Treat You Better

Treat You Better
130. Mode emak-emak ON



Tristan sempat tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.


Apa orang yang berada di depannya susah mendapatkan hidayah untuk move on?


Dan apa tujuannya mengunjungi rumahnya?


Tristan berharap, seseorang tersebut tidak memiliki niat jahat seperti dulu lagi.


Meskipun dia sudah mengklaim sudah berubah, tapi Tristan harus berhati-hati dengan seseorang satu ini.


“Kabar baik, ada apa ya?” tanya Tristan berusaha tersenyum seramah mungkin.


“Adira ada kan? Aku mau kasih tahu sesuatu kepada Adira dan juga kamu,” jawab seseorang tersebut.


Tristan tampak bimbang. Tapi bagaimanapun juga, orang yang ada di depannya ini adalah seorang tamu.


Dan sebagai tuan rumah, Tristan harus memperlakukan tamunya dengan baik.


“Ada, ayo silakan masuk,” jawab Tristan sambil melirik sekilas ke arah wanita yang datang bersama tamunya itu.


Kemudian Elvan dan Imelda masuk ke dalam rumah dan mendudukkan dirinya di sofa yang tersedia di ruang tamu.


“Bentar ya, aku panggilkan Adira dulu,” ucap Tristan berpamitan masuk ke dalam.


Elvan mengangguk dan tersenyum ramah begitu juga dengan Imelda.


Ya, dua orang yang menjadi tamu Tristan adalah Elvan dan Imelda.


Elvan sengaja mengajak Imelda untuk menemaninya bertemu dengan sahabatnya terdahulu.


Elvan ingin mengenalkan sosok Adira kepada Imelda. Namun di samping itu, Elvan juga akan memberikan kabar bahagia dan bermaksud mengundang Adira untuk datang ke acara pertunangannya.


Tidak berapa lama, Elvan bisa melihat Tristan dan Adira berjalan ke arahnya bersama bayi laki-laki yang berada di gendongan Tristan.


Bisa Elvan duga, bayi yang berada di gendongan Tristan adalah anak dari keduanya.


Elvan turut bahagia atas kebahagiaan yang Adira dapatkan dari kehidupan rumah tangganya.


Elvan tidak tahu saja, bahwa kebahagiaan mereka yang sekarang adalah hasil dari berbagai macam masalah yang datang di kehidupan rumah tangga keduanya pada saat dahulu.


Sudah banyak badai yang berhasil keduanya lewati.


“Hai Elvan! Apa kabar? Lo lagi ada di Indonesia nih?” tanya Adira sambil tersenyum senang karena bertemu dengan sahabat lamanya.


“Iya, Gue pulang kemarin dan sengaja datang ke sini buat kasih tahu sesuatu,” jawab Elvan sambil tersenyum bahagia.


Meski sudah mempunyai satu anak, Adira masih terlihat cantik seperti dulu.


Bedanya, dulu Adira jarang sekali merias diri. Sedangkan sekarang, Adira terlihat sudah pandai merias diri dan itu menambah kecantikan seorang Adira di mata Elvan.


Tapi tetap saja, secantik apa pun Adira yang sekarang, Imelda selalu di hati dan tidak tergantikan.


Elvan tidak akan menyia-nyiakan seseorang yang mencintai dirinya dengan tulus untuk yang kedua kalinya.


Elvan tidak mau kejadian yang Adira alami juga Imelda rasakan.


Elvan sudah cukup belajar dan berusaha memahami perasaan dirinya sendiri.


“Wah ... Mau kasih tahu sesuatu apa nih? Terus, Mbak ini siapa? Calon istri kan?” tanya Adira sambil tersenyum meledek, alisnya juga Adira naik-turunkan.


Tristan sudah memutar bola matanya jengah mendengar percakapan dua manusia yang sudah lama tidak bertemu itu.


“Perkenalkan, ini Imelda, calon istri Gue. Imel, perkenalkan, dia Adira,” ucap Elvan memperkenalkan kedua wanita itu.


“Hai Imelda, senang bisa bertemu dengan kamu,” sapa Adira ramah.


“Iya, aku juga senang bisa bertemu kamu,” jawab Imelda tersenyum ramah.


Elvan tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan nyeleneh dari Adira.


Mungkin karena jiwanya sudah ikut jiwa emak-emak, membuat Adira menjadi tukang kepo sekarang ini.


“Jiwa emak-emaknya mulai keluar dah,” ucap Tristan menyindir istrinya itu.


“Biarkanlah. Emang udah emak-emak ya harus ngikut geng emak. Kalau ngikut ABG mah, salah alamat,” jawab Adira sambil mencebikkan bibirnya kesal, menimpali ucapan suaminya itu.


“Eeh, Lo mau memberitahukan sesuatu apa, Van? Lo mau tunangan? Atau nikah? Jadi kita di undang nih?” tanya Adira beruntun hingga membuat Elvan bingung harus menjawab yang mana dahulu.


“Jadi, kami ke sini ingin mengundang kamu sama suami kamu untuk datang ke acara pertunangan kita berdua. Dua minggu lagi acara akan diadakan. Kita berharap, kalian bisa menghadiri acara pertunangan kami,” ucap Imelda yang sudah tidak mau berbasa-basi terlalu lama dan ingin langsung ke intinya saja.


Imelda jelas tahu bahwa Adira adalah perempuan dari masa lalu Elvan yang berhasil membuat Elvan menjadi seorang  GAMOn alias gagal move on.


“Pantas saja Elvan sampai patah hati sebegitu lamanya. Seorang Adira saja cantiknya sudah di atas rata-rata,” batin Imelda menggerutu dan timbul rasa cemburu.


“Apa?! Kalian mau bertunangan? Berarti sebentar lagi kalian bakal nikah dong?” tanya Adira sok dramatis.


“Mode emak-emak, ON.” racau Tristan yang berhasil membuat seisi ruangan tergelak kecuali Adira. Dia sudah melirik ke arah suaminya itu dengan tatapan tidak suka.


Adira paham betul bahwa suaminya sedang dalam mode cemburu.


“Mode merajuk, ON.” timpal Adira tak mau kalah.


“Siapa juga yang merajuk?” tanya Tristan berusaha menyangkal.


“Ya Mas Tristan tersayang dan terkasih lah,” jawab Adira lagi dan belum menyerah untuk berdebat.


Elvan dan Imelda hanya menyaksikan interaksi suami istri itu dan merasa tidak enak hati karena kedatangannya membuat sepasang suami istri itu berdebat.


“Siapa bilang? Aku nggak ada bilang ya,” jawab Tristan kesal dan masih belum menyerah.


Adira ingin membuka mulutnya lagi untuk menjawab ucapan Tristan, namun niatnya itu urung karena panggilan dari seorang anak kecil.


“Bunda! Kok bunda di sini? Echa mencari kalian semua loh,” pekik Echa kesal kepada seluruh penghuni rumah karena meninggalkan dirinya sendirian hanya bersama baby sisternya.


“Kan lagi ada tamu. Salim dulu sama Om dan Tante, Sayang,” perintah Adira lembut dan berhasil membuat Echa menurut.


Setelah salim dengan kedua tamu tersebut, Echa duduk di pangkuan Adira begitu saja.


Mulutnya diam dan sangat anteng di pangkuan Adira.


“Tumben kamu anteng banget,” ucap Adira meledek.


“Echa aktif, salah. Echa anteng, juga salah. Bunda maunya Echa gimana?” tanya Echa sambil bibirnya mengerucut lucu.


Tristan terkekeh dan mengacak rambut Echa dengan gemas.


Elvan sejak tadi mengamati interaksi keluarga kecil bahagia di depannya itu.


Siapa anak perempuan yang memanggil nama Adira dengan sebutan Echa?


Bukankah Adira baru mempunyai satu anak?


Tapi jika di lihat lebih teliti lagi, Elvan bisa melihat ada wajah Amanda di wajah anak perempuan bernama Echa itu.


Mungkinkah Echa itu anaknya Amanda?


Lalu, Amanda sekarang ke mana?


Mengapa juga anak Amanda memanggil Adira dengan sebutan Bunda?


Kepala Elvan seakan pusing memikirkan pertanyaan yang tiba-tiba muncul di otaknya.


“Ngapain Gue harus pusing mikirin sih? Mau manggil apapun itu kan terserah anak itu juga,” umpat Elvan dalam hati.