Treat You Better

Treat You Better
96. Wanita penggoda



Di sisi lain, tepatnya di parkiran rumah sakit, Tristan kembali masuk ke dalam rumah sakit.


Tadi, yang menelepon dirinya adalah dari pihak rumah sakit yang memberitahukan tentang keadaan Sindy yang kembali mencoba melakukan bunuh diri.


Dan kebetulan, rumah sakit yang Lidya gunakan untuk melahirkan, sama dengan rumah sakit tempat Sindy dirawat.


Beruntung, Lidya dan Sindy berbeda bangsal, jadi kemungkinan Adira dan Sindy bertemu sangatlah kecil.


Tristan tidak ingin memberitahu masalah dirinya yang selalu menjenguk Sindy setiap hari di rumah sakit.


Sebenarnya, Tristan sudah tidak mau berurusan lagi dengan Sindy, tapi mendengar penuturan dari pihak rumah sakit yang mengatakan bahwa depresi Sindy kambuh lagi, Tristan menjadi tidak tega.


Apalagi, kemarin Tristan baru saja berpamitan dan mengatakan jangan menganggu kehidupannya lagi.


Tristan berpikir, karena hal itulah Sindy kembali depresi.


Tristan tidak tahu saja, bahwa Sindy hanya sedang berpura-pura. Dia sampai menghalalkan segala cara yaitu dengan membayar oknum rumah sakit untuk membantunya mengelabuhi Tristan dengan cara mengatakan bahwa dirinya kembali depresi dan melakukan percobaan bunuh diri.


Sindy juga menyuruh oknum rumah sakit untuk mengatakan bahwa dirinya menyebut-nyebut namanya saat berteriak histeris.


Sindy sangat mengenal Tristan yang orangnya tidak tegaan.


Setelah sampai di depan ruangan, Tristan segera masuk dan menemui Sindy yang sedang berbaring di atas brankar dengan posisi meringkuk dengan selimut menutupi sekujur tubuhnya.


Tristan sebenarnya merasa ada yang janggal. Tidak ada suster yang berjaga seperti biasanya bila depresi Sindy kambuh lagi hingga sampai melakukan percobaan bunuh diri.


“Sindy.” ucap Tristan datar dan dingin.


Sindy tidak menjawab dan hanya melirik sekilas ke arah Tristan.


“Katakan, di mana sebenarnya keluarga kamu? Dan di mana anak kamu sekarang? Mengapa kamu selama ini sengaja tidak menghubungi mereka dan malah mengandalkan aku? Kamu sengaja ya, melakukan semua ini?” tanya Tristan sambil menatap Sindy tajam.


Tristan sudah sangat geram dengan tingkah Sindy yang seolah-olah sudah tidak punya keluarga saat Tristan berulang kali bertanya mengenai hal itu.


Sindy selalu tidak menjawab jika membahas mengenai di mana keberadaan orangtua dan anaknya.


Sindy langsung menatap Tristan dengan senyum jahatnya, Tristan sudah masuk ke dalam perangkapnya lagi.


“Coba kamu lihat aku sebentar saja, pasti kamu akan jatuh cinta lagi denganku,” ucap Sindy dengan percaya diri tinggi. Urat malunya sudah benar-benar putus sekarang ini.


Setelah itu, Sindy berdiri dengan mudahnya karena sudah tidak ada selang infus di pergelangan tangannya.


Tristan membelalakkan mata tak percaya saat melihat penampilan Sindy yang hanya memakai pakaian seksi berwarna merah menyala.


Tristan tidak menyadari pakaian Sindy yang sudah berubah dan tak lagi mengenakan pakaian rumah sakit karena ditutupi selimut sejak tadi.


"Sepertinya, Sindy sengaja ingin menggodaku," ucap Tristan dalam hati.


Di ruangan yang isinya hanya mereka berdua, Tristan semakin merasa was-was dengan perubahan sikap Sindy. Apalagi sekarang, Sindy berjalan ke arahnya dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya bermaksud menggoda.


Jantung Tristan seakan mau copot dari tempatnya. Sebagai lelaki normal, bila di suguhkan pemandangan seperti itu tentu akan memancing sisi kelaki-lakiannya.


Dan Sindy telah berhasil untuk itu.


Tristan hanya diam mematung dengan jantung sudah bertalu-talu.


Saat Sindy sudah berada di hadapan Tristan, dia membelai dada Tristan dengan telunjuknya. Sindy sudah pantas di juluki sebagai wanita penggoda.


Tristan menelan salivanya susah payah saat dada Sindy sengaja dia busungkan agar dirinya melihat dua gundukan yang menyembul dari balik sarangnya.


Sentuhan Sindy semakin turun ke bawah, yaitu ke perut Tristan.


Entah mengapa, Tristan hanya diam mematung dan tidak segera menepis tangan Sindy.


Tristan masih terkejut dengan perubahan Sindy yang sudah bar-bar dan tidak seperti dulu.


Tanpa Tristan sadari, tangan Sindy semakin turun ke bawah dan akan menyentuh paha bagian luar Tristan.


Namun Tristan segera tersadar dan menepis tangan Sindy dengan kasar.


Ini sudah gila dan sangat gila!


Tanpa menunggu lama, Tristan langsung menampar pipi Sindy dengan sekali tamparan.


Plak.


Kepala Sindy sampai meneleng ke samping karena saking kerasnya Tristan menamparnya.


Sindy mengepalkan kedua tangannya karena merasakan panas di pipinya.


“Wow! (Bertepuk tangan) sekarang kamu udah belajar nampar wanita ya,” ucap Sindy tanpa dosa, seakan yang dilakukannya bukanlah sebuah pelecehan.


“Ja–lang!” ucap Tristan datar namun sangat tajam menikam hati Sindy.


Sindy langsung tersentak dengan ucapan Tristan yang hanya sekata namun sangat tajam melukai hatinya.


Sindy menunduk malu dan air matanya mulai mengalir di kedua pipinya.


“Jangan pernah memanfaat kebaikan seseorang yang tulus membantumu!”


Setelah mengatakan itu, Tristan segera pergi dari ruangan terkutuk itu.


Sindy selalu saja memanfaatkan kebaikan hatinya.


Tristan semakin merasa bersalah karena memilih memeriksa keadaan Sindy dan membiarkan Adira pulang sendirian naik taksi.


Dia berjalan di lorong rumah sakit dengan tergesa agar cepat sampai di rumahnya.


Dia akan segera meminta maaf kepada Adira. Tidak seharusnya Tristan bersikap seperti itu pada Adira dan menomor duakannya.


Tristan lagi-lagi menyesal.


“Maafkan aku Adira ... Maafkan aku ....” gumam Tristan menyesal.


Dia sudah berada di parkiran dan bersiap mengemudikan kuda besinya.


Kemudian dia menjalankan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang sialnya sangat macet.


Tristan memukul gagang setirnya dengan kasar saat mobilnya sama sekali tidak merayap.


Dia memikirkan keadaan Adira yang pulang dalam keadaan marah. Dan jika sedang marah dengannya, Tristan selalu ingat bahwa Adira selalu mendadak muntah-muntah dan akhirnya, itu akan membuat tubuh Adira lemas.


“Sindy sialan!”


“Sindy tidak tahu di untung!”


Tristan mengumpati Sindy di sepanjang jalan menuju rumahnya.


Gara-gara mengkhawatirkan orang gila seperti Sindy, Tristan sampai rela mengorbankan istrinya.


Tristan benar-benar merasa menjadi manusia terbodoh di dunia.


.........


Setelah kepergian Tristan, Sindy tersenyum licik sambil menyeka air matanya.


Dia masih punya satu rencana lagi.


Bila Tristan tidak bisa menjadi miliknya, tidak seorang pun yang bisa memilikinya. Tidak Adira maupun yang lainnya.


“Lihat saja nanti. Aku pastikan bahwa kalian akan berpisah setelah ini. Tapi sebelum itu, aku ingin bermain-main dulu dengan kalian,” ucap Sindy dengan senyum miringnya.


Sindy akan menjalankan rencananya lagi untuk yang terakhir kali.


Dia punya BOM waktu yang bila saatnya meledak, dia akan menghancurkan segalanya.


Termasuk rumah tangga Tristan dan Adira yang akan hancur juga.


Sindy merasa, dia masih punya kesempatan untuk memisahkan Tristan dan Adira.


Kemudian, Sindy mengambil kamera tersembunyi yang berada di balik vas bunga.


Dia sengaja meletakkan di sana untuk merekam aksinya menggoda Tristan.


Sindy tersenyum senang melihat video yang di awal Tristan tak menolaknya.


Itu akan menjadi bom waktu terbaiknya.


“Tristan ... Tristan ... Kamu memang pintar di ajak kerjasama. Dengan kamu diam saat aku sentuh, itu sangat membantuku untuk memisahkan kamu dengan adira hahaha,” ucap Sindy merasa sudah menang.


Tawa jahatnya juga menggelegar di seisi ruangannya.


Sindy lupa, bahwa kekuatan cinta itu begitu besar. Sekuat dan sebesar apapun usaha yang Sindy lakukan untuk memisahkan Tristan dan Adira, tetap saja itu tidak akan mampu merobohkan cinta keduanya.


Justru, keserakahan yang ada pada diri Sindy lah yang akan menghancurkan dirinya sendiri.