
Terima kasih buat kalian yang masih dukung author sampai di part ini. Terus dukung author ya dengan cara like, komen, vote dan rate. Jangan lupa difavoritkan sebagai cerita kesayangan kalian. Tuhan memberkati. Te amo❤.
.
Happy reading!😊😘
*****
Berulang kali gadis bersurai hitam itu mengetuk pintu apartemen milik Charles. Namun, berulang kalipun ia tidak mendapat sahutan.
Ada apa dengannya? Apa dia sakit karena terlalu banyak menghabiskan waktu di luar kemarin? Ah, tidak mungkin. Setiap hari pria itu bekerja sampai matahari terbenam. Jadi, mustahil kalau dia sakit karena masalah itu.
Tapi, keadaan tubuh seseorang tidak selamanya stabilkan? Bisa saja dia langsung sakit hanya karena lama berjemur di bawah sinar matahari langsung.
Abbie menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menjauhkan otaknya dari pikiran-pikiran kotor.
"Apa yang kau lakukan di sini, sayang?"
Suara bariton milik seseorang mengejutkannya. Ia menoleh.
Sial.
*****
Charles masih belum sadar dari pingsannya. Pria itu asyik sendiri dengan dunianya. Ia mungkin sedang bermimpi, mimpi yang sangat indah.
Lengan kirinya digips, kata dokter tulang hastanya retak akibat benturan keras. Kepalanya juga mengalami luka tapi tidak separah lengannya. Untungnya, kacamata yang dipakainya tidak retak dan pecah sehingga tidak menyebabkan luka lain di wajahnya.
Lidya dengan sabar menunggu tanpa beranjak dari kamar VVIP rumah sakit itu. Berulang kali Byla dan suaminya membujuknya makan, tapi ia seperti tak memiliki tenaga hanya untuk memegang sendok sendiri.
"Makanlah, mama. Bukan hanya Charlie yang akan tidur di sini tapi mama juga akan berbaring seperti itu nanti."
Hanya bunyi layar monitor yang menjawab Byla. Lidya terdiam. Tatapannya kosong. Tangannya terus mengusap punggung tangan Charles yang masih memejamkan matanya.
"Baiklah."
Akhirnya ia membuka suara juga. Segera ia bangkit dari tempatnya menuju ke sofa yang berada di sudut ruangan.
Byla menyiapkan makanan untuknya. Tatapan khawatir tersorot jelas dari manik hitamnya. Ia takut penyakit ibunya kambuh lagi akibat stress berkepanjangan.
"Makanlah yang banyak, mama. Aku dan Sam akan pulang setelah Charlie bangun nanti. Ada masalah di perusahaan yang harus segera diurus dan tidak bisa diwakilkan orang lain. Jadi, mama harus tetap sehat agar menjaga Charlie."
Lidya mengangguk. Bagaimanapun juga, anak perempuannya sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri wajar kalau dia ingin pulang.
Ia menyendok makanan ke dalam mulutnya dan mengunyah perlahan.
Setelah menghabiskan makanannya, Lidya kembali pada rutinitas awalnya. Duduk dan mengelus tangan, wajah dan rambut cokelat terang milik Charles.
Byla dan Samuel keluar. Mereka menuju sebuah restoran untuk makan. Tak lupa, si kecil Catalina menempel pada ayahnya.
Sepeninggal mereka, pintu ruangan kamar VVIP itu diketuk seseorang dari luar. Dengan langkah gontai Lidya bangun untuk membukakan pintu.
"Siapa ya?"
Ia bingung dan menerka-nerka siapa yang ada di hadapannya sekarang. Setahunya, Charles tidak pernah menceritakan bahwa ia memiliki teman berambut putih.
Tapi, dilihat dari manik hijaunya sepertinya ia mengenal siapa anak ini.
"Apa kau...?" Dia menghentikan perkataannya karena merasa kurang yakin.
"Saya Philip Mendes, aunty. Apa aunty sudah melupakanku?"
Cengiran khas anak remaja labil tercetak di bibirnya yang tipis. Ia tak menyangka aunty Lidya-nya hampir tidak mengenalnya, atau memang sudah melupakannya.
"Benarkah? Astaga, kau sudah tumbuh besar, sayang. Kemarilah, jangan berdiri lama-lama di sini."
Lidya langsung menarik tangan Philip masuk. Seseorang di belakang anak berambut putih itu membuatnya terkejut.
"Abbie?"
"Anda mengenalku, señora?"
Ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. Gadis itu tampak sangat terkejut karena ibunya Charles mengenalnya.
"Tentu saja, nak. Kau pewaris tunggal D'alejjandra Group, bukan?"
"Ah... begitu rupanya."
Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa malu sendiri karena menyangka Lidya mengenalnya seperti mengenal pria s**lan Philip itu.
"Ayo masuk, nak. Charlie masih belum sadar."
Mereka membuntuti Lidya memasuki kamar rawat Charles. Dan...Abbie baru sadar sekarang bahwa kamar ini kamar VVIP. Dari tadi ia hanya mengikuti langkah Philip ke arah manapun karena baru kali ini ia menginjakkan kaki di rumah sakit terbesar di daerah itu.
Kedatangan Philip di apartemen Charles tadi membuatnya mengetahui keberadaan Charles. Benar dugaan Izzy tadi pagi, bahwa si cupu itu kecelakaan.
Ketika Philip memberitahukannya bahwa Charles kecelakaan, ia langsung memukul pria itu. Ia yakin betul bahwa pria yang di hadapannya itulah yang melakukannya. Ia menangis sesegukan karena tidak mengetahuinya dari awal.
Philip diam saja. Ia membiarkan Abbie melampiaskan segalanya karena ini juga bagian dari kesalahannya yang tidak menjalankan tugas dengan baik.
Ia memukul-mukul dada pria itu sampai ia puas dan berhenti menangis. Setelah itu, ia memaksa Philip untuk mengantarnya ke rumah sakit tempat Charles dirawat. Dan di sinilah dia sekarang.
Ruangan VVIP? Apakah Charles juga anak orang kaya? Kenapa selama ini dia tidak berpenampilan seperti anak orang kaya lainnya? Seperti dia misalnya. Pria itu memilih menutupi matanya dengan kacamata tebal yang membuatnya nampak seperti orang kampungan dan ketinggalan zaman.
Tidak mungkin. Kalau dia orang kaya, dia pasti masuk ke sekolahan elit dan ternama itu menggunakan kekuasaan orang tuanya. Tapi apa? Lagi-lagi pikirannya tidak menemui jawaban. Charles masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa.
Hanya anak orang tidak mampu yang masuk ke sekolahan ternama melalui jalur beasiswa.
Lidya mempersilahkan mereka duduk dan ia keluar dari ruangan itu membiarkan keduanya duduk dalam keheningan.
Abbie menatap tajam pria di hadapannya itu. Ia sangat yakin bahwa Philiplah pelaku kecelakaan itu.
"Kenapa kau melakukannya?"
Ia menendang tulang kering pria itu yang membuat pria itu meringis.
"Apa?" Ia tidak menjawab pertanyaan itu tetapi malah bertanya balik karena sakit di tulang keringnya tidak bisa ia tahan.
Karena kesal, Abbie memukul lagi kepalanya. Pria itu mendongak dengan tatapan datar. "Kenapa?"
Abbie seketika memalingkan wajahnya. Ia merasa terintimidasi oleh manik hijau itu.
"Kenapa kau membuatnya seperti itu?"
Ia menunjuk pada pria yang tertidur di bangkar sana dengan dagunya.
Philip terkekeh. "Kau menuduhku?"
"Tentu saja. Hanya kau yang mencelakai orang yang selalu dekat denganku."
"Ya, kau memang benar. Mungkin aku yang melakukannya." Ia tertunduk. Ini memang salahnya yang tidak hati-hati dalam mengawasi si 'pembuat onar'.
"Mungkin? Hah! Jawaban macam apa itu?"
Tentu saja Abbie terkejut dengan jawaban Philip. Mungkin? Dia tidak yakin? Dia pasti mengelabuhiku.
"Aku memang melakukannya."
Abbie bangkit dari tempatnya ke arah bangkar. Ia menatap mata cokelat gelap yang selalu menghipnotisnya itu terpejam rapat. Kapan mata itu terbuka?
Ia duduk di tempat yang biasa diduduki Lidya. Tatapannya lalu tertuju pada bibir tipis nan mempesona itu. Bibir yang selalu mengecup pipinya dan menggodanya dengan kata-kata manis.
Kemudian ia menggenggam tangannya, mengelusnya perlahan.
"Bangunlah, Charlie. Kau sudah berjanji akan menemaniku 'kan? Ayolah, temani aku besok. Aku tidak mau melakukannya sendiri tanpamu. Kalau kau tidak bangun, aku juga tidak akan melakukannya sendiri. Mari tunjukkan pada dunia bahwa kita berdua bisa."
Philip mendekat. Ia menatap wajah pucat milik Charles.
"Brother, apa kau tidak kasihan pada kekasihmu yang cengeng ini? Lihatlah, dia menangis. Bangun dan hiburlah dia. Aku tidak tahan mendengar isakannya. Kau tahu, aku hampir saja mati dipukulnya tadi karena mencelakaimu."
Setelah mengucapkan kalimat panjang itu, Philip langsung keluar. Abbie menatap datar punggung pria itu.
"Apa maksudnya?"
.
*****
ig @xie_lu13