Treat You Better

Treat You Better
81. Tuduhan Tristan.



Adira membuka matanya perlahan.


Dia mengedipkan matanya berulang-ulang untuk memindai sekitar.


Keadaan ruangan yang gelap membuat Adira tidak bisa melihat dengan jelas.


Namun, dia teringat bahwa dia berada di sini karena sedang menunggu Tristan pulang.


Adira langsung tersadar dan membuka matanya lebar-lebar.


Jika lampu masih gelap, berarti Tristan belum pulang? Pikir Adira dalam hati.


Kemudian, Adira segera duduk dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.


Dia meregangkan otot-otot tangannya dan menguap dahulu sebelum menghubungi Tristan.


Tidak ada pesan apa pun dari Tristan sejak tadi sore, padahal sekarang sudah jam delapan malam.


Dia mencoba menghubungi Tristan.


Panggilan pertama tidak ada jawaban.


Kedua, ketiga, keempat, hingga kelima, masih saja belum ada jawaban.


Yang ada hanya suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan.


Adira merasa, perkataan operator seperti ada benarnya.


Tristan sedang jauh dari jangkauannya.


Batin Adira mulai bertanya-tanya ada apa? Mengapa Tristan belum juga menghubunginya jika ingin lembur?


Seketika, ucapan Sindy tadi siang terngiang di telinga Adira.


Adira semakin takut dibuatnya.


“Bagaimana jika Kak Tristan memang punya simpanan dan sudah punya anak dari wanita lain?” ucap Adira ketakutan.


Adira segera menepis pikiran buruknya.


Dia akan menunggu Tristan pulang, sampai jam berapa pun itu.


Setelah itu, Adira segera menyalakan lampu yang berada di rumahnya.


Setelah itu, dia berdiri di dekat meja makan dan menatap sedih ke arah hasil masakannya.


Sama sekali belum tersentuh karena Adira juga belum makan sejak tadi.


Dia sengaja menunggu Tristan agar bisa makan malam bersama.


Adira merasa sedih dibuatnya.


Dia mencoba menghubungi Tristan lagi, tapi jawabannya masih sama, di luar jangkauan.


Adira mengusap wajahnya kasar, lalu dia duduk di salah satu kursi di meja makan tersebut.


Kedua tangannya berpangku pada meja. Kemudian, kepalanya dia telungkupkan di antara kedua tangannya.


Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Tristan.


Tidak biasanya Tristan pulang sampai semalam ini tanpa mengabarinya.


Air matanya mulai jatuh tak terbendung lagi.


Ada rasa takut menyelimuti hatinya.


Adira menghapus air matanya.


Setengah jam menangis, Adira mendengar deru mobil dari luar menandakan Tristan telah pulang.


Akhirnya Adira bisa bernafas lega.


Dia segera berlari menuju kamarnya dengan kondisi mata yang masih sembab.


Dia marah, bibirnya sudah cemberut menahan dongkol di hatinya.


Setelah masuk ke kamar, Adira mencuci mukanya terlebih dahulu.


Kemudian dia segera naik ke ranjang untuk tidur.


Tidak lama, terdengar suara Tristan yang memanggil-manggil namanya.


Adira pura-pura tidur dan memejamkan mata.


Dia sedang sangat kesal dengan suaminya itu karena tidak mengabarinya sama sekali.


Adira merasa khawatir, namun yang di khawatirkan malah terlihat santai kaya di pantai.


“Adira? Kamu udah tidur?” tanya Tristan sambil melenggang masuk ke dalam kamarnya dan Adira.


Adira tidak menjawab dan masih memejamkan matanya.


Setelah sampai di pinggiran ranjang, Tristan mengelus lembut pipi Adira.


“Kamu belum makan kan, Ra?” tanya Tristan pelan sambil menepuk pipi Adira.


“Aku tahu, kamu belum tidur,” ucap Tristan lagi.


Karena seakan sia-sia saja, Adira akhirnya membuka matanya namun enggan menatap mata Tristan.


“Mata kamu kenapa?” tanya Tristan khawatir.


“Kamu habis nangis ya? Karena apa?” tanya Tristan khawatir dan segera mengangkat tubuh Adira untuk duduk.


Adira hanya menurut dan masih mempertahankan bibir cemberutnya.


“Kamu marah karena aku pulang malam? Maaf ya, Sayang,” ucap Tristan lagi merasa bersalah.


“Kenapa nggak bilang kalau mau pulang malam sih. Aku sampai khawatir nungguinya,” omel Adira mewek ingin menangis lagi.


“Maaf, maaf karena nggak kasih kabar. Tapi aku punya alasan,” ucap Tristan sambil memeluk tubuh mungil Adira.


Dia menatap wajah suaminya itu yang sedikit berbeda dan terlihat berantakan.


Tristan menunduk untuk menghindari tatapan menyelidik Adira.


“Apa ada masalah?” tanya Adira yang mulai paham bahwa Tristan sedang tidak baik-baik saja.


“Sedikit,” ungkap Tristan sambil tersenyum tipis.


Adira mencoba menelisik kembali wajah Tristan. Dia kemudian bertanya lagi.


“Karena apa? Cerita sama aku,” ucap Adira lembut.


Tangannya terangkat untuk menggenggam tangan Tristan.


Tristan menatap manik indah Adira cukup lama.


Mata yang selalu membuatnya tenggelam dalam cintanya.


“Kamu nggak mau cerita ke aku tentang tadi siang?” jawab Tristan yang justru malah bertanya balik.


Adira menatap Tristan lagi dan Adira menemukan, ada keraguan di sana.


Seketika Adira teringat akan ucapan Sindy tadi siang, bahwa dia mengancam akan membalasnya.


Karena tidak ingin terjadi kesalah pahaman berlarut, Adira bertanya lagi.


“Apa Sindy mengatakan sesuatu?” tanya Adira hati-hati.


Namun, tanggapan Tristan berbeda.


Dia mengira, Adira menuduhnya telah bertemu Sindy.


Padahal Tristan ingin mendengar penjelasan tentang Adira yang bertemu dengan Elvan.


Tristan marah karena mengapa yang menjadi tersangka sekarang adalah dirinya?


Apa Adira berusaha menghindar dari pembahasan?


“Sindy? Ini tidak ada hubungannya dengan Sindy. Kenapa kamu malah bertanya tentang Sindy? Ini masalah kamu sama Elvan yang bertemu di kafe tadi siang!” ucap Tristan sedikit membentak dan berdiri dari duduknya.


Namun, saat Tristan akan melangkahkan kakinya, Adira lebih dulu mencegahnya dengan mencekal tangannya.


“Jangan main pergi gitu aja. Kita selesaikan sekarang juga,” ucap Adira sambil menangis.


Dia merasa terluka karena bentakan Tristan.


Dia tidak akan tahu permasalahan seperti apa yang sedang Tristan alami jika Tristan tidak bercerita kepadanya.


Tristan terdiam di tempat, menunggu ucapan Adira selanjutnya.


“Aku bisa jelasin semuanya. Aku memang bertemu Elvan tadi siang ....,”


“Cukup!”


Ucap Adira terpotong begitu saja oleh bentakan Tristan.


“Jadi benar, tadi siang kamu bertemu Elvan? Dan kamu tidak memberi tahu aku?” tanya Tristan sambil mengepalkan kedua tangannya.


Hatinya sudah terbakar api cemburu. Jadi, foto yang dikirimkan seseorang yang tidak dikenal itu benar adanya.


Dia tidak berani menatap Adira, dan posisinya sekarang adalah membelakanginya.


“Aku bisa jelasin semuanya. Ini nggak seperti yang Kakak duga,” ucap Adira sudah menangis sesenggukan.


Dia tidak menyangka, pertemuannya dengan Elvan akan menjadi bumerang untuk rumah tangganya.


“Nggak ada yang harus di jelasin lagi. Semua udah jelas,” ucap Tristan sambil berbalik untuk menatap Adira.


“Jadi selama ini, kamu nggak hamil-hamil karena sengaja menundanya dan ingin balikan lagi sama Elvan bukan?” tanya Tristan tersenyum meremehkan.


Plak!


Adira melayangkan satu tamparan di wajah Tristan.


Hati Adira berdenyut nyeri mendengarkan ucapan Tristan.


Dia tidak marah, Adira merasa kecewa karena Tristan tidak memercayai dan tidak mau mendengarkan penjelasannya dahulu.


Kemudian Adira berucap lagi.


“Tega ya, Kakak ngomong kaya gitu. Kakak akan menyesal karena telah mengatakan itu,” ucap Adira penuh penekanan.


Hatinya sudah sangat sakit.


Bukan seberapa menyakitkan ucapan seseorang, melain karena siapa yang telah mengucapkannya.


Itulah yang membuat Adira semakin sakit hati.


Setelah mengatakan itu, Adira segera mengemas barang-barangnya.


Dia ingin pergi menenangkan diri terlebih dahulu.


Tristan yang melihat itu hanya terdiam menatap Adira yang sedang tergesa mengemas barangnya.


“Benar kan dugaanku. Kamu sekarang mau kabur sama selingkuhan kamu itu,” ucap Tristan menohok hati Adira.


Adira langsung menghentikan kegiatannya dan menatap Tristan tajam.


“Tidak ada apa pun antara aku dan Elvan. Elvan hanya meminta maaf atas kesalahannya,” jawab Adira tidak terima.


“Mana ada maling ngaku, yang ada penjara penuh,” ucap Tristan pedas dan tersenyum sinis.


Adira sungguh sakit berkali-kali karena ucapan Tristan yang tak berperasaan.


Hatinya bagai ditusuk belati.


Dengan secepat kilat, Adira segera menutup resleting kopernya dan berjalan tergesa keluar rumah.