Treat You Better

Treat You Better
109. Saling merindukan



“Papa, apa kabar?” tanya Tristan sambil mengulas senyum yang dipaksakan.


“Kamu ....” ucap pak Irawan masih dengan keterkejutannya.


“Iya, aku udah tahu kalau Adira ada di sini kemarin. Dan kemarin juga aku langsung menyusul. Tapi ....” jelas Tristan sambil menengok ke arah Adira yang sudah berdiri di ambang pintu.


Kemudian, pandangannya beralih menatap seseorang yang berada di belakang Adira.


Tristan tersenyum kecut melihat Adira dan Yoga berdiri bersisian.


Pak Irawan pun mengikuti arah pandang Tristan. Dia menolehkan kepalanya dan melihat Adira sedang berdiri dengan Yoga berada di sebelahnya.


Pak Irawan langsung mengerti bahwa Tristan sedang cemburu karena melihat Adira sedang bersama pria lain di dalam rumah.


Adira yang melihat ekspresi Tristan seperti tidak bersahabat pun sedikit mengerti bahwa, suaminya itu pasti salah paham karena dirinya sedang bersama Yoga.


Tristan pasti cemburu.


“Ayo masuk dulu. Nggak enak kalau bicara di luar rumah,” perintah pak Irawan lembut.


Tristan tampak ragu, namun akhirnya dia menurut dan ikut masuk ke dalam rumah karena tangannya di tarik pelan oleh pak Irawan.


Saat berpapasan dengan Adira di depan pintu, Tristan berhenti sejenak untuk memandang wajah istrinya itu. Wajah yang sangat Tristan rindukan.


Tatapan Adira dan Tristan saling beradu. Tatapan yang memancarkan kerinduan yang begitu besar.


Bukan hanya tatapan Tristan yang penuh kerinduan, tatapan Adira juga penuh akan rindu dan cinta kepada suaminya itu.


Pak Irawan yang mengerti perasaan keduanya pun memberikan ruang untuk mereka saling melepas rindu.


Setelah cukup lama saling bertatapan, Tristan yang memutuskan pandangan itu terlebih dahulu dan beralih menatap Yoga dengan tatapan tajam dan menusuk.


Setelah itu, Tristan berjalan mengikuti pak Irawan yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


Yoga yang bisa melihat aura tidak bersahabat dari Tristan akhirnya memilih pamit karena tidak mau ikut campur dengan urusan rumah tangga Adira.


Yoga sedikit memahami situasi. Bisa Yoga tebak bahwa lelaki yang datang ke rumah Adira itu mungkin saja suami Adira, dia merasa tidak terima dan cemburu jika istrinya sedang bersama lelaki lain di dalam rumah.


Seandainya Yoga ada di posisi Tristan, mungkin Yoga akan merasakan hal yang demikian.


Setelah Yoga berpamitan, Adira juga mendudukkan dirinya di sebelah papanya.


Posisi Adira dan Tristan saat ini adalah saling berhadapan.


Cukup lama mereka terdiam hingga suara bu Dewi dari arah dapur berhasil memecahkan keheningan yang terjadi.


“Ra, papa udah pulang belum? Sarapannya udah jadi nih,” tanya bu Dewi agak keras.


Dia berjalan mendekat ke ruang tamu dan sangat terkejut ketika melihat Tristan sudah duduk di sofa ruang tamu rumahnya.


“Tristan!” pekik bu Dewi tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


“Iya, ini aku, Ma,” jawab Tristan santai sambil tersenyum tipis.


“Mau apa kamu ke sini? Mau nyakitin Adira lagi? Belum cukup kamu nyakitin Adira?” tanya bu Siska ketus.


Saat Tristan ingin membuka mulutnya untuk bicara, pak Irawan sudah memotongnya terlebih dahulu.


“Tenang dulu, Duduk dulu di sini,” perintah pak Irawan dengan nada tegasnya.


Bu Dewi menurut dan segera duduk di pinggiran sofa yang di duduki oleh Adira dan pak Irawan.


“Sebelumnya, Papa mau meminta maaf karena tidak memberitahukan keberadaan Adira kepada kamu karena Adira yang tidak ingin memberitahukannya dulu,” ucap pak Irawan membuka pembicaraan.


Adira dan bu Dewi masih setia mendengarkan.


Kemudian, pak Irawan melanjutkan ucapannya lagi.


“Kalau begitu, papa akan kasih waktu kamu untuk berbicara empat mata dengan Adira. Semoga permasalahan kamu sama Adira bisa segera terselesaikan,” sambung pak Irawan lagi.


Tanpa menunggu jawaban dari Tristan, pak Irawan segera menarik bu Dewi untuk masuk dan memberikan waktu untuk pasangan suami istri yang masih dalam mode perang itu.


Bu Dewi ingin menolak, namun melihat ekspresi suaminya yang begitu tegas, membuat nyali Bu Dewi menciut. Akhirnya bu Dewi hanya bisa menurut dan mengikuti suaminya untuk masuk.


Setelah kepergian kedua orangtuanya, Adira dan Tristan masih saling diam dan menatap satu sama lain.


Adira berusaha membuat jarak, Tristan mengikis jarak. Mereka melakukan itu sampai berulang kali hingga Adira sudah mentok di pinggiran sofa dan tidak bisa lagi menghindar.


Tristan segera meraih pinggang Adira hingga tubuh mereka saling menempel.


Adira langsung membelalak tak percaya dengan sikap Tristan yang bersikap seolah tidak punya dosa karena memeluk dirinya.


“Aku sangat merindukanmu, Sayang,” ucap Tristan sambil berbisik di telinga Adira.


Adira sampai bisa merasakan nafas Tristan yang menyapu lembut kulitnya.


Bulu kuduk Adira langsung meremang.


“Adira ... Aku sudah tidak tahan biak harus berjauhan terlalu lama dengan kamu. Apapun akan aku lakukan agar bisa mendapat maaf dari kamu,” ucap Tristan sambil menatap mata Adira dengan sayang.


Jari-jarinya sibuk menyelipkan anak rambut milik Adira.


Adira semakin salah tingkah seperti anak remaja yang baru saja jatuh cinta.


Adira sampai tak sanggup menatap mata Tristan yang berusaha untuk menatapnya.


Entah mengapa, rasa egois untuk selalu menghindar dari Tristan seakan hilang begitu saja. Di bahkan ingin melakukan sesuatu yang lebih karena bisikan Tristan tadi yang berhasil membangunkan sesuatu dalam dirinya.


Mungkin karena dirinya kurang belaian selam tiga bulan terakhir ini. Dan saat mendapat sentuhan dari suaminya, Adira langsung bereaksi.


“Adira ... Maukah kau kembali denganku dan menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di antara kita? Apapun akan aku lakukan agar kamu bisa segera memaafkanku,” ucap Tristan lembut dan masih setia menatap wajah ayu Adira.


“Oh iya, bagaimana dengan kabar anak kita? Bolehkah aku mengelusnya?” ucap Tristan tersenyum sendu mengingat bahwa ada anaknya di dalam rahim Adira yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.


Adira langsung menatap wajah Tristan sepenuhnya. Ini adalah hal yang Adira inginkan sejak dulu dari Tristan, yaitu mengelus lembut perutnya yang terdapat darah dagingnya.


Mata Adira langsung berkaca-kaca dan tanpa ragu Adira mengangguk mengizinkan Tristan mengelus perutnya.


Pelan-pelan Tristan mengelus perut Adira yang sudah membesar itu. Dengan sangat lembut dia menyentuhnya.


Tanpa diduga, dari dalam perut Adira Tristan dapat merasakan adanya pergerakan.


Tristan langsung mengangkat kepalanya menatap Adira dengan tatapan penuh binar kebahagiaan.


“Anak kita bergerak di dalam sini?” ucap Tristan tidak percaya dengan apa yang dia rasakan.


Adira tersenyum dan mengangguk mengiyakan.


“Anak kita kayaknya seneng karena mendapat sentuhan dari ayahnya,” ucap Adira sambil tersenyum sendu menatap Tristan, suaminya.


Tristan kembali mengelus perut Adira yang masih terbungkus dress yang Adira kenakan. Lagi-lagi Tristan merasakan pergerakan dari anaknya yang masih berada di dalam rahim Adira.


Sungguh, ini adalah suatu hal yang tidak Tristan duga akan terjadi. Begitu besar ciptaan Tuhan karena mampu menciptakan manusia dari dalam tubuh ibunya.


Tristan merasa bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi ayah.


“Kakak kapan sampai di Solo?” tanya Adira yang mulai terbiasa.


“Tadi malam. Aku mau langsung ke sini tapi takut ganggu karena udah malam,” ungkap Tristan menjelaskan.


Tangannya sudah berpindah lagi untuk memeluk pinggang Adira.


“Oh ya? Nginep di mana? Kenapa nggak nginep di sini aja?” tanya Adira tak percaya.


“Emang kamu bakal izinin aku buat nginep di sini?” tanya Tristan memastikan.


Adira tampak diam dan tidak menanggapi pertanyaan Tristan.


Adira malah berperang dalam hatinya karena merasa bodoh telah mengatakan hal yang seharusnya tidak dia ucapkan.


“Kan Gue lagi dalam masa kabur, kenapa Gue bisa sesantai itu menerima kak Tristan lagi?” gumam Adira dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri.