
Matahari belum menampakkan diri sepenuhnya. Namun, Adira sudah terbangun karena rasa mual di perutnya yang datang tiba-tiba.
Dia berlari menuju kamar mandi untuk menumpahkan semua isi perutnya.
“Hoek! Hoek!”
Adira memuntahkan isi perutnya dengan susah payah. Hanya ada cairan bening yang keluar dari mulut Adira.
Adira membasuh mulutnya dan berjalan lemas menuju ranjang lagi.
Namun, saat baru sampai di ambang pintu, Adira merasa perutnya bergejolak lagi.
Akhirnya, dia memilih berbalik lagi untuk mengeluarkan isi perutnya.
“Hoek! Hoek!”
Suara Adira terdengar hingga luar.
Dan itu membuat Tristan khawatir. Dia segera bangun dan menghampiri Adira.
Saat sudah sampai kamar mandi, Tristan melihat Adira membungkuk sambil muntah-muntah.
Tristan membantu menepuk-nepuk punggung Adira agar lebih enakan.
Setelah reda, Tristan segera bertanya karena merasa khawatir.
“Kamu nggak enak badan, Ra? Habis ini kita ke dokter,” ucap Tristan khawatir.
Dia segera menggendong Adira ala bridal style menuju ranjang.
Karena sudah merasa tak berdaya , Adira menurut saja.
Tristan segera mengambilkan air hangat untuk Adira menuju dapur.
Setelah mengambilnya, Tristan segera memberikannya kepada Adira.
“Minum dulu, Sayang.” ucap Tristan perhatian.
Adira menurut dan meminum air hangat tersebut.
Benar saja, kondisi perut Adira menjadi lebih baik dan tidak terlalu mual.
“Kita ke dokter ya, Ra. Aku nggak mau kamu kenapa-napa,” ucap Tristan lagi.
“Iya, aku sih nggak tahu ini beneran atau hanya masuk angin biasa ya. Tapi aku belum kedatangan tamu bulan ini,” ucap Adira hati-hati sambil menatap Tristan.
“Haaa! Beneran?! Ya udah, kita harus segera periksa sekarang juga,” ucap Tristan tak percaya namun terlihat begitu antusias dan bahagia.
“Tapi jangan berharap terlalu tinggi ya. Aku belum yakin seratus persen soalnya,” ucap Adira murung.
Melihat Tristan yang terlihat bahagia,
Adira semakin merasa bersalah jika dirinya tidak benar-benar hamil.
“Iya ... Apa pun hasilnya nanti, aku akan terima dengan lapang dada,” jawab Tristan lembut dan memeluk Adira.
Tristan juga mengecup kepala Adira dengan sayang.
...........
Adira dan Tristan benar-benar datang ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Adira.
Adira sudah mendaftarkan diri dan di sarankan untuk konsultasi dengan dokter kandungan langsung saja.
Adira awalnya menolak, takut dugaan dirinya hamil salah.
Tapi, Tristan selalu bisa meyakinkan Adira.
Adira sampai lupa mengecek dengan alat tes kehamilan.
Sesuatu yang dulu tak pernah Adira lupakan sejak pagi.
Tapi anehnya, saat dirinya merasakan gejalanya, Adira malah lupa menggunakan alat tes kehamilan dahulu dan malah langsung datang ke rumah sakit.
Tidak berapa lama, nama Adira di panggil untuk masuk ke dalam ruangan.
Adira segera berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam ruangan yang dimaksud, ditemani oleh Tristan.
“Silahkan, Bu.” sapa sang dokter ramah menyuruh keduanya untuk masuk.
Adira mengangguk dan tersenyum.
“Langsung berbaring aja ya, Bu,” ucap sang dokter yang sudah melihat pasiennya datang.
Adira menurut dan membaringkan tubuhnya di atas brankar.
Kemudian, sang dokter menyiapkan semua peralatannya.
Adira akan langsung di cek kandungannya dengan USG.
Dokter terlihat mengolesi gel ke perut bagian bawah Adira.
Setelah itu, dia mulai memeriksa keadaan di dalam rahim Adira.
Dokter tersenyum saat sudah menemukan apa yang dia cari di dalam rahim Adira.
Kemudian dokter berkata.
“Selamat ya, Pak, Bu.” ucap sang dokter yang masih sibuk menggerakkan alat di perut Adira.
Adira menatap Tristan dengan mata kedip-kedip lucu.
Tristan yang ditatap seperti itu langsung bertanya pada sang dokter.
“Selamat gimana maksudnya ya, Dok?” tanya Tristan penasaran.
“Istri bapak sedang hamil, usianya sudah menginjak tiga minggu, Pak,” ucap dokter memberitahu.
Tristan dan Adira tidak bisa berkata-kata lagi karena merasa bahagia sekaligus terharu.
Mata Tristan sampai berkaca-kaca mengetahui bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.
“Selamat ya, Sayang. Ini adalah buah hasil dari usaha kita sekian lama,” ucap Tristan sambil berjalan mendekati Adira dan mengecup lembut dahi Adira.
Adira tersenyum bahagia melihat Tristan yang begitu bahagia atas kehamilannya.
“Iya, selamat juga buat Kakak, karena sebentar lagi akan menjadi Ayah,” jawab Adira tak kalah bahagia.
Dokter yang melihat itu hanya bisa memaklumi sepasang suami istri yang sedang bahagia itu.
“Kita lanjut pemeriksaannya lagi ya, Pak?” tanya dokter dengan senyum meledek.
Tristan mengangguk dan tersenyum.
“Kondisi janin sangat sehat, saran saya cuma perbanyak minum air putih dan makan makanan bergizi ya, Bu. Terus nanti akan saya kasih vitamin agar mualnya sedikit berkurang,” ucap dokter panjang lebar.
Pemeriksaan akhirnya selesai, Adira dan Tristan keluar rumah sakit dengan hati bahagia karena penantiannya selama dua tahun ini berujung tak sia-sia.
“Kamu nggak boleh melakukan pekerjaan rumah terlalu berat, kamu nggak usah masak mulai sekarang, kamu harus istirahat yang cukup,” omel Tristan panjang lebar saat keluar dari rumah sakit.
Adira memutar bola matanya malas.
“Aku hanya hamil, nggak sakit Kak,” ucap Adira kesal karena dia diperlakukan seperti orang yang sakit.
Tidak boleh ini dan itu.
“Ya pokoknya, kamu nggak boleh terlalu capek,” ucap Tristan lagi.
“Iya suamiku Sayang ....”
Adira memilih menurut dan mengalah.
.........
Adira dan Tristan tidak pulang ke rumahnya, melainkan pulang ke rumah orang tua Adira.
Sesuai perkataannya, Adira masih enggan pulang dan ingin menginap di rumah orang tuanya dulu.
Tristan memilih mengalah dan menuruti semua keinginan Adira.
Takutnya itu adalah ngidam, dan bila tidak terpenuhi, takutnya anaknya akan ileran.
“Hai, Ma. Apa kabar di sana?” ucap Adira saat sambungan video call telah tersambung.
Wajah sang mama terlihat jelas di dalam benda persegi tersebut.
Adira sengaja menghubungi mamanya untuk memberitahukan berita bahagianya.
“Kabar baik, Ra. Lho? Kamu kok di rumah mama si?” tanya bu Dewi di seberang sana saat menyadari Adira seperti sedang berada di rumahnya.
“Emang iya. Adira ngidam pengen nginep di rumah Mama,” ucap Adira memberi kode.
“Kamu bilang apa? Ngidam? Kamu ngidam? Kamu hamil?!” pekik bu Dewi kencang.
Dia merasa bahagia di seberang sana.
Adira mengangguk dan tersenyum meyakinkan.
“Berarti sebentar lagi, Mama bakalan punya cucu?” tanya bu Dewi lagi masih tidak percaya dengan kabar bahagia yang Adira beritahukan.
Senyumnya mengembang sempurna karena saking bahagianya.
“Iya, Ma. Bentar lagi Mama bakalan jadi Oma dan papa bakalan jadi opa,” ucap Adira lagi.
“Mama seneng banget. Pokoknya kamu harus jaga kesehatan, nggak boleh terlalu capek, nggak boleh kerja terlalu berat, makan makanan yang bergizi ....”
“Iya, iya ... Nggak Mama nggak kak Tristan sama aja, cerewet banget,” ucap Adira memotong ucapan mamanya.
“Bener dong. Itu demi kebaikan kamu dan anak kita juga kan,” ucap Tristan yang ikut menyela pembicaraan anak dan ibu tersebut.
Dia ikut menengok ke ponsel yang Adira genggam agar wajahnya terlihat di seberang sana.
“Tuh dengerin suami kamu. Hai Tristan, gimana kabar kamu di sana?” tanya bu Dewi menyapa.
“Baik, Ma. Mama kapan pulang? Seneng banget jalan-jalan kayaknya?” ucap Tristan terkekeh dan bermaksud meledek.
“Kamu ya, Mama tuh di sini kerja, nggak jalan-jalan. Mama sama papa sebenarnya sudah pengen pensiun, tapi karena kamu maupun Adira belum mau menggantikan, ya udah deh, Mama sama papa yang harus mengurus perusahaan,” ucap bu Dewi panjang lebar.
“Belum saatnya, Ma. Kak Tristan aja masih kewalahan ngurusin bisnis keluarganya,” ucap Adira membela.
“Iya, mama minta maaf. Mama nggak bermaksud apa-apa. Hanya sedikit menyindir,” ucap mama tertawa menggelegar.
Dia hanya bercanda mengucapkan itu.
Tristan dan Adira juga ikut tertawa melihat tingkah mamanya.
Adira sampai geleng-geleng kepala.
“Mau nyindir tapi bilang-bilang, cuma Mama orangnya,” ucap Adira sambil terkekeh.