang api? Itu sangat menjijikkan. Aku masih polos dan suci. Jadi, jangan menodaiku dengan pertanyaan konyolmu itu, Abigail."
Sekali lagi, Charles tersenyum merona. Ia kembali mengingat bagaimana ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium gadis ini. Bagaimana ia tergoda oleh bibir tipis dan ranum itu sehingga matanya berkabut oleh gairah dan memberanikan diri menarik tengkuk gadis itu dan menciumnya.
Tak kalah dengan Abbie, ia memalingkan wajahnya merasa tersindir oleh kalimat Philip. Kilasan-kilasan memori tentang ciuman panas mereka di bawah langit yang dipenuhi kembang api berputar-putar di kepalanya. Ia malu sendiri karena ternyata Philip melihatnya.
"Kau melihatnya?"
Charles menyipitkan matanya meneliti setiap inci perubahan air muka Abbie. Terkejut, merona dan malu-malu.
"Kau bodoh atau ****, huh? Masih berharap orang lain tidak melihatnya sementara kalian melakukannya di kerumunan orang."
Charles terkekeh. "Aku tidak bisa menahannya."
Abbie melotot mendengar perkataan pria berkacamata itu. Bagaimana ia bisa sangat jujur begitu? Apa dia tidak malu? Ah, ingin rasanya Abbie punya kekuatan super dan segera menghilang dari hadapan kedua pria ini karena malu. Ia tidak ingin membahas tentang ciuman itu meskipun ia menikmatinya.
"Apa kau menguntit?"
Setelah berhasil menguasai dirinya, Abbie memelototkan matanya. Ingin rasanya ia menjambak dan menarik habis rambut putih ini sampai tidak tersisa.
"Aku tidak sengaja." Philip menyengir. Ia mengedipkan matanya pada Charles, memberi kode agar menarik Abbie pergi menjauh. Ia tidak akan berhenti tertawa kalau melihat wajah malu-malu Abbie seperti itu dan terus melanjutkan percakapan yang membuatnya dan Abbie kembali berselisih.
Mengerti dengan kode yang ditunjukkan Philip, Charles segera menarik tangan Abbie menuju parkiran.
"Kenapa kau tersenyum, bodoh?"
Ia kesal karena Charles hanya tersenyum sejak tadi.
"Aku tidak pernah melakukaannya lagi." Ia tersenyum penuh arti yang membuat Abbie mundur ke belakang karena menyadari arti tatapan mata yang ditutupi kaca itu. Karena menyadari ia akan menjauh, Charles segera menariknya sehingga gadis itu menempel di dada bidang miliknya.
Jantungnya masih sama seperti hari itu. Kembali menggila dengan Abbie menempel padanya. Ia tidak tahan lagi. Sudah lama ia merindukan bibir ranum dan manis ini. Sebelum ia benar-benar tenggelam dalam lautan hasratnya, sebuah kepalan tangan menempel di bibirnya.
"Ini parkiran," bisik gadis itu.
"D*mn it!" Setelah tersadar dari dunianya, ia kembali tersenyum miris. "Kalau bukan parkiran, aku bisa melakukannya?"
"Mesum."
.
*****
ig @xie_lu13