
Keesokan harinya, Tristan dan Adira sudah seperti biasanya lagi. Mereka melakukan sarapan bersama.
Seakan, pertengkaran keduanya kemarin tidak pernah terjadi.
Adira mempunyai segudang maaf untuk suaminya itu. Setiap kesalahan yang masih bisa di toleransi, Adira akan dengan mudah memberikan maafnya.
Kurang baik apalagi seorang istri seperti Adira ini?
Namun yang tidak pernah Tristan sadari, karena seringnya melakukan kesalahan dan sesering itu juga Adira memaafkannya, Tristan seakan tidak lagi mempermasalahkan maaf yang Adira berikan.
Dia selalu percaya bahwa Adira akan memaafkannya kembali.
Padahal sebagai seorang manusia, Adira mempunyai stok sabar dan maaf yang terbatas.
Seperti biasa, mereka sarapan dengan suasana harmonis di meja makan. Sesekali mereka mengobrol di sela makannya.
“Kakak nanti siang ada waktu luang nggak?” tanya Adira setelah menghabiskan sarapannya.
“Belum tahu. Ada apa memangnya?” tanya Tristan yang juga sudah selesai dengan sarapannya.
Dia meneguk air putih yang di sediakan oleh teh Ratih itu sampai habis.
“Aku ada jadwal pemeriksaan siang nanti. Kalau kakak senggang, mau mengantarku atau tidak?” tanya Adira.
Ucapan Adira sama sekali tidak ada unsur mengharuskan.
“Iya, nanti siang kalau aku senggang, aku antar kamu ke rumah sakit ya,” ucap Tristan tersenyum dan mengacak gemas rambut Adira.
Adira sangat bahagia mendengar ketersediaan Tristan mengantarnya ke rumah sakit.
Sudah dua kali pemeriksaan, dirinya hanya pergi sendiri tanpa di temani oleh suaminya, dan Adira juga ingin ditemani lagi saat memeriksakan kandungannya kali ini.
Sekarang, kehamilannya sudah menginjak bulan ke lima dan itu tandanya, Adira harus rutin periksa setiap satu bulan sekali hingga usia kandungan tujuh bulan.
Untuk dua bulan ke depan, intensitas pemeriksaan harus lebih sering agar bisa memantau keadaan bayi dan ibu dengan lebih baik.
Setelah mengantarkan suaminya hingga ambang pintu, Adira segera masuk kembali saat mobil Tristan sudah tidak terlihat.
..........
Waktu bergulir begitu cepat. Tidak terasa siang pun tiba.
Adira sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit bersama suaminya. Dia sudah berdandan dan memakai dress ibu hamil yang kekinian.
Sudah tidak memungkinkan lagi jika menggunakan celana panjang karena ukuran perutnya yang sudah mulai membesar.
Setelah selesai bersiap, Adira menunggu Tristan di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
Sedangkan di sisi lain, tepatnya di perusahaan keluarga Wijaya, Tristan sedang bersiap pulang untuk menjemput istrinya.
Sesuai janjinya, Tristan akan mengantar Adira untuk memeriksakan kehamilannya.
Saat hendak keluar dari ruangan, ponsel Tristan berdering menandakan ada telepon masuk.
Saat melihat sang penelepon, Tristan mengernyit bingung karena tidak mengenali nomor yang menghubunginya.
Karena takut telepon penting, tanpa menunggu lama akhirnya Tristan menerima panggilan itu.
“Halo.” ucap Tristan untuk pertama kali saat telepon telah tersambung.
Kemudian, terdengar suara wanita dari seberang sana. Entah apa yang dikatakan oleh wanita itu di seberang sana hingga amarah Tristan naik sampai ke ubun-ubun.
Rahang Tristan sudah mengeras, dan gigi-gigi di dalam mulutnya sudah mengetat menahan amarahnya.
Setelah telepon terputus, Tristan segera memeriksa pesan yang dikirimkan wanita tersebut.
“Sialan!” umpat Tristan sesaat setelah melihat pesan yang berisikan video tak senonoh.
Kedua telapak tangan Tristan sudah mengepal sempurna di sisi tubuhnya.
Dia mengacak rambutnya frustasi. Niat hati ingin menyelesaikan masalah, yang terjadi malah sebaliknya.
Masalah hidupnya semakin rumit.
Setelah sedikit merasa tenang, Tristan mengambil ponselnya lagi dan menghubungi Adira.
Dengan berat hati, Tristan membatalkan rencananya untuk menemani Adira ke rumah sakit.
Urusan kali ini lebih penting dan sangat berbahaya jika Tristan tidak segera menemui sang penelepon tadi.
Dia mengirimkan pesan singkat untuk Adira dan meminta maaf untuk ketidak sempatan dirinya. Dia juga mengatakan akan menggantinya lain waktu.
.........
Sudah hampir satu jam Adira menunggu jemputan, namun belum ada tanda-tanda jika suaminya itu akan tiba.
Beberapa saat kemudian, Adira mendapat notifikasi pesan di ponselnya.
Saat melihat pop up yang muncul menampilkan nama suaminya di sana, Adira segera membukanya.
Dari: Mas suami
Maaf Ra, siang ini aku ada rapat penting dan tidak bisa di tinggalkan. Lain kali aku akan mengantar kamu.
“Kenapa nggak bilang dari tadi sih ... Aku kan lama nunggu dari tadi,” gerutu Adira kesal karena suaminya itu membatalkan janjiannya secara mendadak.
Adira langsung merasa lesu setelah membaca pesan dari suaminya.
Lagi-lagi Adira harus pergi sendiri ke rumah sakit.
Dengan wajah yang masih di tekuk, akhirnya Adira berangkat bersama pak Yanto, sang sopir pribadi.
Setelah Adira masuk ke dalam mobil dan mengatakan tempat tujuannya, pak Yanto segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Adira memeriksakan kehamilannya.
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang di tumpangi Adira akhirnya sampai di lobi rumah sakit. Setelah Adira turun, pak Yanto segera melajukan mobilnya menuju parkiran yang telah di sediakan oleh pihak rumah sakit.
Adira segera masuk dan langsung menuju meja resepsionis untuk mendaftarkan ulang jadwal pemeriksaannya.
Tadi pagi, Adira sudah mendaftarkan diri lewat via online.
Setelah petugas resepsionis memeriksa data dan nama Adira sudah terdaftar di layar komputernya, dia menyuruh Adira untuk menunggu di depan poli saja agar lebih dekat. Karena masih ada dua pasien lagi sebelum Adira di periksa.
Adira menurut, ada benarnya juga saran dari sang resepsionis.
Namun, b sempat Adira melangkah, kantung kemihnya sudah terasa penuh menandakan bahwa sisa kotorannya harus segera di keluarkan.
Adira akhirnya memutuskan untuk buang air kecil dulu ke toilet terdekat.
Dia berbalik lalu berjalan menuju kamar kecil.
Namun, langkah Adira tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang sangat Adira kenal sedang berjalan ke arahnya bersama seorang wanita yang berada di kursi roda.
Cethar!
Seperti ada sambaran petir yang menggelegar dan guntur yang bergemuruh di dada Adira.
Jantung Adira seperti mencelos dari tempatnya.
Seseorang yang mengatakan ada rapat penting dan tidak bisa mengantarkannya ke rumah sakit. Namun sekarang, orang tersebut sedang berada di rumah sakit dan lebih parahnya lagi dia bersama seorang wanita yang juga sangat Adira kenal.
Adira menutup mulutnya tidak percaya melihat pemandangan yang ada di depannya.
Dia menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.
Kakinya seakan lunglai tidak berdaya. Pandangannya sudah kabur karena tertutup air yang membendung di pelupuk matanya.
Sakit, sesak, kecewa, sedih, dan marah seakan sudah menjadi satu menghantam hati Adira.
Adira masih setia menatap Tristan dan Sindy yang berada di kursi roda dengan Tristan yang mendorong kursi roda itu.
Tristan dan Sindy belum menyadari jika ada sepasang mata yang menatap ke arahnya dengan hati terluka.
Waktu seakan berjalan dengan lambat saat itu juga. Seketika, rangkaian-rangkaian peristiwa mencurigakan yang di tunjukkan Tristan berputar di otak Adira dan menghubung dengan kejadian yang berada di depannya.
Kesibukan yang suaminya katakan, itu hanyalah alasan.
Adira merasa, dirinya sudah dibohongi terlalu banyak oleh Tristan. Kepercayaannya di khianati begitu saja.
Saat akan mencapai pintu keluar, Tristan sama sekali belum menyadari kehadiran Adira di sana, akhirnya Adira memilih bersuara.
“Kak Tristan ....” ucap Adira memanggil dengan suara bergetar.
Tristan yang menyadari namanya di panggil, dia menoleh ke sumber suara.
Betapa terkejutnya Tristan saat melihat seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri adalah istrinya.
Tristan diam mematung melihat sorot terluka yang terpancar di mata Adira.
Dunia Tristan seakan sudah berhenti sampai detik itu juga.
Kebohongan yang sudah begitu rapi dan rapat Tristan tutup-tutupi, kini harus terbongkar karena Adira melihatnya langsung dengan mata kepalanya sendiri.
Sindy yang mendengar nama Tristan di panggil juga menoleh ke sumber suara dan mendapati Adira sedang berdiri mematung tidak jauh darinya.
Sindy tersenyum penuh kemenangan.
“Satu kali tepuk, dua lalat kena.” gumam Sindy berbangga diri.
Sindy merasa, dirinya sedang berada di atas awan karena telah berhasil menghancurkan rumah tangga Tristan dan Adira.
Dengan kekuatan tenaga yang masih tersisa, Adira menghapus air matanya dan berjalan mendekat ke arah keduanya.
“Jadi, apa ini yang disebut rapat? Sudah berapa lama aku di bohongi? Ck ... Ck ... Ck ... Bodoh sekali aku ini,” ucap Adira saat sudah sampai di hadapan Tristan.
Dia tersenyum miris dengan tingkah suaminya itu.
“Aku bisa jelasin ....”
“Cukup!” ucap Adira penuh penekanan.
Belum sempat Tristan menyelesaikan ucapannya, Adira sudah mengangkat tanganya agar Tristan tidak usah berbicara.
"Sepandai-pandainya seseorang menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga bau busuknya," ucap Adira datar dan sangat dingin.