Treat You Better

Treat You Better
Kilasan Memori Masa Lalu 2



Happy reading!😊😘


.


*****


Seorang gadis bermanik cokelat madu sedang duduk sendirian di kursi di sebuah taman di pusat ibukota. Rambut hitamnya yang sehitam arang dibelai semilir angin sore.


Beberapa pria berbadan besar dan berpakaian serba hitam memantaunya dari tempat yang sedikit jauh.


"Hai."


Seorang pria berambut pirang terang menyapanya. Ia menoleh. Didapatinya pria itu mengulurkan tangan ke arahnya. Mengajaknya bersalaman. Ia memandang datar uluran tangan itu.


"Kau mau apa?"


"Mengajakmu berteman, tentunya. Apalagi?"


"Aku tidak mau."


Pria itu terkekeh. Sadar bahwa ia tak mendapat respon balik dari gadis itu, ia menarik kembali tangannya. "Namaku Levin O'dilo. Siapa namamu?"


"Apa hakmu menanyakan namaku?"


Pria itu tanpa izin langsung duduk di sampingnya.


"Kenapa kau sendirian? Dimana temanmu?"


"Aku tidak sendirian."


Tangannya yang kurus itu menunjuk beberapa orang yang selalu mengikutinya kemana saja ia pergi. Pria itu mengangguk.


"Apa kau sering ke sini?"


"Berapa umurmu?"


Berbagai pertanyaan pria itu hanya ia anggap angin lalu. Ia mengacuhkannya.


"Kenapa kau tidak menjawabku?"


"Berhenti mengoceh, telingaku lelah mendengar suara gunturmu."


"Ayolah, jangan terlalu cuek. Aku hanya ingin menjadi temanmu."


Ia terdiam. Lama ia menatap tajam ke depan.


"Abigail. Namaku Abigail."


Pria itu tersenyum. Senyum manisnya seakan menghipnotis gadis itu. Ia membalas senyuman pria itu.


Suatu hal yang langka bagi beberapa orang yang sering memperhatikannya, apalagi bodyguardnya yang berdiri tegap di kejauhan sana. Mereka terpana oleh senyum Abbie yang jarang ia perlihatkan selain kepada kedua orang tuanya.


"Kau gadis yang manis. Kenapa kau tidak mengajak teman-teman sebayamu bermain bersama?"


"Mereka menyebalkan."


"Apa maksudmu?"


Tentu saja pria itu bingung dengan kalimat singkat yang diucapkan Abbie yang pastinya memiliki arti khusus.


"Kau terlalu bodoh." Ia mendengus.


Pria itu terkekeh lagi.


"Aku mengerti. Aku juga mengalaminya."


Gadis itu memgerutkan keningnya. Ia menduga bahwa apa yang dipikirannya sama dengan yang dialami pria itu.


Seperti bisa memahami apa yang tercantum di wajah Abbie, pria bernama Levin itu berucap lagi.


"Ya, seperti yang kau pikirkan."


"Hah?!"


"Hahaha...kau sangat menggemaskan."


Pria ini sangat menyebalkan. Dia maniak pujian.


"Apakah kau seorang pelajar?"


"Tentu saja. Apa kau juga buta?" Ia mulai kesal dengan banyak pertanyaan konyol yang dilontarkan pria itu.


"Dimana?"


"El Cielo School."


"Berarti kita sama. Aku juga pelajar di sana."


"Huh?!"


Banyak hal mengejutkan yang ia dapati dari pria itu. Dari caranya berhasil membujuk Abbie berbicara, menghipnotisnya dengan senyuman, tatapannya yang seakan bisa membaca pikiran, dan sekarang dia bahkan satu sekolah dengannya.


"Are you kidding?"


"That's true, girl. I'm not kidding."


"Kenapa aku tidak pernah melihatmu?"


"Ahh...itu..." Ia menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Aku masih murid baru di sana."


"Semester?"


"Lima."


*****


Sejak pertemuan di taman itu, Abbie dan Levin sering bersama. Sebenarnya Abbie seorang yang pandai bergaul, hanya saja ia terlalu menutup diri dari berbagai macam hama yang menggerogotinya.


Ia memiliki banyak teman, tapi hanya beberapa yang tulus berteman dengannya. Sisanya biar Tuhan yang tahu.


Seiring berjalannya waktu, seperti kebanyakan fakta-fakta dalam kehidupan orang lain - persahabatan antarcewek dan cowok pasti akan tumbuh sesuatu yang tidak bisa dirangkai dengan kata- terjadi pada mereka berdua.


Perbuatan baik Levin dan tingkahnya yang manis tentu saja membuat gadis yang polos itu baper. Apalagi dengan ungkapan-ungkapan manis yang keluar dari bibirnya yang tipis itu pasti akan membuat siapapun terpikat.


Suatu hari, tepat pada siang hari sebelum malam Natal pria itu membuatnya terbuai.


"Long time I like you, but now I sure if I fall in love with you. Will you be my girlfriend?"


Abbie speechless. Kalimat panjang berisi ungkapan hati pria itu membuatnya menitikkan air mata haru dan bahagia.


Abbie hanya bisa mengangguk karena ia juga merasakan hal yang sama.


"Seriously?" tanya Levin meyakinkan.


Sepertinya ia juga merasa tidak percaya diri menyatakan isi hatinya pada gadis itu.


Abbie mengangguk lagi.


Levin segera mendekap erat tubuhnya. Ia mengangkat tubuh kurus Abbie dan memutarkan badannya.


"Yo te amo."


*****


"Phil, aku dan Levin sudah resmi menjadi kekasih."


Lewat telepon, Abbie memberitahukan seseorang yang sudah ia anggap saudara laki-lakinya. Mereka tumbuh bersama-sama dan menjadi akrab seperti sekarang.


Philip Mendes.


"¿Estás bromeando? (Apa kau bercanda)?"


"Oh ayolah, Phil. Sejak kapan aku suka bercanda?"


"Baiklah. Hiduplah bahagia dengannya. Jangan sampai kau disakiti olehnya. Beritahu aku kalau hal itu terjadi, ok?"


Abbie terkekeh mendengar kalimat yang sangat serius yang diucapkan temannya itu.


"Kau sangat khawatir, Philip. I'm ok. I promise!"


Setelah menelepon Philip, wajah bahagia Abbie tidak pernah luntur. Ia tersenyum ramah kepada semua orang di mansion itu.


Semua maid, security bahkan bodyguard yang tidak pernah melihat senyuman gadis itu melongo. Apa yang terjadi? Begitulah yang dipikirkan mereka.


Yah, namanya jatuh cinta pada masa remaja memang seperti itu. Dunia serasa milik sendiri.


"Wah...wah...anak mama sangat ceria hari ini. Apa sesuatu yang baik terjadi?"


Ibunya menghampirinya yang sedang bersenandung ria di ruang tamu sambil menonton siaran televisi.


Ia tersipu. Sepertinya mama tahu.


Kemudian ia menceritakan perihal yang baru saja terjadi.


*****


Pada awal tahun baru setelah liburan musim dingin, pelajar kembali menjalankan kewajiban mereka di sekolah.


Pagi tadi, ia tidak sempat sarapan karena terburu-buru. Jadilah sekarang ia berada di kantin. Pada saat ia sedang asyik menyantap churro dan cokelat panas, seorang siswi memanggilnya.


"Abbie, Lev...Levin...dan...Phi...Philip ad...ada di belakang sekolah. Me...mereka berkelahi."


Ia mengucapkan kalimat itu dengan gemetar karena merasa terintimidasi oleh tatapan tajam milik Abbie.


Mendengar kata 'berkelahi' secepat kilat Abbie meninggalkan tempatnya. Ia segera menuju belakang sekolah.


Dan benar, apa yang didengarnya tadi terpampang jelas di sana.


Seorang pria terkapar di tanah dengan bersimbah darah. Pakaian seragamnya penuh dengan darah segar yang berasal dari wajahnya.


"Apa yang kau lakukan pada kekasihku, Phil?" teriaknya dengan napas terengah-engah.


"Aku tidak melakukan apapun."


Pria yang ditanya itu menjawab dengan datar seakan tidak merasa bersalah karena telah menghajar seseorang.


"Tidak melakukan apapun? Lalu, apa itu?" Ia menunjuk pada pria yang tergeletak di tanah itu. "Kenapa kau memukulnya?" Ia mulai terisak.


"Ini masalah pria, Abbie sayang. Tidak usah khawatir, dia tidak akan mati."


Masih tersirat amarah di dalam kalimatnya.


"Masalahnya, pria yang kau pukuli ini kekasihku, br*ngs*k."


Ia berteriak dan mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Kau bilang kekasih? Tanyakan pada kekasih laknatmu itu apa alasanku memukulnya."


Ia segera pergi dari tempat itu dengan menenteng ransel sekolahnya.


*****


"Sejak hari itu, Levin menghilang dan tidak pernah muncul lagi. Aku tidak tahu kemana dia melanjutkan sekolahnya."


Ia mengakhiri ceritanya pada Charles. Pria itu terus menggenggam erat tangannya dan menautkan jemari mereka.


.


Epilog :


"Apa hanya satu barang itu yang kau beli?"


"Kita hanya perlu menghabiskan bensin si ini saja, Charlie." Ia menepuk pelan Bugatti Chiron miliknya.


.


*****


.


ig @xie_lu13