Treat You Better

Treat You Better
Gadis nakal.



Akhirnya Tristan dan Opa duduk saling berhadapan.


Tristan menatap was-was kepada opa Abi. Sedangkan opa yang ditatap seperti itu terlihat begitu datar dan menyeramkan.


Suasana di teras belakang terasa begitu mencekam. Suasana berubah menjadi tegang.


Belum ada suara. Opa Abi juga masih enggan untuk bersuara. Namun tatapan matanya begitu tajam menatap Tristan.


Untuk membuktikan kesungguhannya, Tristan menatap balik opa Abi dengan tatapan lembut.


Dia tidak perlu takut karena dia memang tidak pernah main-main dengan Adira.


Hingga beberapa menit berlalu, belum juga ada suara. Tristan yang sudah tidak tahan akhirnya buka suara.


“Opa mau ngomong apa sama aku?” tanya Tristan sopan dan dengan nada lembut.


“Iya.. langsung aja opa. Biar nggak tegang begini jadinya” rengek Adira yang kesal dengan ulah opanya.


“Hahahaha”


Suara tertawa opa menggelegar di seantero rumah Adira. Oma juga ikut tertawa.


Pak Irawan, Adira dan Tristan menautkan alisnya pertanda bingung.


Bukannya tadi opa seperti mengibarkan bendera perang? Kenapa sekarang malah tertawa?. Batin Tristan.


“Duuuh .. opa mau ngerjain kak Tristan pasti kan” ucap Adira ikut tergelak.


“Tegang banget kamu tris. Santuy.. Opa nggak semenakutkan itu” ucap lelaki tua itu dengan masih menahan tawa.


Tristan menghembuskan nafasnya lega. Dia mengira akan ada drama tidak direstui oleh Oma opa. Ternyata pikirannya salah lagi.


“Opa sama Oma setuju banget kalo kamu nikah sama Adira. Opa udah tau seluk beluk Hendra, papa kamu sejak dulu.” Ucap opa setelah berhenti dari tertawa.


Pak Irawan menggelengkan kepalanya melihat tingkah papanya.


Pak Irawan mengira, Tristan akan ditanyai banyak pertanyaan seperti istrinya dulu. Syukurlah jika itu tidak terjadi.


“Iya pa. Aku percaya sama Tristan dia bisa jaga Adira” ucap pak Irawan tersenyum sendu.


“ooooh.. co cweet anet cih opa cama papa” ucap Adira layaknya anak kecil.


“Oma percayakan Adira sama kamu jaga dia baik-baik. Kalau Adira nakal, tinggal kamu jewer aja kupingnya” ucap Oma menyahuti.


Adira mencebik kesal. Sebenarnya yang cucunya itu Adira apa Tristan? Bisa-bisanya Oma memihak Tristan daripada Adira.


“pasti itu Oma. Tristan nggak akan biarin Adira jadi gadis nakal” jawab Tristan tersenyum penuh kemenangan.


“iiissh... Apaan sih kak” ucap Adira kesal.


“Nanti kalo udah nikah, jangan sebut gadis lagi. Karena pasti bakal di jebol sama kamu” ucap Oma begitu frontal.


Opa sudah memelototi Oma. Sedangkan papa hanya geleng-geleng kepala.


Adira merasa pusing melihat tingkah Oma dan opanya. Dia mengusap wajahnya kasar agar tegang diwajahnya sedikit mengendur.


“Oma bisa aja” ucap Tristan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Oma, kita ke depan dulu deh. Lama-lama disini bisa bahaya” ucap Adira ingin melarikan diri.


“Kamu mengatai Oma opa kamu berbahaya?!!” pekik pak Irawan mengompori.


Huufft....


Papa... Papa..


Kenapa sekarang dia seperti tidak membela ku sama sekali???!.


“Aku tinggal dulu ya Opa, Oma. Nanti kita ngobrol lagi” ucap Adira sambil menarik tangan Tristan agar mengikutinya. Dia tidak menghiraukan perkataan sang papa.


Ibarat masuk telinga kanan, langsung keluar telinga kiri. Wkwk.


Tristan pun menurut dan berpamitan masuk kedalam dahulu kepada para orangtua.


Setelah kepergian Adira, pak Irawan akhirnya membuka suaranya kembali.


“Huufft... Adira sekarang sudah beranjak dewasa. Nanti setelah menikah, dia punya tempat sendiri untuk bersandar. Sudah bukan lagi aku” ucap pak Irawan. Matanya sudah berkaca-kaca.


“kamu jangan lebay deh. Dia kan masih bisa ketemu kamu. Walau udah nikah, tetep aja kamu bapaknya” ucap Oma menenangkan.


“Tapi Adira bakal pergi ninggalin aku ma” rengek pak Irawan pada ibu yang telah mengandungnya itu.


Opa dan Oma terlihat menghembuskan nafasnya.


“Dia nggak pergi Wan. Dia masih anak kamu. Cuma tanggung jawab kamu yang berpindah kepada suaminya” ucap opa juga menenangkan.


Masalah seperti itu Oma dan opa sudah khatam. Walau mereka tidak punya anak perempuan, namun mereka mengerti perasaan orangtua yang ditinggal anaknya setelah menikah.


“Kamu nggak boleh gitu. Ntar kalo Adira udah nikah, tinggal bikin adik lagi buat Adira. Gampang... Masalah selesai” ucap Oma begitu entengnya.


Seakan membuat bayi itu seperti membuat adonan roti. Tinggal di oven langsung jadi.


“Mama ngomong apa sih..” kesal pak Irawan karena suasana yang semula seperti sedang memutar musik sedih sekarang berganti musik konyol.


Setangguh apapun seorang ayah di depan anaknya, dia tetap tidak bisa bersikap baik-baik saja di depan orangtua dan istrinya.


Tempat seorang ayah tangguh dan kuat berkeluh kesah.


...........


Adira sudah berada di kamarnya tepat pukul sepuluh malam.


Tristan dan Amanda sudah berpamitan sejak satu jam yang lalu.


Tentunya setelah makan malam bersama diadakan. Mereka juga ikut bergabung.


Mereka sudah akrab dengan keluarga Adira.


Tristan disambut begitu hangat oleh keluarga nya. Begitu juga Amanda.


Memang dasarnya sudah mengenal pak Hendra dan Bu Siska sejak lama.


Mereka percaya, Tristan anak baik-baik dan dari keluarga baik-baik.


Adira merebahkan dirinya di atas kasur setelah membersihkan diri.


Sebentar lagi Adira akan menikah dengan Tristan. Adira tersenyum bahagia mengingat itu.


Hari-harinya akan selalu dilalui bersama Tristan. Mulai dari pagi hingga malam menjelang.


Keraguannya untuk menikah muda sudah menguap begitu saja.


Tentunya atas perjuangan Tristan yang tiada henti memberi pengertian kepadanya.


Soal bekerja, Adira sudah tidak mempermasalahkan nya. Dia sudah madep mantep untuk jadi istri yang baik di rumah.


Jantung adira selalu berdegup tak karuan mengingat acara yang akan dilaksanakan besok.


Belum apa-apa Adira sudah merasa gugup.


Akhirnya dia memilih memejamkan mata dan segera menuju ke alam mimpi.


Tentunya mimpi yang indah untuk Adira .


..........


Di tempat lain, di kediaman rumah sindy.


Kendrick tampak mengigau memanggil-manggil nama ‘daddy’ sejak tadi.


Sindy begitu khawatir. Suhu tubuh Ken juga tinggi saat di tensi.


Memang Ken sejak kemarin merengek meminta bertemu dengan seseorang yang disebut daddy itu.


Sindy tidak mungkin mengabulkan permintaan Ken begitu saja karena Tristan sudah mengatakan tidak akan membantu nya lagi.


Bukan karena tidak punya rasa belas kasihan, namun karena tidak mau membohongi Ken terus-menerus.


Akhirnya sindy memutuskan untuk membawa ken ke rumah sakit.


Setelah berada di rumah sakit dan sudah ditangani, suhu tubuhnya kembali normal lagi setelah mendapatkan cairan infus.


Namun bibir mungil itu tidak pernah berhenti memanggil kata Daddy.


Sindy semakin merasa bersalah kepada Ken.


Dia juga tidak menginginkan kehidupan tanpa suami. Tapi takdirnya seakan malah membuat dia seperti ini.


Dengan sangat terpaksa, sindy menghubungi Tristan untuk meminta bantuan.


Dokter juga mengatakan bahwa dia harus mempertemukan dengan ayahnya. Agar Ken tidak mengigau terus menerus.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku mau ngucapin banyak terima kasih buat kalian para readers setia.


**jangan lupa dukung novel aku dengan like dan comment ya😊


hadiah bunga atau hati juga boleh hehehe**.