Treat You Better

Treat You Better
Minta Izin



Jangan lupa tinggalkan jejak ya!😘


.


.


.


.


.


.


Sepulang sekolah, Charles seperti biasanya menuju ke tempat kerja part timenya. Ia melaksanakan tugasnya sebagai pembantu koki di sana ataupun melayani pelanggan yang mampir untuk menikmati ruangan itu.


Bread and Cake Bakery


Sebuah toko roti berukuran minimalis dengan gaya klasik khas negara kincir angin itu adalah tempat pria itu bekerja. Di atap bangunan itu terdapat dua kincir angin kecil yang berputar-putar dan mampu mendayagunakan angin dari berbagai arah. Dindingnya yang dicat dengan warna merah bata membuat bangunan itu lebih mendominasikan gaya Eropa klasik. Apalagi pilar yang menjunjung di bagian kiri dan kanan pintu masuk menjadikan bangunan tersebut terlihat menawan.


Bangunan itu terdiri dari dua lantai. Lantai pertama dikhususkan untuk para pegawai dan para koki yang dibatasi oleh pilar pembatas untuk bagian pelanggan. Interiornya menakjubkan. Dindingnya dicat dengan warna dasar putih tulang. Setelahnya, ada berbagai lukisan-lukisan abstrak dengan corak warna yang beragam. Sejuknya pendingin ruangan di tempat itu membuat pelanggan betah berlama-lama di sana.


Para koki selalu sibuk di dapur. Mencampur adonan, menaruhnya di cetakan dan membakarnya.


"Charles, tolong angkat kue itu!" teriak salah satu koki.


Charles segera meletakkan baki yang dipegangnya dan memakai sarung tangan. Ia pun mengangkat kue tersebut dari oven.


Aroma harum kue itu langsung tercium di hidung mancungnya.


Setelah lama berkutat di dapur tak terasa waktu telah berlalu. Terang kini dilumat gelap.


Pria berkacamata itu hampir melupakan apa yang perintahkan seseorang pagi tadi.


Dengan langkah lebar, ia memberanikan diri menaiki tangga menuju lantai atas tempat bosnya berada. Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu.


Satu menit. Dua menit. Sampai menit ke sepuluh tak ada sahutan. Akhirnya ia nekad memutar handle pintu tersebut. Tidak terkunci.


Di mana dia?


Ia memutar-mutar bola matanya menjelajah ruangan tersebut. Masih dengan warna yang sama dengan warna dinding di lantai pertama. Hanya saja, warna putih itu dipadukan dengan warna pink dan hijau oleh garis-garis melengkung vertikal.


Sebuah pintu kaca besar yang menghadap ke luar menyadarkan Charles. Langkah kakinya membawanya menyusuri ruangan itu. Dibukanya pintu tersebut dan nampaklah seorang wanita paruh baya berambut blonde berwarna pirang kecokelatan. Wanita tersebut menoleh dan tersenyum padanya. Lesung di kedua pipinya menambah kecantikannya meski wajahnya telah termakan usia. Binar manik biru safirnya teduh, memancarkan aura keibuannya.


"Maaf, saya lancang datang ke sini, Nyonya!" ujar Charles.


"Ayolah, Charlie. Panggil aku, mommy!" ujar wanita berambut pirang menyebut nama kecil remaja di hadapannya itu. Senyuman di bibirnya tak luntur.


"Sudah berkali-kali aku bilang, tapi kau tetap keras kepala. Jangan sungkan, kau tetaplah Charlie kecilku."


"Saya mengerti, mommy!"


"Ada apa kau datang kemari?" lanjutnya kemudian.


"Dalam dua minggu ke depan, saya minta izin mommy. Saya punya agenda setelah waktu pulang sekolah." Jelas Charles sambil menatap manik biru safir itu.


"Begitu rupanya. Baiklah, mommy mengerti."


Wanita paruh baya tersebut menganggukkan kepalanya.


Pemuda remaja tersebut keluar dari ruangan itu setelah mengucapkan terima kasih.


Ia turun dan segera disambut oleh gadis muda bermanik biru. Lagi-lagi ia berhadapan dengan pemilik manik biru dan berambut pirang kecokelatan. Hanya saja rambut gadis di hadapannya ini tidaklah sama dengan rambut blonde milik atasannya. Rambut gadis ini lurus dan panjang di bawah bahu yang ia biarkan digerai.


"Apa yang kau lakukan di atas sana?" tanya gadis itu.


"Kau penasaran sekali rupanya, cantik!" seru seseorang dari belakangnya.


Mendengar suara seseorang yang sangat familiar di telinganya itu membuat gadis itu memberenggut kesal.


Dasar perayu ulung. Kesalnya di dalam hati.


"Apa aku tidak boleh bertanya?" ketusnya sambil menoleh.


Tampaklah sesosok pemuda remaja berdiri menjulang di hadapannya sambil menyodorkan setangkai mawar merah dengan senyum yang menggoda. Hampir setiap hari, gadis itu selalu mendapat setangkai mawar merah yang segar dari pria di hadapannya itu.


"Kau tidak boleh sering berbicara dengannya."


Sambil memberikan tangkai bunga itu di dalam genggaman gadis itu dengan paksa, pria itu mengajak Charles keluar.


"Ayo!"


"Sialan kau, Di Vaio!" seru gadis itu kesal tapi senyuman di bibirnya tak kunjung hilang.


Kalimat itu pula yang tak pernah bosan diucapkan oleh Franklyn Di Vaio, pemilik manik biru safir tersebut.


"Kau membuat pipinya memerah, Frank!" ujar Charles.


"Ayolah, Carl. Dia tak menyukaiku!" bantahnya sambil tertawa miris.


Mereka melangkah keluar dari toko roti itu.


"Apa kau tidak mencintainya? Lihatlah, dia selalu memperhatikanmu dengan tatapan memuja setiap kali kau datang."


"Kau tahu jawabannya, Carl." Franklyn mendesah. "Dia menyukaimu. Dia memperhatikanku karena aku selalu membuatnya kesal."


"Ckck...Tapi aku tak menyukainya."


"Kau bodoh juga rupanya,Frank," ejek Charles membuat Franklyn menendangnya tepat di tulang kering yang membuatnya kesakitan pagi tadi oleh tendangan Abbie.


Ahh...Charles merindukan gadis itu lagi.


Ia tersenyum meski tulang kakinya masih terasa ngilu.


"Hei...Kau lagi yang lebih aneh, Carl. Senyuman gilamu itu muncul lagi. Apa yang sedang kau pikirkan?"


Teriakan Franklyn membuatnya tersadar. Ia menggelengkan kepalanya cepat.


"Bodoh!"


"Aku? Kenapa aku yang bodoh?" tanya balik pemilik manik biru itu sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Kau bilang, kau punya banyak wanita. Apakah kau tidak memperhatikan tatapan-tatapan wanita itu yang selalu memujamu? Tatapan Metti juga seperti itu padamu."


"Kau mau mati ya," sanggahnya cepat dan hendak menendang kaki Charles lagi, tapi pemuda di sampingnya itu refleks menghindar.


"Metti-ku tidak sama dengan mereka. Mereka memujaku tapi aku memandang mereka dengan tatapan jijik meski senyuman palsuku selalu membius mereka."


"Cih. Kau terlalu percaya diri mengatakan gadis itu milikmu. Mengatakan cinta padanya saja kau tidak sepercaya diri ini." Lagi-lagi Charles mendesis. Bukan tendangan yang ia dapatkan kali ini, tapi pukulan keras di belakang kepalanya.


"Pengecut, sialan," ujar Charles sambil lalu menghindari pukulan Frank lagi. Mereka berkejaran seperti anak kecil di bawah nuansa orange langit yang hampir gelap.


"Dia pikir aku berpura-pura, Carl," ujar Frank lemah saat mereka sudah di perjalanan.


"Pertama kali aku mengatakan bahwa aku menyukainya, dia tertawa terbahak-bahak. Dia bilang aku hanyalah anak kecil."


Frank menerawang tentang awal mula ia jatuh cinta pada gadis itu.


Mendengar itu, tawa Charles tidak bisa ditahan. Ia meneteskan air mata sambil memegang perutnya.


"Apa kau gila?" tanya Frank kesal melihat tingkah sahabatnya itu.


"Kau memang brengsek kecil." Tawa Charles masih belum reda membuat kalimatnya tertahan. "Pantas saja gadis secantik Metti menolakmu."


"Aku juga tak kalah tampan," pujinya pada diri sendiri sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang dalam.


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca!😘


.


.


.


.


.


.


Love,


Xie Lu♡


.


ig @xie_lu13