Treat You Better

Treat You Better
Kilasan Memori Masa Lalu



Happy reading!😊


.


*****


Malam telah habis dilahap terang. Kini matahari tampak bersinar tanpa malu-malu dari ufuk timur.


Seorang gadis masih bergelung di tempat tidurnya. Ia enggan meninggalkan mimpi-mimpi indahnya. Ia tak menyadari bahwa hari baru telah datang. Ranjangnya masihlah menjadi tempat ternyamannya.


Ketukan dari luar tidak membuatnya goyah. Ia masih memejamkan matanya. Bahkan telinganya mungkin kurang peka sekarang.


"Bangun!"


Sebuah guncangan di bahunya diikuti suara berat khas seorang pria membuatnya menggeliat. Ia berusaha mengembalikan kesadarannya sambil mengucek-ngucek matanya yang masih kabur.


"Jam berapa sekarang?" tanyanya


"Jam setengah 7."


"What?"


Pupil matanya melebar.


"Kenapa papa baru membangunkanku? Aku pasti akan terlambat."


Ia segera mengangkat badannya yang masih asyik menempel di kasur.


"Oh astaga! Kepalaku masih pening," ia meringis sambil memegang kepalanya.


Ayahnya yang melihat hal itu langsung mendaratkan pukulan kecil di kepalanya.


"Papa..." rengeknya. "Jangan memukul kepalaku yang berharga ini. Papa bilang perusahaan papa akan bergantung pada Abbie dikemudian hari 'kan?" Ia mengerucutkan bibirnya.


"Dasar anak nakal. Segeralah mandi, papa akan mengantarmu!" Ia mengelus surai hitam milik anaknya.


Ayahnya terkekeh melihat wajah anehnya sambil melangkah keluar.


Sepeninggal ayahnya, Ia membuka selimut tebal yang membungkus tubuh seksinya.


"Shit! Aku masih memakai gaun pesta!"


Berarti semalam aku tidak membersihkan make-upku.


Ia lebih memusatkan pikirannya pada make-upnya tanpa memedulikan kepalanya.


Ia memasang wajah terkejutnya ketika ia melihat wajahnya di cermin. Rambutnya kusut, mascara di bulu mata lentiknya sudah melebar kemana-mana. Apalagi lipstick berwarna merah cerah itu.


"Akkhhhh....Aku sudah seperti badut gila," teriaknya histeris.


Ia berjalan perlahan ke kamar mandinya. Kepalanya masih sakit seperti ada puluhan martil yang beradu cepat memukul isi kepalanya.


"Bodoh! Bodoh!" gerutunya sambil memukul pelan keningnya.


Setelah menyirami kepalanya dengan air dingin dan merasa sedikit segar, ia tergesa-gesa masuk ke walk-in closet. Ia memakai seragamnya serba kilat.


*****


"Kumpulkan tugas kalian, sekarang!"


Suara tegas milik seorang guru wanita membuat semua murid merogoh isi tas mereka. Masing-masing mengeluarkan sebuah buku tugasnya.


Abbie pun demikian. Ia membuka ransel biru muda miliknya.


"My goodness! Mati kau, Abbie."


Buku-buku yang ia bawa adalah buku mata pelajaran kemarin. Ia tidak sempat memilah buku pelajaran hari ini.


"D'alejjandra! Kumpulkan tugasmu!"


Suara guru wanita itu membuatnya gelisah. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Izzy menyenggol lengannya.


"Kenapa?" bisiknya.


"Aku lupa, señora!"


Ia menjawab sambil menyengir dan berusaha tersenyum.


"Kau saya hukum!"


*****


Di sinilah dia sekarang. Di depan Perpustakaan Sekolah. Ia memandangi gedung yang melebar ke kanan dan ke kiri itu.


Tempat keramat yang jarang ia kunjungi. Hanya sesekali ia masuk ke sini jika sudah merasa bosan. Kasarnya, tempat ini hanyalah pengusir jenuhnya di sekolah.


"Masuk!"


Guru wanita yang sering disapa Jullee itu membuat Abbie mendorong perlahan langkahnya masuk ke sana.


Ia dibawa berkeliling. Untungnya, tidak ada mata yang setia memandangnya lebih lama. Mereka segera menunduk ketika tahu bahwa gadis yang dihukum di depan mata mereka itu adalah anak pewaris tunggal D'alejjandra Group.


"Capek juga. Kenapa harus berkeliling di sini?" gumamnya sambil mengecilkan langkahnya.


Merasa bahwa Abbie berada beberapa meter jauh di belakangnya, ia menyahut keras.


"Cepat!"


"Ayolah, Jullee. Aku lelah."


Akhirnya, Jullee menyerah. Ia memerintahkan Abbie untuk merapikan buku-buku di sana.


"Susunlah itu sesuai ketebalannya. Setelah itu, masa hukumanmu berakhir."


"Apa?"


"Kalau kau tidak mau, jangan ikut kelasku selama sebulan."


Abbie mengangguk lemah.


"Aku mengerti."


Ia segera beranjak. Menyusun buku-buku itu sesuai dengan ketebalannya masing-masing.


"Inikan pekerjaan petugas perpustakaan. Kenapa aku yang melakukannya?" gerutunya dalam hati.


"Apa kau mau aku melaporkannya kepada ayahmu?"


Ancam guru itu saat ia melihat Abbie sengaja menjatuhkan sebuah buku yang paling tebal dengan sengaja.


"Jangan coba-coba melakukannya, Jullee."


Ia takut berurusan dengan ayahnya perihal kenakalannya di sekolah.


Cukup karena masalah pergi pesta dengan lelaki saja yang membuatnya kehilangan kartu-kartunya. Ia tidak mau terjadi lagi karena masalah ini.


"Minumlah ini! Kau pasti kehausan."


Seseorang datang menyodorkan sebotol air mineral kepadanya dari arah belakang. Ia menengadah memperhatikan orang itu.


"Kau?" pekiknya.


"Ini aku, sayang. Philip Mendes."


Pria bermanik hijau itu mengedipkan sebelah matanya sambil bersedekap.


"Bagaimana kau bisa ada di sini?"


"Aku pindah sekolah. Mungkin ke depannya kita bisa saja satu kelas lagi." Ia terkekeh.


Abbie membeku. Ia tak menyangka akan bertemu secepat itu dengan pria yang semalam ia pukul. Pria yang selama ini membuatnya merasa tidak ingin memiliki kekasih. Bayangan tentang masa lalu mereka seakan berputar otomatis di kepalanya. Ia merinding.


...


"Apa yang kau lakukan pada kekasihku, Phil?" teriak seorang gadis remaja bermanik cokelat dengan napas terengah-engah.


Ia mendapat laporan dari teman-temannya sekolahnya bahwa sahabatnya, Philip menghajar kekasihnya.


Dan benar saja, Ia melihat seseorang tergeletak di tanah dengan bersimbah darah. Pakaian seragamnya penuh dengan darah segar yang berasal dari wajahnya. Ia habis dihajar.


"Aku tidak melakukan apapun."


Pria yang ditanya itu menjawab dengan datar. Ia tak merasa bersalah sedikitpun setelah hampir menghabisi nyawa seseorang.


"Tidak melakukan apapun? Lalu, apa itu?" sambil menunjuk pria yang tergeletak di tanah itu. "Kenapa kau memukulnya?" Gadis itu mulai terisak.


Ia tak menyangka, Philip orang yang selama ini sangat ia hargai menghajar kekasihnya.


"Ini masalah pria, Abbie sayang. Tidak usah khawatir, dia tidak akan mati," masih tersirat nada amarah dalam kalimatnya.


"Masalahnya, pria yang kau pukuli itu kekasihku, br*ngs*k!" makinya sambil menggertakkan giginya. Ia menahan amarah dengan mengepalkan tangannya kuat.


"Kau bilang kekasih? Tanyakan pada kekasih laknatmu itu, apa alasanku memukulnya."


Ia mendengus kesal sambil menenteng ransel sekolahnya. Ia pergi meninggalkan tempat itu.


Gadis itu segera menghampiri pria yang ia sebut sebagai kekasihnya itu. Ia memangku kepala pria itu.


"Levin, what happen?" tanyanya sambil menyeka darah yang masih mengalir dari pelipisnya. Pria itu tersenyum miris. Ujung bibirnya terasa perih ketika ia berucap.


"Dia bilang kau kekasihnya, Abbie. Benarkah seperti itu?"


"Hah?" Ia melongo dengan kalimat yang diucapkan Levin. Usapan di pelipis pria itu terhenti. "Apa maksudmu?"


"Kau mengerti maksudku, Abigail. Kau berselingkuh di belakangku. Dan kau berakting di depanku bahwa dia hanyalah sahabatmu."


"Kenyataannya memang begitu, Levin. Aku dan dia adalah sahabat."


"Aku tidak mempercayaimu lagi, Nona D'alejjandra. Mari akhiri kepura-puraan ini."


"Kau tidak akan bisa meninggalkanku, Levin."


Tangis Abbie seketika pecah. Ia tak rela kehilangan kekasihnya sekalipun ia masih ada di bumi ini. Demi Tuhan, ia mencintai pria di pangkuannya ini. Mungkin kata orang, ini hanyalah cinta monyet di antara para remaja.


"Aku akan bisa melakukannya sekarang, Abbie."


"Tidak."


Epilog :


"Maaf, sayang. Ada masalah penting di kantor. Papa berangkat duluan ya," pamit Ben pada putrinya yang masih sarapan.


Menyebalkan. Tadi katanya mau mengantarku.


.


*****


Ig @Xie_Lu13