Treat You Better

Treat You Better
I love you more!



 


Akhirnya mobil yang Tristan kendarai telah sampai di depan rumah Adira pukul tiga sore. Niat hati ingin menemani Adira , tapi yang di dapat hanya makan hati.


Tristan hanya menghentikan mobil tanpa menyuruh Adira untuk turun. Adira menghela nafas lalu menghembuskannya pelan.


“Kak, kita harus bicara. Kakak turun dulu ya.” Pinta Adira dengan suara lembut. Matanya fokus menatap Tristan yang bibirnya mencebik dan enggan menatapnya.


“Nggak perlu”. Jawab Tristan ketus.


Adira menghela nafas lagi. Pasti akan butuh waktu lama untuk bisa membujuk Tristan.


“Kita kemana dulu gitu? Biar kita bisa bicara .” ucap Adira lagi dan masih mempertahankan nada suaranya yang lembut.


“Ke rumah aku.” Putus Tristan begitu saja.


Adira berpikir sejenak. Mungkin Tristan merasa kurang nyaman jika sedang ada masalah dengannya dan menyelesaikannya di rumah Adira. Kurang leluasa mungkin.


Tapi dirinya juga akan merasakan hal yang sama bukan? Kurang leluasa. Tapi Demi kebaikan dan kesejahteraan rakyat , eh cinta maksudnya, itu tidak masalah bagi Adira. Dia harus segera bicara dan menyelesaikan semua ini agar tidak terjadi kesalahpahaman berlanjut.


“Oke. Ke rumah Kakak kalo gitu”. Ucap Adira penuh keyakinan. Tak mengapa bukan? Dia harus berjuang untuk cinta. Jadi akan Adira usahakan.


Tristan pun segera menginjak pedal gas dan melaju lebih ke depan lagi untuk mencapai rumahnya. Hanya lima menit, akhirnya mereka sampai.


Setelah mobil terparkir sempurna di carport, Tristan keluar dan berjalan lebih dulu. Adira yang melihat itu hanya bisa mendengus kesal dengan sikap Tristan yang sudah marah. Dia pasti minta dibujuk.


Tidak berapa lama, Adira berhasil menyusul Tristan. Namun keadaan rumah begitu sepi. Hanya ada asisten rumah tangga saja. Dia berpikir, Amanda pasti belum pulang dari rumah sakit.


“Tanten Siska sama Om Hendra kemana kak?.” Tanya Adira membuka suara.


“Belum pulang”. Jawab Tristan singkat. Adira mengangguk tanda mengerti . Tristan mendudukkan dirinya di sofa depan tv. Adira juga ikut duduk disana.


“Oke, kita bicara sekarang”. Ucap Adira dengan nada tegas. Tristan ingin membuka suara namun urung, saat ada yang memanggil nama Adira begitu saja.


“Adira ... Lo disini?.” Tanya Amanda yang baru saja sampai dirumahnya.


Adira melirik Tristan yang ada di hadapannya sekilas. Dan menatap Amanda lagi.


“Iya. Ada yang harus di selesaikan.” Jawab Adira melirik lagi kepada Tristan. Amanda memperhatikan abangnya. Ekspresi abangnya seperti sedang mengibarkan bendera perang. Mungkin ada perang dingin diantara keduanya.


“Ooooooh, oke gue tau. Kalau gitu gue tinggal dulu ke kamar. Selamat membujuk anak yang sedang marah Ra...” ucap Amanda sambil tersenyum mengejek dan segera berlalu menaiki tangga menuju kamarnya. Adira hanya terkekeh menanggapi.


“Khemm..”. suara deheman Tristan menggema di ruangan itu. Karena sejak tadi hanya diam yang menemani.


“Kita jangan bicara disini.” Ucap tristan sambil menatap Adira dengan pandangan entahlah.


“Jadi? Dimana?.” Jawab adira sedikit malas. Karena dari tadi belum bisa berbicara ke inti permasalahannya.


“Ikut aku”. Ucap Tristan yang segera menuju ruangan yang di maksud. Adira hanya menurut saja. Takut nggak kelar-kelar  urusannya.


“Kamar?” tanya Adira memastikan.


Tristan tidak menjawab dan langsung menyuruh Adira masuk.


“Masuk!” perintah Tristan. Lagi-lagi Adira hanya bisa menurut.


Tristan segera menutup pintunya dan berjalan melewati Adira begitu saja. Dia memposisikan dirinya di depan jendela kamar nya dan membelakangi Adira.


Adira masih berdiri tidak jauh dari pintu. Sedangkan Tristan sudah berdiri di depan kaca jendela sambil berkacak pinggang.


“Ada yang mau kamu jelasin ke aku?”. Tanya Tristan to the point.


Huuuft... Adira menghembuskan nafasnya lagi. Merasa lelah dengan sikap ke Kanakan Tristan.


“Mas nggak usah dengerin apa kata Elvan. Karena hati aku ya kata aku. Aku yang rasain dan aku yang memahami apa yang aku rasakan.” Ucap Adira pelan-pelan menjelaskan. Tristan masih enggan untuk berbalik dan menatapnya. Dalam hati Tristan ingin tertawa. Pasalnya saat Adira menyebutkan 'hati aku, ya kata aku' seperti menirukan iklan shampo di TV. Dasar korban iklan!.


“Mas Tristan buka pelampiasan seperti yang Elvan katakan. Justru karena mas, aku jadi cepet sembuh dari patah hati. Mas yang bantu aku, yang selalu ada buat aku.”. ucap Adira mencoba menjelaskan lagi.


“Mas tau nggak obat patah hati paling mujarab tuh apa?”. Tanya Adira berusaha membuat Tristan bersuara.


“Nggak”. Jawab tristan ketus.


“Obat patah hati paling mujarab adalah jatuh cinta lagi. Dan itu benar terbukti. Aku benar-benar dibuat sembuh sama mas sayang.”. sambung Adira dengan nada manja . Tristan masih pada posisi yang sama. Dia ingin Adira membujuknya lebih lama lagi. Dia sangat suka suara Adira yang sedang membujuknya. Begitu lembut dan menenangkan.


Karena kehabisan kata-kata, Adira berpikir sejenak. Apa yang harus dia lakukan.


Ting!


Seperti ada lampu neon menyala di atas kepala Adira saat dia menemukan ide yang sangat brilian dan di jamin ke efektifannya.


Adira berjalan mendekat pada Tristan dan langsung memeluknya dari belakang. Tristan tersentak dengan perlakuan Adira yang tiba-tiba.


“Nggak mau balik badan dan liat muka aku yang ngangenin ini ya?” ucap Adira dibalik punggung Tristan. Bahkan Tristan bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Adira.


“Yakin nih masih mau merajoook”. Tanya Adira lagi dengan nada manja. Sungguh, pertahanan Tristan runtuh begitu saja.


Adira selalu pandai dalam membujuk Tristan yang sedang marah. Tristan langsung membalikkan tubuhnya menghadap Adira. Bibirnya masih cemberut. Adira merasa gemas dengan itu. Mungkin sedikit memberi pelajaran untuk bibir cemberut tidak masalah.


Adira segera mengalungkan tangannya di leher Tristan dan matanya tidak pernah lepas menatap Tristan. Adira tersenyum puas karena Tristan hanya menurut. 'kalau sudah soal sosor-menyosor aja Lo langsung luluh' ucap Adira tertawa dalam hati.


Perlahan Adira memajukan wajahnya mendekati wajah Tristan. Saat wajah Adira sudah semakin dekat, Tristan memejamkan matanya. Adira tersenyum puas. Akhirnya dia bisa mengerjai Tristan. Saat jarak kedua wajah mereka tinggal lima Senti, Tritan menunggu Adira menciumnya. Namun nihil. Adira belum menyentuh bibirnya sama sekali.


Akhirnya Tristan membuka matanya kembali dan mendapati Adira sedang tersenyum mengejek dan rautnya sangat puas karena telah berhasil mengerjai dirinya.


Menyadari Tristan telah membuka mata, Adira segera menjauhkan wajahnya dan tertawa sangat puas dengan tingkah Tristan. Sedangkan yang diketawai hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan merasa malu.


“Masalah sosor-menyosor aja baru kakak luluh”. Ucap Adira disela tawanya.


Tristan tidak bisa membiarkan ini. Karena ketanggung malu, Tristan segera mendekap Adira dan mencari benda kenyal yang selalu menjadi candunya. Tristan segera menyesapnya dengan kasar. Adira sangat terkejut dengan serangan balik Tristan. Dia juga berusaha menolak dan mendorong tubuh Tristan dengan kuat. Namun. Kekuatannya tetap kalah oleh tubuh kekar tristan. 'apakah ini yang di namakan senjata makan tuan?' Rutuk Adira dalam hati.


Tristan masih betah memainkan bibir Adira. Namun tak kunjung mendapat balasan, Tristan menggigit bibir bawah Adira pelan.


“Ahh.” Pekik Adira mengaduh kesakitan. Tristan segera menghentikan aksinya dan menatap manik Adira dalam.


“Gimana? Makanya jangan ngerjain aku.” Ucap Tritan penuh kemenangan. Adira hanya bisa mendengus sebal.


Tristan merengkuh pinggang Adira lagi. Dan akan melanjutkan aksinya kembali.


“I love you Adira Belvina”. Ucap Tristan menatap mata Adira lekat.


“I love you more”. Jawab Adira dengan senyum manisnya.


Lalu pertautan itu kembali terjadi. Ciuman yang begitu lembut. Namun lama-kelamaan berubah menuntut. Adira mencoba mengimbangi. Ciuman Tristan lama-kelamaan semakin menuntut.


Bahkan tanpa sadar entah sejak kapan, keduanya sudah terbaring di atas ranjang dan bergulat dengan ciumannya.


Adira melepaskan pertautan itu lebih dulu untuk meraup oksigen  yang menipis di paru-paru nya. Pandangan mereka kembali beradu. Nafas keduanya sama terengah-engah.


“I want you, Adira”. Ucap Tristan dengan suara berat dan tatapan sayu menahan hasrat. Adira menelan salivanya mendengar suara Tristan yang begitu seksi. Hatinya mengatakan menolak, namun tubuhnya seakan kebalikannya.


Adira akui, dia sudah terbuai dengan belain Tristan.


 


note: babang tamvan Tristan.