
Hari ini, Amanda akan berkunjung ke rumah kakaknya.
Dia akan datang bersama Doni.
Oh iya, setelah mereka jadian, hubungan keduanya semakin dekat dan kedua orang tua sudah mengetahui hubungan keduanya.
Mereka langsung menyetujui hubungan Doni dan Amanda.
Pak Irawan dan bu Siska sangat bahagia akan hal itu. Mereka percaya, bahwa Doni bisa bertanggung jawab dan menjaga anaknya kelak.
Doni sudah mempunyai pekerjaan yang tetap.
Dia memiliki beberapa cabang restoran atas kerja kerasnya sendiri.
Mereka juga meminta agar hubungan keduanya segera di resmikan.
Pada akhirnya, Doni dan Amanda sudah bertunangan satu minggu yang lalu atas desakan kedua orang tuanya.
Namun dibalik itu semua, Doni dan Amanda melakukannya tanpa paksaan.
Justru mereka sangat bahagia, hubungannya di restui oleh semesta.
“Kita berangkat sekarang aja ya, Man,” ucap Doni setelah mereka berada di dalam mobil untuk menuju rumah Tristan.
“Iya. Aku udah kangen banget sama kak Adira. Nggak sabar pengen ketemu nih,” jawab Amanda antusias dengan mata berbinar dan senyum merekahnya.
Setelah memasang seatbelt nya, Doni segera melajukan mobilnya menuju perumahan elit yang berada di ibu kota itu.
Lagu Teman bahagia yang di populerkan oleh penyanyi Jaz mengalun merdu menemani perjalanan mereka.
Mereka bernyanyi bersama di dalam mobil karena Doni sengaja memutar musik untuk membuatnya lebih nyaman dalam berkendara.
“Percaya, aku takkan kemana-mana
Aku kan selalu ada.
Temani hingga hari tua,”
Doni bernyanyi dengan suara yang menurut Amanda, itu sangatlah merdu.
Amanda tercengang, dia tidak menyangka bahwa calon suaminya mempunyai suara yang begitu enak di dengar.
“Kamu kenapa? Kok diam?” tanya Doni.
Melihat Amanda bungkam, Doni mengernyit bingung.
“Suara Abang merdu banget. Ini kaya liat konser perdana,” ucap Amanda masih dalam keterpanaanya.
“Nggak usah berlebihan deh.” jawab Doni tersenyum merona dengan pujian yang Amanda berikan.
Semenjak menjalin hubungan dengan Amanda, Doni sudah tidak se alay dulu lagi.
Mungkin karena Tuhan telah menurunkan bidadari dari kahyangan, sikap Doni yang absurd perlahan menghilang.
Dia berubah menjadi cowok kalem dan cool. Itu justru menambah poin plus untuk Doni.
Dia semakin banyak disukai oleh para wanita di luar sana.
Amanda sampai harus menahan cemburunya karena ulah wanita ganjen itu.
“Udah sampai.” ucap Doni.
Dia sudah memberhentikan mobilnya di carport yang tersedia di rumah Tristan dan Adira.
Amanda segera tersadar dan tersenyum. Lalu dia turun dari mobil bersama dengan Doni.
Mereka berjalan beriringan memasuki rumah yang sering mereka kunjungi seminggu sekali itu.
Tanpa mengetuk pintu, Amanda dan Doni langsung masuk begitu saja ke dalam rumah.
Anggap saja rumah sendiri🤭
“Eh ... Ada Neng Amanda. Ayo, masuk Neng.” ucap teh Ratih menyapa.
Amanda dan Doni tersenyum dan mengangguk.
Mereka duduk di ruang keluarga. Amanda segera mengambil remote dan menyalakan televisi yang berada di ruangan tersebut.
Tidak lama kemudian, Adira terlihat menuruni tangga dan melihat kedatangan Doni dan Amanda.
Adira tersenyum bahagia.
“Kalian udah lama datengnya?” tanya Adira setelah sampai di sofa yang Amanda dan Doni duduki.
Amanda dan Doni tersenyum ke arah Adira.
“Baru aja, Kak. Bang Tristan belum pulang ya?” tanya Amanda.
Oh ya, setelah resmi menjadi kakak iparnya, Amanda merubah nama panggilan untuk Adira menjadi ‘kakak’.
“Belum. Bentar lagi juga pulang,” jawab Adira santai.
Dia mendudukkan dirinya di sofa yang bersebrangan dengan Doni dan Amanda.
“Azka sama Lidya kesini juga kan, Don?” tanya Adira pada Doni.
“Iya dong. Si Vian juga katanya mau kesini,” jawab Doni memberitahu.
“Emang udah balik dari Bandung ya?” tanya Amanda penasaran.
“Udah. Kemarin katanya. Urusannya udah beres sebelum satu bulan. Makanya dia pulang cepet,” jelas Doni lagi.
Amanda dan Adira kepalanya tampak magut-magut tanda mengerti.
“Assalamualaikum ....” ucap seseorang dari arah depan.
Adira tersenyum dan berdiri menghampiri suara itu.
“Waalaikum salam ....” jawab Adira sambil mengambil alih tas yang dijinjing orang tersebut lalu mencium punggung tangannya.
“Doni sama Amanda udah disini ya, Sayang?” tanya Tristan.
Adira mengangguk dan menggumamkan kata iya.
Tristan merangkul bahu Adira dan menuntunnya menuju ruang keluarga.
“Udah dateng kalian?” tanya Tristan pada dua manusia yang berada di ruang keluarga itu.
“Bagus dong. Gue mandi dulu bentar ya,” ucap Tristan lalu berjalan menaiki anak tangga.
“Pantes ... Dari tadi tuh disini kaya bau apa gitu ya ....” ucap Amanda menyindir, yang tentunya masih bisa di dengar oleh Tristan.
“Aku denger Amanda ....” ucap Tristan kesal.
Semua tergelak dengan tingkah adik dan kakak itu.
“Gue urus mas suami dulu ya. Kalian kalau mau minum, bikin sendiri.” ucap Adira lalu menyusul Tristan menuju kamarnya.
Setelah kepergian pasangan romantis se jagad raya itu, Amanda tersenyum bahagia melihat rumah tangga kakaknya berjalan dengan lancar.
“Seneng ya, liat mereka hidup bahagia.” ucap Amanda sambil menatap Doni yang ada di sebelahnya.
“Iya ... Aku juga mau, nanti kita menjadi keluarga bahagia,” ucap Doni sambil mencubit hidung Amanda gemas.
“Ih! Sakit tau, Bang ....” ucap Amanda merengek.
Doni hanya terkekeh dan mengelus lembut hidung Amanda.
*
*
*
Di dalam kamar Tristan dan Adira.
Adira melihat Tristan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah terlihat bugar.
“Mau pake kaos warna apa, Sayang?” tanya Adira lembut pada suaminya itu.
“Warna apa aja, kalau kamu yang pilihin, aku pasti pakai.” jawab Tristan, lalu mendekat ke arah Adira. Yaitu di depan lemari baju.
Adira mengangguk dan segera mengambil baju lalu menyodorkannya pada Tristan.
“Pakein dong ....” rengek Tristan seperti anak kecil.
Adira menggelengkan kepala berulang-ulang. Dia merasa heran dengan tingkah Tristan yang seperti anak kecil umur lima tahunan.
Namun tak urung, Adira tetap memakaikannya.
“Kalau yang ini pakai sendiri dulu,” ucap Adira sambil menyodorkan underware berwarna hitam.
Tristan tersenyum smirk dan berkata.
“Pakein juga dong. Kan kamu udah biasa liat punya aku. Masa kamu masih malu aja.” jawab Tristan santai.
Adira langsung memajukan bibirnya lima senti.
“Pakai sendiri lah. Nanti aku yang pakein celananya,” ucap Adira seperti rengekan.
Adira ingin, Tristan segera memakai bajunya.
Tristan tersenyum dan menurut memakai underwarenya.
Adira memalingkan wajah agar tidak melihat sesuatu yang bergelanyut manja itu.🤭
Setelah memastikan Tristan memakainya, Adira segera memakaikan celana dan kaos untuk Tristan.
Tristan selalu menatap wajah Adira yang tampak fokus memakaikan baju untuknya.
Dia tersenyum dan merasa beruntung memilik istri seperti Adira.
“Makasih Sayang.”
Lalu setelah itu, Tristan mengecup bibir Adira dan menyesapnya sebentar.
Adira membalas sesapan itu.
Ciuman yang sangat lembut. Mereka sudah melakukan kegiatan itu setiap hari.
Namun anehnya, mereka sama sekali tidak merasa bosan dan justru menjadi kecanduan.
Mungkin karena hubungan yang sudah halal mempengaruhinya.
Beberapa menit kemudian, ciuman keduanya terlepas.
Tristan tersenyum dan mengusap lembut sudut bibir Adira yang basah karena salivanya.
“I love you, Adira my wife,” ungkap Tristan lalu mengecup dahi Adira sayang.
“I love you too, my Husband.” jawab Adira diselingi senyum menghiasi bibirnya.
.
.
.
.
.
**Jangan lupa dukungannya ya hehehe😘
Bonus visual deh buat kalian yang masih setia baca😊**
**nih bonus hehe.
adira**:
Tristan: