
Dua minggu kemudian.
Bu Dewi dan pak Irawan akhirnya pulang dari perjalanan bisnisnya.
Setelah beristirahat satu hari di rumahnya, mereka langsung datang ke rumah Adira dan Tristan.
Mereka sangat rindu dengan anak dan menantunya itu. Apalagi, keadaan Adira sekarang sudah berbadan dua.
Adira dan Tristan memang sudah kembali ke rumahnya.
Adira benar-benar merealisasikan keinginannya untuk menginap di rumah mama Dewi selama tujuh hari tujuh malam.
Dan selama itulah, Tristan tidak pulang ke rumahnya. Dia juga ikut menginap di rumah mertuanya.
Tin. Tin.
Terdengar bunyi klakson mobil dari arah depan rumah Adira. Pak satpam yang berjaga langsung membukakan pintu agar mobil bisa masuk.
Setelah mobil masuk, terlihat sepasang suami istri yang keluar dari mobil tersebut.
Mereka adalah pak Irawan dan Bu Dewi.
Tidak lama kemudian, ada dua mobil lagi yang masuk ke kediaman Adira dan Tristan.
Bu Dewi sontak menatap ke arah di mana mobil itu melaju.
Saat seseorang yang berada di dalamnya keluar, bu Dewi langsung berlari dan berhambur memeluk seseorang tersebut. Kemudian keduanya melakukan cipika-cipiki.
Siapa lagi jika bukan bu Siska orangnya. Dia datang juga bersama suaminya, pak Hendra.
“Hai, Sis. Bagaimana kabar kamu? Sehat kan?” tanya bu Dewi setelah pelukan terlepas.
Bu Siska tersenyum dan mengangguk.
“Sehat dong. Cucu kita yang masih comingsoon juga sehat,” jawab Bu Siska dengan binar bahagia di matanya.
“Aku udah nggak sabar pengen ketemu cucu,” ucap bu Dewi dengan senyum gemasnya.
Lalu dari mobil di belakangnya, ada Amanda dan Doni yang datang bersama. Doni terlihat berjalan santai sambil menggendong anaknya.
“Hai Tante ... Bagaimana perjalanan bisnisnya? Lancar kan?” tanya Amanda pertama kali untuk menyapa.
“Eh, Amanda ... Alhamdulillah lancar jaya,” jawab bu Dewi.
Kemudian keduanya melakukan cipika cipiki ala-ala wanita pada umumnya.
“Ayo, Ma. Ngobrolnya di dalem aja entar. Sekarang kita masuk dulu,” ajak pak Irawan yang sudah tidak tahan berdiri sejak tadi.
Menurut.
Mereka berjalan memasuki rumah Adira bersama.
Saat sudah di depan pintu, mereka langsung di sambut oleh Adira dan Tristan yang memang menunggu kedatangan mereka.
Adira dan Tristan sudah mempersiapkan semuanya.
Adira bahkan memasak lebih banyak dari hari biasanya agar cukup di makan oleh semua orang.
“Mama! Adira kangen banget sama, Mama!” pekik Adira sambil berlari kecil menghampiri mamanya.
“Jangan lari-lari!” pekik bu Dewi dan Bu Siska bersamaan.
Mereka khawatir terjadi sesuatu pada cucu mereka yang masih berada di dalam perut.
Tapi yang di khawatirkan malah cengengesan tanpa dosa.
Jantung Tristan seakan mau copot melihat Adira yang dengan leluasanya berlari. Padahal di perutnya ada kehidupan yang harus dijaga.
“Kamu ya, kalo lagi hamil tuh dilarang berlari dan angkat beban berat. Lah ... Kamu malah dengan santainya lari,” omel bu Dewi kesal dengan tingkah Adira.
“Iya maaf ... Habisnya aku seneng banget Mama datang. Apalagi datangnya bareng sama Mama Siska dan Amanda,” ucap Adira penuh binar di matanya.
Setelah itu, Adira memeluk satu persatu dari mereka kecuali Doni dan Amanda.
Dia berucap kepada Doni.
“Sebagai adik yang baik, salim dulu dong, sama Kakaknya,” ucap Adira tertawa jahil.
Doni melotot tidak terima menatap Amanda.
Amanda balas melotot dan berbicara lewat isyarat.
“Udah turuti aja.” Begitulah kira-kira gestur tubuh Amanda.
Doni menurut, dia mengambil tangan Adira lalu dia tempelkan pada dahinya.
“Adik yang baik ....” ucap Adira tersenyum senang.
Semua yang berada di ruangan tersebut berusaha menahan tawanya karena melihat wajah masam Doni.
Saat Amanda ingin melakukan hal yang sama seperti yang Doni lakukan, Adira segera berkata.
“Kamu nggak usah nggak papa. Kan lagi gendong Echa, keponakan kesayangan,” ucap Adira sambil mencubit pelan pipi Echa yang berada di gendongan Amanda.
Memang setelah masuk, Amanda mengambil alih Echa yang berada di gendongan Doni.
Karena selama berada di mobil, Doni menyetir sambil menggendong Echa, Echa seakan ingin ikut menyetir. Dan Amanda memahami bahwa itu cukup melelahkan.
Setelah Adira mengucapkan itu, semua tergelak bersamaan karena melihat wajah masam Amanda dan Doni yang berhasil di kerjai oleh Adira.
Setelah itu, mereka berjalan ke dalam untuk berbincang hangat karena lama tidak berjumpa dengan bu Dewi dan pak Irawan.
Adira meminta tolong Tristan untuk mengambil beberapa mainan yang memang sengaja Adira beli untuk Echa mainkan bila berada di rumahnya.
Semakin bertambahnya usia, pertumbuhan dan perkembangannya sangat baik.
Adira semakin gemas melihat tingkah lucu yang Echa lakukan.
Saat ini, Adira sedang duduk di lantai beralaskan karpet untuk menemani Echa bermain Lego yang dia belikan.
Para orang tua, mereka duduk di sofa sambil berbincang-bincang.
Bu Dewi langsung mengambil posisi duduk bersila di sebelah Adira.
Dia meletakkan telapak tangannya di perut Adira yang masih rata dan mengelusnya lembut.
Adira yang kaget karena sentuhan mamanya yang tiba-tiba, dia langsung menoleh ke arah perutnya.
Setelah menyadari bahwa mamanya yang melakukannya, dia tersenyum sendu melihat mamanya yang begitu bahagianya mengelus perutnya.
Adira memahami perasaan mamanya.
Memang, mamanya begitu menantikan cucu pertamanya itu yang kelak akan meneruskan bisnis keluarganya.
Entah laki-laki atau perempuan, semua sama saja.
“Udah lima minggu ini berarti ya, Ra?” tanya bu Dewi yang masih fokus mengelus perut Adira yang tertutup baju.
Adira mengangguk dan tersenyum menanggapi.
Bu Dewi menyudahi kegiatannya dan berkata.
“Dulu, Mama juga susah banget buat bisa hamil kamu. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya kamu berada di perut Mama. Saat itu, Mama dan papa sangat bahagia, akhirnya penantian Mama setelah sekian lama berujung manis,” ucap bu Dewi sambil menerawang ke masa lalu.
Dia menceritakan kisah perjuangannya yang begitu besar untuk bisa hamil.
“Dulu, Mama selalu berusaha meyakinkan diri Mama, bahwa Mama pasti akan segera diberi momongan. Mama harus optimis,” lanjut bu Dewi lagi.
Adira terlihat antusias mendengarkan kilas balik adanya dirinya di dunia.
Ternyata, dulu dia juga sangat dinantikan seperti anak yang sekarang berada di rahimnya.
“Terima kasih ya, Ma. Karena telah sudi mengandung, melahirkan dan merawat Adira. Perjuangan Mama sama papa begitu sulit untuk bisa menghadirkan Adira,” ucap Adira menatap mamanya dengan tatapan berterima kasih.
Matanya pun mulai berkaca-kaca.
Lalu, keduanya berpelukan menyalurkan rasa cinta dan sayang seorang anak dan ibu.
Semua yang melihat dan mendengar pembicaraan keduanya juga tersenyum haru.
Bu Siska dan Amanda sampai meneteskan air mata melihat perjuangan dua wanita beda generasi itu.
Sebagai wanita yang telah bersuami, bila tak kunjung hamil pasti itu akan menjadi pukulan tersendiri.
Bu Siska dan Amanda berusaha memahami perasaan setiap wanita karena meraka juga seorang wanita.