
Di kediaman Tristan dan Adira.
Tristan berjalan pelan memasuki rumahnya agar Adira tidak terganggu karena suara sandal rumahan yang dia pakai.
Tristan sudah melepas sepatunya di depan rumah, dan menaruhnya di rak sepatu.
Memang seperti itu di rumahnya, semua tertata rapi dan terorganisir.
Setelah memastikan bahwa Adira tidak menunggunya di ruang tamu, Tristan segera berjalan menuju kamarnya.
Pasti Adira sudah tertidur sejak tadi.
Saat sudah sampai di depan kamarnya, Tristan membuka pintu dengan hati-hati agar tidak membangunkan Adira.
Ceklek.
Pintu terbuka dan menampakkan Adira yang sudah tertidur di sofa dengan posisi masih duduk sambil bersandar.
Tristan merasa bersalah dan tidak tega.
Tristan menyesal tidak menghubungi Adira untuk tidak menunggunya. Seharusnya tadi Tristan menelepon atau mengirimi pesan.
Tapi karena baterai ponselnya habis, Tristan tidak bisa menghubungi Adira.
Tristan mendekati Adira dan menatap wajah Adira yang selalu membuat lelahnya seakan hilang bila menatap langsung.
Dia tersenyum dan mengecup kening Adira lembut.
Adira terlihat menggeliat dan membuka matanya perlahan.
Saat menyadari bahwa suaminya sudah pulang, Adira segera membuka matanya lebar-lebar dan melihat jam dinding yang bertengger di kamarnya.
Pukul satu pagi.
“Kakak pasti capek banget ya? Ini udah dini hari dan Kakak baru pulang. Mau aku pijat nggak?” tanya Adira yang kesadarannya sudah kembali sepenuhnya.
Tristan semakin bimbang. Padahal Adira juga pasti lelah. Tapi Adira masih sempat ingin memijatnya.
“Haruskah aku berkata jujur bahwa aku sudah pulang dari tadi? Apa aku harus mengatakan bahwa aku habis menolong Sindy?” monolog Tristan dalam hati.
Adira yang melihat suaminya melamun langsung menepuk pelan pipi Tristan akan tersadar.
“Ditanya malah melamun.” ucap Adira sambil terkekeh.
Bibirnya sudah menunjukkan senyum manis yang selalu membuat Tristan jatuh cinta.
Tristan semakin tidak tega bila harus memberitahukan masalah Sindy kepada Adira.
Dia tidak tega harus menghilangkan senyum manis itu.
Tristan akhirnya memilih untuk tidak memberitahu Adira.
Biarlah ini akan menjadi rahasianya. Tristan percaya, bahwa niatnya membantu Sindy sudah benar sebagai sesama manusia.
Dan itu tidak akan sampai ketahuan oleh Adira.
“Nggak kok. Yuk tidur!” jawab Tristan sambil tersenyum.
Lalu tanpa menunggu lama, Tristan menggendong Adira ala kanguru menuju ranjang.
Adira terkekeh lagi merasakan perlakuan manis dari suaminya.
Setelah merebahkan Adira di atas kasur, Tristan pamit untuk membersihkan diri dan mengganti baju dahulu.
Setelah Adira mengizinkan, Tristan segera menghilang di balik pintu kamar mandi.
Selang beberapa menit kemudian, Tristan keluar dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana boxer.
Adira mengamati perut suaminya yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
Dari yang semula sixpack, sekarang sudah menjadi onepack.
Adira terkekeh lagi. Karena perut suaminya itu sudah sedikit membuncit dan sudah tidak seperti roti sobek lagi.
Tristan yang paham akan apa yang Adira terkekeh seperti meledeknya, dia langsung bersuara.
“Kamu yang hamil, aku yang buncit,” ucap Tristan terkekeh renyah.
Tangannya dia gunakan untuk mengelus perutnya yang selalu diberi gizi seimbang oleh istrinya. Sehingga perutnya menggembung.
Adira semakin tertawa renyah mendengar penuturan dari Tristan. Lalu Adira menjawab.
“Nanti kita dual deh,” ucap Adira dan terkekeh lagi.
Tristan tersenyum bahagia melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Adira.
Sejak tadi pagi, Adira semakin banyak tersenyum dan tertawa.
Tristan tidak akan membiarkan senyum dan tawa itu hilang dari wajah Adira.
.............
Saat ini, Adira dan Tristan sedang sarapan bersama di ruang makan kediaman rumah mereka.
Mereka makan dalam diam menikmati hidangan yang tadi pagi telah Adira masak.
Tidak berapa lama, ponsel Tristan yang berada di meja berdering menandakan ada telepon masuk.
Setelah melirik ponselnya sekilas, Tristan kemudian melirik Adira takut-takut.
Adira sama sekali tidak menaruh curiga dan menyuruh Tristan untuk segera mengangkatnya.
“Angkat aja, Kak. Siapa tahu penting,” suruh Adira lalu kembali fokus pada sarapannya.
Beruntung, pagi ini rasa mual Adira berkurang.
Jadi dia bisa menikmati sarapan tanpa harus takut akan mengeluarkan makanan itu lagi dari dalam perutnya.
Tristan mengangguk dan menepi dari meja makan agar pembicaraannya tidak di dengar oleh Adira.
Adira yang melihat kepergian Tristan saat akan mengangkat telepon, hanya bisa mengernyitkan dahi tanda bingung.
Dia sudah mengangkat kepalanya untuk melihat ke mana perginya Tristan.
Tidak biasanya Tristan menepi saat akan menerima telepon. Bahkan sampai telepon terpenting pun, Tristan tetap melakukannya di depan Adira.
Tapi Adira memilih untuk tidak mengambil pusing tingkah Tristan yang sedikit berbeda.
Akhirnya Adira melanjutkan sarapannya lagi yang tinggal seperempat itu.
Adira telah menghabiskan sarapannya. Bertepatan dengan itu, Tristan juga telah selesai menelepon.
“Dari siapa Kak?” tanya Adira sambil menatap Tristan.
Tangannya sibuk membersihkan mulutnya dengan tisu.
Tristan berdehem sebelum memulai bicara.
“Ehem. Dari kantor. Ada rapat penting hari ini,” jawab Tristan berbohong.
Matanya tidak sanggup menatap mata Adira karena takut ketahuan sedang berbohong.
Tanpa menaruh rasa curiga, Adira langsung berkata.
“Ya udah. Habiskan dulu sarapannya, setelah itu Kakak langsung berangkat aja, daripada nanti telat,” ucap Adira pengertian.
Tristan menurut dan kembali duduk untuk menghabiskan sarapannya.
Setelah habis, Tristan berpamitan untuk berangkat bekerja.
Seperti biasa, Adira selalu mengantar Tristan hingga depan pintu.
Setelah itu, Tristan segera melajukan mobilnya ke suatu tempat, bukan ke kantor.
Sebenarnya, telepon tadi adalah dari pihak rumah sakit yang memberitahukan Tristan bahwa, Sindy telah sadar dan ingin melakukan percobaan bunuh diri.
Tristan pikir, setelah membantu Sindy sekali, urusannya dengan Sindy akan berakhir.
Namun dugaan Tristan salah, karena dirinya adalah wali dari Sindy di rumah sakit.
Dan segala hal yang bersangkutan dengan Sindy, orang pertama yang akan di hubungi adalah Tristan.
Setelah sampai, Tristan segera berjalan menuju ruangan di mana Sindy dirawat.
Saat di depan pintu ruangan, Tristan melihat ada suster yang berjaga di ruangan tersebut.
Tristan mengetuk pintu.
Setelah ada jawaban dari dalam, Tristan segera masuk.
Setelah melihat Tristan masuk, sang suster langsung memberitahu keadaan Sindy saat ini.
“Anda saudara atau kerabat dari mbak Sindy?” tanya suster tersebut.
Tristan mengangguk menanggapi.
Kemudian, sang suster menjelaskan lebih lanjut keadaan Sindy.
Tristan mendengarkan dengan serius.
Saat sudah selesai, suster pamit keluar.
Tristan menatap Sindy yang tertidur karena obat penenang.
Dia menghela nafasnya lelah. Hidupnya seakan menjadi rumit sekarang ini.
Setelah itu, Tristan keluar rumah sakit untuk menuju kantornya.